Sejarah Negeri Soahuku

Artikel ini di ambil dari : https://groups.yahoo.com/neo/groups/ambon/conversations/messages/29848


BAB.I. TERBENTUKNYA NEGERI SOAHUKU

Sebagaimana kita ketahui lewat buku-buku karangan
penulis sejarah seperti: Rumpius 1700, Valentiyn 1724,
Poetiray 1925, Tielman 1925 dll. Bahwa hampir seluruh
pantai pulau seram dalam abad 13 dan 14 belum ada
penghuninya. Akibat dari perpecahan di Nunusaku maka
rakyat pulau Seram terpencar di sekeliling tempat.
Demikian pula dengan Kapitan Urumaenalo dari keluarga
Ruhupessy. Setelah ia tiba di hutan Soa Huku,maka ia
mengambil tempat tinggal di Aikasuro. Menurut
penuturan orang tua-tua negeri Soahuku bahwa
Urumaenalo berdiam di Aikasuro karena ini tempat
kediamannya yang terakhir dihutan, dan baiklah kita
tetapkan Aikasuro sebagai tempat asal mulanya negeri
Soahuku.
Aikasuro terletak didalam petuanan negeri Soahuku.
Selama kapitan Urumaenalo berdiam di Aikasuro maka
selalu ia mengadakan peninjauan ke daerah kekuasaanya.
Kemudian datang juga Anakotta dan Titaley, yang
disusuli denga Ririnama dan Simatau. Mereka bergabung
dengan Urumaenalo sehingga merupakan satu kesatuan
persaudaraan yang kuat walaupun mereka tinggal agak
berjauhan satu dengan lain. Hal ini dapat juga dilihat
dari benteng mereka yang kini masih ada bekasnya.
Kemudian datang juga keluarga-keluarga lain dimana
mereka ditemui oleh kapitan Urumaenalo dengan senang
hati untuk menjadi satu negeri bersama-sama dengan
keluarga-keluarga lain yang sudah ada. Mereka yang
datang masing-masing adalah keluarga :
1. Wakanno dari Banda
2. Ruhupessy kambelo dari(Kambelo)Seram Barat, mereka
datang lewat Sepa.
3. Latuny dari Nolana(Maloa) Seram Barat.
4. Kakiay dari Ariuno (Humpinelo)
5. Tamaela dari Hukuanakotta (Seram Barat)
6. Sopacua dari Hukuanakotta (Seram Barat)
7. Latarissa dari Bacan.
Sebagai bukti bahwa mereka tidak bermusuhan dengan
kapitan Urumaenalo maka di bawa serta tanda fam/marga
masing-masing dan diberikan kepada kapitan Urumaenalo
sebagai pemilik petuanan.
1. Tanda bukti pengenal tersebut adalah sebagai
berikut :
a. Ruhupessy Kambelo, membawa burung Guheba dan ikan
Kalapessy.
b. Latuny,membawa Kelapa Raja dan Ikan salmaneti
Putih.
c. Kakiay,pohon Bawang Laut dan Ikan Tatu Merah.
d. Wakanno,membawa Pala dan Ikan Ciori
e. Tamaela,membawa arombai dan ikan Tuu.
f. Sopacua,membawa burung taon-taon dan ikan Tuu
g. Latarissa,membawa pohon bambu dan ikan
bendera(artepono).
Setelah keluarga-keluarga tersebut mengambil tempat
kediaman masing-masing,maka Urumaenalo membagi
keluarga-keluarga itu atas 4 soa. Kecuali Anakotta,
Ririnama, Simatau dan Titaley karena mereka tinggal
agak jauh.
2. Soa-soa tersebut adalah sebagai berikut :
1) Tamaela,Latuny,Sopacua : Soa Latu
2) Ruhupessy Latarissa : Soa Suun
3) Wakanno : Soa Waka
4) Kakiay : Soa Nopu
Selain itu masing-masing marga menetukan Teonnya
sendiri sebagai nama gelaran dari mata rumah mereka,
masing-masing teon adalah sebagai berikut :
� Ruhupessy : Wairusi
� Tamaela : Sitania
� Sopacua : Sitania
� Wakanno : Hakalessy
� Latuny : Simpele
� Kakiay : Naata
� Latarissa : Wakasama
Untuk mempertahankan daerah kekuasaan mereka maka
kapitan Lauro Nikulau (Latuny) menjaga tanjung Kuako.
Selama penjagaannya ia membunuh banyak orang yang
mendarat disitu sehingga tempat disebelah barat
tanjung Kuako disebut Haualauwo yang artinya berbau
darah karena pembunuhan.
Selain kapitan Lauro Nikulau yang membunuh banyak
orang ditanjung Kuako maka kapitan Sopinae Lamansama
Wakanno juga termasuk seorang kapitan yang bengis. Ia
selalu mengejar orang untuk dibunuh sehingga negeri
Soahuku disebut juga Kansuiro yang artinya �Kejar
mengejar Orang untuk di bunuh�. Satu kenyataan ialah
ia mengejar dan mengusir keluarga Paliama yang secara
diam-diam menempati daerah kekuasaan mereka yaitu di
makelewono. Paliama kemudian pindah ke Siri Sori
Saparua meninggalkan benteng mereka yang hingga kini
masih ada. Ayah dari Sopinae Lamansama Wakanno bernama
Pitalaale. Sopinae tidak mengenal ampun maak dari
keperkasaanya kita dapat berpela dengan Ameth.
Sebelum rakyat Soahuku turun kepantai maka keluarga
Titaley, Anakotta,Simatauw dan Ririnama berpindah ke
Saparua (lihat sejarahnya dibawah).

BAB.II. NAMA NEGERI SOAHUKU

Jauh sebelum keluarga Tamaela dan Sopacua datang dari
Hukuanakotta sebuah negeri yang terletak dipegunungan
Usama Seram Barat, maka penduduk negeri Soahuku sudah
lama berdiam di Aikasuro tanpa memiliki nama.
Setelah mereka tiba barulah Hena/negeri itu disebut
Soahuku sesuai dengan kedatangan kedua keluarga
tersebut. Soahuku artinya bertekat/bermufakat
meninggalkan huku.
Kemudian setelah mereka menetap di Aikasuro dan sudah
merupakan Soa maka negeri Soahuku dirobah menjadi
Soahuku yang artinya Soa dari Huku. Nama Soahuku ini
dibenarkan oleh bapak Petrus Soriale,pejabat kepala
desa Hukuanakotta kepada saya dalam bulan Juli 1992.
Hendaklah kita semua dapat mengetahui bahwa negeri
soahuku ada mempunyai sebutan lain juga ialah :
� Soahuku :Sudah dijelaskan diatas.
� Lilipory :Diambil dari kapitan Lilipory di Hutumury
(keterangan keluarga Loli Horuhoru dari Hutumury)
� Kalabeto :=Kalapessy, sebutan orang Portugis
(pemerintah Vasceneelos) pada abad 15
� Kansuiro :Sudah dijelaskan diatas.
� Sauku :Sebutan orang Saparua yang berpindah dari
Soahuku.

BAB.III.KEDUDUKAN NEGERI SOAHUKU DIPANTAI

Dalam tahun 1463 keluarga Anakotta,Simatauw,Ririnama
dan Titaley berpindah ke Saparua meninggalkan benteng
kediaman mereka yang sampai hari ini disebut benteng
Anakotta atau benteng Titaley (sejarah Saparua).
Beberapa tahun kemudian kapitan Urumaenalo ingin
memindahkan negeri Soahuku ke pantai. Sebelumnya ia
bersama para kapitan lainnya mengadakan pemeriksaan
dan ternyata tidak ada penghuni dipesisr pantai
pelabuhan. Oleh karena tidak ada penghuni dan tanah
sekitarnya rata maka kapitan Urumaenalo mengambil
keputusan untuk memindahkan negeri Soahuku ke pantai
di pelabuhan Seirambi. Selain tidak ada penghuni dan
tanah rata untuk membangun negeri juga ia melihat
suatu kedaan alam yang sangat menetukan.
1. Bagian Barat
� Tanah : Pasir kasar
� Batu : Kerikil (batu kepeng dan batu putih)
� Pasir : Pasir hitam
� Pantai : Berbatu kerikil tidak ada pohon
mangi-mangi.
2. Bagian Timur
� Tanah : Tanah liat merah
� Batu : Batu karang
� Pasir : Pasir putih
� Pantai : Berlumpur ada pohon mangi-mangi.
Setelah dilihatnya bahwa tempat negeri sudah selesai
mak atas perintahnya seluruh penduduk Soahuku di
Aikasuro turun mengambil tempat kediaman dinegeri
Soahuku sekarang. Tetapi sebelum turun kepantai mereka
berdiam di Amahono kemudian di Urolo. Bekas benteng
Amahono masih ada sampai sekarang. Untuk menjaga
keamanan negeri maka kapitan Urumaenalo membagi tempat
penjagaan sebagai berikut :
� Latuny menjaga tanjung Kuako.
� Kakiay menjaga tanjung Maula
� Tamaela dan Latarissa menjaga Namale
� Wakanno Dan Sopacua menjaga bagian selatan negeri.
� Ruhupessy menjaga Aulalo
Demikianlah negeri Soahuku mulai berkedudukan
dipantai,ditempati sampai sekarang ini suatu tempat
paling strategis yang dipilh,dibangun dan ditetapkan
oleh kapitan Urumaenalo sebagai pendiri negeri Soahuku
Lilipori Kalapessy untuk anak cucunya disepanjang
masa.

BAB.IV.TEON NEGERI SOAHUKU

Pada suatu saat ada mufakat untuk mengadakan acara
makan bersama oleh para Latupatih sepulau Seram. Acara
tersebut dilaksanakan di Hatumete(Werinama).Tidak
diketahui pasti siapa yang memelopori acara tersebut.
Semua Latupatih diundang untuk turut dalam acara
tersebut. Soahukupun turut serta namun karena Soahuku
tidak langsung ke Hatumete tapi berjalan mondar-mandir
maka terlambat tiba ditempat Upacara.Akhirnya Soahuku
mendapat bagian mulut dari binatang yang
dipotong, bahagian mulut disebut Kalapesy yang berarti
mulut atau jenggot.
Jadi teon negeri Soahuku adalah LILIPORI KALAPESSY
� Lilipori artinya Berjalan kesana kemari(mondar
mandir)
� Kalapessy artinya bahagian mulut dari binatang
(kumis/jengggot).
Nama teon inilah yang banyak disebut pada masa lampau
hingga menurut sejarah di Hutumury bahwa kapitan
Lilipori di Hutumury datang dari tanjung
Kuako(Soahuku). Ketika ia datang dari Hoamaoal seram
barat ia duduk menangis di tanjung Kuako. Dari
penduduk negeri Soahuku ia mengetahui bahwa negeri itu
bernama Lilipori. Setelah ia dibawa oleh seekor ikan
kaluyu terdampar di Hutumury,ketika ia ditanya
siapakah dia?. Maka dijawabnya saya kapitan Lilipori
dari tanjung Kuako (keterangan dari Loli Horu-horu
badan pemerintah Hutumury). Itulah sebabnya nama
keluarga Lilipori berasal dari tanjung Kuako Soahuku.
Selain Lilipory maka orang Portugis semasa
pemerintahan Vasconcelos pada abad ke15 menyebut
Soahuku �Kalabeto�mengganti Kalapessy,sebagaimana
mereka sebut Latu = Lato, Hualoy = Haya, Tamilow =
Tamalo dan Haya = Hayo. Menurut sejarah dalam
buku,�Bunga rampai sejarah maluku�pada masa Portugis
hanya 5 negeri ini yang berada dipantai Seram selatan
tengah.

BAB.V. PEMERINTAHAN

Setelah negeri Soahuku menetap dipantai maka mulailah
disusun badan pemerintahan negeri.Pemerintah negeri
disini digelar �Henayapari�.
Henayapari yang pernah ada adalah :
� Henayapari pertama : Regita Ruhupessy
� Henayapari kedua : Siauta Ruhupessy
� Henayapari ketiga : Warlatu Ruhupessy
� Henayapari keempat : Emhei Ruhupessy
Henayapari yang pertama sampai ketiga tidak memeluk
agama,sedangkan Emhei dibaptis menjadi anggota Gereja
Kristen Protestan. Sewaktu Emhei Ruhupessy memegang
pemerintahan atas negeri Soahuku maka sering dari
negeri jauh menyebut Soahuku menurut rajanya yaitu
Emhei(yui ale si Emhei me).
Ruhupessy memegang pemerintahan sampai tahun 1654
kemudian perintahan diserahkan kepada Tamaela. Sangat
disesalkan karena tahun-tahun pemerintahan dari
Ruhupessy tidak dapat diketahui karena tidak ada
penulisan atau catatan tentang itu.
Upu Latu Tamaela Rumahauro teono Sitania mulai
memegang pemerintahan atas negeri Soahuku tahun 1654.
Sitania artinya tempat bertanya.Upu Latu Sitania
artinya raja tempat rakyat bertanya.
Inilah catatn yang diangkat dari Pieter
Tamaela,pemegang hukum adat dan sejarah dari mata
rumah raja upu latu Tamaela Rumahaoru di Soahuku.
� Kiaybesy kupasiri Tamaela: 1654 – 1735
� Jakobis (Kobisi) Tamaela: 1736 – 1820
� Alfaris Tamaela : 1822 – 1893
� Christian I Tamaela : 1893 – 1951
� Wilhelem Tamaela : 1951 – 1968
� Christian II : 1970 Hingga sekarang.
1. Kisah Penyerahan kekuasaan dari Ruhupessy kepada
Tamaela :
Sewaktu Maluku berada dibawah pemerintahan
belanda,maka di Ternate terdapat seorang penguasa
bernama : Yan Pieter Engelhart yang sering mengadakan
kunjungan ke pulau Seram. Didengarnya bahwa raja
negeri Hotte(seram timur) adalah seorang raja yang
kaya raya. Ia mempunyai seorang saudara bernama Nya
Galela, maka diperintahkan untuk raja Emhei untuk
menangkap raja Hotte dan menyerahkannya kepada
Engelhart.
Semua kapitan dikerahkan untuk maksud itu,oleh karena
kapitan Latarissa sakit mata maka penggantinya adalah
kapitan Sikuwaela Tamaela yang betugas untuk menjaga
negeri. Setelah kapitan-kapitan dari Soahuku datang
dengan pasukannya maka ternyata negeri Hotte sudah
kosong,seluruh rakyat telah melarikan diri. Dalam
penyelidikan kerumah-rumah maka kapitan Maleuna
Selewono yang turut bersama bertemu dengan seorang
wanita yang sudah tua. Didalam tangan wanita tua tadi
ada sebuah tatumbu kecil. Perempuan tua itu kemudian
dibunuh oleh kapitan Maleuna Selewono serta mengambil
tatumbu itu,yang ternyata ada perhiasan batangan emas
didalamnya.
Emas itu kemudian diambil dan diserahkan kepada
kapitan Sikuwaela. Kemudian sekembalinya
kapitan-kapitan itu maka kapitan Sikuwaela menyerahkan
emas itu kepada Yan Pieter Engelhart. Beliu merasa
bahwa kapitan Sikuwaela berjasa kepadanya,maka ia
meminta kepada raja Emhei agar pemerintahan diserahkan
kepada Tamaela.Emhei pun setuju,tetapi karena
Sikuwaela tidak mempunyai anak maka diarkenkanlah
seorang anak dari Kakiay yang bernama Kupaisiri.
Setelah ia diarkenkan maka namanya menjadi Kiaybesi
Kupasiri. Setelah ia dewasa maka secara resmi
kepemerintahan atas negeri Soahuku diserahkan oleh
Emhei Ruhupessy kepada Kiaybesi Kupaisiri Tamaela yang
keturunannya memegang jabatan hingga hari ini.

BAB.VI.KELUARGA ASAL SOAHUKU YANG TELAH BERPINDAH
TEMPAT.

Berikut ini adalh nama-nama dari keluarga asal Soahuku
yang telah berpindah tempat :
� Anakota.
� Simatau
� Ririnama
� Titaley
Keempat keluarga ini pindah dari Soahuku ke Saparua
pada tahun 1463.Kemudian ada juga dua keluarga lain
yang telah pindah yaitu:
� Soumahu
� Paliama
a Kisah Simatauw,Anakotta,Ririnama,Titaley.
Sejarah yang terdapat diMuseum Batavia Jakarta yang
ditulis oleh Pisarana Hatu Siri Amalatu Teon Sulessy
Soa Latu Wailiti dan diangkat oleh buang Josef
Maelissa pada tahun 1922.
Dahulu kala pada tahun 1463 ada lima orang anak Sauku
turun ke pantai.Mereka bernama :
Anakotta,Simatauw,Ririnama,Titaley dan Ruhupessy.
Dorang pulang bilang orang tatua tapi orang tatua
bilang harus kaweng dolo.Ruhupessy seng mau kaweng
jadi dia tinggal.Dorang empat keluarga pergi ke
Saparua dibawah pimpinan kapitan Ajelis Simatauw
dibantu oleh kapitan Riang Titaley.Kapitan Riang
Titaley kawin dengan saudara perempuan dari kapitan
Ajelis Simatauw yang bernama Ahina Sahele.
Kapitan Ririnama kaweng dengan Ruhupessy (namanya
tidak jelas karena kertas rusak). Dorang berempat
keluarga pergi ke saparua dengan menggunakan gusepa
dari Pulapa.Ruhupessy tinggal lalu dia turun dengan
orang tuanya ke pantai lalu dorang bikin negeri sauku
yang ada sampai sekarang.
Dorang berangkat meninggalkan bentengnya yang masih
ada sampai sekarang,benteng tersebut disebut benteng
Anakotta atau Titaley terletak di hutan petuanan
negeri Soahuku. Sedangkan nama saparua berasal dari
Sampan rua. Mereka berangkat dari Soahuku membawa batu
tiap keluarga sebagai tanda bukti keluarganya yang
masih ada sampai sekarang di saparua.
b Kisah Saumahu
Di Zaman Patimura Soahuku mendapat surat undangan dari
saparua untuk turut bersama dalam rapat besar bersama
kapitan Patimura digunung Saniri yang terletak di
Tuhaha Saparua.Dari Soahuku ditunjuk Pieter
Soamahu,mereka berunding untuk menyerang benteng
Duurstede di saparua. Pieter Soumahu berangkat ke
Saparua tetapi sesudah Patimura ditangkap Pieter tidak
kembali lagi,diduga ia tewas dalam penyerangan
terhadap benteng Duurstede. Keluarganya menyusul
keSaparua dan sampai sekarang tidak ada berita lagi
dimana mereka berdiam.(buku Patimura karangan sapia)
c Kisah Paliama
Sewaktu kapitan Urumaenalo beserta rakyat soahuku
berada di Aikasuro maka secara diam-diam marga Paliama
datang tanpa melapor kepada kapitan Urumaenalo dan
membuat benteng yang diberi nama Siri-sori di hutan
disitu tanpa mendapat hambatan dari siapapun. Pada
suatu hari mereka mengadakan pesta mako-mako
(henakolo) sehingga bunyi tifa terdengar oleh kapitan
Urumaenalo. Segera ia memerintahkan kapitan Sopinae
Lamansama Wakanno dan kapitan Nikilau Latuny untuk
mengusir mereka dari benteng tersebut. Maka kedua
kapitan tersebut berangkat dengan pasukannya lalu
mengusir marga Paliama dari benteng mereka. Mereka
lari ke siri-sori di saparua. Hingga sekarang bekas
benteng mereka masih ada dengan nama benteng siri-sori
(tulisan dari Simon Ruhupessy tuan tanah Soahuku).

BAB.VII. SEJARAH AGAMA DAN GEREJA

a Sejarah Islam
Agama yang pertama masuk ke soahuku adalah Islam pada
abad ke 16. Yang dibawakan oleh Syeck abdul Kalembi.
Yang menerima agama Islam adalah keluarga Latarissa.
Agama Islam berdiam di Namalo.
Pada waktu bahaya gelombang pasang surut menimpa pulau
seram pada tahun 1899,sebagian tempat kediaman mereka
tenggelam. Mesjid merekapun tenggelam dalam kejadian
tersebut. Karena mereka ingin membuat negeri sendiri
maka raja Alfaris Tamaela menyetujui permintaan
mereka. Raja menunjuk Abdul Rauf Latarissa sebagai
kepala Soa yang kemudian diangkat menjadi raja negeri
Rutah.
Karena itu kedudukan kepala soa Latarissa di Soahuku
tidak ada sejak Abdul Rauf mengambil kedudukan kepala
soa ke Rutah. Sampai dengan Tanggal 29 Agustus
1991(genap 92 tahun) Barulah kedudukan kepala Soa
diambil kembali oleh Frans Latarissa yang bertugas
sampai hari ini. Demikianlah maka negeri Rutah adalah
bagian dari Soahuku yang masuk Islam. Ditambahkan
disini bahwa sesudah Abdul Rauf meletakan jabatan
pemerintah negeri,maka Christian Tamaela I raja
Soahuku memegang pemerintahan atas negeri Rutah selama
8 tahun (1931-1939)
b Agama Kristen Dan Gereja
Agama Kristen pertama kali dibawa oleh Belanda pada
tahun 1624, tapi ditolak untuk pertama kalinya,maka
mereka membawakan agama Kristen di Kaibobu Seram
barat. Kemudian para Zending Belanda tersebut kembali
lagi ke Soahuku pada tahun 1626. Pembawa agama Kristen
itu bernama Van Hart. Untuk menarik simpati masyarakat
maka Van Hart mengambil seorang anak dari keluarga
Ruhupessy yang bernama Asina untuk menjadi anak
angkat.Kemudian Asina dibaptis dengan nama Mozes,maka
mulai dari sinilah agama Kristen Protestan berkembang
di Soahuku (buku Het Evangeli In Molukken).
Karena Saat itu rakyat Amahai juga sudah menerima
baptisan sebagai tanda sudah masuk Kristen,maka yang
berkuasa pada waktu itu adalah pemerintah Belanda
menganjurkan supaya kedua negeri Amahai Soahuku
mempunyai satu gedung Gereja saja.
Alasannya karena kekurangan pimpinan Jemaat serta
anggota Jemaat Masih sedikit. Gereja tersebut
bertempat di halaman bagian barat dari gereja Imanuel
amahai yang sekarang dengan nama �Almasih�
Namun karena selalu ada salah faham antara kedua
negeri,maka raja Alfaris memerintahkan untuk membuat
gedung gereja tersendiri. Kedua negeri Amahai Soahuku
bersedia untuk membuat gedung gereja masing-masing
agar tiap-tiap negeri dengan jemaatnya sendiri.
Kemudian rakyat kedua negeri bergotong royong untuk
memotong kayu besi. Namun terjadilah pertengkaran
hebat antara kedua negeri maka raja Alfaris Tamaela
menolak semua kayu besi yang dipotong oleh rakyat
Amahai,selanjutnya rakyat Soahuku diperintahkan untuk
membangun gedung gereja dengan kayu Gupassa dan tidak
boleh pakai kayu Lenggua. Gedung gereja tersebut
diberi nama Ebenhaezer, yang pergunakan pada tanggal
31 Oktober 1889 dalam ibadah yang dipimpin oleh
pendeta J.J.Kelling, dan digenapkan pada tanggal 31
Oktober 1924 oleh pendeta C.W Diip. Gedung gereja
Ebenhaezer ini dibom sampai hancur pada tanggal 21
December 1943.
Kemudian dibangunlah gedung gereja Ebenhaezer II yang
terbuat dari kayu Gupassa dan diresmikan pada tanggal
31 Oktober 1964 dengan pendeta D.Warella dan
J.P.Luhulima serta dipergunakan sampai hari
ini,sambil menantikan pemekaran jemaat sampai ada
jemaat Soahuku. Pada tanggal 31 Oktober 1989 dirayakan
tahun Yubileum (100 tahun) gereja Ebenhaezer.

BAB.IX BAILEU SOAHUKU

Setelah rakyat Soahuku mengambil tempat dinegeri
Soahuku sekarang maka pertama-tama yang dibangun
adalah sebuah Baileu adat dan Batu Pamali. Tempat
baileu dan batu pamali itu diletakan di tengah-tengah
negeri pada halaman kiri Ruhupessy (halaman rumah Piet
Warella).
Tetapi ketika bencana pasang surut yang menimpa pulau
Seram, maka baileu dan batu pamali tersebut menjadi
rusak oleh gelombang air laut yang naik setinggi
sekitar 6 meter tersebut.

BAB.X LAMBANG NEGERI SOAHUKU

Lambang negeri Soahuku ialah �Hakanue�yang berarti
penjaga pohon beringin. Pohon beringin yang dimaksud
ialah Nunusaku. Figur ini merupakan ketang asuro.
Memang dalam dalam figur-figur Nunusaku terdapat
beberapa jenis binatang yang mempunyai arti
tersendiri. Misalnya burung Talang atau Guheba
menggambarkan pengintai dari atas, Kalajengking
menggambarkan tanda siap bunuh, Ketang berarti
pengintai dari bawah sebab dapat bersembunyi dalam
lobangnya dll.
Lambang ini sewaktu Tamaela dan Sopacua turun dari
Hukuanakotta mereka membawanya sebagai bukti bahwa
mereka dari Nunusaku,karena Hukuanakotta adalah negeri
yang terkenal dalam sejarah Nunusaku.