Blambangan, kerajaan / Prov. Jawa Timur

Kerajaan Blambangan: abad ke-13 sampai abad ke-18. Kerajaan berpusat di ujung paling timur di prov. Jawa timur. Kerajaan ini bercorak Hindu terakhir di Pulau Jawa.

The Kingdom of Blambangan: 13th century – 18th century. This kingdom was a Hindu kingdom. Located on east Java.
For english, click here

Lokasi prov. Jawa Timur


* Foto kerajaan Blambangan: di bawah


Garis kerajaan-kerajaan di Jawa: link


Foto sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa

* Foto sultan dan raja, yang masih ada di Jawa: link
* Foto keraton di Jawa, yang masih ada: link
* Foto Batavia (Jakarta) masa dulu: link
* Foto Jawa masa dulu: link
* Penyerbuan Batavia oleh Sultan Agung, 1628/1628: link
* Foto perang Diponegoro, 1825: link
* Foto situs kuno di Jawa: link


Video sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa

– Video Penguasa Monarki kesultanan Jawa Mataram, 1556 – 2020: link
– Video sejarah kesultanan Mataram, 1576-2020: link
– Video sejarah kerajaan Medang Mataram Hindu: link
– Video sejarah kerajaan Majapahit, 1293 sampai 1527: link
– Video raja-raja Majapahit hingga ke Mataram, 1293 – 1587: link
– Video sejarah kerajaan Jawa, 10.000 SM – 2017: link
– Video sejarah kerajaan Jawa Timur, 1.5jt SM sampai 2020: link
– Video sejarah kerajaan Jawa Barat, 3000 SM sampai 2020: link
– Video sejarah kerajaan Jawa Tengah, 1.5jt SM sampai 2020: link


KERAJAAN BLAMBANGAN

Sejarah kerajaan Blambangan, abad ke-13 sampai abad ke-18

Sumber: https://www.kompas.com/stori/read/2021/09/30/150000379/kerajaan-blambangan-sejarah-masa-kejayaan-dan-peninggalan?page=all

Kerajaan Blambangan adalah kerajaan bercorak Hindu terakhir di Pulau Jawa yang terletak di Banyuwangi. Kerajaan ini diperkirakan telah ada pada akhir era kerajaan Majapahit dan berdiri hingga abad ke-18. Selain menjadi vasal (kerajaan bawahan) Majapahit, Blambangan juga pernah berada di bawah kekuasaan kerajaan di Bali. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila kebudayaannya mirip dengan kebudayaan Bali.

Sejarah awal

Catatan sejarah mengenai kemunculan kerajaan Blambangan memang kurang jelas. Akan tetapi, diketahui bahwa kerajaan Blambangan dulunya merupakan vasal Majapahit dan menjadi tempat pelarian bagi Bhre Wirabhumi, yang tersingkir saat terjadi perebutan takhta di Majapahit. Pada 1478, giliran keluarga Kertabhumi yang melarikan diri ke Blambangan, dipimpin oleh Lembu Miruda.
Setelah runtuhnya kerajaan Majapahit pada akhir abad ke-15, Blambangan berdiri sendiri sebagai satu-satunya kerajaan Hindu di Jawa. Menurut Babad Sembar, Lembu Miruda kemudian mendirikan pertapaan Watuputih di hutan Blambangan dan berdoa agar putranya menjadi raja di ujung timur Pulau Jawa. Doanya pun terkabul, menjelang awal abad ke-16, cucu Lembu Miruda yang bernama Bima Koncar telah meneguhkan dirinya sebagai raja Blambangan.

Masa kejayaan

Dari laporan Tome Pires, diketahui bahwa Bima Koncar memiliki putra bernama Menak Pentor (Pati Pentor) yang berhasil memperluas wilayah Blambangan. Kala itu, wilayahnya meliputi penghujung timur Jawa Timur hingga Lumajang di bagian selatan dan Panarukan di utara. Letaknya pun cukup strategis, karena dikelilingi oleh lautan di ketiga sisinya, sehingga banyak memiliki pelabuhan.
Salah satu pelabuhan di pesisir utara Blambangan yang paling terkenal adalah Panarukan, yang menjadi salah satu persinggahan terpenting bagi kapal-kapal yang hendak melanjutkan pelayaran ke Maluku untuk berdagang rempah-rempah. Di bawah kekuasaan Menak Pentor, Blambangan menjadi kerajaan yang kuat, kaya, dan makmur. Jumlah penduduknya yang banyak tetap hidup makmur karena panen yang dihasilkan sangat melimpah. Selain itu, Blambangan juga banyak menghasilkan kuda beserta budak.

Diperebutkan kerajaan lain

Selama hampir tiga abad, kerajaan Blambangan berada di antara dua faksi politik yang berbeda, yakni negara Islam di barat dan kerajaan Hindu di Bali (Gelgel, Buleleng, dan Mengwi) di timur. Menjadi satu-satunya kerajaan Hindu yang masih berdiri di Jawa, Blambangan sudah tentu menjadi incaran kerajaan-kerajaan Islam. Kerajaan yang mencoba menaklukkan Blambangan di antaranya adalah Demak, Pajang, dan kesultanan Mataram.
Karena konflik berkepanjangan dengan kesultanan Demak, sumber daya kerajaan Blambangan terkuras habis. Setelah Demak mundur, giliran negeri di sisi timur di seberang selat, yakni kerajaan Gelgel dan Mengwi yang menyerang. Antara 1550-1570, Blambangan berada di bawah kekuasaan kerajaan Gelgel. Pada 1572, raja Blambangan bernama Santa Guna berhasil merebut Panarukan dan memperkuat kembali kerajaannya. Selama masa kekuasaan Santa Guna, Blambangan mendapat kunjungan delegasi Portugis, yang berhasil mengajak beberapa keluarga kerajaan masuk Katolik.

Kemunduran

Pengganti Santa Guna adalah putranya, yang dikenal sebagai penguasa lemah hingga mengakibatkan kemunduran Blambangan. Meski Bali ikut turun tangan membantu Blambangan, serangan Pasuruan dapat menghancurkan kerajaan pada sekitar 1597 dan membunuh semua keluarga kerajaan.
Kekosongan kekuasaan ini lantas dimanfaatkan kembali oleh Bali, yang menempatkan wakilnya bernama Singasari, yang bergelar Tawang Alun I, sebagai penguasa Blambangan.
Kemudian pada 1638, kesultanan Mataram dapat menduduki Blambangan, hingga membuat Tawang Alun I terpaksa melarikan diri, sementara putra mahkotanya, Mas Kembar, menjadi tawanan. Ketika Mas Kembar kembali ke Blambangan dan naik takhta pada 1645 dengan gelar Tawang Alun II, Bali langsung melancarkan serangan.
Alhasil, pertempuran antara Bali dan Mataram pun berkobar di Blambangan, dan berakhir dengan kemenangan Mataram. Setelah itu, Blambangan justru dapat melepaskan diri dari Mataram. Tawang Alun II pun dianggap sebagai salah satu raja terbesar Blambangan karena dapat melindungi rakyatnya meskipun terlibat dalam berbagai peperangan yang tiada habisnya. Di sisi lain, konflik di antara Blambangan dan Mataram tetap berlangsung selama beberapa dekade berikutnya hingga melibatkan VOC dan Bali.

Keruntuhan

Pada akhir abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-18, Blambangan kembali diperebutkan oleh Bali (Buleleng dan Mengwi), Mataram, dan VOC. Dalam perebutan itu, VOC muncul sebagai pihak yang mendapatkan kemenangan dan menanamkan kekuasaannya di Blambangan. Salah seorang cabang anggota keluarga raja Blambangan bernama Mas Alit, kemudian diangkat oleh Belanda menjadi bupati dengan gelar Tumenggung Banyuwangi I (1773-1782). Pusat pemerintahannya yang semula berada di Pampang, kemudian dipindahkan ke Banyuwangi.

Aktivitas penelitian bekas Kerajaan Blambangan di Desa Macan Putih, Kecamatan Kabat, Banyuwangi, Jawa Timur. Tempo/Ika Ningtyas


Daftar I raja kerajaan Blambangan

Mas Sembar atau Minak Sembar
Bima Koncar/Minak Sumedhe [putera]
1513: Menak Pentor [putera]
1575: Santaguna
1588: N.N.
? – 1597: N.N. [putera]
? – 1632: Mas Karian ( wafat 1633)
1633-1639: Sunan Tawangalun I (Pangeran Singasari) [putera Sunan Rebut Payung atau Minak Lumpat]
1645-1691: Prabhu Tawangalun II (Mas Senepo) [putera]
1691: Pangeran Pati [anak tiri Mas Senepo]
1691-1692: Mancanagara dan Sasranegara (memerintah singkat karena perang antara Pangeran Pati, Mancanegara dan Sasranegara) [saudara]
1692-1697: Mancanapura (Dalem Agung) [saudara]
1697-1736: Pangeran Putra (Danureja) [putera  Sasranegara]
1736-1763: Danuningrat (wafat 1766) [putera]
1767-1768: Pangeran Wilis [saudara]

Daftar II raja kerajaan Blambangan

Silsilah awal

* Mpu Withadarma
* Mpu Bhajrastawa
* Mpu Lempita
* Mpu Gnijaya
* Mpu Wiranatha
* Mpu Purwantha
* Ken Dedes
* Mahisa Wonga Teleng
* Mahisa Campaka
* Lembutal
* Rana Wijaya/Raden Wijaya
* Tribuana Tunggadewi
* Hayam Wuruk
* Wikramawardhana
* Kerta Wijaya
* Cri Adi Suraprabawa
* Lembu Anisraya/Minak Anisraya
* Mas Sembar/Minak Sembar
* 1489-1500: Bima Koncar/Minak Sumendhe
* 1500-1541: Minak Pentor
* Minak Gadru ( Memerintah Prasada/Lumajang): Minak Gadru menurunkan Minak Lampor yang memerintah di Werdati-Teposono-Lumajang
* 1550-1582: Minak Cucu (Memerintah Candi Bang/Kedhaton Baluran): Minak Cucu terkenal dengan sebutan Minak Djinggo penguasa Djinggan beliau berputra Sontoguno yang memerintah Blambangan pada 1550 hingga 1582.
* Minak Lampor
* Minak Lumpat (Sebagai Raja di Werdati)
* Minak Luput (Sebagai Senopati)
* Minak Sumendi (sebagai Karemon/Agul Agul)

Kemudian Minak Lumpat atau Sunan Rebut Payung berputra Minak Seruyu/Pangeran Singosari (Sunan Tawang Alun I), Pangeran Singosari menaklukan Mas Kriyan dan seluruh keluarga Mas Kriyan, sehingga tidak ada keturunannya, Sunan Tawang Alun I memerintah wilayah Lumajang, Kedawung dan Blambangan pada tahun 1633-1639

* 1633-1639: Gusti Sunan Tawang Alun I;  memiliki Putra:
* Gede Buyut
* Mas Ayu Widharba
* Mas Lanang Dangiran (Mbah Mas Brondong)
* Mas Senepo/Mas Kembar
* Mas Lego

Silsilah setelah Tawang Alun I

Mas Senepo inilah yang kemudian memerintah Kedhaton Macan Putih bergelar Susuhunan Gusti Prabhu Tawang Alun, Di mana dia memerintah pada wilayah Kerajaan Blambangan 1645 hingga 1691. Pada masa pemerintahan Susuhunan Gusti Prabhu Tawang Alun Blambangan maju dengan pesat di mana kekuasaannya menyatu hingga ke Lumajang.

– Sumber / Source: link

Umpak Songo merupakan situs peninggalan Kerajaan Balambangan yang menyerupai punden berundak yang diatasnya terletak beberapa batu besar dan tertata rapi menyerupai bentuk persegi. Situs Umpak Songo berada didesa Tembokrejo, Muncar, Banyuwangi.


Keluarga Keraton Blambangan

Keluarga Keraton Blambangan

Keluarga Keraton Blambangan


Wilayah kerajaan Blambangan

Basis perjuangan terakhir trah Blambangan

—————————

Jawa abad ke-17. Paling timur kerajaan Blambangan


Peta kuno Jawa

Klik di sini untuk peta kuno Jawa tahun 1598, 1612, 1614, 1659, 1660, 1706, 1800-an, awal abad ke-18, 1840.

Jawa, awal abad ke-18

1234


Sumber / Source

Kerajaan Blambangan di Wiki: https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Blambangan
Sejarah kerajaan Blambangan: https://osingkertarajasa.wordpress.com/sejarah-kerajaan-blambangan/
– Kerajaan Blambangan: http://makan11.blogspot.co.id/2013/05/kerajaan-blambangan.html
Kerajaan Blambangan masih misterius: https://triarsadrana.wordpress.com/2014/04/06/472/
– Daftar Raja:
link
Sejarah kerajaan Blambangan: https://daihatsu.co.id/tips-and-event/tips-sahabat/detail-content/sejarah-kerajaan-blambangan-kerajaan-di-tanah-banyuwangi/
Sejarah kerajaan Blambangan: https://phinemo.com/misteri-kerajaan-blambangan-kerajaan-hindhu-terakhir-di-pulau-jawa/


Umpak Songo adalah tumpukan batu berlubang mirip penyangga tiang bangunan yang berjumlah sembilan. Umpak berarti tangga dan Songo berarti sembilan. Situs yang terletak di Tembokrejo, Kecamatan Muncar ini adalah sisa-sisa Kerajaan Blambangan ketika ibukota kerajaan pindah ke Ulupampang (kini Muncar) setelah Blambangan dipecah menjadi dua, yakni Blambangan Barat dan Blambangan Timur, pasca pemberontakan Jagapati terhadap VOC pada Oktober 1772. Sumber: http://log.viva.co.id/news/read/785851-melihat-balai-pertemuan-raja-blambangan

Umpak Songo adalah tumpukan batu berlubang mirip penyangga tiang bangunan yang berjumlah sembilan. Umpak berarti tangga dan Songo berarti sembilan. Situs yang terletak di Tembokrejo, Kecamatan Muncar ini adalah sisa-sisa Kerajaan Blambangan ketika ibukota kerajaan pindah ke Ulupampang (kini Muncar) setelah Blambangan dipecah menjadi dua, yakni Blambangan Barat dan Blambangan Timur, pasca pemberontakan Jagapati terhadap VOC pada Oktober 1772.

——————————-
Pertapaan susuhunan Blambangan

Pertapaan susuhunan Blambangan

 ———————————
Situs batu sangkur. tempat para prajurit berkumpul dan mengatur strategi perang melawan belanda

 Situs batu sangkur. tempat para prajurit berkumpul dan mengatur strategi perang melawan belanda

——————————-
Situs makam prajurit P.Tawang alun

 Situs makam prajurit P.Tawang alun


Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: