Maros, kerajaan2 di wilayah Maros / Prov. Sulawesi Selatan

Maros adalah Kabupaten di provinsi Sulawesi Selatan.

Maros is a region in the province of South Sulawesi.
For english, click here

Kabupaten Maros


Garis kerajaan-kerajaan di Sulawesi: link


Foto kerajaan-kerajaan di Sulawesi

* Foto sultan dan raja yang masih ada di Sulawesi: link
* Foto sultan dan raja di Sulawesi dulu: link
* Foto situs kuno di Sulawesi: link


Video sejarah kerajaan-kerajaan di Sulawesi

– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi, 40.000 SM – 2018: link
– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi Selatan, 1M – 2020: link
– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi Tenggara, 50.000 SM – 2020: link
– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi Utara, 4000 SM – sekarang: link


KERAJAAN2 DI WILAYAH MAROS

Sejarah kerajaan-kerajaan wilayah Maros

Pada awalnya, di daerah Maros hanya terdapat sebuah kerajaan yang cukup besar bernama Kerajaan Marusu’ dengan batas-batas meliputi: bagian selatan berbatasan dengan kerajaan Gowa/Tallo, bagian utara berbatasan dengan Binanga Sangkara’ (batas Kerajaan Siang), bagian timur berbatasan dengan daerah pegunungan (Lebbo’ Tengngae) dan pada bagian baratnya berbatasan dengan Tallang Battanga (Selat Makassar).
Kerajaan Marusu’ pada waktu itu, hidup berdampingan dengan damai dengan kerajaan-kerajaan tetangga, seperti Gowa, Bone, Luwu dan lain-lain. Keadaan tersebut berlangsung terus-menerus hingga masuknya intervensi Kompeni Belanda. Seiring kekalahan kerajaan Gowa/Tallo di bawah pemerintahan I Mallombassi Dg Mattawang Karaeng Bonto Mangngape atau yang lebih dikenal dengan nama Sultan Hasanuddin oleh Kompeni Belanda di bawah pimpinan Admiral Speelman.
Dimana, atas kekalahannya tersebut Sultan Hasanuddin terpaksa menandatangani suatu perjanjian perdamaian pada tanggal 18 november 1667 yang dinamakan “Cappaya ri Bungaya” atau “Perjanjian Bungaya”. Yang terdiri atas beberapa pasal, dan salah satunya mengatakan “bahwa negeri negeri yang telah ditaklukkan oleh kompeni dan sekutunya, harus menjadi tanah milik kompeni sebagai hak penaklukkan”.
Oleh karena itu, kerajaan Marusu’ yang merupakan sekutu dari Gowa yang berhasil ditaklukkan oleh kerajaan Bone di bawah pimpinan Arung Bakke, Arung Appanang, dan Arung Bila atas nama Arung Palakka yang merupakan sekutu dari kompeni, lambat laun mulai dikuasai oleh Kompeni Belanda.
Puncaknya terjadi pada awal tahun 1700, tepatnya pada masa pemerintahan Kare Yunusu sultan Muhammad Yunus (Karaeng Marusu’ VII).
Dimana pada masa pemerintahan beliau, Marusu’ tidak lagi menjadi suatu kerajaan yang besar, sebab oleh Kompeni Belanda, Marusu’ menjadi daerah jajahan dalam bentuk regentschap dimana Raja Marusu’ hanyalah merupakan raja tanpa mahkota (onttrondevorsteen).
Artinya walaupun raja-raja Marusu’ berhak mengatur pemerintahannya sendiri dan diangkat sesuai garis keturunan dan secara adat Marusu’, namun pengangkatan raja-raja itu harus mendapat persetujuan dari pihak Kompeni Belanda.
Selain itu, kerajaan Marusu’ yang tadinya cukup luas kini menjadi kerajaan kecil dengan tersisa 36 kampung yang menjadi kekuasaannya. Dan pada bekas-bekas wilayahnya itu berdiri beberapa kerajaan kecil, seperti:
* Kerajaan Simbang,
* Kerajaan Tanralili,
* Kerajaan Marusu,
* Kerajaan Bontoa,
* Kerajaan Lau,
* Kerajaan Turikale,
* Kerajaan Raya.


Sumber

Kerajaan-kerajaan di Maros: https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Kabupaten_Maros
– Kerajaan-kerajaan di Maros: http://sokpintarsoktahu.blogspot.co.id/2014/09/sejarah-kabupaten-maros.html
– Kerajaan-kerajaan di Maros: http://gustinifal.blogspot.co.id/2015/10/sejarah-maros-sulawesi-selatan.html

Perjanjian Bungaya: https://id.wikipedia.org/wiki/Perjanjian_Bungaya


Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: