Kahuripan, kerajaan / Prov. Jawa Timur

Kerajaan Kahuripan: 1009 – 1049. Terletak di Jawa timur.
Kahuripan adalah nama yang lazim dipakai untuk sebuah kerajaan di Jawa Timur yang didirikan oleh Airlangga pada tahun 1009. Kerajaan ini dibangun sebagai kelanjutan Kerajaan Mataram Kuno (Medang) yang runtuh tahun 1006.

The kingdom of Kahuripan: 1009 – 1049. Located on east Java.
Kahuripan is the name commonly used for a kingdom in East Java which was founded by Airlangga in 1009. This kingdom was built as a continuation of the Ancient Mataram Kingdom (Medang) which collapsed in 1006.
For english, click here

Lokasi prov. Jawa Timur


* Foto kerajaan Kahuripan: link


Garis kerajaan-kerajaan di Jawa: link


Foto sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa

* Foto sultan dan raja, yang masih ada di Jawa: link
* Foto keraton di Jawa, yang masih ada: link
* Foto Batavia (Jakarta) masa dulu: link
* Foto Jawa masa dulu: link
* Penyerbuan Batavia oleh Sultan Agung, 1628/1628: link
* Foto perang Diponegoro, 1825: link
* Foto situs kuno di Jawa: link


Video sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa

– Video Penguasa Monarki kesultanan Jawa Mataram, 1556 – 2020: link
– Video sejarah kesultanan Mataram, 1576-2020: link
– Video sejarah kerajaan Medang Mataram Hindu: link
– Video sejarah kerajaan Majapahit, 1293 sampai 1527: link
– Video raja-raja Majapahit hingga ke Mataram, 1293 – 1587: link
– Video sejarah kerajaan Jawa, 10.000 SM – 2017: link
– Video sejarah kerajaan Jawa Timur, 1.5jt SM sampai 2020: link
– Video sejarah kerajaan Jawa Barat, 3000 SM sampai 2020: link
– Video sejarah kerajaan Jawa Tengah, 1.5jt SM sampai 2020: link


KERAJAAN KAHURIPAN

Sejarah kerajaan Kahuripan, 1009 – 1049

Sumber: https://www.kompas.com/stori/read/2021/08/10/090000679/kerajaan-kahuripan-sejarah-raja-keruntuhan-dan-peninggalan?page=all

Kerajaan Kahuripan adalah salah satu kerajaan bercorak Hindu-Buddha di Jawa Timur yang berkuasa pada abad ke-11. Kerajaan ini didirikan oleh Prabu Airlangga pada 1019, sebagai kelanjutan dari kerajaan Mataram Kuno periode Jawa Timur (kerajaan Medang). Ibu kota kerajaannya terletak di Kahuripan, dekat lembah Gunung Penanggungan, sekitar Sidoarjo. Kerajaan ini berumur sangat pendek dan Prabu Airlangga menjadi satu-satunya raja yang pernah berkuasa.
Kendati demikian, kerajaan Kahuripan tidak runtuh karena serangan musuh. Pada 1045, Prabu Airlangga memutuskan turun takhta dan membagi kerajaannya untuk kedua putranya.

Sejarah berdirinya kerajaan Kahuripan

Sejarah berdirinya kerajaan Kahuripan dapat ditelusuri dari peristiwa runtuhnya kerajaan Mataram Kuno periode Jawa Timur atau kerajaan Medang. Pada 1016, ibu kota kerajaan Medang yang terletak di Watan (sekitar Madiun sekarang) diserang oleh Raja Wurawari dari Lwaram (sekutu kerajaan Sriwijaya). Kala itu, kerajaan diperintah oleh Raja Dharmawangsa Teguh, yang berkuasa antara 985-1017 M. Akibat serangan tersebut, banyak pembesar kerajaan Medang tewas dalam pertempuran, termasuk Raja Dharmawangsa Teguh.
Airlangga, yang merupakan keponakan sekaligus menantu Dharmawangsa Teguh, berhasil menyelamatkan diri ke dalam hutan. Bersama abdinya yang sangat setia bernama Narottama, ia kemudian tinggal di hutan dan berteman dengan para pertapa.
Tiga tahun berselang, pedeta Siwa, Buddha, dan Mahabrahmana datang untuk memintanya melanjutkan kerajaan Medang. Setelah dinobatkan menjadi raja, Airlangga mendapatkan gelar Sri Maharaja Rakai Halu Sri Dharmawangsa Airlangga Anantawikramatunggadewa. Karena kerajaan Medang telah hancur, ia membangun kerajaan baru di Wwatan Mas. Barulah pada 1032, Raja Airlangga memindahkan ibu kotanya ke Kahuripan setelah diserang musuh.

Perkembangan kerajaan Kahuripan

Kondisi pemerintahan pada masa Airlangga menjadi raja dapat diketahui dari sumber sejarah kerajaan Kahuripan yang berupa prasasti. Pada awal berdirinya kerajaan, wilayah kekuasaannya hanya meliputi daerah Sidoarjo, Pasuruan, dan sebagain Mojokerto.
Oleh karena itu, sebagian besar masa pemerintahan Raja Airlangga dipenuhi dengan peperangan untuk menaklukkan kembali wilayah-wilayah yang pernah melepaskan diri dari kerajaan Medang.
Dari Prasasti Pucangan, dapat diketahui bahwa antara 1029-1037 Raja Airlangga menyerang semua musuh yang memiliki andil dalam runtuhnya kerajaan Medang bersama Raja Wurawari. Setelah semua musuh dapat ditaklukkan, sang raja memusatkan perhatiannya untuk membangun kerajaan.
Kemajuan pada masa pemerintahannya dapat dilihat dari pesatnya pembangunan, termasuk pembangunan bendungan, pelabuhan, dan jalan. Raja Airlangga juga meringankan beban pajak rakyatnya yang sering terkena musibah. Selain itu, pada masa pemerintahan Raja Airlangga terdapat seorang pujangga ulung bernama Mpu Kanwa, yang terkenal dengan karyanya berjudul Kitab Arjunawiwaha.

Akhir kekuasaan kerajaan Kahuripan

Disebutkan dalam Prasasti Pamwatan bahwa menjelang akhir pemerintahannya, Raja Airlangga memindahkan ibu kota kerajaan ke Daha (Kediri). Di saat yang sama, ia tengah berhadapan dengan masalah suksesi kerajaan karena putrinya, Sanggramawijaya Tunggadewi, yang seharusnya mewarisi takhta justru memilih untuk menjadi pertapa.
Hal ini kemudian menimbulkan perebutan takhta di antara kedua putranya. Pada 1045, Raja Airlangga memutuskan membagi kerajaan untuk kedua putranya, Mapanji Garasakan dan Sri Samarawijaya.
Kerajaan Jenggala yang ibu kotanya terletak di Kahuripan diberikan kepada Mapanji Garasakan, sementara kerajaan Panjalu atau Kediri yang berpusat di Daha diberikan kepada Sri Samarawijaya. Peristiwa pembagian kekuasaan ini menandai akhir dari pemerintahan kerajaan Kahuripan. Setelah turun takhta, Airlangga memilih untuk menjadi pertapa hingga akhir hayatnya pada 1049. Dengan begitu, Airlangga menjadi pendiri sekaligus satu-satunya raja kerajaan Kahuripan.

Peta wilayah kerajaan Kahuripan


Daftar Raja

Airlangga memerintah 1019-1045, mendirikan kerajaan di reruntuhan Medang.
Airlangga kemudian memecah Kerajaan Kahuripan menjadi dua: Janggala dan Kadiri.
– Sumber: Wiki


Tongkat Dua Naga simbol pembagian Kerajaan Kahuripan

Tongkat berwarna emas dengan pegangan dua kepala naga ini merupakan koleksi Museum Singasari, yang terletak di Desa Klampok, Kecamatan Singosari di Kabupaten Malang. Museum ini terletak berdekatan dengan beberapa situs bekas Kerajaan Singasari, diantaranya Candi Singasari, pemandaian Ken Dedes dan dua arca Dwarapala Raksasa.

Menurut petugas penjaga museum, tongkat berkepala dua naga ini melambangkan pembagian dua Kerajaan Kahuripan menjadi Kerajaan Jenggala dan Kerajaan Panjalu atau Kediri. Bisa dilihat di tongkat, bahwa naga kedua seperti keluar dari tengkuk atau leher bagian atas naga utama.

Berdasarkan Kitab Negarakertagama, Serat Calon Arang dan Prasasti Wurareh di Arca Joko Dolog, pembagian kerajaan Kahuripan dilakukan karena Raja Erlangga mempunyai dua putra yang sama-sama ingin berkuasa. Sebelum membelah kerajaan, Erlangga menempuh cara lain. Dengan bantuan Resi Barada, dia berusaha melakukan pendekatan ke Kerajaan Bedahulu di Bali untuk menjajaki kemungkinan satu putranya menjadi raja di Bali, karena bagaimana pun Erlangga adalah putra sulung raja Udayana. Tapi, kerajaan di Bali sudah dipimpin oleh anak cucu Udayana lainnya.


Peninggalan kerajaan Kahuripan

Petirtaan Belahan, dikenal juga sebagai Candi Belahan
Petirtaan Belahan, dikenal juga sebagai Candi Belahan atau Sumber Tetek, adalah sebuah pemandian bersejarah yang dibangun pada abad ke-11, pada masa pemerintahan raja Airlangga dari Kerajaan Kahuripan.

—————————
Candi Jalatunda
Candi Jalatunda merupakan bangunan petirtaan yang dibuat pada zaman Airlangga.
Candi ini merupakan monumen cinta kasih Raja Udayana untuk menyambut kelahiran anaknya, Prabu Airlangga, yang dibangun pada tahun 997 M. Sumber lain menyebutkan bahwa candi ini adalah tempat pertapaan Airlangga setelah mengun-durkan diri dari singgasana dan diganti anaknya.

Image result for Candi Jalatunda

—————————
Prasasti Kamalagyan

Deze site, die getuigt van de grootheid van koning Airlangga, ligt tussen de huizen van bewoners. Er is niets bijzonders. Op het eerste gezicht lijkt het op een grote grafsteen. Er is geen speciaal teken zoals bij de Majapahit-tempels in het beroemde Trowulan. Er is alleen een beschermende plaats in de vorm van een kleine joglo met een hek rond de inscriptie.

—————————
Prasasti Pamwatan

Prasasti Pamwatan adalah sebuah prasasti yang dikeluarkan oleh Raja Airlangga, yaitu pada tahun 965 Saka atau 1043 Masehi. Menurut sejarawan L.C. Damais, tanggal tepatnya adalah 20 November 1042. Isi prasasti ditulis dalam bahasa Jawa Kuno. Prasasti ini ditemukan di Desa Pamotan, Kecamatan Sambeng, Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur.
Dari prasasti ini dapat diperkirakan bahwa ibu kota Kerajaan Kahuripan saat itu ialah Daha.


Peta kuno Jawa

Klik di sini untuk peta kuno Jawa tahun 1598, 1612, 1614, 1659, 1660, 1706, 1800-an, awal abad ke-18, 1840.

Jawa, awal abad ke-18

1234


Sumber / Source

– Sejarah kerajaan Kahuripan di Wiki: Wiki
Sejarah kerajaan Kahuripan: http://sejarahbudayanusantara.weebly.com/kerajaan-kahuripan.html
Sejarah kerajaan Kahuripan: http://wartaloka.blogspot.co.id/2012/02/kerajaan-kahuripan.html
Tahun 1019, kerajaan Kahuripan: http://www.kidnesia.com/Kidnesia/Archive/Sejarah-Indonesia/Zaman-Pra-Kolonial/Tahun-1000-1099/Tahun-1019-Kerajaan-Kahuripan
Daftar raja: Wiki


Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: