Sejarah terbentuknya negeri Tananahu

Info di bawah di ambil dari: https://gpmbethabara.org/2018/06/25/sejarah-terbentuknya-tananahu/

————————————–

PERJALANAN MOYANG TANANAHU DAN MOYANG YAPISANO

Moyang Tananahu dan Moyang Yapisano berasal dari Latea – Seram Bagian Utara. Pada saat itu terjadi Peperangan (Perebutan Kekuasaan) antara Upu Latu Kakilete Sununuwe Marihunu dengan Upu Latu Waile – Latea dan Moyang-moyang ini ditahan oleh Upu Latu Kakilete Sununuwe Marihunu. Waktu ditawan mereka tersiksa sehingga mereka melarikan diri Marihunu ke arah Seram Bagian Barat untuk mencari kenyamanan. Namun apa boleh dikata, mereka terpisah sehingga Moyang Tananahu melanjutkan perjalanan ke arah bagian timur ke suatu tempat yaitu Batae Ulate Sulupe (Batang Gunung Sulupe). Karena merasa tidak nyaman maka mereka berpindah tempat lagi ke Koli – Kolia. Sedangkan Moyang Yapisano melanjutkan perjalanan menuju ke Sumit Pasinaro kemudian ke arah timur menuju Here Pulane dan tanpa disangka-sangka merekapun bertemu di Koli-Kolia dengan Moyang Tananaku.

PERJALANAN MOYANG WAYE DAN MOYANG PITALESIA

Moyang Waye dan Moyang Pitalesia berasal dari Huamual – Seram Bagian Barat. Pada saat terjadi peperangan mereka keluar mencari tempat aman untuk berdiam. Moyang Weye dalam perjalanannya menuju ke arah timur dan sampai di Tala Batae dengan mengguakan gosepa dari pegunungan melalui aliran air menuju ke lautan lepas dan merekapun terbawa arus sehingga gosepa yang ditumpangi terkandas di tanusang Wai Ruisi dan mereka turun dari gosepa dan berilindung dibawah pohon Weye (Pohon Lawang). Setelah itu Moyang Weye bergabung di Koli-Kolia bersama Moyang Tananahu dan Moyang Yapisano.

Moyang Pitalesia dalam perjalanannya menuju ke arah timur dan sampai di Tala Batae dengan mengguakan gosepa dari pegunungan melalui aliran air menuju ke lautan lepas dan merekapun terbawa arus sehingga gosepa yang ditumpangi terkandas di tanusang Wai Eleuw dan iapun turun dari gosepa kemudian berjalan meuju aliran air ke arah pegunungan maka sampailah ia ke suatu tempat yang aman bernama Tihuyawale yang artinya telaga ganemo utang.

Sebelum injil masuk ke Tananahu kira-kira tahun 1625, penduduk negeri ini sudah memeluk agama suku yang berbakti dan menyembah kepada ilah-ilah atau dewa-dewa. Yang dimaksud dengan ilah-ilah yaitu penguasa-penguasa alam yang sakti dan gaib, bahkan tidak dapat dilihat dengan mata telanjang.Dewa-dewa ini adalah wahana leluhur yang didewakan karena dianggap perkasa, pemberani, seperti ritual pemanggilan arwah para leluhur, ritual pengenalan menantu ke matarumah (Kaeng Om).

Dalam perkembangan selanjutnya agama suku ini berakhir pada saat agama Kristen dengan penginjilannya yang intensif masuk ke negeri Tananahu oleh orang Belanda dan penginjil-penginjil. Pada tahun 1814 – 1825 Belanda mulai memakai orang-orang kepercayaannya yang berasal dari Maluku terutama dari Saparua sebagai penunjuk (perintis) jalan untuk melakukan penyebaran injil. Gerakan ini diberi nama Resident Piru oleh Van Azen, salah satunya di pesisir selatan Pulau Seram. Raja Negeri Ouw I (Marga Pelupessy) adalah orang kepercayaan Belanda sebagai penunjuk jalan penyebaran injil di negeri Koli-Kolia (Negeri Lama Tananahu) dan dilanjutkan oleh guru injil Lukas Mailoa (Asal Nusalaut – Ameth) dari tahun 1849 sampai dengan 1856.

Pada Tahun 1814 dengan masuknya injil tersebut, maka mengakibatkan Moyang-moyang ini turun dari Koli-Kolia dan Tihuyawale menuju pesisir pantai teluk Elpaputih dan membangun negerinya masing-masing. Namun dengan berlalunya waktu ada kesepakatan sehingga pada tahun 1937 orang Weye (Awaiya), orang Yapisano (Apisano) dan orang Pitalesia (Hitalesia) bergabung di negeri Tananaku (Tananahu) Pasune Waralatu sebagai satu negeri sampai sekarang ini.

Demikianlah sejarah perjalanan Moyang-moyang ke empat soa (SOA TANANAHU, SOA YAPISANO, SOA WAYE DAN SOA PITALESIA)