Bukit Bato, kerajaan / Sumatera – prov. Riau, kab. Bengkalis

Kerajaan Bukit Bato adalah kerajaan di bawah kesultanan Siak Sri Indrapura. Terletak di Sumatera, Pulau Bengkalis, kab. Bengkalis, prov. Riau.

Kab. Bengkalis, pulau Bengkalis, prov. Riau


* Foto foto Kerajaan Bukit Bato: di bawah

* Foto sultan dan raja yang masih ada di Sumatera: link
* Foto sultan dan raja di Sumatera dulu: link

* Foto raja-raja di Simalungun dulu: link
* Foto raja-raja kerajaan kecil di Aceh dulu: link

* Foto perang Aceh – Belanda, 1873-1904: link
* Foto situs kuno di Sumatera: link


Tentang raja sekarang (2020)

Tidk ada info tentang raja atau keturunan kerajaan ini.


Sejarah kerajaan Bukit Bato

Untuk mengamankan pesisir pantai di Selat Malaka, kesultanan Siak Sri Indrapura menugaskan Datuk Laksamana Raja di Laut. Ada empat Datuk Laksamana Raja di Laut yang pernah mendapat tanggung jawab menjaga pesisir Selat Malaka. Mereka adalah Datuk Ibrahim, Datuk Khamis, Datuk Abdullah Shaleh, dan Datuk Ali Akbar.

Ada 4 Datuk:

– Datuk Laksamana, 1767 -1807,
– Datuk Khamis, 1808-1864,
– Datuk Abdullah Shaleh, 1864-1908,
– Datuk Laksamana Ali Akbar, 1908 -1928.

Datuk Laksamana merupakan Gelar yang diberikan oleh Sultan Siak untuk menjaga keamanan di pesisir Pantai Selat Malaka. Datuk Laksamana merupakan orang pilihan yang dipercayai dan berkuasa sepenuhnya menjaga laut serta diberi tanggung jawab oleh Sultan Siak dalam mengawasi dan menjamin keamanan dari musuh yang menyerang dari laut, Adapun yang bergelar Datuk Laksamana terdiri dari empat orang yang berkuasa di Bukit Batu di antaranya:
Datuk Laksamana Ibrahim,
Datuk Laksamana Khamis,
Datuk Laksamana Abdullah Shaleh,
Datuk Laksamana Ali Ali Akbar.
Tahun 1908 Encik Ali Akbar menggantikan Laksamana III Bukit Batu dengan Gelar Datuk Laksamana Setia Diraja, maka disepakati oleh semua panglima dan orang Kaya Negara bahwa Encik Ali Akbar sebagai Datuk Laksamana IV Bukit Batu sekaligus orang terakhir yang bergelar Datuk Laksamana. Datuk Laksamana Ali Akbar berkuasa tahun 1908-1928.

Bandar Bukit Batu sebagai bandar dagang utama yang terletak di seberang Bengkalis, secara langsung mengalami kemunduran akibat monopoli Belanda itu, Bandar dagang Bukit Batu dan Bengkalis tidak lagi menampung hasil-hasil dari Siak dan daerah lainnya seperti biasa.
Kebebasan Belanda berdagang di daerah ini dipergunakannya dengan sekehendak hatinya, Belanda melakukan hak memeriksa terhadap kapal dagang yang berlayar ke perairan Bengkalis dan sekitarnya.1 Sikap Belanda yang sudah melampaui batas ini merupakan salah satu penyebab timbulnya perlawanan.

Belanda sekali lagi memaksakan kehendaknya yaitu kepada Sultan Syarif Kasim I di pulau Bengkalis yang selama ini berada ditangan kekuasaan Datuk Laksamana. Belanda yang terus melakukan propaganda terhadap kerajaan Siak yang berpengaruh terhadap pemerintahan di Bukit Batu, oleh karena itu sangat menarik untuk dibahas mengenai pemerintahan Datuk Laksamana IV Bukit Batu karena pada masa pemerintahannya banyak mendapat tekanan dari Belanda yang ingin menguasai pulau Bengkalis, hal ini merupakan akibat diizikannya Belanda mendirikan lozi dagang di pulau Bengkalis, sehingga pada masa Datuk Laksamana IV Bukit Batu Bengkalis dikuasai sepenuhnya oleh Belanda.

Ali Akbar, Datuk Laksamana Raja Di Laut IV


Daftar Datuk

Ada 4 Datuk:

– Datuk Laksamana, 1767 -1807,
– Datuk Khamis, 1808-1864,
– Datuk Abdullah Shaleh, 1864-1908,
– Datuk Laksamana Ali Akbar, 1908 -1928.


Komplek situs Datuk Laksmana Raja Dilaut

Salah satu situs bersejarah di daerah Bengkalis yang cukup terkenal adalah komplek situs Datuk Laksmana Raja Dilaut. Lokasinya berada di Desa Sukajadi, Kecamatan Bukit Batu, Sungai Pakning-Bengkalis. Di dalam komplek situs bersejarah ini terdapat beberapa bangunan penting peninggalan Datuk Laksmana Raja Dilaut, diantaranya adalah:
– rumah milik Datuk Laksmana Raja Dilaut IV,
– makam Datuk Laksmana Raja Dilaut IV,
– makam Datuk Laksamana Raja Dilaut III
– masjid bersejarah yaitu Masjid Jami’ Al Haq,
– senjata meriam peninggalan Datuk Laksmana Raja Dilaut dan sebagainya.

Di tempat ini kita bisa menyaksikan bekas-bekas yang menjadi bukti sejarah kegagahan para Datuk Laksmana Raja Dilaut di bawah Kerajaan Siak di masa dahulu.

Rumah peninggalan Datuk Laksamana Raja di Laut IV di Kabupaten Bengkalis, Riau. Bangunan itu terkait erat dengan sejarah Kerajaan Siak. FOTO Sahrul Yunizar/jawa pos


Daftar kerajaan di Riau

Kerajaan Kandis Lubukjambi, Riau, abad ke-3 SM
Kerajaan Koto Alang Lubukjambi, Riau, abad ke-2 M
Kerajaan Andiko 44 Kampar, tidak ada info
Kerajaan Keritang, Riau, abad ke-12
Kerajaan Inderagiri, Riau, 1347–1945
Kerajaan Sangar Telukmeranti, tidak ada info
Kerajaan Pekantua Kampar, Riau, 1505-1675
Kerajaan Gasib, Riau, abad ke-14 dan ke-15
Kerajaan Segati, Riau, abad ke-15 hingga ke-16
Kerajaan Rokan IV Koto, Riau, abad ke-13
Kerajaan Pekaitan, Riau, abad ke-15 M
Kesultanan Siak Sri Indrapura, Riau, 1723-1945
Kesultanan Pelalawan, Riau, 1725-1946
Kerajaan Gunung Sahilan, Riau, 1700 – 1946
Kerajaan Kunto Darussalam, Riau, 1878 – 1942
Kerajaan Rambah, Riau, abad ke-19
Kerajaan Kepenuhan, Riau, abad ke-19
Kerajaan Tambusai, Riau,
Kerajaan Mandah, Riau
Kerajaan Kuantan, Riau,
Kerajaan Kampa, Riau,
Kerajaan Kemuning, Riau, abad ke-13
Kerajaan Tanjung Negeri, Riau, 1675-1725
Kerajaan Pekantua Kampar, Riau, 1505-1675
Kerajaan Rantaubinuang, Riau, tidak ada info
Kerajaan Tanah Putih, Riau
Kerajaan Sintong, Riau
Kerajaan Bangko, Riau
Kerajaan Kubu, Riau


Sejarah kerajaan2 di Riau

Masa prasejarah

Riau diduga telah dihuni sejak masa antara 10.000-40.000 SM. Kesimpulan ini diambil setelah penemuan alat-alat dari zaman Pleistosin di daerah aliran sungai Sungai Sengingi di Kabupaten Kuantan Singingi pada bulan Agustus 2009. Alat batu yang ditemukan antara lain kapak penetak, perimbas, serut, serpih dan batu inti yang merupakan bahan dasar pembuatan alat serut dan serpih.
Tim peneliti juga menemukan beberapa fosil kayu yang diprakirakan berusia lebih tua dari alat-alat batu itu. Diduga manusia pengguna alat-alat yang ditemukan di Riau adalah pithecanthropus erectus seperti yang pernah ditemukan di Sangiran, Jawa Tengah. Penemuan bukti ini membuktikan ada kehidupan lebih tua di Riau yang selama ini selalu mengacu pada penemuan Candi Muara Takus di Kampar sebagai titik awalnya.

Masa prakolonial

Pada awal abad ke-16, Tome Pires, seorang penjelajah Portugal, mencatat dalam bukunya, Summa Oriental bahwa kota-kota di pesisir timur Sumatra antara suatu daerah yang disebutnya Arcat (sekitar Aru dan Rokan) hingga Jambi merupakan pelabuhan dagang yang dikuasai oleh raja-raja dari Minangkabau.
Di wilayah tersebut, para pedagang Minangkabau mendirikan kampung-kampung perdagangan di sepanjang Sungai Siak, Kampar, Rokan, dan Indragiri, dan penduduk lokal mendirikan kerajaan-kerajaan semiotonom yang diberi kebebasan untuk mengatur urusan dalam negerinya, tetapi diwajibkan untuk membayar upeti kepada para raja Minangkabau. Satu dari sekian banyak kampung yang terkenal adalah Senapelan yang kemudian berkembang menjadi Pekanbaru, yang kini menjadi ibu kota provinsi.

Sejarah Riau pada masa pra-kolonial didominasi beberapa kerajaan otonom yang menguasai berbagai wilayah di Riau. Kerajaan yang terawal, Kerajaan Keritang, diduga telah muncul pada abad ke-6, dengan wilayah kekuasaan diperkirakan terletak di Keritang, Indragiri Hilir.
Kerajaan ini pernah menjadi wilayah taklukan Majapahit, namun seiring masukkan ajaran Islam, kerajaan tersebut dikuasai pula oleh Kesultanan Melaka. Selain kerajaan ini, terdapat pula Kerajaan Kemuning, Kerajaan Batin Enam Suku, dan Kerajaan Indragiri, semuanya diduga berpusat di Indragiri Hilir.

Masa kolonial Belanda

Invasi Belanda yang agresif ke pantai timur Sumatra tidak dapat dihadang oleh Siak. Belanda mempersempit wilayah kedaulatan Siak, dengan mendirikan Keresidenan Riau (Residentie Riouw) di bawah pemerintahan Hindia Belanda yang berkedudukan di Tanjung Pinang.
Para sultan Siak tidak dapat berbuat apa-apa karena mereka telah terikat perjanjian dengan Belanda. Kedudukan Siak semakin melemah dengan adanya tarik-ulur antara Belanda dan Inggris yang kala itu menguasai Selat Melaka, untuk mendapatkan wilayah-wilayah strategis di pantai timur Sumatra. Para sultan Siak saat itu terpaksa menyerah kepada kehendak Belanda dan menandatangani perjanjian pada Juli 1873 yang menyerahkan Bengkalis kepada Belanda, dan mulai saat itu, wilayah-wilayah yang sebelumnya menjadi kekuasaan Siak satu demi satu berpindah tangan kepada Belanda.
Pada masa yang hampir bersamaan, Indragiri juga mulai dipengaruhi oleh Belanda, namun akhirnya baru benar-benar berada di bawah kekuasaan Batavia pada tahun 1938. Penguasaan Belanda atas Siak kelak menjadi awal pecahnya Perang Aceh.

Di pesisir, Belanda bergerak cepat menghapuskan kerajaan-kerajaan yang masih belum tunduk. Belanda menunjuk seorang residen di Tanjung Pinang untuk mengawasi daerah-daerah pesisir, dan Belanda berhasil memakzulkan Sultan Riau-Lingga, Sultan Abdul Rahman Muazzam Syah pada Februari 1911.

Sumber:

– Sejarah Bukit Bato: https://nurulhidayantiweb.wordpress.com/2017/03/19/sejarah-bukit-batu/
– Kec. Bukit Bato:  http://camatbukitbatu.bengkaliskab.go.id/web/statis/sejarah
– Sejarah Laksamana Raja di Laut: http://sulthan-hidayatullah.blogspot.com/2011/01/sejarah-laksamana-raja-di-laut.html


Foto

Komplek Situs Datuk Laksmana Dilaut III

———————————-

Makam Datuk Laksamana IV

——————————-

Makam Datuk Laksamana III

———————————-

Komplek Situs Datuk Laksmana Dilaut

———————————–

Komplek Situs Datuk Laksmana Dilaut


Peta-peta kuno Sumatera

Untuk peta kuno Sumatera (1565, 1588, 1598, 1601, 1616, 1620, 1707, 1725, 1760), klik di sini

Sumatera, tahun 1707


 

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: