Daha, kota kuno / Prov. Jawa Timur

Kota Daha sekarang merupakan bagian dari Kota Kediri.
Daha merupakan Ibu Kota kerajaan Panjalu, Tumapel, Kediri dan 1293 Daha menjadi negeri bawahan Majapahit.

Lokasi Kota Kediri


Garis kerajaan-kerajaan di Jawa: link


Foto sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa

* Foto sultan dan raja, yang masih ada di Jawa: link
* Foto keraton di Jawa, yang masih ada: link
* Foto Batavia (Jakarta) masa dulu: link
* Foto Jawa masa dulu: link
* Penyerbuan Batavia oleh Sultan Agung, 1628/1628: link
* Foto perang Diponegoro, 1825: link
* Foto situs kuno di Jawa: link


Video sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa

* Untuk video-video sejarah Jawa, klik di sini


Sejarah kota Daha

Daha (Jawa: ꦢꦲꦤꦥꦹꦫ, Latin: Dahanapūra) merupakan salah satu kota kuno di Jawa Timur yang pernah menjadi pusat pemerintahan dari kerajaan Panjalu, dan kerajaan Majapahit. Daha sekarang merupakan bagian dari Kota Kediri. Pada saat ini berdasarkan peta daerah kekuasaan kerajaan Majapahit dan peta Provinsi Jawa Timur lokasi Daha diperkirakan berada di Kota Kediri saat ini yang memiliki situs-situs cagar budaya dan banyak ditemukan peninggalan arkeologis sampai sekarang.

Sebagai ibu kota Panjalu

Airlangga, merupakan pendiri kota Daha sebagai pindahan kota Kahuripan. Ketika ia turun takhta tahun 1042, wilayah kerajaan dibelah menjadi dua. Daha kemudian menjadi Ibukota kerajaan bagian barat, yaitu Panjalu.
Menurut Nagarakretagama, wilayah kerajaan yang dipimpin Airlangga tersebut sebelum dibelah sudah bernama Panjalu.
Daftar Raja – Raja Panjalu setelah pembelahan:

* Maharaja Sri Samarawijaya,
* Sri Jitendrakara Parakrama Bakta (Prasasti Mataji 973 Saka),
* Maharaja Sri Bameswara (Prasasti Pandlegan I, Prasasti Panumbangan, Prasasti Tangkilan, Prasasti Besole, Prasasti Bameswara, Prasasti Karanggayam, Prasasti Pagiliran),
* Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya (Prasasti Hantang, Prasasti Jepun, dan Prasasti Talan),

* Maharaja Rakai Sirikan Sri Sarweswara (Prasasti Pandlegan II dan Prasasti Kahyunan),
* Sri Maharaja Rakai Hino Sri Aryeswara (Prasasti Waleri & Prasasti Angin),
* Sri Maharaja Kroncaryyadipa Sri Gandra (Prasasti Jaring),
* Sri Maharaja Mapanji Kamesywara (Prasasti Semanding dan Prasasti Ceker),
* Sri Maharaja Crengga/Kertajaya (gugur tahun 1144 Saka).

Sebagai bawahan Tumapel

Kerajaan Panjalu runtuh tahun 1222 dan menjadi bawahan Tumapel. Berdasarkan prasasti Mula Malurung, diketahui raja-raja Daha zaman Tumapel, yaitu:

* Mahisa Wunga Teleng putra Ken Arok,
* Guningbhaya adik Mahisa Wunga Teleng,
* Tohjaya kakak Guningbhaya,
* Kertanagara cucu Mahisa Wunga Teleng (dari pihak ibu), yang kemudian menjadi raja Singhasari.

Sebagai ibu kota Kadiri

Jayakatwang adalah keturunan Kertajaya yang menjadi bupati Gelang-Gelang. Tahun 1292, Ia memberontak hingga menyebabkan runtuhnya kerajaan Tumapel. Jayakatwang kemudian membangun kembali kerajaan Kadiri. Tapi, pada tahun 1293 ia dikalahkan Raden Wijaya pendiri Majapahit.

Sebagai bawahan Majapahit

Sejak tahun 1293 Daha menjadi negeri bawahan Majapahit yang paling utama. Raja yang memimpin bergelar Bhre Daha tetapi hanya bersifat simbol, karena pemerintahan harian dilaksanakan oleh patih Daha. Bhre Daha yang pernah menjabat ialah:

* 1295-1309: Jayanagara. Nagarakretagama. 47:2; Prasasti Sukamerta – didampingi Patih Lembu Sora,
* 1309-1375: Rajadewi. Pararaton. 27:15; 29:31; Nag.4:1 – didampingi Patih Arya Tilam, kemudian Gajah Mada.
* 1375-1415: Indudewi. Pararaton.29:19; 31:10,21,
* 1415-1429: Suhita,
* 1429-1464: Jayeswari. Pararaton.30:8; 31:34; 32:18; Prasasti Waringin Pitu,
* 1464-1474: Manggalawardhani. Prasasti Trailokyapuri.

Sebagai ibu kota Majapahit

Menurut Suma Oriental tulisan Tome Pires, pada tahun 1513 Dayo (Daha) menjadi ibu kota Majapahit yang dipimpin oleh Bhatara Wijaya. Nama raja ini identik dengan Dyah Ranawijaya yang dikalahkan oleh Sultan Trenggana raja Demak tahun 1527.

Pada zaman Majapahit nama Kahuripan lebih terkenal dari pada Janggala, sebagaimana nama Daha lebih terkenal dari pada Kadiri. Walaupun demikian, pada prasasti Trailokyapuri (1486), Girindrawardhana Dyah Ranawijaya raja Majapahit ketika itu menyebut dirinya sebagai penguasa Wilwatikta-Janggala-Kadiri. Sejak saat itu nama Kadiri lebih terkenal daripada Daha.


Sumber

Sejarah Kota Daha: https://id.wikipedia.org/wiki/Daha

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: