Seba (Heba), kerajaan / P. Sawu – Prov. Nusa Tenggara Timur

Kerajaan Seba (Heba) terletak di pulau Sawu. Kab. Sabu Raijua, Prov. Nusa Tenggara Timur.

The kingdom of Seba was a kingdom on the island of Savu. District of Sabu Raijua.
For english, click here

Lokasi pulau Savu


* Foto foto kerajaan Seba: di bawah


* Foto kerajaan2 di Sawu: link


* Foto foto suku Sawu: link
* Foto situs kuno / megalitik Sawu: link


* Video sejarah kerajaan2 di P. Savu dan Nusa Tenggara Timur, 40.000 SM – sekarang: link


KERAJAAN SEBA

Tentang raja sekarang (2018)

Tidak ada info tentang raja sekarang.


Sejarah kerajaan Seba

Tidak ada info tentang sejarah kerajaan ini.

Pada tahun 1918 kerajaan-kerajaan kecil di pulau Sawu disatukan dalam satu swapraja Sabu yang di-perintahi oleh raja S. Th. Djawa.


Daftar raja kerajaan Seba

1) Kore Rohi was the 1st King recognized by Portugese.
2) J’ami Kore.
3) Hab’a J’ami.
4) Lay Hab’a.
5) Bire Lay.
6) Riwu Bire.
7) Lomi Riwu.
8) Ina Tenga (her Savunese Loving Name), (Beni Ae/Queen) died in 1684. Her first Savunese name is not known. Succeded by her nephew, a son of her brother Lay Lomi.
9) J’ara Lomi (a succesor before 1694, brother of Lay Lomi and Ina Tenga).
10) Wadu Lay (mentioned between 1710 and 1731, son of Lay Lomi, nephew of Dj’ara Lomi and Ina Tenga).
11) J’ara Wadu (son of Wadu Lay, mentioned: 1746 or ’47-1761 or ’67).
12) Lomi J’ara (known also as Ama Doko: his Savunese loving name. He is known from the Visit of Captain Cook in 1770 and died in November 1778. He is a son of J’ara Wadu (Dj’ara Wadu).
13) Doko Lomi (eldest son of Lomi Dj’ara 1790-1794). Some information mentioned that Doko Lomi succeded his father about ten years earlier which was from 1778.

The fettor of Seba tahun 1954. Maybe he is son of ex- Fettor Lawa Riwu alias Gabrial Manus. – Sumber: donald tick, Ind. royalty expert, Facebook

A certain Meha Mano (Mesa Mano) was made fettor of Heb’a (Seba) after his deceased father in the year 1790. Meha is subtitute for Mesak or Mesach.

14) Riwu Doko (son;until 18..)??
15) Bire Doko (brother; until 1830)??
15) Dj’ara….. (Ama Loni)(different lineage; 1830-1859).
16) Talo Dj’ara (Ama D’ima)(son; 1859-1863).
17) (Ama Nia) Dj’awa….. (son of 16; 1863-186 .
18) Kaho Dj’awa (Ama Doko) (son; first Christian King; also named Sjarle Kaho Dj’awa; 1868-1881; died).
19) Lazarus Rohi Dj’awa (Rosi Dj’awa) (1881 – his death 12/2/1890; brother).
20) Alexander Rihi Dj’awa (1890 – his death 1901; brother).
21) Elias Ludji Radja Pono (1901 – his death 2/11/1906; brother).

The brother of 20 until 23 was King (Ama Ludji) Dimu….. of Melolo/Sumba, who ruled there f.i. in 1890.

24) Samuel Thomas Dj’awa (Logo Rihi); son of 22; 1906 ruled until his death 28/9/1935; born 16/4/1885; from 1914-1918 he was made by Dutch the chief of a sort federation of the 5 principalities of the Savu Islands.
25) Paulus Charles Dj’awa (Rohi Rihi; brother; 1935 – his death in 1963).
26) David D. Bire Ludji (of different lineage; 1963-19../died 1992).
He was also the last ruler of the Seba pricipality.

Sumber: link (tidak ada lagi di internet)

Raja Elias Loedji Radja Pono of Seba on Savu-Sabu Raijua islands in ca 1902. – Sumber foto: donald tick, ind. royalty expert, www.facebook.com/donald.tick


Istana kerajaan Seba, Teni Hawu

Istana ini dibangun pada tahun 1875 silam dan terletak di Kecamatan Sabu Barat, Kabupaten Sabu Raijua.
Istana Teni Hawu didirikan oleh Raja Sabu ke IX-XI. Kini istana tersebut dikelola oleh Agustina, keturunan ke-IV dari Raja Sabu ke-XI.

Di dalam Istana Teni Hawu masih terdapat berbagai dokumen dan peralatan yang dipakai oleh Raja untuk mepersatukan masyarakat Sabu. Demikian juga di bagian depan Istana terdapat 2 buah meriam yang masih utuh. Konon menurut cerita pihak istana bahwa kedua meriam tersebut merupakan meriam yang dijatuhkan tentara Jepang pada saat perang dunia kedua yang ditujukan untuk melumpuhkan kekuatan Raja. Namun meriam tersebut tidak bisa meledak karena adanya kekuatan majis yang melindungi istana tersebut.
Sumber: http://tourism.nttprov.go.id/objek/383-istana_teni_hawu_di_sabu_seba

Istana Teni Hawu yang artinya tempat berkumpul orang Sabu. Istana ini merupakan peninggalan kerajaan Seba yang dibangun pada tahun 1875 silam. Sumber foto: http://www.imgrum.org/tag/IstanaTeniHawu

Istana kerajaan Seba


Sejarah pulau Sawu

Menurut sejarah, nenek moyang orang Sabu berasal dari suatu negeri yang sangat jauh yang letaknya di sebelah Barat pulau Sabu.
Pada abad ke-3 sampai abad ke-4 terjadi arus perpindahan penduduk yang cukup besar dari India Selatan ke Kepulauan Nusantara. Perpindahan penduduk itu disebabkan karena pada kurun waktu itu terjadi peperangan yang berkepanjangan di India Selatan. Dari syair-syair kuno dalam bahasa Sabu dapat diperoleh informasi sejarah mengenai negeri asal leluhur Sabu. Syair-syair itu mengungkapkan bahwa negeri asal orang Sabu terletak sangat jauh di seberang lautan di sebelah Barat yang bernama Hura.
Di India terdapat Kota Surat di wilayah Gujarat Selatan yang terletak di sebelah Kota Bombay, Teluk Cambay, India Selatan. Kota Gujarat pada waktu itu sudah terkenal sebagai pusat perdagangan di India Selatan. Orang Sabu tidak dapat melafalkan kata Surat dan Gujarat sebagaimana mestinya, sehingga mereka menyebutnya Hura.
Para pendatang dari India Selatan ini menjadi penghuni pertama pulau Raijua di bawah pimpinan Kika Ga dan saudaranya Hawu Ga. Keturunan Kika Ga inilah yang disebut orang Sabu (Do Hawu). Setelah kawin mawin mereka kemudian menyebar di Pulau Sabu dan Raijua dan menjadi cikal bakal orang Sabu.

Pembagian wilayah di Sabu terjadi pada masa Wai Waka (generasi ke 18). Pembagian ini dibuat berdasarkan jumlah anak-anaknya yang akan dibagikan wilayahnya masing-masing yakni:
– Dara Wai mendapat wilayah Habba (Seba)
– Kole Wai mendapat wilayah Mehara (Mesara)
– Wara Wai mendapat wilayah Liae
– Laki Wai mendapat wilayah Dimu (Timu)
– Dida Wai mendapat wilayah Menia
– Jaka Wai mendapat wilayah Raijua

Raja Seba ca. 1870.  – Sumber foto: donald tick, Ind. royalty expert, Facebook

Raja Seba (Sawu) ca. 1870Pembagian ini telah menyebabkan terbentuknya komunitas genelogis-teritorial, dimana suatu rumpun keluarga terikat pada pemukiman tertentu. Karena rumpun ini berkembang semakin besar maka dibentuk suatu sub rumpun yang disebut Udu yang dikepalai oleh seorang Bangu Udu. Di Habba (Seba) terdapat 5 Udu yang nantinya akan terbagi lagi menjadi Kerogo-Kerogo. Di Sabu dan Raijua seluruhnya terdapat 43 Udu dan 104 Kerogo.

Diyakini terdapat pengaruh Majapahit yang pada abad ke 14 sampai awal abad ke 16 berhasil menguasai dan menyatukan nusantara terhadap kehidupan masyarakat Sabu. Beberapa bukti tersebut dapat dilihat pada:
– Mitos (cerita rakyat) yang memberikan penghormatan terhadap Raja Majapahit sehingga muncul cerita bahwa Raja Majapahit dan istrinya pernah tinggal di Ketita di Pulau Raijua dan Pulau Sabu.
– Ada kewajiban bagi setiap rumah tangga untuk memelihara babi yang setiap saat akan dikumpul untuk persembahan kepada Raja Majapahit.
– Ada batu peringatan untuk Raja Majapahit yang disebut Wowadu Maja dan sebuah Sumur Maja di wilayah Daihuli dekat Ketita.
– Setiap 6 tahun sekali ada upacara yang diadakan oleh salah satu Udu di Raijua, Udu Nadega yang diberi julukan Ngelai yang menurut cerita adalah keturunan orang-orang Majapahit.
– Motif pada tenunan selimut orang Sabu yang bergambar Pura.
– Di Mesara ada desa yang bernama Tana Jawa yang penduduknya mempunyai profil seperti orang Jawa dan ada tempat di dekat pelabuhan Mesara yang disebut dengan Mulie yang diambil dari bahasa Jawa Mulih yang berarti pulang.

Kontak awal adalah dengan Vereenigde Belanda Oost-Indische Companie pada tahun 1648. Referensi untuk Savu dari periode tersebut selalu menyangkut tentara Savati, tentara bayaran atau budak. Pada tahun 1674, awak kapal Belanda dibantai di Savu Timur, setelah kapal mereka kandas. Belanda menanggapi dengan membentuk sebuah aliansi dengan raja Seba, sehingga pasukan dapat dikirim untuk melakukan pembalasan. Namun, mereka gagal memasuki benteng Hurati, di Desa B’olou, Eastern Savu, karena dikelilingi oleh tiga dinding pertahanan. Untuk menyelamatkan muka, pasukan Belanda menerima pembayaran berupa budak, emas dan manik-manik.

Mobilitas ke luar Sabu dimulai sejak saat kontrak antara Sabu dan Belanda ditandatangani tahun 1756. Telah ditetapkan bahwa Sabu wajib menyediakan tentara bagi Belanda demi kepentingan pertahanannya di Kupang. Tujuan utama tenaga bersenjata ini adalah untuk melancarkan ekspedisi militer seperti yang dilakukan oleh Von Pluskow sejak 1758 hingga 1761. Ketrampilan orang Sabu di bidang militer ini ditambah dengan keberanian mereka meluaskan keterlibatan mereka antar lain ekspedisi di tahun 1838 untuk menghentikan kebiasaan orang Ende menyerang Sumba demi mendapatkan budak. Emigrasi orang Sabu ke Sumba yang diawali oleh hubungan perkawinan antara Raja Melolo di Sumba Timur dan Raja Sabu di Habba kemudian berkembang menjadi perkampungan Sabu di Sumba Timur.

Beberapa kali wabah penyakit menyerang penduduk Sabu diantaranya cacar yang memakan korban jiwa di tahun 1869 membuat Sabu dan Raijua kehilangan hampir seperenam jumlah mereka, kolera di tahun 1874 dan berulang tahun 1888 yang membuat rakyat di kedua pulau Sabu dan Raijua berkurang sangat signifikan. Baru sekitar tahun 1925 penduduk Sabu mencapai jumlah semula.

Pada tahun 1918 kerajaan-kerajaan kecil di pulau Sawu disatukan dalam satu swapraja Sabu yang di-perintahi oleh raja S. Th. Djawa.

 


Peta kuno

Nusantara, tahun 1493

———————————————-

Kepulauan Sunda Kecil, tahun 1725


Sumber

– Asal-Usul Orang Sabu: https://voxntt.com/2016/09/12/menarik-ini-asal-usul-orang-sabu-ntt/354/
– Sejarah Sabu Raijua: https://saburaijuakab.go.id/halaman/sejarah
– Sejarah Kab. Savu Raijua: https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Sabu_Raijua#Sejarah
– Sejarah Suku Savu: http://suku-dunia.blogspot.co.id/2015/01/sejarah-suku-sawu.html

English

Royals try to come back (2010): kerajaan indonesia


Foto foto

Fettor dari Seba. Sumber foto: donald tick, Ind. royalty expert, Facebook

————————————–
Radja Samuel Th, Djawa of Seba since 1906,since 1915, died 1935 also raja of the Savoe-islands federation. – Sumber foto: donald tick, Ind. royalty expert, Facebook

————————————–
Raja Lazarus Rosi Djawa dari Seba (1881-1890). – Sumber foto: donald tick, Ind. royalty expert, Facebook

————————————–
Di depan: DoaE Paulus Ch Djawa of Seba-Savoe. – Sumber foto: donald tick, Ind. royalty expert, Facebook


4 Comments

4 thoughts on “Seba (Heba), kerajaan / P. Sawu – Prov. Nusa Tenggara Timur

  1. Nasehat Baik

    tolong bantu saya data marga apa saja yang ada di pulau sabu dan seba. sy mau bahas di chanel youtube saya terima kasih. GBU

  2. Nama pulau Sabu, diambil dari nama Leluhur Hawu Miha, anak dari Leluhur Miha Ngara. Hawu Miha adalah turunan ke-7 dari Leluhur Kika Ga sebagai orang yang pertama kali berdiam di pulau Hawu dan Raijua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: