LiaE, kerajaan / P. Sawu – Prov. Nusa Tenggara Timur

Kerajaan LiaE adalah kerajaan di pulau Savu. Kab. Sabu Raijua, Prov. Nusa Tenggara Timur.

The Kingdom of LiaE was a kingdom on the island of Savu, province of NTT.
For english, click here

Lokasi pulau Savu

——————
Lokasi p. Savu


* Foto kerajaan2 di Sawu: link


* Foto foto suku Sawu: link
* Foto situs kuno / megalitik Sawu: link


* Video sejarah kerajaan2 di P. Savu dan Nusa Tenggara Timur, 40.000 SM – sekarang: link


KERAJAAN LIAE

Raja sekarang (2017)

Raja Liae, 2017: Doae / Raja Hernimus Alexzander Riwu.


Sejarah kerajaan LiaE

Pada tahun 1918 kerajaan-kerajaan kecil di pulau Sawu disatukan dalam satu swapraja Sabu yang di-perintahi oleh raja S. Th. Djawa.

Untuk sejarah lihat: Daftar raja kerajaan LiaE di bawah.

Raja Liae, 1900s. Sumber: Tropenmuseum, Netherlands

 Liae, 1900s. Sumber: Tropenmuseum, Netherlands


Daftar raja kerajaan LiaE

Sumber / Sourcehttp://vecky-adoe.blogspot.co.id/2011/08/keluarga-kerajaan-liae.html

1) Kale L’odo adalah raja pertama di Liae yang langsung diangkat oleh Belanda.
2) Riwu Manu (2nd idem). Adalah raja ke-2 di Liae yang juga langsung diangkat oleh Belanda.
3) J’ami Riwu Manu (memerintah sekitar tahun 1721).
4) 1726 – ?: Mone Bengu
5) 1747: Mone Bengu
6) 1752-1765: Kore Rohi
7) 1758-1760: Kore Lone
8) 1767-1794: Manu Kore (memerintah sebelum 1767 sampai setidaknya 1794). Raja Manu Kore dari Liae ini juga dijuluki sebagai “Penguasa Kecil”, mulai tahun 1758 (sebagai anak di bawah umur, ia ikut memerintah bersama ayahnya, Kore Lone).

9) 1832: Ama Moye Keloa
10) 1852-1859: Ama Iye Yote memerintah sebelum 1852-1859.
11) 1859-1868: Ama B’aki B’ela memerintah sekitar tahun 1859-1868). Raja Ama B’aki B’ela ini meninggal karena serangan cacar. Pada tahun berikutnya, terjadi epidimi cacar yang mewabah di seluruh Kepulauan Sabu. Konon diceritakan, wabah ini membunuh hampir 1/4 penduduk Sabu saat itu.

12) 1868-1918: Hendrik Ratu Manu Ama Amoe Manoe. Beliau dibaptis pada sekitar tahun 1874, beliau menjadi raja terakhir di Sabu yang menjadi Kristen, setelah didahului oleh raja Seba dan lain-lain. Berkuasa sejak 1868-1918, sebagai penguasa independen di Liae. Tanggal kematiannya tidak diketahui dengan pasti. Ketika anaknya juga kemudian meninggal, maka kekuasaan dinasti kerajaan Liae dari garis keturunan langsung pun punah. Kemudian dimulailah masa-masa ke-fettor-an mulai memerintah langsung di wilayah Liae).
13)……..Riwu Ratu (19..-19..; son of 11). Raja Riwu Ratu masih berkuasa sampai pada tahun 1936, tetapi di bawah sistem ke-fettor-an (Wakil Raja Seba), karena semua kerajaan di Sabu disatukan (di-aneksasi) oleh Belanda. Antara tahun 1914 -1918, kekuasaan Kerajaan Liae berada dibawah pengaruh kekuasaan Raja Heb’a (Seba). Saat itu di Sabu Raijua, Pemerintah Hindia Belanda mewajibkan setiap bekas kerajaan boleh terus melanjutkan pemerintahan sendiri dengan sistem ke-fettor-an, yang takluk/berada di bawah kekuasaan raja Seba. Pada tahun 1905 Fettor (Wakil Raja Seba) di Liae, dijabat oleh Fettor Radja Hab’a, yang diangkat oleh Pemerintah Hindia Belanda berdasarkan kontrak pada tahun 1894.

14) Rohi Radja Hab’a (putra mantan Fettor dari Liae, ketika Liae masih resmi dipisahkan kerajaan, kemudian menjadi penguasa Liae. Pada tahun 1940 ia sudah menjadi Fettor.

– Ada juga daftar raja LiaE dari Donald Tick, Facebook: https://www.facebook.com/donald.tick

Makam radja Manu Riwu, di Dara Rae Ege. Lokasi: desa Waduwala, Kec. Sabu Liae, Kabupaten Sabu Raijua. Sumber foto: Jefrison Hariyanto Fernando, FB.


Sejarah pulau Sawu

Menurut sejarah, nenek moyang orang Sabu berasal dari suatu negeri yang sangat jauh yang letaknya di sebelah Barat pulau Sabu.
Pada abad ke-3 sampai abad ke-4 terjadi arus perpindahan penduduk yang cukup besar dari India Selatan ke Kepulauan Nusantara. Perpindahan penduduk itu disebabkan karena pada kurun waktu itu terjadi peperangan yang berkepanjangan di India Selatan. Dari syair-syair kuno dalam bahasa Sabu dapat diperoleh informasi sejarah mengenai negeri asal leluhur Sabu. Syair-syair itu mengungkapkan bahwa negeri asal orang Sabu terletak sangat jauh di seberang lautan di sebelah Barat yang bernama Hura.
Di India terdapat Kota Surat di wilayah Gujarat Selatan yang terletak di sebelah Kota Bombay, Teluk Cambay, India Selatan. Kota Gujarat pada waktu itu sudah terkenal sebagai pusat perdagangan di India Selatan. Orang Sabu tidak dapat melafalkan kata Surat dan Gujarat sebagaimana mestinya, sehingga mereka menyebutnya Hura.
Para pendatang dari India Selatan ini menjadi penghuni pertama pulau Raijua di bawah pimpinan Kika Ga dan saudaranya Hawu Ga. Keturunan Kika Ga inilah yang disebut orang Sabu (Do Hawu). Setelah kawin mawin mereka kemudian menyebar di Pulau Sabu dan Raijua dan menjadi cikal bakal orang Sabu.

Pembagian wilayah di Sabu terjadi pada masa Wai Waka (generasi ke 18). Pembagian ini dibuat berdasarkan jumlah anak-anaknya yang akan dibagikan wilayahnya masing-masing yakni:
– Dara Wai mendapat wilayah Habba (Seba)
– Kole Wai mendapat wilayah Mehara (Mesara)
– Wara Wai mendapat wilayah Liae
– Laki Wai mendapat wilayah Dimu (Timu)
– Dida Wai mendapat wilayah Menia
– Jaka Wai mendapat wilayah Raijua

Raja Riwu Ratu dari LiaE. Ca 1930. Sumber foto: Donald Tick, Facebook

Pembagian ini telah menyebabkan terbentuknya komunitas genelogis-teritorial, dimana suatu rumpun keluarga terikat pada pemukiman tertentu. Karena rumpun ini berkembang semakin besar maka dibentuk suatu sub rumpun yang disebut Udu yang dikepalai oleh seorang Bangu Udu. Di Habba (Seba) terdapat 5 Udu yang nantinya akan terbagi lagi menjadi Kerogo-Kerogo. Di Sabu dan Raijua seluruhnya terdapat 43 Udu dan 104 Kerogo.

Diyakini terdapat pengaruh Majapahit yang pada abad ke 14 sampai awal abad ke 16 berhasil menguasai dan menyatukan nusantara terhadap kehidupan masyarakat Sabu. Beberapa bukti tersebut dapat dilihat pada:
– Mitos (cerita rakyat) yang memberikan penghormatan terhadap Raja Majapahit sehingga muncul cerita bahwa Raja Majapahit dan istrinya pernah tinggal di Ketita di Pulau Raijua dan Pulau Sabu.
– Ada kewajiban bagi setiap rumah tangga untuk memelihara babi yang setiap saat akan dikumpul untuk persembahan kepada Raja Majapahit.
– Ada batu peringatan untuk Raja Majapahit yang disebut Wowadu Maja dan sebuah Sumur Maja di wilayah Daihuli dekat Ketita.
– Setiap 6 tahun sekali ada upacara yang diadakan oleh salah satu Udu di Raijua, Udu Nadega yang diberi julukan Ngelai yang menurut cerita adalah keturunan orang-orang Majapahit.
– Motif pada tenunan selimut orang Sabu yang bergambar Pura.
– Di Mesara ada desa yang bernama Tana Jawa yang penduduknya mempunyai profil seperti orang Jawa dan ada tempat di dekat pelabuhan Mesara yang disebut dengan Mulie yang diambil dari bahasa Jawa Mulih yang berarti pulang.

Kontak awal adalah dengan Vereenigde Belanda Oost-Indische Companie pada tahun 1648. Referensi untuk Savu dari periode tersebut selalu menyangkut tentara Savati, tentara bayaran atau budak. Pada tahun 1674, awak kapal Belanda dibantai di Savu Timur, setelah kapal mereka kandas. Belanda menanggapi dengan membentuk sebuah aliansi dengan raja Seba, sehingga pasukan dapat dikirim untuk melakukan pembalasan. Namun, mereka gagal memasuki benteng Hurati, di Desa B’olou, Eastern Savu, karena dikelilingi oleh tiga dinding pertahanan. Untuk menyelamatkan muka, pasukan Belanda menerima pembayaran berupa budak, emas dan manik-manik.

Mobilitas ke luar Sabu dimulai sejak saat kontrak antara Sabu dan Belanda ditandatangani tahun 1756. Telah ditetapkan bahwa Sabu wajib menyediakan tentara bagi Belanda demi kepentingan pertahanannya di Kupang. Tujuan utama tenaga bersenjata ini adalah untuk melancarkan ekspedisi militer seperti yang dilakukan oleh Von Pluskow sejak 1758 hingga 1761. Ketrampilan orang Sabu di bidang militer ini ditambah dengan keberanian mereka meluaskan keterlibatan mereka antar lain ekspedisi di tahun 1838 untuk menghentikan kebiasaan orang Ende menyerang Sumba demi mendapatkan budak. Emigrasi orang Sabu ke Sumba yang diawali oleh hubungan perkawinan antara Raja Melolo di Sumba Timur dan Raja Sabu di Habba kemudian berkembang menjadi perkampungan Sabu di Sumba Timur.

Beberapa kali wabah penyakit menyerang penduduk Sabu diantaranya cacar yang memakan korban jiwa di tahun 1869 membuat Sabu dan Raijua kehilangan hampir seperenam jumlah mereka, kolera di tahun 1874 dan berulang tahun 1888 yang membuat rakyat di kedua pulau Sabu dan Raijua berkurang sangat signifikan. Baru sekitar tahun 1925 penduduk Sabu mencapai jumlah semula.

Pada tahun 1918 kerajaan-kerajaan kecil di pulau Sawu disatukan dalam satu swapraja Sabu yang di-perintahi oleh raja S. Th. Djawa.

Kanan: Hernimus Riwu, Raja kerajaan Liae dan kiri: raja kerajaan Raijua.


Peta kuno pulau Savu

Nusantara, tahun 1493

——————————–

Kepulauan Sunda Kecil, tahun 1725


Sumber / Source

Daftar Raja:  http://vecky-adoe.blogspot.co.id/2011/08/keluarga-kerajaan-liae.html
———————-

– Asal-Usul Orang Sabu: https://voxntt.com/2016/09/12/menarik-ini-asal-usul-orang-sabu-ntt/354/
– Sejarah Sabu Raijua: https://saburaijuakab.go.id/halaman/sejarah
– Sejarah Kab. Savu Raijua: https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Sabu_Raijua#Sejarah
– Sejarah Suku Savu: http://suku-dunia.blogspot.co.id/2015/01/sejarah-suku-sawu.html

English

Royals try to come back (2010): kerajaan indonesia


Foto

Fettor / Raja dari LiaE (foto ?)

Fettor / Raja of LiaE—————————————–
Makam radja Manu Riwu, di Dara Rae Ege. Lokasi: desa Waduwala, Kec. Sabu Liae, Kabupaten Sabu Raijua. Sumber foto: Jefrison Hariyanto Fernando, FB.

—————————————-
Makam radja Manu Riwu, di Dara Rae Ege. Lokasi: desa Waduwala, Kec. Sabu Liae, Kabupaten Sabu Raijua. Sumber foto: Jefrison Hariyanto Fernando, FB.


1 Comment

One thought on “LiaE, kerajaan / P. Sawu – Prov. Nusa Tenggara Timur

  1. Still try to know his name.The other principalities in this island group are Timu,Messara/Mesara,Seba and Raijua.In ca. 1870 Menia was abolshed and united with Seba.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: