Foenay, kerajaan / P. Timor – prov. Nusa Tenggara Timur

Kerajaan Foenay terletak di pulau Timor, kelurahan Oepura, Kota Kupang.

Kota Kupang

———————
Lokasi pulau Timor


* Foto raja-raja sekarang di Timor: link
* Foto raja-raja dulu di Timor: link

* Foto situs kuno pulau Timor: link
* Foto suku Timor: link


Tentang kerajaan Foenay

Kerajaan Helong yang berpusat di Oepura dulunya mempunyai dua wilayah kekuasaan yaitu yang dipimpin Welhelmus Foenay mencakup Bolok, Kuanheum dan beberapa daerah lainya. Kerajaan Sonbay Kecil yang dipimpin Eben Foenay mencakup Baumata, Oehani, Besmarak, Oben dan Kolhua.

Negara Kupang menjadi federasi pada tahun 1917, yang terdiri dari kerajaan Sonbai Kecil, Amabi, Amaabi-Oifetto, Foenay, TaEbenu, dan Helong.
Raja Foenay –leluhur dari Esthon– adalah salah satu raja yang termasyhur. Bersama raja-raja lain, yakni Sonbai Kecil, Amabi, Amabi-Oifetto, TaEbenu dan Helong, raja Foenay memimpin dengan bijak.

Sonaf yang merupakan pusat kerajaan Foenay, seiring waktu dan perubahaan sistem pemerintahan negara semakin memudar. “Dulu kalau warga di sini memanggil kami Amlahi (sapaan untuk bangsawan), namun kami tidak terlalu terikat dengan panggilan itu. Keinginan kami agar bisa lebih dekat dekat masyarakat, jadi kita bergaul seperti biasa saja,” tutur Kolan.
Mince Foenay yang tinggal di Sonaf Foenay, mengatakan dulunya sonaf tersebut pernah dibom oleh tentara Sekutu. Sekutu, katanya, berpikir kalau sonaf tersebut menjadi tempat persembunyian para penjajah.
Sonaf yang merupakan pusat kerajaan Foenay dibangun tahun 1910 beratap genteng kemudian alang-alang. Setelah dibom oleh sekutu, dibangun lagi menggunakan atap seng.

Konon, sonaf tersebut merupakan tempat penyelesaian semua perkara yang terjadi dalam masyarakat. Sonaf itu juga sebagai tempat pelaksanaan kegiatan adat seperti pernikahan dan acara lainnya.
Sonaf atau Istana kerajaan Foenay terletak di Jalan Anggrek Kelurahan Oepura ini masih berdiri kokoh. Bangunan ini berbentuk klasik namun sudah direhab di beberapa bagian. Nampak pepohonan yang berumur ratusan tahun masih berdiri kokoh di halaman sonaf yang cukup luas itu.
– Sumber: http://kupang.tribunnews.com/2014/03/14/oepura-dulu-jadi-pusat-kerajaan

From mr Tick:  Foenay is a Helong kerajaan in Kupang, but not the only Helong kerajaan. The Bislissin dynasty also rules: noawadays: the Helong people on Semau island and a bit on Timor island.
So the kerajaan2 in Kupang area are Sonbai Kecil, Amabi, Amabi Oefetto, TaEbeu and Foenay.


Daftar raja kerajaan Foenay (Funai)

1749-setelah 1767: Lafu I
1797-1806: Jacob Liskoen
1805: Kolo [putera Lafu I.]
1832: Lelo [saudara]
1840-1873: Lafu II [cucu Lafu I]
1874-?: Toh Liskoen [cucu lelaki Lafu I]
1888-1906: Kolan Funai [putera Lafu II]
1906-1917: Kolan Laurens Funai [cucu Toh Liskoen]

  • Masuk Kupang tahun 1917

Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_rulers_of_Timor#Kings_of_Funai.5B42.5D


Istana kerajaan Foenay

10 november 2019
Kerinduan dan keinginan keluarga besar Foenay selama ini kini terjawab sudah dengan diresmikannya Rumah Adat atau Lopo adat kefetoran Foenay, di Sonaf Polla, Jln. Anggrek, Kelurahan Oepura, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang.
Di tengah-tengah halaman rumah adat Fetor ke Fetoran Foenay kerajaan Kupang Bapak, (Alm) Welhemus Kornelis Foenay yang di kukuhkan menjadi Fetor Foenay tertanggal 28 Oktober 1928 dan meninggal dunia pada tanggal 12 April 1959 dan digantikan oleh adiknya Laasar Cornelis Foenay.
Sedangkan rumah adat yang sudah tua peninggalan raja kerajaan Foenay Bapak, (Alm). Kolan Kornelis Foenay yang ditempati oleh Bapak, Jan Kornelis Foenay. “Selain itu, sonaf Polla juga dalam kapasitas Pemerintahan Adat Dalam”, jelas Deni.
– Sumber: https://www.klik-ntt.com/2019/11/10/rumah-adat-kefetoran-foenay-di-resmikan/

Sonaf kerajaan Foenay yang terletak di Jalan Anggrek, Kelurahan Oepura, Kecamatan Maulafa


Sejarah kerajaan-kerajaan di pulau Timor

Pulau Timor dihuni sebagai bagian dari migrasi manusia yang telah membentuk Australasia secara lebih umum. Pada tahun 2011, bukti ditemukan pada manusia di Timor Timur pada 42.000 tahun yang lalu, di lokasi gua Jerimalai.
Sekitar 3000 SM, migrasi kedua membawa orang Melanesia. Orang-orang Veddo-Australoid sebelumnya mengundurkan diri saat ini ke pedalaman pegunungan. Akhirnya, proto-Melayu tiba dari Cina selatan dan Indocina utara.

Catatan sejarah paling awal tentang pulau Timor adalah Nagarakretagama abad ke-14, Canto 14, yang mengidentifikasi Timur sebagai pulau di dalam wilayah Majapahit. Timor dimasukkan ke dalam jaringan perdagangan Jawa, Cina, dan India kuno pada abad ke-14 sebagai pengekspor cendana aromatik, budak, madu dan lilin, dan diselesaikan oleh Portugis, pada akhir abad ke-16, dan Belanda, yang berbasis di Kupang, pada pertengahan abad ke-17.

Pulau Timor dijajah oleh Portugis pada abad ke-16; mengklaim pada tahun 1520. Para pelaut Portugis mungkin pertama kali tiba di Timor Timur sekitar tahun 1514. Penjelajah Eropa menemui beberapa kerajaan kecil di awal abad ke-16. Yang paling penting adalah Wehale di Timor Tengah.  Pada waktu itu, lereng-lereng bukit diliputi hutan kayu cendana. Perdagangan kayu cendana sangat menguntungkan, dan pohon-pohon ini saja sudah cukup menjadi alasan bagi orang Portugis untuk mendirikan pos perdagangan. Gereja Katolik juga berminat pada daerah itu dan ingin mengirim para misionaris untuk menobatkan penduduk pribumi. Kedua faktor ini menggerakkan orang Portugis untuk mulai menjadikan pulau ini jajahan mereka pada tahun 1556.
VOC Belanda tiba pada tahun 1640, mendesak Portugis ke Timor Lorosa’e dan bentuk koloni Belanda-Timor.
Pertengkaran antara Belanda dan Portugal akhirnya menghasilkan sebuah perjanjian tahun 1859 dimana Portugal menyerahkan bagian barat pulau tersebut ke Belanda.

 Zaman kebangkitan nasional (1900-1942)

Pada masa sesudah tahun 1900, kerajaan-kerajaan yang ada di Nusa Tenggara Timur pada umumnya telah berubah status menjadi status menjadi Swapraja. Swapraja-swapraja tersebut, 10 berada di Pulau Timor (Kupang, Amarasi, Fatuleu, Amfoang, Molo, Amanuban, Amanatun, Mio mafo, Biboki, Insana). Swapraja-swapraja tersebut terbagi lagi menjadi bagian-bagian yang wilayahnya lebih kecil. Wilayah-wilayah kecil itu disebut Kafetoran-kafetoran.

Zaman pemerintahan Hindia Belanda

Wilayah Nusa Tenggara Timur pada waktu itu merupakan wilayah hukum dari keresidenan Timor dan daerah takluknya. Keresidenan Timor dan daerah bagian barat (Timor Indonesia pada waktu itu, Flores, Sumba, Sumbawa serta pulau-pulau kecil sekitarnya seperti Rote, Sabu, Alor, Pantar, Lomblen, Adonara, Solor).

Keresidenan Timor dan daerah takluknya berpusat di Kupang, yang memiliki wilayah terdiri dari tiga afdeling (Timor, Flores, Sumba dan Sumbawa), 15 onderafdeeling dan 48 Swapraja. Afdeeling Timor dan pulau-pulau terdiri dari 6 onderafdeeling dengan ibukotanya di Kupang. Afdeeling Flores terdiri dari 5 onder afdeeling dengan ibukotanya di Ende. Yang ketiga adalah Afdeeling Sumbawa dan Sumba dengan ibukota di Raba (Bima). Afdeeling Sumbawa dan Sumba ini tediri dari 4 oder afdeeling.

Keresidenan Timor dan daerah takluknya dipimpin oleh seorang residen, sedangkan afdeeling di pimpin oleh seorang asisten residen. Asisten residen ini membawahi Kontrolir atau Controleur dan Gezaghebber sebagai pemimpin Onder afdeeling. Asisten residen, kontrolir dan gezaghebber adalah pamong praja Kolonial Belanda. Para kepala onder afdeling yakni kontrolir dibantu oleh pamong praja bumi putra ber pangkat Bestuurs assistant. (Ch. Kana, 1969,hal . 49-51).

Zaman kemerdekaan (1945-1975).

Setelah Jepang menyerah, Kepala Pemerintahan Jepang (Ken Kanrikan) di Kupang memutuskan untuk menyerahkan pemerintahan atas Kota Kupang kepada tiga orang yakni Dr.A.Gakeler sebagai walikota, Tom Pello dan I.H.Doko. Namun hal ini tidak berlangsung lama, karena pasukan NICA segera mengambil alih pemerintahan sipil di NTT, dimana susunan pemerintahan dan pejabat-pejabatnya sebagian besar adalah pejabat Belanda sebelum perang dunia II.
Dengan demikian NTT menjadi daerah kekuasaan Belanda lagi, sistem pemerintahan sebelum masa perang ditegakkan kembali. Pada tahun 1945 kaum pergerakan secara sembunyi-sembunyi telah mengetahui perjuangan Republik Indonesia melalui radio. Oleh karena itu kaum pegerakan menghidupkan kembali Partai Perserikatan Kebangsaan Timor yang berdiri sejak tahun 1937 dan kemudian berubah menjadi Partai Demokrasi Indonesia (PDI).

Perjuangan politik terus berlanjut, sampai pada tahun 1950 dimulai pase baru dengan dihapusnya dewan raja-raja. Pada bulan Mei 1951 Menteri Dalam Negeri NIT mengangkat Y.S. Amalo menjadi Kepala Daerah Timor dan kepulauannya menggantikan H.A.Koroh yang wafat pada tanggal 30 Maret 1951. Pada waktu itu daerah Nusa Tenggara Timur termasuk dalam wilayah Propinsi Sunda Kecil.


Peta-peta kuno P. Timor

Klik di sini untuk peta kuno P. Timor tahun 1521, 1550, 1600, 1650, 1700-an, 1733, 1762, 1900, 1902.

Timor tahun 1521


Sumber

– Tentang Foenay dan Istana:  http://kupang.tribunnews.com/2014/03/14/oepura-dulu-jadi-pusat-kerajaan
Sejarah kerajaan-kerajaan d NTT: http://sajjacob.blogspot.co.id/2015/01/sejarah-kerajaan-kerajaan-di-ntt-oleh.html


Kerajaan-kerajaan di Timor tahun 1900


 

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: