Suku Karera – P. Sumba, NTT

Orang Karera adalah kelompok sosial yang berdiam di bagian timur Kabupaten Sumba Timur di pulau Sumba, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Mereka berdiam di daerah lereng bukit yang terbilang gersang, yang ditumbuhi alang-alang.
Masyarakat lain yang dekat atau bertetangga dengan orang Karera ialah orang Karera Jangga dan orang Katara. Bahasa yang dipakai ialah dialek Manggarikuna, salah satu dialek bahasa Sumba.

Lihat juga: kerajaan Karera

Lokasi pulau Sumba


* Foto foto suku Sumba: link
* Foto kerajaan-kerajaan di Sumba: link


Info di bawah diambil dari: http://suku-dunia.blogspot.com/2016/05/sejarah-suku-karera.html

Mata pencaharian pokok

Mata pencaharian pokok orang Karera adalah bercocok tanam di ladang dengan tanaman utama padi dan jagung, yang juga sebagai makanan pokoknya. Perladangan ini dikerjakan dengan sistem tebang bakar (slash and burn). Sisa-sisa pohon yang tak terbakar digunakan menjadi pagar, sebagai batas dengan ladang pemilik lain. Selain itu, mereka berburu babi hutan dan ada yang beternak babi. Mereka juga memelihara kerbau dan kuda, namun hewan ini tidak secara langsung mempunyai arti ekonomis. Kerbau dan kuda bisa berfungsi menjadi mas kawin, kerbau sendiri menjadi hewan korban dan kuda sebagai sarana transportasi. Kerbau digembalakan di padang rumput dan dikandangkan pada malam hari, sedangkan kuda ada yang dikandangkan dan ada yang dibiarkan berkeliaran di padang rumput.

Raja kerajaan Karera. Bapak Umbu Yadar

Kekerabatan suku Karera

Dalam kekerabatan mereka tergabung dalam klen patrilineal (merapu). Setiap klen itu dipimpin oleh seorang kepala adat yang disebut Kabisu. Ia dipilih secara turun-temurun di samping harus memenuhi persyaratan seperti bersifat jujur dan disegani oleh anggota kelompoknya. Kepala adat ini bertugas menangani hal-hal yang berkaitan dengan adat, menyelesaikan sengketa adat perkawinan, dan lain-lain.
Masyarakat ini mengenal tiga lapisan sosial yaitu lapisan bangsawan (umbu), lapisan merdeka (kabinu); merupakan orang kebanyakan yang dapat memenuhi kebutuhan sendiri, dan Lapisan hamba (ata) adalah orang-orang yang berbakti kepada golongan bangsawan tadi. Segala kebutuhannya ditanggung oleh bangsawan itu. Golongan hamba ini berasal dari orang-orang yang tidak mampu membayar hutang, kalah perang, atau orang yang dijatuhi hukuman untuk menjadi hamba.

Kepercayaan

Orang Karera percaya kepada roh-roh nenek moyang (merapu) yang berdiam di alam roh yang disebutnya Tanatara. Di sana, roh-roh itu hidup seperti manusia biasa sebagaimana terjadi di dunia. Roh itu mempunyai kekuatan untuk membantu atau sebaliknya mengganggu manusia yang masih hidup. Itulah sebabnya terhadap roh-roh nenek moyang itu harus diadakan upacara, agar roh itu membantu menyuburkan tanaman, memberi hasil yang baik, atau mendatangkan kesejahteraan. Sebaliknya roh itu akan menurunkan bencana bagi manusia kalau tidak diadakan upacara. Roh yang tidak sampai ke alam roh disebut hantu (sarangi). Hantu inilah yang selalu berbuat jahat terhadap manusia, misalnya membuat sakit. Agar hantu ini tidak mengganggu, maka dibuatkan patung kayu yang bentuknya mirip manusia dan di depannya diberi sajian berupa bahan makanan dan buah-buahan. Pemujaan semacam ini dilakukan setahun sekali setelah usai panen dengan memotong hewan kerbau atau babi.
Upacara lain yang mengadakan korban kerbau adalah upacara kematian. Upacara tampak besar-besaran kalau yang meninggal itu dari kalangan kaum bangsawan tadi.


Sumber

– Suku Karera: http://suku-dunia.blogspot.com/2016/05/sejarah-suku-karera.html