Perean, kerajaan / Bali – kab. Tabanan

Kerajaan Perean, berlokasi disebelah Timur Laut Puri Agung Perean, Desa Perean, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali.

Lokasi kab. Tabanan

——————–
Lokasi pulau Bali


* Foto foto Bali dulu: link
* Foto foto situs kuno di Bali: link


Keturunan Puri Agung Perean

Tidak ada info tentang keturunan Puri ini.


Tentang Puri Agung Perean

Pura Agung Perean/Merajan Agung adalah Parhyangan tempat memuja kebesaran/keluhuran Raja Perean Ida Bhatara Sinuhun Arya Sentong. Dengan Pelinggih utama berupa Meru Tumpang Lima.
Disamping itu juga terdapat Pelinggih Pesimpangan Ida Bhatara Dalem Peed Nusa Penida,Taksu, Penyawangan Ida Bhatara Gunung Beratan, Menjangan Sluwang, Maospahit, Rambut Sedana, Penyawangan Ida Bhatara Gunung Agung, Ratu Panji, Pelinggih Medang Kemulan, Pengelurah, dan Pengaruman.
.
I Gusti Agung N Gede, Raja Perean ke XI (terakhir), Abiseka Ratu th 1881, gelar: Ida Anak Agung N Gede.

Kerajaan Perean Dipimpin Oleh I Gusti Agung N Gede Dari Kerajaan Marga
Dengan tewasnya I Gusti Made Pasek/raja Perean, menyebabkan di Perean terjadi kekosongan pemerintahan/tanpa raja.
Di Puri Marga, Raja Marga/I Gusti Agung Ketut Geria Nataratu mempunyai empat (4) orang putera;
I Gusti Agung N Gede
I Gusti Agung Gede Putera
I Gusti Putu Pemayun
I Gusti Made Batu.Untuk mengisi kekosongan kerajaan Perean, I Gusti Agung Ketut Geria Nataratu/raja Marga memerintahkan putera tertua beliau I Gusti Agung N Gede untuk menempati singgasana Perean.
I Gusti Agung N Gede mau menuruti kemauan ayahandanya menjadi raja di Perean dengan persyaratan sebagai berikut.

I Gusti Agung Pt Pengkuh (Saren Kauh) & Keluarga

Kerajaan Perean keberadaannya tidak dibawah kekuasaan Kerajaan Marga, mempunyai kedudukan dan derajat yang sama.
Hak dan kewajiban Kerajaan Perean sama dengan Kerajaan Marga.
Diperkenankan ke Perean membawa beberapa orang-orang terbaik, pintar dan tangguh milik kerajaan Marga.Seluruh syarat permintaannya terpenuhi, akhirnya I Gusti Agung N Gede pergi meninggalkan kerajaan Marga menuju Perean. Dinobatkan menjadi raja Perean, Ngabiseka Ratu pada tahun 1881.
– Tentang Puri di Bali: https://id.wikipedia.org/wiki/Puri_di_Bali

Lambang Puri Agung Perean

Lambang Puri Agung Perean


Puri di Bali

Puri di pulau Bali adalah nama sebutan untuk tempat tinggal bangsawan Bali, khususnya mereka yang masih merupakan keluarga dekat dari raja-raja Bali. Berdasarkan sistem pembagian triwangsa atau kasta, maka puri ditempati oleh bangsawan berwangsa ksatria.

Puri-puri di Bali dipimpin oleh seorang keturunan raja, yang umumnya dipilih oleh lembaga kekerabatan puri. Pemimpin puri yang umumnya sekaligus pemimpin lembaga kekerabatan puri, biasanya disebut sebagai Penglingsir atau Pemucuk. Para keturunan raja tersebut dapat dikenali melalui gelar yang ada pada nama mereka, misalnya Ida I Dewa Agung, I Gusti Ngurah Agung, Cokorda, Anak Agung Ngurah, Ratu Agung, Ratu Bagus dan lain-lain untuk pria; serta Ida I Dewa Agung Istri, Dewa Ayu, Cokorda Istri, Anak Agung Istri, dan lain-lain untuk wanita.

Puri Agung Perean

Bali, Perean, Tabanan - Puri Agung Perean (Merajan Agung Perean ...

 

Daerah atau wilayah kekuasaan puri-puri di Bali zaman dahulu, tidak berbeda jauh dengan wilayah administratif pemerintahan kabupaten dan kota di Provinsi Bali. Setelah Kerajaan Gelgel mulai terpecah pada pertengahan abad ke-18, terdapat beberapa kerajaan, yaitu Badung (termasuk Denpasar), Mengwi, Tabanan, Gianyar, Karangasem, Klungkung, Buleleng, Bangli dan Jembrana. Persaingan antardinasti dan antaranggota dinasti pada akhirnya menyebabkan Belanda dapat menguasai Bali dengan tuntas pada awal abad ke-20.

Setelah masa kolonial Belanda, Jepang dan masa kemerdekaan Indonesia, kekuasaan puri berubah menjadi lebih bersifat simbolis. Peranan berbagai puri di Bali umumnya masih tinggi sebagai panutan terhadap berbagai pelaksanaan aktivitas adat dan ritual Agama Hindu Dharma oleh masyarakat banyak.

I Gusti Agung Alit ( Saren Kangin) & Keluarga

perean - I Gusti Agung Alit ( Saren Kangin) & Keluarga


Sejarah singkat kerajaan-kerajaan di Bali

Kerajaan Bali merupakan istilah untuk serangkaian kerajaan Hindu-Budha yang pernah memerintah di Bali, di Kepulauan Sunda Kecil, Indonesia. Adapun kerajaan-kerajaan tersebut terbagi dalam beberapa masa sesuai dinasti yang memerintah saat itu. Dengan sejarah kerajaan asli Bali yang terbentang dari awal abad ke-10 hingga awal abad ke-20, kerajaan Bali menunjukkan budaya istana Bali yang canggih di mana unsur-unsur roh dan penghormatan leluhur dikombinasikan dengan pengaruh Hindu, yang diadopsi dari India melalui perantara Jawa kuno, berkembang, memperkaya, dan membentuk budaya Bali.

Kerajaan di Bali, sekitar tahun 1900.

Karena kedekatan dan hubungan budaya yang erat dengan pulau Jawa yang berdekatan selama periode Hindu-Budha Indonesia, sejarah Kerajaan Bali sering terjalin dan sangat dipengaruhi oleh kerajaan di Jawa, dari kerajaan Medang pada abad ke-9 sampai ke kerajaan Majapahit pada abad ke-13 hingga 15. Budaya, bahasa, seni, dan arsitektur di pulau Bali dipengaruhi oleh Jawa. Pengaruh dan kehadiran orang Jawa semakin kuat dengan jatuhnya kerajaan Majapahit pada akhir abad ke-15.
Setelah kekaisaran jatuh di bawah Kesultanan Muslim Demak, sejumlah abdi dalem Hindu, bangsawan, pendeta, dan pengrajin, menemukan tempat perlindungan di pulau Bali. Akibatnya, Bali menjadi apa yang digambarkan oleh sejarawan Ramesh Chandra Majumdar sebagai benteng terakhir budaya dan peradaban Indo-Jawa.
Kerajaan Bali pada abad-abad berikutnya memperluas pengaruhnya ke pulau-pulau tetangga. Kerajaan Gelgel Bali misalnya memperluas pengaruh mereka ke wilayah Blambangan di ujung timur Jawa, pulau tetangga Lombok, hingga bagian barat pulau Sumbawa, sementara Karangasem mendirikan kekuasaan mereka di Lombok Barat pada periode selanjutnya.

Sejak pertengahan abad ke-19, negara kolonial Hindia Belanda mulai terlibat di Bali, ketika mereka meluncurkan kampanye mereka melawan kerajaan kecil Bali satu per satu. Pada awal abad ke-20, Belanda telah menaklukkan Bali karena kerajaan-kerajaan kecil ini jatuh di bawah kendali mereka, baik dengan kekerasan atau dengan pertempuran, diikuti dengan ritual massal bunuh diri, atau menyerah dengan damai kepada Belanda. Dengan kata lain, meskipun beberapa penerus kerajaan Bali masih hidup, peristiwa-peristiwa ini mengakhiri masa kerajaan independen asli Bali, karena pemerintah daerah berubah menjadi pemerintahan kolonial Belanda, dan kemudian pemerintah Bali di dalam Republik Indonesia.


Peta kuno Bali

Klik di sini untuk peta kuno Bali 1618, 1683, 1700-an, 1750, 1800-an, 1856, abad ke-19.

 Bali abad ke-16 ?


Sumber / Source

– Pura Agung Perean: http://puriperean.blogspot.com/p/blog-page_1386.html
– Puri Perean: http://www.sandywarman.com/2013/05/silsilah-keturunan-arya-sentong-di-puri.html
Puri Perean: http://www.puraagungperean.blogspot.com/
– Sejarah kerajaan Perean dan kerajaan Marga: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/bali/perean-puri-agung/sejarah-kerajaan-perean-dan-kerajaan-marga/


 

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s