Pemecutan, Puri Agung Pemecutan / Bali – kota Denpasar

Puri Agung Pemecutan, sejak 1686. Terletak di Denpasar, jl. Thamrin, prov. Bali.

The palace of Puri Agung Pemecutan, exists since 1686. Located in Denpasar, jl. Thamrin, prov. Bali.
For english, click here

Lokasi Pemecutan, kota Denpasar

———————
Lokasi pulau Bali


* Foto Puri Agung Pemecutan: link
* Foto foto Bali dulu dan puputan: link


Raja sekarang

2020: Cokorda (raja) sekarang: Ida Cokorda Pemecutan XI, A.A. Ngurah Manik Parasara.


Sejarah Puri Agung Pemecutan

Puri Agung Pemecutan yang lama dibangun pada tahun 1686 pada abad ke-16 dan berlokasi Jl. Thamrin di sebelah Barat.
Sejarah keberadaan Puri Agung Pemecutan berkaitan dengan ekspedisi Majapahit ke Bali tahun 1334 untuk menaklukan kerajaan Bedulu dibawah pimpinan Panglima Arya Damar/ Adityawarman. Dalam lontar Purana Bali Dwipa dinyatakan bahwa Arya kenceng adalah anak dari Arya Damar, sebab Arya Damar ketika menyerang Bali bukan pemuda lagi, diperkirakan usia beliau pada waktu diperkirakan 45 tahun.
Hal yang sama juga dinyatakan dalam Kitab Usana Jawa yang menyatakan “ Arya Damar Kenceng Pwa sira “ yang artinya dalam diri Arya Kenceng terdapat darah daging Arya Damar”. Dan hal ini hanya dimungkinkan kalau Arya Kenceng adalah anak kandung Arya Damar yang berhak menerima kedudukan di dalam pemerintahan Dalem Ketut Sri Kresna Kepakisan sebagai ahli waris Arya Damar.
– Sejarah lengkap: http://sejarah-puri-pemecutan.blogspot.com/2009/11/sejarah-pemecutan.html
Tentang Puri di Bali: https://id.wikipedia.org/wiki/Puri_di_Bali

Puri Agung Pemecutan

Puri Agung Pemecutan, Denpasar, Bali | Puri Agung Pemecutan:… | Flickr


Silsilah Raja Pemecutan

– 1660-1683: Kiyai Arya Bebed/ Kiyai Anglurah Pemecutan I,/ Kiyai Jambe Pule / Nararya Gede Raka/ Cokorda Pemecutan I.
– 1683-1718: Kiyai Macan Gading/ Bhatara Mur Ring Watu Klotok / Kiyai Angluran Pemecutan II / Cokorda Pemecutan II.
– 1718-……..: Ida Bhatara Maharaja Sakti / Kyai Angluran Pemecutan III/ CokordaPemecutan III.
– 1813-1840: I Gusti Ngurah Pemecutan / Kyayi Angluran Pemecutan IV / Arya NgurahMecutan Ukiran.
– Sang Arya Mecutan Bhija/ Kiyai Anglurah Pemecutan V.
– …….-1813: Arya Ngurah Gede Raka / Arya Ngurah GedeMecutan/ Kiyayi Anglurah Pemecutan VI.
Arya Ngurah Gede Raka/ Arya Ngurah gede Mecutan/ Kiyai Agung Gde Raka dinobatkan sebagai Kiyai Anglurah Pemecutan VI menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Raja di Puri Pemecutan.
– 1813-1829: Kiyai Anglurah Pemecutan VII / Kyai Anglurah Muring Gedong
Kiyai Anglurah Pemecutan VII menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Raja di Puri Pemecutan. Kiyai Anglurah Pemecutan VII tidak mempunyai putra sehingga untuk mengendalikan jalannya pemerintahan setelah beliau wafat di percayakan kepada 2 putri beliau yaitu Ratu Istri Adi/ Sagung Adi dan Ratu Istri Oka/ Sagung Oka.
– 1840-1851: Kiyayi Angurah Pemecutan VIII / Kyayi Agung Gde Oka / Kyayi Anglurah Muring Madarda
Kiyai Angluran Pemecutan VIII menggantikan kedudukan mertuanya sebagai Angluran Pemecutan VII sebagai Raja di Puri Agung Pemecutan tahun 1840 – 1851.

Puri Agung Pemecutan

Afbeeldingsresultaat voor puri agung pemecutan
– 1851-1906: Kiyayi Anglurah Pemecutan IX /Kiyayi Ngurah Agung Pemecutan.
Dengan wafatnya Kiyai Anglurah Pemecutan VIII karena beliau tidak berputra (putung) maka singgasana di Puri Agung Pemecutan menjadi kosong. Maka kalau dilihat dari garis keturunannya maka yang berhak mengisi kekosongan tersebut adalah dari Puri Kanginan Pemecutan sebagaimana yang sudah dilaksanakan pada waktu penobatan Kiyai Anglurah Pemecutan VII yang berasal dari Puri Kanginan. Adapun yang masih tinggal di Puri Kanginan adalah adik dari Kiyai Anglurah Pemecutan VIII yaitu Kiyai Agung Lanang Pemecutan.
– Ida Cokorda Ngurah Gde Pemecutan / Kiyayi Anglurah Pemecutan X.
Pada tanggal 28 Oktober 1939 Purnama kelima Ida Cokorda Ngurah Gde Pemecutan abiseka Ratu menggantikan Raja Pemecutan IX yang gugur pada peristiwa heroik Puputan Badung pada hari kamis kliwon wara ukir tanggal 20 September 1906 jam 16.00 wita.
– Ida Cokorda Pemecutan XI / A.A. Ngurah Manik Parasara, SH.
Dengan wafatnya Kiyayi Agung Gede Lanang Pemecutan pada har Senin Wage Julungwangi tanggal 8 Januari 1962 dan wafatnya Kiyayi Anglurah Pemecutan X/ Ida Cokorda Ngurah Gde Pemecutan pada haris senin Pon Dungulan tanggal 17 Maret 1986 maka terjadilah kekosongan kepemimpinan bagi warga Ageng Pemecutan.


Puri di Bali

Puri di pulau Bali adalah nama sebutan untuk tempat tinggal bangsawan Bali, khususnya mereka yang masih merupakan keluarga dekat dari raja-raja Bali. Berdasarkan sistem pembagian triwangsa atau kasta, maka puri ditempati oleh bangsawan berwangsa ksatria.

Puri-puri di Bali dipimpin oleh seorang keturunan raja, yang umumnya dipilih oleh lembaga kekerabatan puri. Pemimpin puri yang umumnya sekaligus pemimpin lembaga kekerabatan puri, biasanya disebut sebagai Penglingsir atau Pemucuk. Para keturunan raja tersebut dapat dikenali melalui gelar yang ada pada nama mereka, misalnya Ida I Dewa Agung, I Gusti Ngurah Agung, Cokorda, Anak Agung Ngurah, Ratu Agung, Ratu Bagus dan lain-lain untuk pria; serta Ida I Dewa Agung Istri, Dewa Ayu, Cokorda Istri, Anak Agung Istri, dan lain-lain untuk wanita.

Puri Agung Pemecutan

Puri Pemecutan Denpasar Untuk "Penglingsir" Kerajaan Baru ...

Daerah atau wilayah kekuasaan puri-puri di Bali zaman dahulu, tidak berbeda jauh dengan wilayah administratif pemerintahan kabupaten dan kota di Provinsi Bali. Setelah Kerajaan Gelgel mulai terpecah pada pertengahan abad ke-18, terdapat beberapa kerajaan, yaitu Badung (termasuk Denpasar), Mengwi, Tabanan, Gianyar, Karangasem, Klungkung, Buleleng, Bangli dan Jembrana. Persaingan antardinasti dan antaranggota dinasti pada akhirnya menyebabkan Belanda dapat menguasai Bali dengan tuntas pada awal abad ke-20.

Setelah masa kolonial Belanda, Jepang dan masa kemerdekaan Indonesia, kekuasaan puri berubah menjadi lebih bersifat simbolis. Peranan berbagai puri di Bali umumnya masih tinggi sebagai panutan terhadap berbagai pelaksanaan aktivitas adat dan ritual Agama Hindu Dharma oleh masyarakat banyak.


Sejarah singkat kerajaan-kerajaan di Bali

Kerajaan Bali merupakan istilah untuk serangkaian kerajaan Hindu-Budha yang pernah memerintah di Bali, di Kepulauan Sunda Kecil, Indonesia. Adapun kerajaan-kerajaan tersebut terbagi dalam beberapa masa sesuai dinasti yang memerintah saat itu. Dengan sejarah kerajaan asli Bali yang terbentang dari awal abad ke-10 hingga awal abad ke-20, kerajaan Bali menunjukkan budaya istana Bali yang canggih di mana unsur-unsur roh dan penghormatan leluhur dikombinasikan dengan pengaruh Hindu, yang diadopsi dari India melalui perantara Jawa kuno, berkembang, memperkaya, dan membentuk budaya Bali.

Kerajaan di Bali, sekitar tahun 1900.

Karena kedekatan dan hubungan budaya yang erat dengan pulau Jawa yang berdekatan selama periode Hindu-Budha Indonesia, sejarah Kerajaan Bali sering terjalin dan sangat dipengaruhi oleh kerajaan di Jawa, dari kerajaan Medang pada abad ke-9 sampai ke kerajaan Majapahit pada abad ke-13 hingga 15. Budaya, bahasa, seni, dan arsitektur di pulau Bali dipengaruhi oleh Jawa. Pengaruh dan kehadiran orang Jawa semakin kuat dengan jatuhnya kerajaan Majapahit pada akhir abad ke-15.
Setelah kekaisaran jatuh di bawah Kesultanan Muslim Demak, sejumlah abdi dalem Hindu, bangsawan, pendeta, dan pengrajin, menemukan tempat perlindungan di pulau Bali. Akibatnya, Bali menjadi apa yang digambarkan oleh sejarawan Ramesh Chandra Majumdar sebagai benteng terakhir budaya dan peradaban Indo-Jawa.
Kerajaan Bali pada abad-abad berikutnya memperluas pengaruhnya ke pulau-pulau tetangga. Kerajaan Gelgel Bali misalnya memperluas pengaruh mereka ke wilayah Blambangan di ujung timur Jawa, pulau tetangga Lombok, hingga bagian barat pulau Sumbawa, sementara Karangasem mendirikan kekuasaan mereka di Lombok Barat pada periode selanjutnya.

Sejak pertengahan abad ke-19, negara kolonial Hindia Belanda mulai terlibat di Bali, ketika mereka meluncurkan kampanye mereka melawan kerajaan kecil Bali satu per satu. Pada awal abad ke-20, Belanda telah menaklukkan Bali karena kerajaan-kerajaan kecil ini jatuh di bawah kendali mereka, baik dengan kekerasan atau dengan pertempuran, diikuti dengan ritual massal bunuh diri, atau menyerah dengan damai kepada Belanda. Dengan kata lain, meskipun beberapa penerus kerajaan Bali masih hidup, peristiwa-peristiwa ini mengakhiri masa kerajaan independen asli Bali, karena pemerintah daerah berubah menjadi pemerintahan kolonial Belanda, dan kemudian pemerintah Bali di dalam Republik Indonesia.


Peta kuno Bali

Klik di sini untuk peta kuno Bali 1618, 1683, 1700-an, 1750, 1800-an, 1856, abad ke-19.

 Bali abad ke-16 ?


Sumber

– Sejarah Puri Pemecutan: http://sejarah-puri-pemecutan.blogspot.com/2009/11/sejarah-pemecutan.html
Daftar raja Pemecutan: Wiki
Daftar raja Pemecutan: http://perjuanganislami.blogspot.com/2014/02/bali-raja-raja-pemecutan-1.html
————–

Intervensi Belanda di Bali, 1846, 1848, 1849, 1906, 1908

– 1846: Perang Bali I: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/bali/perang-bali-i-1846/
– 1848: Perang Bali II: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/bali/perang-bali-ii-1848/
– 1849: Perang Bali III: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/bali/perang-bali-iii-1849/
– 1906: Intervensi belanda di Bali / Puputan 1906: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/bali/puputan-bali-1906/
– 1908: Intervensi Belanda di Bali / Puputan 1908: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/bali/puputan-klungkung-1908/