Banggai, sejarah kerajaan2 kecil daerah Banggai

Sumber: https://www.facebook.com/groups/sejarahsulawesi/permalink/3009810072368304/

Catatan Kerajaan Banggai dalam Versi yang Lain.
menambah wawasan sejarah kita tentang banggai, tapi perlu di tela’ah kebenarannya; serta di sandingkan dengan kajian History tutur dan akademik.

————————————————————–

Lihat juga:
* Sejarah kerajaan2 kecil di daerah Banggai: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/sulawesi/banggai-kerajaan2-kecil-daerah-banggai/
* Daftar kerajaan2 kecil di daerah Banggai: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/sulawesi/banggai-daftar-kerajaan-2-kecil-daerah-banggai/

————————————————————–

E.Gobee (1928; 442,443), dalam bukunya berjudul Een Loinangsch Verhaal (cerita-cerita dari suku Loinang), mengatakan bahwa “pada tahun sekitar 1417 persekutuan Loinang Timur sudah terbentuk dan membentuk sebuah kerajaan dengan nama Tompotika, raja pertama bernama La Logani, kedua adiknya perempuan ratu Mapaang, wilayah kerajaan ini meliputi pegunungan yang meraka namakan Tompotika ” (Tumpu potinggi mianu kita = Tuhan meninggikan derajat manusia). Keturunan raja La Logani disebut Miannu Balayan, yang tersebar dari Pegunungan Tompotika, gunung pinuntunuan, gunung kau totolu, atau oleh penulis barat di kenal dengan suku La Inang Barat. Sedangkan anak-anak La Logani, Mangamben, Lakauta, menulusuri Pegunungan Tompotika mengembangkan kerajaan Tompotika dan sampailah di desa Bulakan dan Lingketeng, serta Tambunan, Boloa, Pakohan, Kintom, Mendono, Tangkain, Lontio. Anaknya Sula, Maiyaya dan Moitom mengembangkan wilayah kekuasaan ke Balantak, Lamala, Masama dan Bualemo, sedangkan adiknya Mapaang yang menikah di Lolantang mendapat anak Mangamben, menjadi pemimpim di Keleke, Mangkin Piala, Luwok, dengan gelar mianu tutui (yang benar, yang nyata).

Lanjutnya Doermier (1945:20), Kerajaan Motindok merupakan ke-triesaan dengan Bola dan Lowa, dikatakan ketiga bagian itu dikuasai oleh seorang raja Ali Asine, adik perempuannya Aminah, dan adik laki-laki Lohat (kembali satu ikatan keluarga antar kerajaan). Waktu pendiri kerajaan Banggai yang sekarang (Mumbu doi jawa) dalam perjalanan penaklukannya tiba di Motindok, ia menikahi putri raja Ali Asine, Nuru Sapa (dalam versi Banggai putri ini adalah istri Mumbu doi jawa berbangsa Ternate), serta mengangkat putra dari saudara laki-laki Nuru Sapa,Sasong Baluwangi, menjadi basanyo pertama atas Batui, putra ini bernama Ama, bahasa yang di pakai adalah Mbaha, penyimpangan dari bahasa Saluan dan bahasa Wana (1525-1680).

Dari pernyataan Dormier yang menyadur pendapat Francois Falentijn, Prof.Weck, E.Gobee, O.H.Goedhart, dan Albert C.Kruyt, bahwa kerajaan-kerajaan di Banggai darat dan Banggai luat sudah terbentuk. Kerajaan-kerajaan tersebut adalah, Liputomundo, Kadupang dan Sisipan, serta Bongganan di wilayah Gapi (Peling), Dodung dan Tano Bonunungan, Monsongan di wilayah pulau Banggai, Kemudian Tompotika dan Motindok di wilayah Banggai darat. Kerajaan-kerajaan tersebut belum dikuasai sultan Ternate dan berbentuk otonom.

Kerajaan-kerajaan di Banggai Laut dan Banggai darat yang di sebutkan diatas, pada Tahun 1465 s/d 1580 masing-masing di pimpin oleh Liputomundo raja Tahani, Kadupang raja Gahani, Bongganan raja Bembengkan, Sisipan Adi Kalut Pokalut (selalu menggaruk-garuk badan), raja Dodung Adi Moute (putih) di Banggai, raja Tano Bonunungan Adi Lambal-Pololambai (Adi Ambar, batu ambar dari laut) di Banggai, raja La Logani Tompotika Bualemo dan raja Ali Aseni Motindok, di Batoei, Banggai darat, ungkap Doermier (1945).

Albert C. Cruyt (1931), dalam bukunya De Vorsten van Banggai (raja-raja Banggai), mengatakan, “Kerajaan Banggai lahir dari kerajaan Bongganan,” fakta dan hipotesis Kruyt di amini oleh J.J.Doermier (1945), dengan menambahkan pada saat kerajaan Bongganan di serang raja Gowa, Ternate, rajanya lari ke pulau Banggai, dan menjadi raja disana dengan nama Adi Kalut Pokalut, legenda mengatakan Bongganan dihancurkan oleh Goereezen, Ternate dan Jawa, demikian Doermier dalam Albert C.Kruyt (Catatan Untuk Bangga-,Gapi, op.cit.,511,516,679).

Francois Valentijn (1726:80), dalam buku berjudul, Oud en Nieuw Oost Indien (Hindia Timur yang baru dan lama, jilid I-b,1726: 80), mengatakan “Banggai ini dan pulau-pulau lain di sekitarnya, pada tahun 1580 berada di bawah pemerintahan raja Babu, di kuasai Ternate.” Yang dimaksud raja Babu adalah Sultan Baab-ullah (1570-1583).

Albert C.Kruyt (1931), dalam bukunya De Vorsten van Banggai (Raja-raja Banggai, 1931: 518,521), mengatakan bahwa “ Mumbu doi Jawa memasukkan agama Islam ke Banggai, menata sebuah pemerintahan, menaklukkan pulau Peling dan wilayah daratan Sulawesi Timur, dari Balantak sampai Kendari,” demikian Kruyt.

Menarik disimak, kata Doermier, Franscois Valintejn, E.Gobbe, bahwa sebelum kerajaan Banggai di satukan oleh Adi Cokro, raja-raja tersebut sudah Islam, dan telah membentuk pemahaman agama mereka (Islam) yang sempurna, itu berlangsung di bawah tahun 1500, dengan bukti kuburan Lipuadino dan Syekh Sa’ban di Lolantang.

Pengembangan ajaran Islam itu sudah ada di kerajaan Tompotika, Motindok, Sisipan, Kadupang, Bongganan, Buuko, Monsongan, Doduung, Tano Bonunungan yang dibawah oleh Lipuadino dan Syekh Sa’ban dari Lolantang, setelah kerajaan Banggai, penyebaran ajaran ini dilakukan oleh murid-muridnya yang setia yang masih bergelar Imam-imam, ungkap Doermier.

Setelah Sultan Ternate Babb Ullah (1570-1585) dan Adi Cokro menguasai kerajaan Tompotika dan Motindok, maka terbentuklah KERAJAAN BANGGAI (1575) yang wilayahnya dari Tg. Api, Tompotika, Motindok sampai Pulau Togon, serta wilayah Pulau Sonit La Bobo, selanjutnya aras kesepakatan dan usulan para Adi di Banggai da para Tomundo di Peling, Sultan Ternate Baab Ullah nelantik Adi Cokro sebagai raja Banggai partama (1575-1590).

Raja ke I kerajaan Banggai Adi Cokro menikah pertama dengan putri raja Motindok Ali Aseni,Nuru Sapa melahirkan anak pertama Abu Kasim, kemudian Adi Cokro menikah kedua dengan putri bangsawan (Kastela) Portugis di Ternate bernama Kastilia melahirkan anak keduaMandapar, dan Adi Cokro menikah ketiga dengan putri Bokan melahirkan anak perempuan ketiga Putri Saleh, ungkap Dormier.

Mohammad Yamin dalam bukunya Gajah Mada (1985), mengatakan “Adi Cokro (Adi Soko), adalah bangsawan kerajaan Demak (Jawa Tengah) keponakan Dipati Yunus (1525), dengan nama aslinya Raden Cokro, pernah bersama-sama pamanya Dipati Yunus menyerang Pati Udara Madjapahit. Pamannya mengirim Raden Cokro ke Ternate untuk membantu Sultan Ternate mengembangkan Islam serta memperkuat pasukan armada Kesultanan Ternate (1530).”