Labakkang, kerajaan / Prov. Sulawesi Selatan – kab. Pangkajane dan Kepulauan

Kekaraengan Labakkang terletak di Kab. Pangkajene, dan Kepulauan (disingkat Pangkep), prov. Sulawesi Selatan.
Kerajaan di wilayah Makassar di Sulawesi Selatan. Kerajaan ini dibentuk abad ke-16 dan ditindas pada tahun 1892 sewaktu menjadi bagian dari Pangkajene.
Raja bergelar Karaeng.

Kekaraengan (kingdom) Labakkang is located in Sulawesi, Kab. Pangkajene dan Kepulauan, province of South Sulawesi.
This kingdom was founded in the 16th century and in 1892 became part of Pangkajene.
The king is titled Karaeng.
For english, click here

Lokasi Kab. Pangkajene dan Kepulauan


* Foto foto kerajaan2 di wilayah Poso: link
* Foto foto raja2 di Sulawesi dulu: link
* Foto foto situs kuno di Sulawesi: link


Tentang Kekaraengan (kerajaan) Labakkang

Kerajaan Lombasang, yaitu sebuah kerajaan yang terletak di sebelah utara Siang. Sampai tahun 1625, Kerajaan Lombasang masih berdiri sendiri, merdeka dan berdaulat, rajanya bergelar Sombayya (raja yang disembah) seperti gelar yang dipakai Raja Gowa, sampai kemudian kerajaan ini ditaklukkan Gowa pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-14, Sultan Alauddin.
Perubahan nama dari Lombasang menjadi Labakkang menurut Sejarawan Daerah, (alm) Abdur Razak Daeng Patunru adalah atas perintah Sultan Hasanuddin setelah naik takhta dalam tahun 1653 sebagai Raja Gowa ke-16. Abdur Razak Daeng Patunru dalam tulisannya tersebut tidak menyebutkan alasan Sultan Hasanuddin sehingga merubah nama Lombasang menjadi Labakkang. Diduga perubahan itu didasari atas kesamaan nama Lombasang dengan nama kecil Sultan Hasanuddin, I Mallombasi.

Rumah Adat Karaeng Labakkang

rumah adat karaeng labakkang

Pada masa pemerintahan kekaraengan, Labakkang merupakan salah satu wilayah adatgemeenschap dalam wilayah Onderafdeeling Pangkajene, selain Pangkajene, Bungoro, Balocci, Ma’rang, Segeri dan Mandalle. Kecamatan Labakkang ini, menurut Andi Bahoeroe Karaeng Gaoe, (Karaeng Labakkang terakhir) adalah bekas tanah kerajaan pada tahun 937 sampai 1378 dimana rajanya bergelar Somba atau Sombayya.

Andi Bahoeroe Karaeng Gaoe, Karaeng Labakkang ke-22 ini mengungkapkan bahwa kata ” Labakkang ” (Bahasa Makassar) berasal dari kata ”A’labba” yang berarti lebar dan ”A’gang” yang berarti berteman atau bersatu.

Dari sejumlah kerajaan yang pernah ada di Sulawesi Selatan, hanya tiga kerajaan yang diketahui rajanya bergelar “sombaya” yang berarti raja yang disembah, yaitu hanya Kerajaan Gowa, Kerajaan Bantaeng dan Kerajaan Labakkang. Sampai kira – kira tahun 1653 Masehi, Kerajaan Labakkang bernama Kerajaan Lombasang. Perubahan nama dari Lombasang menjadi Labakkang menurut sejarawan Daerah, (alm) Abdur Razak Daeng Patunru adalah atas perintah Sultan Hasanuddin setelah naik takhta dalam tahun 1653 sebagai Raja Gowa ke-16. Abdur Razak Daeng Patunru dalam tulisannya tersebut tidak menyebutkan alasan Sultan Hasanuddin sehingga merubah nama Lombasang menjadi Labakkang. Diduga perubahan itu didasari atas kesamaan nama Lombasang dengan nama kecil Sultan Hasanuddin, I Mallombasi.
Sumber: http://bugislinks.blogspot.co.id/2009/04/asal-muasal-nama-labakkang.html
Sejarah kerajaan Labakkang lengkap: link

Peta Sulawesi Selatan tahun 1909


Tanarajae, Labakkang

Tanarajae dalam arti Bahasa Makassar berarti Tanah Raja, suatu tempat yang menjadi milik raja (kerajaan) dan digunakan sebagai tempat pelantikan raja. Namun, ada pula yang mengartikannya Tanarayae, yang artinya Tanah yang besar. Tanarajae adalah satu satu daerah pesisir / kawasan tambak yang terletak di Desa Bontomanai, Kecamatan Labakkang, sekitar 20 kilometer dari Pangkajene, ibukota Kabupaten Pangkep.

Tanarajae merupakan salah satu situs Kerajaan Labakkang, penerus dinasti Kerajaan Lombasang. Bukti bahwa tempat ini merupakan tempat istimewa yaitu ditemukannya “Batu Pallantikang”, suatu batu tempat berpijak raja yang akan dilantik serta adanya Bungung (sumur) tempat pengambilan air suci, meskipun pusat pemerintahan berada di Kamponga, Labakkang. Selain pernah menjadi tempat pelantikan raja, menurut Syamsu Alam Dg Nyonri, salah seorang pemerhati budaya di Labakkang, Tanarajae juga pernah menjadi markas pertahanan pejuang terkenal Labakkang yang gigih melawan Belanda, yaitu La Maruddani Karaeng Bonto-bonto.

Terpilihnya Tanarajae sebagai tempat tinggal Raja – raja Labakkang disebabkan karena sumber kekayaan alamnya yang melimpah. Sawah paling subur di Tanarajae disebut Galung Pangkajoa dan Sungguminasa terletak di sebelah timur dan selatan Kampung Tanarajae, sedangkan di sebelah utara dan baratnya adalah kawasan empang (tambak) seluas lebih dari 1000 hektar. Kesuburan Tanarajae bahkan seringkali menjadi nyanyian Orkes Gambus Turiolo, suatu kesenian tradisional yang sampai saat ini masih hidup dan lestari di Tanarajae.
– Sumber: http://pemudalabakkang.blogspot.com/2013/06/tanarajaedalam-arti-bahasa-makassar.html

Gerbang Masuk Kampung Tana Rajae’


Peta-peta Sulawesi masa dulu

Untuk peta peta kuno (1606, 1633, 1683, 1700, 1757, 1872, abad ke-19): klik di sini

Peta Sulawesi dan Maluku, tahun 1683


Sumber kerajaan Labakkang

Sejarah Labakkang di Wiki: https://id.wikipedia.org/wiki/Labakkang,_Pangkajene_dan_Kepulauan
Sejarah Labakkang: http://bugislinks.blogspot.co.id/2009/04/asal-muasal-nama-labakkang.html
Sejarah Labakkang: https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=231983853665134&id=222435284619991

– Sejarah Labakkang lengkap: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/sulawesi/labakkang-kekaraengan/sejarah-lengkap-kerajaan-labakkang/

Sumber kerajaan Lombasang

https://palontaraq.id/2019/10/26/menelusuri-jejak-sejarah-kerajaan-lombasang
https://id.wikipedia.org/wiki/Labakkang,_Pangkajene_dan_Kepulauan