Makasar, kesultanan / Prov. Sulawesi Selatan

Kerajaan Tallo (Gowa-Tallo), pertengahan abad 15 – 1856, terletak di Sulawesi, Kab. Gowa, prov. Sulawesi Selatan.
Awalnya, kerajaan Makassar adalah dua kerajaan yang berbeda yaitu kerajaan Gowa dan kerajaan Tallo. Dua kerajaan yang bersaudara ini berseteru selama bertahun-tahun.
Pembentukan kerajaan Gowa terjadi pada sekitar tahun 1300.
Abad ke-15 mendirikan kerajaan Tallo.
Hingga pada akhirnya, Gowa dan Tallo bersatu dalam kesepakatan “dua raja tetapi satu rakyat” pada 1565. Setelah bersatu kembali, kerajaan ini disebut kerajaan Gowa-Tallo atau kerajaan Makassar.

The kingdom of Tallo (Gowa-Tallo), 15th century – 1856, was located in south Sulawesi; in the district Gowa. South Sulawesi.
Initially, the Makassar kingdom was two different kingdoms, namely the Gowa kingdom and the Tallo kingdom.

The formation of the Gowa kingdom occurred around 1300.
The kingdom of Tallo was founded in the 15th century.
Gowa and Tallo were united in the agreement of “two kings but one people” in 1565. After reuniting, this kingdom was called the Gowa-Tallo kingdom or the Makassar kingdom.
For english, click here

Lokasi Makasar di Provinsi Sulawesi Selatan


* Foto kesultanan Makasar: link
* Foto perang Makasar – VOC, 1660-1669: link


Garis kerajaan-kerajaan di Sulawesi: link


Foto kerajaan-kerajaan di Sulawesi

* Foto sultan dan raja yang masih ada di Sulawesi: link
* Foto sultan dan raja di Sulawesi dulu: link
* Foto situs kuno di Sulawesi: link


Video sejarah kerajaan-kerajaan di Sulawesi

– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi, 40.000 SM – 2018: link
– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi Selatan, 1M – 2020: link
– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi Tenggara, 50.000 SM – 2020: link
– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi Utara, 4000 SM – sekarang: link


KESULTANAN MAKASAR

Sejarah kesultanan Makasar

Kerajaan Makassar adalah kerajaan yang berdiri pada abad ke-16 di Sulawesi Selatan. Kerajaan Makassar dikenal juga dengan nama kerajaan Gowa Tallo. Kerajaan Makassar adalah kerajaan yang bercorak Islam sehingga disebut pula dengan kesultanan Makassar.

Awalnya, kerajaan Makassar adalah dua kerajaan yang berbeda yaitu kerajaan Gowa dan kerajaan Tallo. Dua kerajaan yang bersaudara ini berseteru selama bertahun-tahun.

Dua kerajaan ini bersatu di bawah kepemimpinan Raja Gowa, Daeng Manrabba yang bergelar Sultan Alauddin dan Raja Tallo Sultan Abdullah.
Bersatunya Gowa dan Tallo membuat pusat pemerintahan kerajaan Makassar berpindah ke Somba Opu. Letak kerajaan Makassar ini sangat strategis karena berada di jalur lalu lintas pelayaran antara Malaka dan Maluku.

Sejarah

Sejarah kerajaan Gowa-Tallo terbagi dalam dua zaman, yaitu periode sebelum memeluk Islam dan setelah memeluk Islam.
Kerajaan Gowa-Tallo merupakan gabungan dari dua kerajaan yang berasal dari keturunan sama, yakni kerajaan Gowa. Pada awalnya, di wilayah Gowa terdapat sembilan komunitas yang dikenal dengan nama Bate Salapang atau Sembilan Bendera. Sembilan komunitas tersebut adalah Tambolo, Lakiung, Saumata, Parang-parang, Data, Agangjene, Bisei, Kalili, dan Sero.

Dengan berbagai cara, baik damai ataupun paksaan, sembilan komunitas tersebut membentuk kerajaan Gowa. Tomanurung kemudian diangkat menjadi raja dan mewariskan kerajaan Gowa kepada putranya, Tumassalangga. Bukti genealogis dan arkeologis mengisyaratkan bahwa pembentukan kerajaan Gowa terjadi pada sekitar tahun 1300, di mana masyarakat dan penguasanya masih menganut kepercayaan animisme.

Kerajaan Gowa pernah terbelah menjadi dua setelah masa pemerintahan Tonatangka Lopi pada abad ke-15. Dua putra Tonatangka Lopi, Batara Gowa dan Karaeng Loe ri Sero, berebut takhta sehingga terjadilah perang saudara. Setelah Batara Gowa menang, Karaeng Loe ri Sero turun ke muara Sungai Tallo dan mendirikan Kerajaan Tallo.
Selama bertahun-tahun, dua kerajaan bersaudara ini tidak pernah akur. Hingga pada akhirnya, Gowa dan Tallo bersatu dalam kesepakatan “dua raja tetapi satu rakyat” pada 1565. Setelah bersatu kembali, kerajaan ini disebut kerajaan Gowa-Tallo atau kerajaan Makassar dengan sistem pembagian kekuasaan. Raja Gowa dipilih dari garis keturunan Gowa dan menjadi Sombayya (raja tertinggi) sedangkan raja Tallo selain sebagai tetap raja Tallo, juga merangkap sebagai Tuma’bicara Butta (Perdana Menteri dari keturunan Tallo).

Keruntuhan

Siasat politik adu domba yang dijalankan Belanda terbukti ampuh. Sebab, Raja Bone yaitu Aru Palaka, akhirnya mau bersekutu dengan VOC untuk menghancurkan Makassar. Perang inilah yang kemudian dikenal dengan nama Perang Makassar.

Setelah bertahun-tahun berperang, kerajaan Makassar harus mengakui kekalahannya dan menandatangani Perjanjian Bongaya pada 1667. Dalam perjanjian tersebut, banyak pasal yang merugikan Makassar, tetapi harus diterima Sultan Hasanuddin. Dua hari setelah perjanjian itu, Sultan Hasanuddin turun takhta dan menyerahkan kekuasaan kepada Sultan Amir Hamzah.

Perjanjian Bongaya menjadi awal keruntuhan kesultanan Gowa-Tallo. Pasalnya, raja-raja setelah Sultan Hasanuddin bukanlah raja yang merdeka dalam penentuan politik kenegaraan.


Perang Makasar (1666-1669) dan Perjanjian Bungaya (1667)

Pada masa Sultan Hasanudin (berkuasa 1653 – 1669), kerajaan Gowa-Tallo harus menghadapi VOC penyebabnya keinginan VOC untuk memonopoli perdagangan di Indonesia bagian timur jelas tidak bisa diterima oleh sultan.

Konflik terjadi dan Hasanuddin berhasil menghalau pasukan VOC dari kawasan Maluku. Namun, upaya Belanda untuk menguasai jaringan perdagangan di kawasan Indonesia bagian timur itu tidak pernah surut. Dengan siasat adu domba, Belanda berhasil memanfaatkan Aru Palaka (Raja Bone) untuk memasukkan pengaruhnya. Saat itu, kerajaan Bone masuk dalam kekuasaan kerajaan Makassar.

Tanggal 7 Juli 1667, meletus Perang Goa. Tentara VOC dipimpin oleh Cornelis Janszoon Spelman, diperkuat oleh pengikut Aru Palaka dan ditambah orang-orang Ambon di bawah pimpinan Jonker van Manipa. Kekuatan VOC ini menyerang pasukan Goa dari berbagai penjuru.

Beberapa serangan VOC berhasil ditahan pasukan Hasanuddin. Tetapi dengan pasukan gabungan disertai peralatan senjata yang lebih lengkap, VOC berhasil mendesak pasukan Hasanuddin. Benteng pertahanan tentara Goa-Tallo di Barombang dapat diduduki oleh pasukan Aru Palaka. Hal ini menandai kemenangan pihak VOC atas kerajaan Gowa-Tallo. Hasanuddin kemudian dipaksa untuk menandatangani Perjanjian Bongaya pada tanggal 18 November 1667, yang isinya antara lain:

* Makassar harus mengakui monopoli VOC,
* Wilayah Makassar dipersempit hingga tinggal Gowa saja,
* Makassar harus membayar ganti rugi atas peperangan,
* Hasanuddin harus mengakui Aru Palakka sebagai Raja Bone,
* Gowa tertutup bagi orang asing selain VOC,
* Benteng-benteng yang ada harus dihancurkan kecuali Benteng Rotterdam.

Pertempuran kembali pecah di berbagai tempat. Sultan Hasanuddin memberikan perlawanan sengit. Bantuan tentara dari luar menambah kekuatan pasukan VOC, hingga akhirnya Kompeni berhasil menerobos benteng terkuat milik kesultanan Gowa yaitu Benteng Somba Opu pada tanggal 12 Juni 1669. Sultan Hasanuddin kemudian mengundurkan diri dari tahta kerajaan dan wafat pada tanggal 12 Juni 1670.


Daftar raja
.
Raja-raja yang pernah memerintah kesultanan Makassar, antara lain sebagai berikut:

* 1591-1629: Sultan Alauddin
* 1639-1653: Sultan Muhammad Said
* 1653-1669: Sultan Hasanuddin
– Sumber / Source: Wiki


Sultan Hasanuddin

Sultan Hasanuddin (lahir di Gowa, 12 Januari 1631 – meninggal di Gowa12 Juni 1670) adalah Raja Gowa ke-16 dan pahlawan nasional Indonesia yang terlahir dengan nama Muhammad Bakir I Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape sebagai nama pemberian dari Qadi Islam Kesultanan Gowa yakni Syeikh Sayyid Jalaludin bin Ahmad Bafaqih Al-Aidid, seorang mursyid tarekat Baharunnur Baalwy Sulawesi Selatan yang juga adalah gurunya, termasuk guru tarekat dari Syeikh Yusuf Al-Makassari.
Setelah menaiki takhta, ia digelar Sultan Hasanuddin, setelah meninggal ia digelar Tumenanga Ri Balla Pangkana. Ia dimakamkan di Katangka, Kabupaten Gowa. Ia diangkat sebagai Pahlawan Nasional dengan Surat Keputusan Presiden No. 087/TK/1973, tanggal 6 November 1973.

Sultan Hasanuddin memerintah Kerajaan Gowa mulai tahun 1653 sampai 1669. Kerajaan Gowa adalah merupakan kerajaan besar di Wilayah Timur Indonesia yang menguasai jalur perdagangan.

Pada pertengahan abad ke-17, Kompeni Belanda (VOC) berusaha memonopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku setelah berhasil mengadakan perhitungan dengan orang-orang Spanyol dan Portugis. Kompeni Belanda memaksa orang-orang negeri menjual dengan harga yang ditetapkan oleh mereka, selain itu Kompeni menyuruh tebang pohon pala dan cengkih di beberapa tempat, supaya rempah-rempah jangan terlalu banyak. Maka Sultan Hasanuddin menolak keras kehendak itu, sebab yang demikian adalah bertentangan dengan kehendak Allah katanya. Untuk itu Sultan Hasanuddin pernah mengucapkan kepada Kompeni “marilah berniaga bersama-sama, mengadu untuk dengan serba kegiatan”. Tetapi Kompeni tidak mau, sebab dia telah melihat besarnya keuntungan di negeri ini, sedang Sultan Hasanuddin memandang bahwa cara yang demikian itu adalah kezaliman.

Pada tahun 1660, VOC Belanda menyerang Makassar, tetapi belum berhasil menundukkan Kerajaan Gowa. Tahun 1667, VOC Belanda di bawah pimpinan Cornelis Speelman beserta sekutunya kembali menyerang Makassar. Pertempuran berlangsung di mana-mana, hingga pada akhirnya Kerajaan Gowa terdesak dan semakin lemah, sehingga dengan sangat terpaksa Sultan Hasanuddin menandatangani Perjanjian Bungaya pada tanggal 18 November 1667 di Bungaya. Gowa yang merasa dirugikan, mengadakan perlawanan lagi. Pertempuran kembali pecah pada Tahun 1669. Kompeni berhasil menguasai benteng terkuat Gowa yaitu Benteng Sombaopu pada tanggal 24 Juni 1669. Sultan Hasanuddin wafat pada tanggal 12 Juni 1670.

Sultan Hasanuddin, 1653-1669


Perang Makasar,1666 – 1669 dan Perjanjian Bungaya, 1667

Dalam kurun waktu yang cukup lama, Kesultanan Makassar (Gowa-Tallo) terlibat persaingan dengan Kerajaan Bone. Persaingan antara dua kekuatan tersebut pada akhirnya melibatkan campur tangan dari Belanda dalam sebuah peperangan yang dinamakan Perang Makassar (1660-1669). Belanda yang mempunyai tujuan tertentu yaitu, berusaha memonopoli perdagangan rempah-rempah di pelabuhan Makassar memanfaatkan situasi dengan berpihak pada Kerajaan Bone, sebagai musuh Kesultanan Makassar.
Kemudian dalam peperangan Makassar ini Kesultanan Makassar dipimpin langsung oleh Sultan Hasannudin akan tetapi Hasannudin tidak bisa mematahkan kekuatan Kerajaan Bone yang dibantu oleh kekuatan Belanda yang berambisi menguasai Makassar. Kemudian Hasannudin dipaksa oleh VOC untuk menandatangai Perjanjian Bungaya (18 November 1667) sebagai tanda takluk kepada VOC.

Isi Perjanjian Bungaya
Berikut ini merupakan isi dari perjanjian antara kesultanan Makassar dengan VOC (Belanda):
1. VOC memperoleh hak monopoli di Makassar.
2. VOC diizinkan mendirikan benteng di Makassar.
3. Makassar harus melepaskan jajahan seperti Bone.
4. Semua bangsa asing diusir dari Makassar, kecuali VOC.
5. Kerajaan Makassar diperkecil hanya tinggal Gowa saja.
6. Makassar membayar semua utang perang.
7. Aru Palaka diakui sebagai Raja Bone.

Peta Makasar tahun 1640-1660


Komplek makam raja-raja Makasar / Gowa

Makam Sultan Hasanudin berada di komplek pemakaman raja-raja Gowa yang terletak di Katangka, Kec. Somba Opu, Kab. Gowa.


Benteng Rotterdam

Fort Rotterdam atau Benteng Ujung Pandang (Jum Pandang) adalah sebuah benteng peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo. Letak benteng ini berada di pinggir pantai sebelah barat Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Benteng ini dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-9 yang bernama I manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa’risi’ kallonna. Awalnya benteng ini berbahan dasar tanah liat, namun pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-14 Sultan Alauddin konstruksi benteng ini diganti menjadi batu padas yang bersumber dari Pegunungan Karst yang ada di daerah Maros.
– Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Fort_Rotterdam


Peta-peta Sulawesi masa dulu

Untuk peta peta kuno (1606, 1633, 1683, 1700, 1757, 1872, abad ke-19): klik di sini

Peta Sulawesi dan Maluku, tahun 1683


Sumber / Source

– Sejarah kesultanan Makassar di Wiki: https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Makassar
Sejarah kesultanan Gowa, Makassar di Melayuonline: link
Sejarah Gowa, Makassar, Tallo:  http://fatwarohman.blogspot.co.id/2013/10/kesultanan-makassar-gowa-tallo.html
– Sejarah kesultanan Makasar: http://www.tendasejarah.com/2013/09/sejarah-kerajaan-makassar.html
– Daftar Raja Makasar: Wiki

– Sejarah singkat perang Makasar: http://sejarah-indonesia-lengkap.blogspot.co.id/2013/07/sejarah-singkat-perang-makasar.html
– Sejarah perang Makasar: http://wartasejarah.blogspot.co.id/2013/07/perang-makassar.html

– Perjanjian Bungaya (1667): https://id.wikipedia.org/wiki/Perjanjian_Bungaya
– Benteng (Fort) Rotterdam: https://id.wikipedia.org/wiki/Fort_Rotterdam
– Perang Makasar: http://ujpunj2012.blogspot.co.id/2012/12/calvin-great-perang-makassar.html


Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: