Bangli, kerajaan / Bali

Kerajaan Bangli: 1453-1950. Terletak di kabupaten Bangli, provinsi Bali. Kerajaan Bangli didirikan oleh I Dewa Gede Den Bencingah pada sekitar abad ke-16.

The kingdom of Bangli: 1453-1950. Located in the district of Bangli, province of Bali. This kingdom was founded in the 16th century.
For english, click here

Lokasi pulau Bali

———————

Lokasi kabupaten Bangli


Kerajaan Bangli

* Foto kerajaan Bangli: link
* Foto istana “Puri Agung Susut”: link


Foto Bali

* Foto raja-raja Bali, yang masih ada: link
* Foto raja-raja Bali masa dulu: link
* Foto Bali dulu: link
* Foto situs kuno di Bali: link
* Foto puputan Denpasar, 1906: link
* Foto puputan Klungkung, 1908: link


* Video sejarah kerajaan-kerajaan di Bali, 45.000 SM – sekarang: klik


* Garis kerajaan-kerajaan di Bali: klik


KERAJAAN BANGLI

Tentang raja sekarang (2020)

A.A. Ardanata adalah “panglingsir” Puri Bangli.


Tentang Penglingsir

Puri-puri di Bali dipimpin oleh seorang keturunan raja, yang umumnya dipilih oleh lembaga kekerabatan puri. Pemimpin puri yang umumnya sekaligus pemimpin lembaga kekerabatan puri, biasanya disebut sebagai Penglingsir atau Pemucuk. Para keturunan raja tersebut dapat dikenali melalui gelar yang ada pada nama mereka, misalnya Ida I Dewa Agung, I Gusti Ngurah Agung, Cokorda, Anak Agung Ngurah, Ratu Agung, Ratu Bagus dan lain-lain untuk pria; serta Ida I Dewa Agung Istri, Dewa Ayu, Cokorda Istri, Anak Agung Istri, dan lain-lain untuk wanita.


Sejarah kerajaan Bangli, 1453-1950

Kerajaan Bangli adalah kerajaan yang didirikan setelah kejatuhan Majapahit, setelah Dewa Agung Ketut, Penguasa Bali dan Lombok membagi kerajaannya. Bangli diberikan status baru sebagai panegara atau kerajaan vasal di bawah pusat pemerintahan langsung kerajaan Gelgel dengan pengangkatan I Gusti Wija Pulada sebagai Anglurah di Bangli pada Soma Julungwangi, Sasih Kesanga Penanggal ping 9 Caka 1375. Jika dikomparasikan dengan tahun Masehi, maka saat pengangkatan tersebut yakni 14 Maret 1453.

Bangli sebagai sebuah kerajaan yang berdaulat lepas dari kekuasaan Gelgel pada tahun 1686, ketika terjadi pemberontakan I Gusti Agung Maruti di Gelgel. Puri Bangli sebagai pusat kota kerajaan Bangli sendiri mulai didirikan I Dewa Gde Bencingah sekitar tahun 1576, setelah I Gusti Peraupan dikalahkan Tamanbali dan Nyalian.Masuknya belanda

Bangli sebagai sebuah kerajaan yang berdaulat lepas dari kekuasaan Gelgel pada tahun 1686, ketika terjadi pemberontakan I Gusti Agung Maruti di Gelgel. Puri Bangli sebagai pusat kota kerajaan Bangli sendiri mulai didirikan I Dewa Gde Bencingah sekitar tahun 1576, setelah I Gusti Peraupan dikalahkan Tamanbali dan Nyalian.

Masuknya belanda ke Bali masa awal 1800 M, memulai membuat perubahan besar terhadap keberadaan kerajaan kerajaan di Bali.

Pada tanggal  26 April 1849, Raja Bangli mengajukan peremohonan kepada Jend. Michiels agar diberi kekuasaan untuk menguasasai wilayahnya yang dikuasai oleh kerajaan Buleleleng, Karangasem, Mengwi dan Gianyar.

Tanggal 25 Juni 1849, Raja Bangli I Dewa Gede Tangkeban dinobatkan dan diberi wilayah kekuasaan oleh Belanda untuk memerintah  Buleleng selain Bangli. Dan pada tanggal 15  Pebruari 1854, mengembalikan wilayah Buleleng kepada Belanda. Hal ini dilakukan agar Raja Bangli lebih berkonsentrasi mengamanakan wilayah kerajaannya dari serangan Raja Gianyar dan Karangasem.

Pemerintah Hindia Belanda mulai mengintervensi kekuasaan raja raja di Bali. Setelah terjadinya puputan Badung 1906 dan puputan Klungkung 1908, pada tahun 1909, kerajaan Bangli menyatakan tunduk kepada Belanda sehingga kerajaan Bangli merupakan kerajaan yang terakhir di Bali menyatakan tunduk pada Belanda. Saat itu akhirnya Bali secara menyeluruh dapat dikuasai oleh pemerintah Hindia Belanda.

Pada Tanggal 29 Juni 1938, pada hari raya Galungan dilangsungkan upacara sumpah jabatan kepada kedelapan Kepala Pemerintahan Swapraja di Pura Besakih.
Dan pada tanggal 1 Juli 1938, Bali dibagi menjadi delapan distrik (sejajar dengan keberadaan kerajaan kerajaan sebelumnya), yaitu Buleleng, Jembrana, Tabanan, Badung, Gianyar, Bangli, Klungkung dan Karangasem, yang merupakan cikal bakal Asta Negara di bali.

Anak Agung Gde Rai , Raja Bangli 1920


Puri Agung Susut Bangli

Puri Agung Susut terletak di desa Susut, Bangli, masih merupakan keturunan Ksatria Taman Bali dan keturunan Kawitan Maha Gotra Titra Harum.
– Sumber: https://desasusut.wordpress.com/profile/sejarah-2/

Foto istana Puri Agung Susut: link


Daftar raja

* 1804: Dewa Gede Tangkeban I (dari Nyalian ?-1804)
* 1804-1815: Dewa Rahi
* 1815-1833: Dewa Gede Tangkeban II, anak Dewa Gede Tangkeban I
* 1833-1875: Dewa Gede Tangkeban III, anak Dewa Gede Tangkeban II
* 1875-1880: Dewa Gede Oka, anak Dewa Gede Tangkeban III
* 1881-1892: Dewa Gede Ngurah, saudara Dewa Gede Oka
* 1894-1911: Dewa Gede Cokorda, saudara Dewa Gede Ngurah
* 1913-1925: Regen, Dewa Gede Rai, saudara Dewa Gede Cokorda
* 1925-1930: Regen, Dewa Gede Taman, cucu Dewa Gede Tangkaban III
* 1930-1931: Regen, Dewa Putu Bukian, cucu Dewa Gede Tangkaban III
* 1931-1950: Anak Agung Ketut Ngurah (penguasa, menggunakan gelar Anak Agung, wafat 1961), anak Dewa Gede Cokorda.

Keluarga raja Bangli dengan dua orang belanda


Puri (istana) di Bali

Puri di pulau Bali adalah nama sebutan untuk tempat tinggal bangsawan Bali, khususnya mereka yang masih merupakan keluarga dekat dari raja-raja Bali. Berdasarkan sistem pembagian triwangsa atau kasta, maka puri ditempati oleh bangsawan berwangsa ksatria.

Puri-puri di Bali dipimpin oleh seorang keturunan raja, yang umumnya dipilih oleh lembaga kekerabatan puri. Pemimpin puri yang umumnya sekaligus pemimpin lembaga kekerabatan puri, biasanya disebut sebagai Penglingsir atau Pemucuk. Para keturunan raja tersebut dapat dikenali melalui gelar yang ada pada nama mereka, misalnya Ida I Dewa Agung, I Gusti Ngurah Agung, Cokorda, Anak Agung Ngurah, Ratu Agung, Ratu Bagus dan lain-lain untuk pria; serta Ida I Dewa Agung Istri, Dewa Ayu, Cokorda Istri, Anak Agung Istri, dan lain-lain untuk wanita.

Daerah atau wilayah kekuasaan puri-puri di Bali zaman dahulu, tidak berbeda jauh dengan wilayah administratif pemerintahan kabupaten dan kota di Provinsi Bali. Setelah Kerajaan Gelgel mulai terpecah pada pertengahan abad ke-18, terdapat beberapa kerajaan, yaitu Badung (termasuk Denpasar), Mengwi, Tabanan, Gianyar, Karangasem, Klungkung, Buleleng, Bangli dan Jembrana. Persaingan antardinasti dan antaranggota dinasti pada akhirnya menyebabkan Belanda dapat menguasai Bali dengan tuntas pada awal abad ke-20.

Setelah masa kolonial Belanda, Jepang dan masa kemerdekaan Indonesia, kekuasaan puri berubah menjadi lebih bersifat simbolis. Peranan berbagai puri di Bali umumnya masih tinggi sebagai panutan terhadap berbagai pelaksanaan aktivitas adat dan ritual Agama Hindu Dharma oleh masyarakat banyak.

Puri Agung Susut Bangli


Pura (tempat ibadah) di Bali

Pura adalah istilah untuk tempat ibadat agama Hindu di Indonesia. Pura di Indonesia terutama terkonsentrasi di Bali sebagai pulau yang mempunyai mayoritas penduduk penganut agama Hindu.
Tidak seperti candi atau kuil Hindu di India yang berupa bangunan tertutup, pura di Bali dirancang sebagai tempat ibadah di udara terbuka yang terdiri dari beberapa zona yang dikelilingi tembok. Masing-masing zona ini dihubungkan dengan gerbang atau gapura yang penuh ukiran. Lingkungan atau zonasi yang dikelilingi tembok ini memuat beberapa bangunan seperti pelinggih yaitu tempat suci bersemayam hyang, meru yaitu menara dengan atap bersusun, serta bale (pendopo atau paviliun). Struktur tempat suci pura mengikuti konsep Trimandala, yang memiliki tingkatan pada derajat kesuciannya.

Pura Besakih

Pura Besakih adalah sebuah komplek pura yang terletak di Desa Besakih. Komplek Pura Besakih terdiri dari 1 Pura Pusat (Pura Penataran Agung Besakih) dan 18 Pura Pendamping (1 Pura Basukian dan 17 Pura Lainnya). Pura Besakih merupakan pusat kegiatan dari seluruh Pura yang ada di Bali. Di antara semua pura-pura yang termasuk dalam kompleks Pura Besakih, Pura Penataran Agung adalah pura yang terbesar.


Sejarah singkat kerajaan-kerajaan di Bali

Kerajaan Bali merupakan istilah untuk serangkaian kerajaan Hindu-Budha yang pernah memerintah di Bali, di Kepulauan Sunda Kecil, Indonesia. Adapun kerajaan-kerajaan tersebut terbagi dalam beberapa masa sesuai dinasti yang memerintah saat itu. Dengan sejarah kerajaan asli Bali yang terbentang dari awal abad ke-10 hingga awal abad ke-20, kerajaan Bali menunjukkan budaya istana Bali yang canggih di mana unsur-unsur roh dan penghormatan leluhur dikombinasikan dengan pengaruh Hindu, yang diadopsi dari India melalui perantara Jawa kuno, berkembang, memperkaya, dan membentuk budaya Bali.

Karena kedekatan dan hubungan budaya yang erat dengan pulau Jawa yang berdekatan selama periode Hindu-Budha Indonesia, sejarah Kerajaan Bali sering terjalin dan sangat dipengaruhi oleh kerajaan di Jawa, dari kerajaan Medang pada abad ke-9 sampai ke kerajaan Majapahit pada abad ke-13 hingga 15. Budaya, bahasa, seni, dan arsitektur di pulau Bali dipengaruhi oleh Jawa. Pengaruh dan kehadiran orang Jawa semakin kuat dengan jatuhnya kerajaan Majapahit pada akhir abad ke-15.
Setelah kekaisaran jatuh di bawah Kesultanan Muslim Demak, sejumlah abdi dalem Hindu, bangsawan, pendeta, dan pengrajin, menemukan tempat perlindungan di pulau Bali. Akibatnya, Bali menjadi apa yang digambarkan oleh sejarawan Ramesh Chandra Majumdar sebagai benteng terakhir budaya dan peradaban Indo-Jawa.
Kerajaan Bali pada abad-abad berikutnya memperluas pengaruhnya ke pulau-pulau tetangga. Kerajaan Gelgel Bali misalnya memperluas pengaruh mereka ke wilayah Blambangan di ujung timur Jawa, pulau tetangga Lombok, hingga bagian barat pulau Sumbawa, sementara Karangasem mendirikan kekuasaan mereka di Lombok Barat pada periode selanjutnya.

Sejak pertengahan abad ke-19, negara kolonial Hindia Belanda mulai terlibat di Bali, ketika mereka meluncurkan kampanye mereka melawan kerajaan kecil Bali satu per satu. Pada awal abad ke-20, Belanda telah menaklukkan Bali karena kerajaan-kerajaan kecil ini jatuh di bawah kendali mereka, baik dengan kekerasan atau dengan pertempuran, diikuti dengan ritual massal bunuh diri, atau menyerah dengan damai kepada Belanda. Dengan kata lain, meskipun beberapa penerus kerajaan Bali masih hidup, peristiwa-peristiwa ini mengakhiri masa kerajaan independen asli Bali, karena pemerintah daerah berubah menjadi pemerintahan kolonial Belanda, dan kemudian pemerintah Bali di dalam Republik Indonesia.


Peta kuno Bali

Klik di sini untuk peta kuno Bali1618, 1683, 1700-an, 1750, 1800-an, 1856, abad ke-19.


Sumber kerajaan Bangli
.
Sejarah kerajaan Bangli: http://sejarah-puri-pemecutan.blogspot.co.id/2011/04/sejarah-kerajaan-bangli.html
Sejarah Puri Agung Bangli:  http://puriagungbangli.blogspot.com/
– Daftar Raja Bangli di Wiki: https://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_Raja_Bali#Raja-raja_Bangli
– Asal mula kota Bangli: http://www.balisaja.com/2014/05/asal-mula-kota-bangli.html
– Sejarah desa Susut, kerajaan Bangli:
https://desasusut.wordpress.com/profile/sejarah-2/https://desasusut.wordpress.com/profile/sejarah-2/

———————–
Intervensi Belanda di Bali, 1846, 1848, 1849, 1906, 1908

– 1846: Perang Bali I: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/bali/perang-bali-i-1846/
– 1848: Perang Bali II: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/bali/perang-bali-ii-1848/
– 1849: Perang Bali III: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/bali/perang-bali-iii-1849/
– 1906: Intervensi belanda di Bali / Puputan 1906: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/bali/puputan-bali-1906/
– 1908: Intervensi Belanda di Bali / Puputan 1908: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/bali/puputan-klungkung-1908/


Kerajaan di Bali, sekitar tahun 1900.


Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: