Sejarah lengkap kerajaan Loloda

Sumber: https://arkeologiriset.wordpress.com/2017/11/01/kerajaan-loloda/

—————————————–

Latar Belakang Lahirnya Kerajaan Loloda

Lahirnya kerajaan-kerajaan di  Maluku tidak terlepas lahirlah kerajaan Loloda, selain kerajaan Ternate, Bacan, Tidore dan Jailol. Kerajaan di Maluku atau “Moluku kie raha,empat kerajaan di kepulauan yang berkembang, sementara kerajaan Loloda dan yang lainya kerajaan Moro Obi, tidak begitu berkembang seperti kerajaan lainya.

Mula-mula terbentuk kerajaan –kerajaan ditanah moluku atau mollucas berawal dari Jafar Sadik seorang Tokoh yang dikenal pada jaman Abad 13. Ada beberapa hikayat tentang Jafar Sadik baik di Ternate, Tidore maupun Bacan, menurut sejarah Bacan, Jafar Sadik mempunyai 4 anak laki-laki dan empat anak perempuan dan merupakan awal babak terbentuknya kerajaan-kerajaan di bumi moluku.

Kerajaan Loloda terbentuk dari anak perempuan Jafar Sadik yaitu Boki Sagarnawi yang selanjutnya berkembang turun temurun. Sementara 3 anak perempuan lainya membentuk kerajaan Tombungku Boki Sadarnawi Kerajaan Banggai Boki Sakarnawi, sedangkan anak laki-laki yaitu Said Muhammad Bakir menjadi Raja Bacan Said Ahmad sari menjadi raja Jailolo Said Muhammad Nahil menjadi Raja Tidore, Said Muhamad Nuravafor menjadi raja Ternate.

Kerajaan Loloda terbentuk berkisar tahun 1200, Sebab pada tahun 1250 terjadi perkawinan antara Raja Loloda dan Putri Jailolo dan diperkirakan kerajaan Loloda lebih dulu terbentuk dari kerajaan Jailolo, jadi ada perkawinan politik antara penguasa Loloda dan penguasa Jailolo dan akhirnya pada tahun 1250 kerajaan Jailolo teritorialnya mencakup hampir seluruh Halmahera termasuk kerajaan Loloda.

Menurut pemerhati Sejarah lokal Abdul Hamid Hasan dalam bukunya “Aroma Sejarah dan Budaya Ternate” mengungkapkan bahwa secara umum Kerajaan-kerajaan Maluku termasuk Kerajaan Loloda dan Kerajaan Moro berdiri pada abad ke-13. Bahkan disebutkan juga bahwa dua kerajaan ini adalah yang tertua di Halmahera.

Dalam Kroniek Van Het Rijk Batjan (Kronik Kerajaan Bacan) sebagaimana dutulis oleh Coolchaas, dikisahkan bahwa Kerajaan Loloda didirikan oleh Kaicil Komalo Besy, putera Sultan Bacan yang pertama Said Muhammad Baqir Bin Jafar Shadik yang bergelar Sri Maharaja yang bertahta di bukit Sigara dengan perkawinannya dengan Boki Topowo dari Galela.

Menurut cerita masyarakat Loloda mengungkapkan bahwa Kerajaan Loloda didirikan oleh seorang tokoh legendaris yang datang dari Ternate via Galela. Tokoh ini bernama Kolano Tolo alias Kolano Usman Malamo. Peristiwa kedatangan Raja Loloda ini berkaitan dngan meletusnya Gunung Tarakani di Galela (cerita lain menyebut Gunung Mamuya) yang kemudian mendorong tokoh ini menyingkir ke Loloda. Dari peristiwa inilah yang kemudian menjadi cikal-bakal nama Loloda yang dalam bahasa Galela disebut Loda yang berarti pindah atau hijrah. Sebelumnya nama Loloda adalah Jiko Mabirahi.

Pengaruh raja Loloda sempat gaungnya di Bolaang abad 16

Ketika bangsa eropa tiba di maluku awal abad 16 kerajaan Loloda sudah tidak berperan dan tidak berpengaruh karena sudah diamuksasi oleh kerajaan Ternate, namun hingga tahun 1662 kerajaan Loloda yang berpenduduk sekitar 200san orang masih diberikan kesempatan menggunakan gelar kolano raja Loloda.

Demikian dalam perjuangan Nuku melawan belanda barisan penasehat yang diangkat adalah 5 orang antara lain imam Loloda 2 dari Maba, 1 dari Galela, 1 dari maluku.

Sejarawan Paramita Abdurachman mengungkapkan bahwa menurut sumber Nagarakertagama dari Majapahit, pada masa paling awal ada seorang kolano yang berkuasa di Loloda, Halmahera Utara. Tetapi, kolano ini kehilangan kekuasaannya dengan munculnya Kolano Jailolo pertama, yang berwibawa namun tiran.

Kolano Jailolo pertama ini seorang wanita, karena diberitakan bahwa ia kemudian menikah dengan Kolano Loloda. Perkawinan ini barangkali bersifat politis dan ditujukan untuk memperluas wilayah Jailolo dengan mencakupkan wilayah Loloda ke dalamnya. Setelah Ratu Jailolo yang tiran itu wafat, Loloda mampu melepaskan diri dari kekuasaan Jailolo.

Loloda adalah kerajaan miskin yang di masa lampau dimitoskan sebagai satu-satunya perempuan yang ditetaskan telur naga. Menurut mitos ini, di zaman dulu belum ada raja dan orang-orang hidup di dalam kelompok masing-masing dengan dipimpin para tetuanya, dan sering terjadi peperangan di antara berbagai kelompok, dan persekutuan itupun akhirnya pecah, karena saling membunuh antara satu dengan lainnya. Pada masa itu, satu kelompok berusaha lebih kuat dari yang lain. Walaupun pemerintahan mulai tumbuh, tetapi raja tetap tidak ada atau belum eksis.

Alkisah, pada suatu hari, seorang tua paling berpengaruh di pulau Bacan bernama Bikusagara, pergi melaut dengan sebuah perahu kora-kora. Ia menemukan serumpun rotan yang tumbuh dekat tebing laut yang sangat curam. Bikusagara menyuruh beberapa awak perahunya menyelam dan memotong beberapa batang. Tetapi ketika batang rotan dipotong, darah mengucur darinya.

Melihat fenomena aneh ini, Bikusagara sendiri serentak melompat dan menemukan empat butir telur naga yang terletak di antara batu karang. Ketika mendekati telur-telur tersebut, ia mendengar suara yang memerintahkan padanya agar telur-telur naga itu dibawa pulang ke rumahnya, karena telur-telur itu akan menetaskan pribadi-pribadi yang tinggi martabatnya.

Dengan sangat hati-hati Bikusagara membawa pulang telur-telur itu ke rumahnya, kemudian diletakkan pada sebuah kotak yang terbuat dari rotan – disebut totombo. Beberapa lama kemudian, telur-telur itu menetaskan 3 anak laki-laki dan seorang perempuan. Setelah dewasa, anak laki-laki yang tertua menjadi Raja Bacan, yang kedua menjadi Raja Papua, dan yang ketiga menjadi Raja Bungku dan Banggai. Sementara anak perempuan menjadi permaisuri Raja Loloda.

Keturunan dari empat raja inilah yang kelak menjadi raja-raja di Maluku. Menurut mitos telur naga, Raja Loloda berasal dari keturunan salah satu telur naga yang suci. Karena itu, walaupun Loloda akhirnya dianeksasi Ternate, penguasanya tetap menyandang gelar Raja. Sampai 1662, penduduk kerajaan kecil ini hanya terdiri dari 200 orang, dan setengahnya adalah orang Galela.

Raja Loloda adalah seorang yang miskin, karena daerahnya tidak ditumbuhi pohon rempah-rempah. Ia tidak memiliki budak, dan permaisurinya – yang mempunyai hubungan dengan Kaicil Alam dari Jailolo, karena salah seorang Ratu Jailolo di masa awal penah menikah dengan Raja Loloda – melakukan semua pekerjaan rumah seorang diri, seperti memasak makanan untuk Raja dan anak-anak, menyuci pakaian, dan mengambil kayu bakar di hutan.

Apabila persediaan pangan menipis, sang Raja sendiri yang pergi menebang pohon sagu dan mengolahnya untuk memperoleh tepung sagu. Ia juga melaut memancing ikan, masuk hutan berburu, dan melakukan pekerjaan lain yang lazim dilakukan rakyat biasa.

Ibukota kerajaan Loloda dihuni pemukim Muslim, dan orang-orang Alifuru mendiami daerah pedalaman sekitar beberapa kilometer dari ibukota. Kerajaan Loloda hanya mempunyai 16 tenaga tempur laki-laki dari golongan Islam, dan sekitar 60 tenaga tempur Alifuru.

Walaupun demikian, karena warisan historis, Loloda selalu menempati tempat khusus dalam upacara para raja Maluku dan berhak menyandang gelar Kolano. Karena berasal dari keturunan telur naga, Raja Loloda memperoleh kedududukan dan martabat yang setara dengan raja-raja Maluku yang berasal dari kerajaan-kerajaan besar seperti Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo.

Gubernur Maluku, Robertus Padtbrugge (1677-1682), dalam memori serah terima jabatan kepada penggantinya Jacob Lobs (1682-1686), mengingatkan sebutan yang terkenal bagi kerajaan-kerajaan di Maluku sebagai berikut:

Loloda, ngara ma-beno (dinding pintu)
Jailolo, jiko ma-kolano (penguasa teluk)
Tidore, kie ma-kolano (penguasa pegunungan)
Ternate, kolano Maluku (penguasa Maluku)
Bacan, dehe makolano (penguasa daerah ujung)

Makna sebutan di atas menunjukkan bahwa dalam deretan kerajaan-kerajaan Maluku, Loloda termasuk salah satu di antaranya. Kerajaan Loloda adalah bagian tak terpisahkan darikerajaan-kerajaan besar seperti Ternate, Tidore, Bacan dan Jailolo. Tetapi, tentu saja, pengaruhnya tidak begitu signifikan dalam percaturan politik Maluku. Sebagai ngara ma-beno, Kerajaan Loloda yang terletak di bagian utara Halmahera, menjadi “pintu masuk” ke kerajaan-kerajaan Maluku. Sedangkan Bacan, sebagai daerah paling ujung di selatan, merupakan pintu keluarnya.

Menurut Sejarah Maluku versi Tidore, raja-raja Loloda berinduk pada puteri Jafar Sadek ketiga, Sagarnawi. Kerajaan-kerajaan Maluku, yakni Loloda, Jailolo, Tidore, Ternate dan Bacan, merupakan panca tunggal. 5 Bila kerajaan-kerajaan ini diasosiasikan dengan soa fala raha, maka muncul skema berikut ini:

Ternate —-> Marsaoli,
Tidore —-> Limatahu,
Jailolo —-> Tomagola,
Bacan —-> Tomaito, dan
Loloda —-> Tamadi.

Ketika dilakukan pertemuan Moti pada 1322, yang diprakarsai Ternate, Loloda juga diundang. Raja Loloda telah meninggalkan kerajaannya untuk menghadiri pertemuan tersebut.

Tetapi, lantaran angin ribut, delegasi Loloda terpaksa mendarat di Dufa-dufa Ternate dan gagal mencapai Moti. Karena itu, kerajaan ini tidak ikut dalam persekutuan tersebut dan kemudian menjadi bulan-bulanan politik ekspansi Ternate.

Ketika bangsa Eropa tiba di Maluku pada permulaan abad ke-16, Kerajaan Loloda sudah tidak berperan dan tidak berpengaruh lagi lantaran dianeksasi Ternate. Walaupun demikian, hingga 1662, kerajaan yang berpenduduk sekitar 200 jiwa ini – sebagiannya adalah orang-orang Galela – masih dibiarkan Ternate berfungsi di bawah kekuasaannya, dan Raja Loloda masih diperkenankan menggunakan gelar kolano. Demikian pula, dalam perjuangan Nuku melawan Belanda, barisan penasehat yang diangkatnya terdiri dari lima orang, masing-masing dua dari Maba, Kimalaha Galela, seorang dari Mareku, dan Imam Loloda.

Ketika Ternate di bawah kendali Sultan Hamzah (1627-1648), kerajaan Loloda praktis tenggelam. Pada 1628, atas perintah Hamzah, sejumlah penduduk Loloda dipindahkan ke Jailolo, setelah banyak penduduk Jailolo meninggalkan negerinya sebagai protes atas dilikuidasinya kerajaan mereka oleh Ternate.

1993 tercatat bahwa pada masa lalu Kerajaan Loloda adalah sebuah wilayah yang cukup kuat dan mengakui kekuasaan Ternate sebagai wilayah pusat, sehingga Loloda adalah wilayah taklukan atau wilayah vassal dari Ternate.

Antonio Galvao, tentara yang yang pernah menjadi Gubernur Portugis di Maluku, dalam sebuah catatannya menuliskan bahwa Loloda adalah sebuah desa kecil yang kacau, dan masa lalunya hanya tinggal kenangan.

Pemerintah Hindia-Belanda pada tahun 1686 menyebut Loloda sebagai desa yang terletak di tepi sungai dengan air payau. Loloda merupakan kampung muslim, disitu raja dan ibunya tinggal dan lima desa Alifuru yang terletak di pedalaman.

Meskipun pernah dikenal sebagai kerajaan Islam, namun tidak terkonfigurasi ke dalam Motir Staten Verbond (persekutuan raja-raja Maluku) pada 1322-1343, dan Loloda juga tidak pernah terdengar sebagai kerajaan Islam dengan raja yang bergelar sultan.

Tahun 1908 terjadi perang Loloda yang berakibat pada kekalahan yang diderita oleh masyarakat Loloda. Kerajaan yang terletak di tepi Sungai Soasio atau sering dikenal juga Sungai Loloda kemudian ditinggalkan kosong begitu saja oleh penduduknya.
Mereka pindah dan menyebar menempati tempat-tempat baru, baik di sepanjang pesisir Pantai Loloda utara ataupun Loloda kepulauan.

“Tampaknya dalam berbagai penulisan sejarah Loloda memang banyak diabaikan. Kerajaan ini dianggap hilang tak berbekas sekitar tahun 1900-an akibat kalah bersaing dengan pihak kolonial,” ucap Wuri.

Menurut dia, Loloda secara mitologis dan geohistoris adalah bagian dari kehadiran atau kemunculan raja dan kerajaan-kerajaan awal di Maluku.

Loloda memiliki luas wilayah yang mencakup hampir separuh Kepulauan Halmahera, bahkan bisa dikatakan seluruh pulau itu dahulunya adalah bagian dari miliknya, tetapi sejarah tentang itu sejauh ini masih sangat sulit ditemukan.

“Banyak ungkapan yang kemudian muncul mengenai Loloda sejauh ini, diindikasikan sebagai kata atau konsep yang terabaikan, tersingkirkan, hilang, dan terlupakan dalam sejarah Lokal Maluku Utara dan sejarah nasional Indonesia,” ucapnya.

Berdasarkan letak geografisnya saat ini, Loloda berada di Pulau Halmahera di bagian utara dan Barat, yang secara umum terbagi menjadi Loloda Utara di Halmahera Utara dan Loloda Selatan di Halmahera Barat. Tipologi geografis Loloda terdiri dari Loloda daratan, Loloda kepulauan, Loloda teluk, dan Loloda pegunungan.

Wilayah kerajaan Loloda, kata Wuri lagi, diperkirakan adalah wilayah Kecamatan Loloda di Kabupaten Halmahera Barat, Kecamatan Loloda Utara dan Loloda Kepulauan yang termasuk wilayah administratif Kabupaten Halmahera Utara.

“Banyak ungkapan yang kemudian muncul mengenai Loloda sejauh ini, diindikasikan sebagai kata atau konsep yang terabaikan, tersingkirkan, hilang, dan terlupakan dalam sejarah Lokal Maluku Utara dan sejarah nasional Indonesia,” ujar Wuri Handoko.

Dalam Surat Gezaghebber Ternate tertanggal 8 September 1808, disebutkan bahwa kepala distrik Loloda yang selama ini dianggap sebagai distrik ternyata memiliki struktur pemerintahan sebagaimana kerajaan-kerajaan lain seperti Ternate. Penguasa Loloda tetap memakai nama Kolano Loloda dan mempunyai Bobato Madopolo yang lengkap yang terdiri dari Jogugu, Kapita Laut, Hakim sampai pada Sowohi dan Jabatan-jabatan dibawah lainya. Kerajaan Loloda masih berdiri sampai abad 19, namun pamornya kalah oleh tiga kerajaan besar yang ada di Maluku Utara. Kesultanan Loloda baru berakhir pada abad ke 20 tepatnya pada tahun 1908. Peristiwa yang menyebabkan Kesultanan Loloda jatuh adalah adanya pergolakan politik internal kerajaan dan adanya pengaruh dari pemerintah Hindia-Belanda.

Ketika Kolano Sunia wafat pada awal abad ke-20 ini, terjadi perebutan Tahta Kolano Loloda oleh empat orang Kaicil (Jongofa) yakni Jongofa Arafane, Jongofa Syamsudin, Jongofa Nasu dimana ketiganya merupakan putera dari Kolano Sunia dan Jongofa Koyoa yang merupakan putera dari Kapita Lau Dumba. Dalam perebutan ini, Jongofa Syamsuddin berhasil menduduki Tahta Kolano Loloda atas keinginan para Bobato dan pertimbangan Kesultanan Ternate maupun Belanda. Sementara Jongofa Arafane direstui sebagai Kapita Lau, Jongofa Nasu diberi penghormatan sebagai Kapita Lau Majojo (Kapita Laut Muda). Sementara Kayoa hanya berhak menyandang gelar Jongofa atau Kaicil. Karena tidak merasa puas dengan kedudukannya, Koyoa pun kemudian memutuskan untuk tidak bergabung dengan keluarga Istana. Ketika dilakukan penagihan balasting oleh pegawai utusan Belanda di Loloda, Kayoa mengajukan protes terhadap Kolano Syamsuddin karena dianggap tidak bijaksana menjadi seorang Kolano. Ia membiarkan pihak Belanda memungut pajak secara semena-mena terhadap rakyat. Menurut Kayoa, pembayaran balasting atau pajak mesti diserahkan oleh rakyat kepada pihak kerajaan bukan kepada Belanda .

Aksi Kayoa ini diekspresikan dengan memprovokasi warga untuk menjatuhkan kewibawaan Kolano Syamsuddin. Ketika utusan/mantri Pajak Belanda sedang berada di dalam Keraton Loloda, seorang Kapita dari Soa Laba yang bernama Sikuru dengan dua rekannya Bagina dan Tasa dari Soa Bakun mendatangi Keraton dan membunuh Mantri Pajak Belanda tersebut di hadapan Kolano Syamsuddin dan Joboki Habiba sebagai bentuk protes terhadap Kolano Syamsuddin. Kapita Sikuru, Bagina dan Tasa adalah pesuruh Kaicil Kayoa.

Akibat pembunuhan terhadap Mantri Pajak Belanda itu, menimbulkan amarah pihak Belanda karena dianggap menentang kebijakan Pemerintah Hindia Belanda. Belanda pun kemudian mendatangkan aparat keamanannya untuk meredam aksi yang dilakukan oleh tiga warga Loloda tersebut. Akan tetapi kedatangan aparat Belanda di Loloda tersebut sempat dihadang oleh Kapita Sikuru dari Soa Laba dan sekelompok masyarakat yang telah disiapkan oleh Kaicil Kayoa. Perlawanan ini oleh masyarakat Loloda dikenang sebagai peristiwa Perang Laba (Gogoru Laba) tahun 1908.

Perlawanan terhadap Belanda tersebut, mengakibatkan Kolano Syamsuddin diminta untuk mempertanggungjawabakan aksi warganya. Ia kemudian dibawa ke Ternate bersama permaisurinya Joboki Habiba dan anak-anaknya. Karena tidak dapat mempertanggung jawabkan aksi yang dilakukan oleh warganya, Kolano Syamsuddin pun kemudian tidak diperkenankan kembali ke Loloda. Ia sempat dibawa ke Jawa dan baru diperkenankan kembali ke Ternate pada tahun 1915. Sementara Permaisurinya dan anak-anaknya tetap berada di Ternate. Joboki Habiba wafat pada tahun 1912 dan Kolano Syamsuddin wafat pada tahun 1915. Keadaan ini menggambarkan bahwa Kolano Syamsuddin wafat setelah dikembalikan oleh Belanda dari pengasingan di Pulau Jawa. Setelah Kolano Syamsuddin diansingkan, secara otomatis kekuasaan Kerajaan Loloda pun berakhir dan Kerajaan Loloda berada di bawah kekuasaan Kerajaan Ternate.

Sumber

1) Abdurachman, Paramita R.,et.al.,(eds.), Op.Cit.p.163.

2) Lihat juga Francoise Valentijn, Oud en Nieuw Oost Indie, ed. Dr. Salomon Keyzer, s’Gravenhage: H.C. Susan & C.H. Zoon, 1856, jilid I, pp. 250 ff.

3) Jacobs M.SJ,(ed.) A Treatise on the Moluccas, Jesuit Historical Institute, Roma, 1971 pp.81.