Tanah Bumbu, kerajaan / Prov. Kalimantan Selatan

Kerajaan Tanah Bumbu: tengah abad ke17 – 1780. Terletak di Kalimantan, Kab. Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.
Pada tahun 1780 kerajaan Tanah Bumbu dibagi menjadi beberapa divisi (negeri).
* Ratu Intan I (1780-1800) memperoleh negeri Cantung dan Batulicin.
* Pangeran Layah memperoleh negeri Buntar Laut.
* Pangeran Prabu bergelar Sultan Sepuh sebagai raja Sampanahan, Bangkalaan, Manunggul dan Cengal.

Kingdom of Tanah Bumbu: mid century 17 – 1780. Located in the district of Tanah Bumbu, south Kalimantan.
For english, click here

Lokasi Kabupaten Tanah Bumbu


* Foto kerajaan Tanah Bumbu: link


Garis kerajaan-kerajaan di Kalimantan: link


Foto kerajaan-kerajaan di Kalimantan

* Foto sultan dan raja yang masih ada di Kalimantan: link
* Foto raja2 di Kalimantan dulu: link
* Foto istana kerajaan di Kalimantan: link

* Foto Kalimantan dulu: link
* Foto perang belanda di Kalimantan, abad ke-19: link


Video sejarah kerajaan-kerajaan di Kalimantan

– Video sejarah kerajaan2 di Kalimantan, 45.000 SM – 2017: link
Video sejarah kerajaan2 di Kalimantan Barat, 45.000 SM – 2020: link
– Video sejarah kerajaan2 di Kalimantan Tengah / Selatan, 1M – 2020: link
– Video sejarah kerajaan2 di Kalimantan Timur / Utara, 1M – 2020: link
– Video sejarah kesultanan Banjar: link


KERAJAAN  TANAH  BUMBU

Tentang raja sekarang (2018)

Ratu Andi Ida Fitriah Kusumah of Tanah Bumbu. Foto 2016


Sejarah kerajaan Tanah Bumbu, abad ke17 – 1780

Berdirinya kerajaan Tanah Bumbu pada pertengahan abad ke-17.
Tanah Bumbu terdiri atas Sampanahan, Bangkalaan, Cengal, Manunggul, Cantung, Buntar Laut, Batulicin.

1660-1700, Orang Pamukan atau Suku Dayak Samihim dahulu telah memiliki kerajaan sendiri yaitu kerajaan Pamukan yang telah dihancurkan oleh suatu serangan dari luar dengan bukti sisa-sisa pemukiman mereka terdapat di Tanjung Kersik Itam. Setelah kejadian tersebut, orang Pamukan/Dayak Samihim meminta kepada Sultan Banjar untuk mendirikan pemerintahan (kerajaan) untuk mengamankan wilayah tersebut dan untuk mengantisipasi banyaknya pendatang dari luar memasuki daerah tersebut maka Pangeran Dipati Tuha (Raden Basus) putera Sultan Saidullah ditunjuk sebagai raja membawahi wilayah antara Tanjung Silat sampai Tanjung Aru yang dinamakan kerajaan Tanah Bumbu dengan pusat pemerintahan di sungai Bumbu termasuk dalam Daerah Aliran Sungai Sampanahan. Itu terjadi pada pertengahan abad ke-17.

Raja kerajaan Tanah Bumbu

* 1660-1700: Raja Tanah Bumbu 1: Pangeran Dipati Tuha (sepupu atau anak Sultan Saidullah – raja Banjar),
* 1700-1740: Raja Tanah Bumbu 2: Pangeran Mangu (anak Pangeran Dipati Tuha),
* 1740-1780: Raja Tanah Bumbu 3: Ratu Mas (anak Pangeran Mangu). Ratu Mas adalah penguasa terakhir kerajaan Tanah Bumbu.

Pembagian kerajaan Tanah Bumbu

Pada tahun 1780 kerajaan Tanah Bumbu dibagi menjadi beberapa divisi (negeri).
* Ratu Intan I (1780-1800) memperoleh negeri Cantung dan Batulicin. Ratu Intan I masih dikenang dalam ingatan suku Dayak Meratus.
* Pangeran Layah memperoleh negeri Buntar Laut.
* Sedangkan Pangeran Prabu bergelar Sultan Sepuh sebagai raja Sampanahan, Bangkalaan, Manunggul dan Cengal.


Sejarah raja raja kerajaan Tanah Bumbu

1660-1700: Pangeran Dipati Tuha (Pangeran Dipati Mangkubumi) bin Sultan Saidullah. Ia diutus Sultan Banjar mengamankan wilayah tenggara Kalimantan dari para pendatang atas permintaan penduduk lokal yaitu orang Dayak Samihim (golongan Dusun Maanyan) yang tinggal dahulu tinggal di kota Pamukan di sungai Cengal yang telah dihancurkan oleh para penyerang dari laut.
Kemudian kedatangan rombongan Pangeran Dipati Tuha melalui jalan darat yang berasal dari Kelua (utara Kalsel) dan menetap di Sampanahan pada sebuah sungai kecil bernama sungai Bumbu sehingga wilayah ini kemudian dinamakan kerajaan Tanah Bumbu berdasarkan nama sungai Bumbu tersebut dengan wilayah kekuasaan membentang dari Tanjung Aru hingga Tanjung Silat. Pangeran Dipati Tuha (Pangeran Dipati Mangkubumi) memiliki dua putera yaitu Pangeran Mangu (Mangun Kesuma) dan Pangeran Citra (Citra Yuda).
Setelah berhasil mengamankan Tanah Bumbu dari pendatang, Pangeran Citra kembali ke tanah lungguh milik ayahnya Pangeran Dipati Tuha yaitu negeri Kalua dan menjadi sultan negorij Kloeak. Sedangkan Pangeran Mangu dipersiapkan sebagai Raja Tanah Bumbu berikutnya.

Menurut Lontara Bilang, pada 28 Juli 1699, Pangeran-Aria (Pangeran Pamukan di pantai Timur Kalimantan) menikahi Daëng-Nisajoe (janda Aroe Teko ?), putri Karaëng Mandallé.
Pada 18 Juli 1707 Pangeran Arija pergi bersama istrinya (Daëng-Nisajoe, putri Karaeng-Mandallé) ke negaranya (Pamoekan). Pada 1 Januari 1707 Karaeng-Balassari (Zainab Saëná, putri Aru Teko oleh Daeng-Nisayu) menikahi raja (masa depan) (Siradjoe-d-din).
Pada 30 Desember Karaeng-Balassari (saudara perempuan Aroe-Kadjoe dan istri calon raja Tello dan Gowa Siradju-d-din) melahirkan seorang putri bernama Karaeng-Tana-Sanga Mahbulaah Mamunja-ragi. Pada 9 Juli 1715. Daëng – Mamunooli Aroe-Kadjoe kembali dari Lau-poelo (pulau di selatan Kalimantan, biasa disebut Poelolaut / Pulau Laut).

1700-1740: Pangeran Mangu (Pangeran Mangun Kesuma) bin Pangeran Dipati Tuha; memiliki anak bernama Ratu Mas. Ratu Mas bersaudara dengan Ratu Sepuh.

1740-1780: Ratu Mas binti Pangeran Mangu; Ratu Mas menikah dengan seorang pedagang dari Gowa bernama Daeng Malewa yang bergelar Pangeran Dipati; pasangan ini memperoleh anak bernama Ratu Intan I. Dari dua istri orang bawahan, Daeng Malewa memiliki putra yaitu Pangeran Prabu dan Pangeran Layah.
Ratu Intan I menikahi Aji Dipati yang bergelar Sultan Dipati Anom Alamsyah (Sultan Pasir III tahun 1768-1799). Pernikahan Ratu Intan I dengan Sultan Anom tidak memiliki keturunan, tetapi dari istri selir Sultan Anom memiliki anak bernama: Pangeran Muhammad, Andin Kedot, Andin Girok, dan Andin Proah. Pangeran Layah memiliki anak bernama: Gusti Cita (putri) dan Gusti Tahora (putra).
Sepeninggal Ratu Mas, maka sejak 1780, kerajaan Tanah Bumbu dibagi menjadi beberapa divisi (negeri).
Ratu Intan I memperoleh negeri Cantung dan Batulicin. Ratu Intan I masih dikenang dalam ingatan suku Dayak Meratus.
Pangeran Layah memperoleh negeri Buntar Laut.
Sedangkan Pangeran Prabu bergelar Sultan Sepuh sebagai Raja Sampanahan, Bangkalaan, Manunggul dan Cengal.


Kerajaan-kerajaan kecil yang dibawah kekuasaan Kesultanan Banjar.

Dalam Kesultanan Bandarmasih sebenarnya juga terdapat kerajaan-kerajaan kecil yang tersebar diwilyahah kekusaan Kesultanan Bandar, seperti diwilyah Tanah Bumbu dan Pulau Laut. Namun kedudukan Kerajaan-kerjaan tersebut secara politik berdaulat dalam wilayah kekusaan Kesultanan Bandar. Hanya karena pelayan pemerintahan tidak terjangkau oleh pelayanan Kesultanan maka ada beberapa kerjaan-kerajaan kecil tersebut diberikan wewenang untuk mengatur pemerintahan sendiri dalam kelompok komunitasnya, kemudian juga ada yang dengan sengaja berdiri karena adanya latar belakang perebutan kekusaan dari Kesultanan Banjar sendiri.
Adapun kerajaan-kerajaan kecil yang dibawah kekuasaan Kesultanan Bandarmasih yang ada di Wilyah Tanah Bumbu dan Pulau Laut adalah:

1. Kerajaan Pagatan,
2. Kerajaan Kusan,
3. Kerajaan Cengal Manunggal dan Bangkalaan,
4. Kerajaan Cantung dan Sampanahan,
5. Kerajaan Sebamban,
6. Kerajaan Batulicin,
7. Kerajaan Pasir,
8. Kerajaan Kotabaru.
9. Kerajaan Tanah Bumbu
Adapun kerajaan-kerajaan tersebut diatas yang pernah berdiri diwilayah Tanah Bumbu dan Pulau Laut mempunyai pertalian yang erat dalam menjalin hubungan. Dalam kesempatan ini yang dapat diuraikan hanya Kerajaan Pagatan, Kerajaan Kusan dan Pulau Laut karena mempunyai latar belakang dan saling keterkaitan dalam sejarahnya. Sementara yang lainnya belum dapat diuraikan dengan baik mengingat minimnya informasi dan data yang diperlukan dalam penulisan.

– Sumber: http://faisalbatennie.blogspot.com/2010/07/kerajaan-di-tanah-bumbu.html

Raja terakhir Tanah Boemboe, 1884-1905.
Pangeran Arga Kusuma (Aji Masrawan) bin Pangeran Muda Moh Ariefbillah bin Pangeran Aji Pati(Pangeran Agung) binti Ratu Intan 2 binti Pgn Aji Jawi.


Peta Kalimantan kuno

Untuk peta-peta Kalimantan kuno (1570, 1572, 1594, 1601, 1602, 1740, 1747, 1760, 1835), klik di sini.

Peta Kalimantan (Borneo) tahun 1601


Sumber / Source

– Sejarah kerajaaan Tanah Bumbu di Wiki:  https://id.wikipedia.org/wiki/Afdeling_Pasir_en_de_Tanah_Boemboe
Sejarah kerajaan Tanah Bumbu:  http://www.kemendagri.go.id/pages/profil-daerah/kabupaten/id/63/name/kalimantan-selatan/detail/6310/tanah-bumbu
Asal usul nama Tanah Bumbu:  http://vdeja.blogspot.co.id/2009/06/asal-usul-nama-tanah-bumbu.html
– Kerajaan kerajaan di Tanah Bumbu: http://faisalbatennie.blogspot.co.id/2010/07/kerajaan-di-tanah-bumbu.html
– Kerajaan Cantung  dan kerajaan Tanah Bumbu: http://kerajaancantung.blogspot.co.id/2014/05/kerajaan-cantung.html
Sejarah Kab. Tanah Bumbu: https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Tanah_Bumbu

——————————————–

Kerajaan Batu Licin: link
Kerajaan Cantung: link
Kerajaan Kusan: link
Kerajaan Pagatan: link
Kerajaan Bangkalaan: link
Kerajaan Sampanahan: link


2 Comments

2 thoughts on “Tanah Bumbu, kerajaan / Prov. Kalimantan Selatan

  1. Pingback: *BERSUJUD DI BATU LICIN SOLUSINYA* – MENEMU BALING

    • Kesultanan dan Kerajaan di Indonesia / Sultanates and Kingdoms in Indonesia

      Terima kasih atas kommen anda. Paul, penerbit website

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: