Payangan, kerajaan / Bali

Kerajaan Payangan dulu terletak di Bali, Kab. Gianyar, kecamatan Payangan sekarang. Berdiri 1735 – 1843.

The kingdom of Payangan was located on Bali, Kab. Gianyar, kecamatan Payangan.
For english, click here

Lokasi Payangan

——————–

Lokasi pulau Bali


Foto kerajaan-kerajaan di Bali

* Foto raja-raja Bali, yang masih ada: link
* Foto raja-raja Bali masa dulu: link
* Foto Bali dulu: link
* Foto situs kuno di Bali: link
* Foto puputan Denpasar, 1906: link
* Foto puputan Klungkung, 1908: link


* Video sejarah kerajaan-kerajaan di Bali, 45.000 SM – sekarang: klik


* Garis kerajaan-kerajaan di Bali: klik


KERAJAAN PAYANGAN

Sejarah kerajaan Payangan (1735-1843)

Sejarah Payangan berhubungan erat dengan kisah perjalanan Rsi Markandya yang berasal dari tanah Jawa ke Pulau Bali. Beliau mendirikan beberapa parahyangan/tempat suci umat Hindu sebagai tempat pemujaan yang masih dapat dilihat keberadaanya hingga sekarang ini. Di sinilah kemudian muncul kata parahyangan yang lambat laun berubah ejaan menjadi Payangan. Parahyangan sendiri memiliki arti tempat bersemayamnya para Dewata.

Di kecamatan Payangan pernah berdiri sebuah kerajaan dengan nama yang sama yaitu Kerajaan Payangan (1735 – 1843). Dimana runtuhnya kerajaan ini disebabkan oleh serangan dari Kerajaan Buleleng yang kemudian kisah ini tertulis di dalam naskah geguritan uwug payangan yang hingga kini masih tersimpan di Gedong Kirtya Singaraja.
– Sumber: Wiki

Ca 1842/3 Payangan menjadi daerah semi otonom. Keluarga penguasa dipandang sebagai sebuah dinasti. Kepala dinasti Ida Agra Dalem Pemayun wafat 17-1-2021.

Kepala dinasti Ida Agra Dalem Pemayun wafat 17-1-2021


Raja kerajaan Payangan

1) Raja Payangan I : Ida Cokorde Made Sukawati, bergelar: Ida Dewa Agung Made Sukawati
2) Raja Payangan II : Ida Cokorde Gede Anom, bergelar: Ida Dewa Agung Anom.
3) Raja Payangan III : Ida Cokorde Putu Melinggih, bergelar: Ida Dewa Agung Rangki.
4) Raja Payanga IV : Ida Cokorde Gede Oka, bergelar: Ida Dewa Agung Gede Agung Gede Oka.
5) Raja Payangan V : Ida Cokorde Gede Rai, bergelar: Ida Dewa Agung Gede Rai.
6) Raja Payangan VI : Ida Cokorde Gede Oka, bergelar: Ida Dewa Agung Gede Oka Putra.

– Sumber: http://lovepayangan.blogspot.co.id/

Kerajaan Payangan, 1835 M

Bali, 1835 M


Puri (istana) di Bali

Puri di pulau Bali adalah nama sebutan untuk tempat tinggal bangsawan Bali, khususnya mereka yang masih merupakan keluarga dekat dari raja-raja Bali. Berdasarkan sistem pembagian triwangsa atau kasta, maka puri ditempati oleh bangsawan berwangsa ksatria.

Puri-puri di Bali dipimpin oleh seorang keturunan raja, yang umumnya dipilih oleh lembaga kekerabatan puri. Pemimpin puri yang umumnya sekaligus pemimpin lembaga kekerabatan puri, biasanya disebut sebagai Penglingsir atau Pemucuk. Para keturunan raja tersebut dapat dikenali melalui gelar yang ada pada nama mereka, misalnya Ida I Dewa Agung, I Gusti Ngurah Agung, Cokorda, Anak Agung Ngurah, Ratu Agung, Ratu Bagus dan lain-lain untuk pria; serta Ida I Dewa Agung Istri, Dewa Ayu, Cokorda Istri, Anak Agung Istri, dan lain-lain untuk wanita.

Daerah atau wilayah kekuasaan puri-puri di Bali zaman dahulu, tidak berbeda jauh dengan wilayah administratif pemerintahan kabupaten dan kota di Provinsi Bali. Setelah Kerajaan Gelgel mulai terpecah pada pertengahan abad ke-18, terdapat beberapa kerajaan, yaitu Badung (termasuk Denpasar), Mengwi, Tabanan, Gianyar, Karangasem, Klungkung, Buleleng, Bangli dan Jembrana. Persaingan antardinasti dan antaranggota dinasti pada akhirnya menyebabkan Belanda dapat menguasai Bali dengan tuntas pada awal abad ke-20.

Setelah masa kolonial Belanda, Jepang dan masa kemerdekaan Indonesia, kekuasaan puri berubah menjadi lebih bersifat simbolis. Peranan berbagai puri di Bali umumnya masih tinggi sebagai panutan terhadap berbagai pelaksanaan aktivitas adat dan ritual Agama Hindu Dharma oleh masyarakat banyak.

Gerbang Utama Puri Saren Agung Ubud


Pura (tempat ibadah) di Bali

Pura adalah istilah untuk tempat ibadat agama Hindu di Indonesia. Pura di Indonesia terutama terkonsentrasi di Bali sebagai pulau yang mempunyai mayoritas penduduk penganut agama Hindu.
Tidak seperti candi atau kuil Hindu di India yang berupa bangunan tertutup, pura di Bali dirancang sebagai tempat ibadah di udara terbuka yang terdiri dari beberapa zona yang dikelilingi tembok. Masing-masing zona ini dihubungkan dengan gerbang atau gapura yang penuh ukiran. Lingkungan atau zonasi yang dikelilingi tembok ini memuat beberapa bangunan seperti pelinggih yaitu tempat suci bersemayam hyang, meru yaitu menara dengan atap bersusun, serta bale (pendopo atau paviliun). Struktur tempat suci pura mengikuti konsep Trimandala, yang memiliki tingkatan pada derajat kesuciannya.

Pura Besakih

Pura Besakih adalah sebuah komplek pura yang terletak di Desa Besakih. Komplek Pura Besakih terdiri dari 1 Pura Pusat (Pura Penataran Agung Besakih) dan 18 Pura Pendamping (1 Pura Basukian dan 17 Pura Lainnya). Pura Besakih merupakan pusat kegiatan dari seluruh Pura yang ada di Bali. Di antara semua pura-pura yang termasuk dalam kompleks Pura Besakih, Pura Penataran Agung adalah pura yang terbesar.


SEJARAH SINGKAT KERAJAAN-KERAJAAN DI BALI

Untuk sejarah singkat kerajaan-kerajaan di Bali, klik di sini

Kerajaan di Bali, sekitar tahun 1900.


Peta kuno Bali

Klik di sini untuk peta kuno Bali 1618, 1683, 1700-an, 1750, 1800-an, 1856, abad ke-19.

 Bali abad ke-16 ?


Sumber kerajaan Payangan

– Sejarah kerajaan Payangan: http://idabagusbajra.blogspot.co.id/
– Sejarah kerajaan Payangan: http://lovepayangan.blogspot.co.id/
– Kerajaan Payangan di Wiki: https://id.wikipedia.org/wiki

Intervensi Belanda di Bali, 1846, 1848, 1849, 1906, 1908

– 1846: Perang Bali I: Intervensi belanda, 1846
– 1848: Perang Bali II: Intervensi belanda, 1848
– 1849: Perang Bali III: Intervensi belanda, 1849
– 1906: Intervensi belanda di Bali / Puputan 1906: Intervensi belanda, 1906
1908: Intervensi Belanda di Bali / Puputan 1908: Intervensi belanda, 1908


Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: