Pagaruyung – kesultanan Pagaruyung / Prov. Sumatera Barat – kab. Tanah Datar

Kesultanan Pagaruyung Darul Qarar: 1600-an – 1833.
Kesultanan in adalah kerajaan Suku Minangkabau.
Sebelum kesultanan Pagaruyung, adalah kerajaan Pagaruyung. Kerajaan Pagaruyung bediri dari tahun 1347 sampai tahun 1600-an. Kemudian kerajaan Pagaruyung menjadi kesultanan Pagaruyung.
Akhirnya kesultanan Pagaruyung runtuh pada masa Perang Padri (1803-1838).

The Sultanate of Pagaruyung Darul Qarar: 1600th – 1833.
Pagaruyung was the seat of the Minangkabau kings of Western Sumatra. Modern Pagaruyung is a village in Tanjung Emas subdistrict, Tanah Datar regency; prov. of West Sumatera.
For english, click here

Kab. Tanah Datar


* Foto Kerajaan Pagaruyung: link
* Foto istana Silinduang Bulan: link
* Foto istana Istano Basa: link

* Foto sultan dan raja yang masih ada di Sumatera: link
* Foto sultan dan raja di Sumatera dulu: link

* Foto raja-raja di Simalungun dulu: link
* Foto raja-raja kerajaan kecil di Aceh dulu: link

* Foto perang Aceh – Belanda, 1873-1904: link
* Foto situs kuno di Sumatera: link


Tentang Sultan Pagaruyung

29 september 2018
Sutan Muhammad Faris Thaib Tuanku Abdul Fatah yang naik tahta pada 29 September 2018, setelah wafatnya Sutan Taufiq Thaib febr. 2018.

1 februari 2018
Sutan Mohammad Taufiq Thaib Yang Dipertuan Tuanku Mudo Mahkota Alam wafat pada tanggal 1 febr. 2018.

2002
Sutan Mohammad Taufiq Thaib Yang Dipertuan Tuanku Mudo Mahkota Alam menjadi Sultan Pagaruyung.

29 sept. 2018: penobatan Sutan Muhammad Faris Thaib Tuanku Abdul Fata

——————-

1 febr. 2018: Sutan Mohammad Taufiq Thaib Yang Dipertuan Tuanku Mudo Mahkota Alam wafat.


Sejarah kesultanan Pagaruyung, 1600-an – 1833

Kerajaan Pagaruyung,1347 sampai tahun 1600-an: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/sumatera/pagaruyung-kerajaan-prov-sumatera-barat-kab-tanah-datar/

Kerajaan Pagaruyung adalah sebuah kerajaan Melayu yang pernah berdiri, meliputi provinsi Sumatra Barat sekarang dan daerah-daerah di sekitarnya. Nama kerajaan ini dirujuk dari Tambo yang ada pada masyarakat Minangkabau, yaitu nama sebuah nagari yang bernama Pagaruyung.
Kerajaan ini pernah dipimpin oleh Adityawarman sejak tahun 1347. Dan sekitar tahun 1600-an, kerajaan ini menjadi kesultanan Islam Pagaruyung.

Pengaruh Islam di Pagaruyung berkembang kira-kira pada abad ke-16, yaitu melalui para musafir dan guru agama yang singgah atau datang dari Aceh dan Malaka. Salah satu murid ulama Aceh yang terkenal Syaikh Abdurrauf Singkil (Tengku Syiah Kuala), yaitu Syaikh Burhanuddin Ulakan, adalah ulama yang dianggap pertama-tama menyebarkan agama Islam di Pagaruyung.
Pada abad ke-17, kerajaan Pagaruyung akhirnya berubah menjadi kesultanan Islam. Raja Islam yang pertama dalam tambo adat Minangkabau disebutkan bernama Sultan Alif.

Dengan masuknya agama Islam, maka aturan adat yang bertentangan dengan ajaran agama Islam mulai dihilangkan dan hal-hal yang pokok dalam adat diganti dengan aturan agama Islam. Pepatah adat Minangkabau yang terkenal: “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah”, yang artinya adat Minangkabau bersendikan pada agama Islam, sedangkan agama Islam bersendikan pada Al-Qur’an. Namun dalam beberapa hal masih ada beberapa sistem dan cara-cara adat masih dipertahankan dan inilah yang mendorong pecahnya perang saudara yang dikenal dengan nama Perang Padri yang pada awalnya antara Kaum Padri (ulama) dengan Kaum Adat, sebelum Belanda melibatkan diri dalam peperangan ini.

Cap sultan Pagaruyung terakhir

Pada awal abad ke-17, kesultanan ini terpaksa harus mengakui kedaulatan kesultanan Aceh, dan mengakui para gubernur Aceh yang ditunjuk untuk daerah pesisir pantai barat Sumatra. Namun sekitar tahun 1665, masyarakat Minang di pesisir pantai barat bangkit dan memberontak terhadap gubernur Aceh.

Sekitar tahun 1750 kesultanan Pagaruyung mulai tidak menyukai keberadaan VOC di Padang dan pernah berusaha membujuk Inggris yang berada di Bengkulu, bersekutu untuk mengusir Belanda walaupun tidak ditanggapi oleh pihak Inggris. Namun pada tahun 1781 Inggris berhasil menguasai Padang untuk sementara waktu, dan waktu itu datang utusan dari Pagaruyung memberikan ucapan selamat atas keberhasilan Inggris mengusir Belanda dari Padang.

Adityawarman, raja pertama kerajaan Pagaruyung, 1347-1375

Sebagai akibat konflik antara Inggris dan Prancis dalam Perang Napoleon di mana Belanda ada di pihak Prancis, maka Inggris memerangi Belanda dan kembali berhasil menguasai pantai barat Sumatra Barat antara tahun 1795 sampai dengan tahun 1819. Thomas Stamford Raffles mengunjungi Pagaruyung pada tahun 1818, yang sudah mulai dilanda peperangan antara kaum Padri dan kaum Adat. Saat itu Raffles menemukan bahwa ibu kota kerajaan mengalami pembakaran akibat peperangan yang terjadi. Setelah terjadi perdamaian antara Inggris dan Belanda pada tahun 1814, maka Belanda kembali memasuki Padang pada bulan Mei tahun 1819. Belanda memastikan kembali pengaruhnya di pulau Sumatra dan Pagaruyung, dengan ditanda-tanganinya Traktat London pada tahun 1824 dengan Inggris.

Pada tanggal 2 Mei 1833 sultan Tangkal Alam Bagagar ditangkap oleh Letnan Kolonel Elout di Batusangkar atas tuduhan pengkhianatan. Ia dibuang ke Batavia (Jakarta sekarang) sampai akhir hayatnya, dan dimakamkan di pekuburan Mangga Dua.

Setelah kejatuhannya, pengaruh dan prestise kesultanan Pagaruyung tetap tinggi terutama pada kalangan masyarakat Minangkabau yang berada di rantau. Salah satu ahli waris kesultanan Pagaruyung diundang untuk menjadi penguasa di Kuantan. Setelah berakhirnya Perang Padri, Tuan Gadang di Batipuh meminta pemerintah Hindia Belanda untuk memberikan kedudukan yang lebih tinggi daripada sekadar Regent Tanah Datar yang dipegangnya setelah menggantikan sultan Tangkal Alam Bagagar, tetapi permintaan ini ditolak oleh Belanda, hal ini nantinya termasuk salah satu pendorong pecahnya pemberontakan tahun 1841 di Batipuh selain masalah cultuurstelsel.

Makam Raja Raja Pagaruyung, yang biasa disebut disebut Ustano Rajo Alam

Foto Makam Raja Raja Pagaruyung


Daftar sultan Pagaruyung 1668 – sekarang (2020)

* 1668 – 1674: Yang Dipertuan Sultan Ahmadsyah.

* 1674 – 1730: Yang Dipertuan Sultan Indermasyah di Suruaso.

* 1780 – 1821: Sultan Pagaruyung: Arifin Muningsyah, Raja Alam Minangkabau.
Yang Dipertuan Pagaruyung Raja Alam Muningsyah disebut juga dengan Sultan Arifin Muningsyah (lahir di Pagaruyung pada 1745, wafat di Pagaruyung Agustus 1825) adalah raja alam Pagaruyung. Beliau digantikan oleh:

* 1821 – 1833: Sultan Pagaruyung: Tunggal Alam Bagagarsyah, Regent Tanah Datar
Pada tanggal 2 Mei 1833, Sultan Tunggal Alam Bagagar ditangkap oleh pasukan Kolonel Elout di Batusangkar atas tuduhan pengkhianatan. Selanjutnya dibuang ke Batavia (Jakarta sekarang) sampai akhir hayatnya. Ia dimakamkan di pekuburan Mangga Dua, kemudian pada tahun 1975 atas izin pemerintah Indonesia kuburannya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan.

* 1833 – 2020: Setelah diasingkannya Bagagarsyah, kekuasaan Pagaruyung atas wilayah Minangkabau secara resmi digantikan oleh pemerintah kolonial Belanda yang berwujud Keresidenan Pantai Barat Sumatra (Sumatra’s Westkust), dan seterusnya pemerintahan Republik Indonesia yang kini diwakili oleh Provinsi Sumatera Barat.

—————————-

Beberapa orang mengklaim sebagai penerus sah kekuasaan Raja Alam Pagaruyung. Di Sumatera Barat, Sutan Muhammad Taufiq Thaib diterima resmi sebagai pewaris Raja Alam dengan gelar Tuanku Mudo Mangkuto Alam sampai ia wafat pada bulan Februari 2018.

* Febr. 2018: Sutan Muhammad Taufiq Thaib wafat.
Saudarinya, Puti Reno Raudha Thaib, saat ini memegang gelar Bundo Kanduang.

* 29 sept. 2018: Setelah wafatnya Sutan Taufiq Thaib, Raja Alam dijabat oleh saudaranya yakni Sutan Muhammad Faris Thaib Tuanku Abdul Fatah yang naik tahta pada 29 September 2018.


Perang Padri, 1803-1833

Perang Padri adalah peperangan yang berlangsung di Sumatra Barat dan sekitarnya terutama di kawasan Kerajaan Pagaruyung dari tahun 1803 hingga 1838. Perang ini merupakan peperangan yang pada awalnya akibat pertentangan dalam masalah agama sebelum berubah menjadi peperangan melawan penjajahan.

Hingga tahun 1833, perang ini dapat dikatakan sebagai perang saudara yang melibatkan sesama Minang dan Mandailing. Dalam peperangan ini, Kaum Padri dipimpin oleh Harimau Nan Salapan sedangkan Kaum Adat dipimpinan oleh Yang Dipertuan Pagaruyung waktu itu sultan Arifin Muningsyah. Kaum Adat yang mulai terdesak, meminta bantuan kepada Belanda pada tahun 1821. Namun keterlibatan Belanda ini justru memperumit keadaan, sehingga sejak tahun 1833 Kaum Adat berbalik melawan Belanda dan bergabung bersama Kaum Padri, walaupun pada akhirnya peperangan ini dapat dimenangkan Belanda.

Perang Padri termasuk peperangan dengan rentang waktu yang cukup panjang, menguras harta dan mengorbankan jiwa raga. Perang ini selain meruntuhkan kekuasaan kesultanan Pagaruyung, juga berdampak merosotnya perekonomian masyarakat sekitarnya dan memunculkan perpindahan masyarakat dari kawasan konflik.
– Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Padri

Perang Padri


5) Tentang Institusi Rajo Tigo Selo

Rajo Tigo Selo merupakan sebuah institusi tertinggi dalam kesultanan Pagaruyung yang dalam Tambo Adat disebut Limbago Rajo.
Tiga orang raja yakni Raja Alam, Raja Adat, dan Raja Ibadat berasal dari satu keturunan. Raja Alam, Raja Adat, dan Raja Ibadat, ketiganya disebut Rajo Tigo Selo. Sedangkan Raja Adat dan Raja Ibadat disebut Rajo Duo Selo. Antara anggota Raja Tigo Selo selalu berusaha menjaga hubungan kekerabatan yang sangat dekat dengan cara saling mengawini.
Masing-masing raja mempunyai tugas, kewenangan dan mempunyai daerah kedudukan tersendiri.
* Raja Alam membawahi Raja Adat dan Raja Ibadat. Raja Alam berkedudukan di Pagaruyung.
* Raja Adat yang berkedudukan di Buo,
* Raja Ibadat yang berkedudukan di Sumpur Kudus.

– Untuk lengkap, lihat: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/sumatera/rajo-tigo-selo-pagaruyung/


Tata pemerintahan kerajaan Pagaruyung

Untuk struktur pemerintahan, klik di sini


8) Istana kerajaan Pagaruyung

1) Istana Silinduang Bulan

* Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Istano_Silinduang_Bulan

* Foto istana Silinduang Bulan: link

Istano Silinduang Bulan

———————–

2) Istano Basa

* Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Istano_Basa
* Foto istana Istano Basa: link

Istano Basa yang dibangun kembali setelah kebakaran tahun 2007.

Istano Basa yang dibangun kembali setelah kebakaran tahun 2007.


9) Peta-peta kuno Sumatera

Untuk peta kuno Sumatera (1565, 1588, 1598, 1601, 1616, 1620, 1707, 1725, 1760), klik di sini

Sumatera, tahun 1707


10) Sumber / Source Kerajaan Pagaruyung

– Sejarah kerajaan Pagaruyung di Wiki: https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Pagaruyung
Sejarah kerajaan Pagaruyung di Meleyuonline: http://melayuonline.com/ind/history/dig/70/kerajaan-pagaruyung
Sejarah kerajaan Pagaruyung: https://xendro.wordpress.com/2007/07/17/kerajaan-pagaruyung/
– Sejarah kerajaan Pagaruyung: http://www.sejarahnusantara.com/kerajaan-di-sumatera/sejarah-kerajaan-pagaruyung-1347%E2%80%931825-serta-pembagian-wilayah-darek-dan-rantau-10019.htm
Daftar Raja Pagaruyung: https://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_Raja_Pagaruyung
Istana  terbakar (2010): link

– Istana Silinduang Bulan di Wiki: link
Istana Basa Pagaruyung di Wiki: link


9) Sumber / Source Rajo Tigo Selo

– Rajo Tigo Selo: Wiki
Rajo Tigo Selo: http://daerah.sindonews.com/read/887549/29/rajo-tigo-selo-dari-raja-alam-hingga-raja-ibadat-1406909289
Rajo Tigo Selo: https://mozaikminang.wordpress.com/2009/10/25/kronologi-langgam-nan-tujuah-rajo-tigo-selo-dan-basa-ampek-balai/


 

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: