Banten Pasisir, kerajaan / Jawa – Prov. Banten

Banten sebagaimana nama suatu wilayah sudah dikenal dan diperkenalkan sejak abad ke 14. Mula-mula Banten merupakan pelabuhan yang sangat ramai disinggahi kapal dan dikunjungi pedagang dari berbagai wilayah hingga orang Eropa yang kemudian menjajah bangsa ini. Pada tahun 1330 orang sudah menganal sebuah negara yang saat itu disebut Panten, yang kemudian wilayah ini dikuasai oleh Majapahit di bawah Mahapatih Gajah Mada dan Raja Hayam Wuruk.

Lokasi prov. Banten, Jawa


* Foto situs kuno di Jawa: link
* Foto Jawa dulu: link


Sejarah kerajaan Banten Pasisir

Sebelum abad ke-16, berita-berita tentang Banten tidak banyak tercatat dalam sejarah, konon pada mulanya Banten masih merupakan bagian dari kekuasaan Kerajaan Sunda. Menurut salah satu versi sejarah, dahulu ketika tanah Sunda masih dalam kekuasaan Kerajaan Pajajaran (zaman Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi: 1482-1521 M), di Banten sudah terdapat 2 buah kerajaan, yaitu Kerajaan Banten Girang dan Kerajaan Banten Pasisir. Banten Girang dipimpin oleh Adipati Suranggana, dan Banten Pasisir dipimpin oleh Adipati Surosowan. Keduanya itu konon adalah putra Prabu Siliwangi buah perkawinannya dengan Dewi Mayang Sunda.

Banten sebagaimana nama suatu wilayah sudah dikenal dan diperkenalkan sejak abad ke 14. Mula-mula Banten merupakan pelabuhan yang sangat ramai disinggahi kapal dan dikunjungi pedagang dari berbagai wilayah hingga orang Eropa yang kemudian menjajah bangsa ini. Pada tahun 1330 orang sudah menganal sebuah negara yang saat itu disebut Panten, yang kemudian wilayah ini dikuasai oleh Majapahit di bawah Mahapatih Gajah Mada dan Raja Hayam Wuruk.
Tak lama kemudian, wilayah Banten dikuasai oleh kerajaan Pajajaran yang pusat kerajaannya berada di Pakuan.  Pajajaran menetapkan pelabuhan Pontang dan Cibanten menjadi salah satu pelabuhan milik Kerajaan Pajajaran.

Karena Banten dianggap wilayah yang potensial bagi pemasukan Pajajaran, maka untuk melegitimasikan kekuasaannya di wilayah Banten, Sri Baduga Maharaja (raja Pajajaran) menempatkan anaknya yang bernama Surasowan untuk dijadikan kepala pemerintahan (raja daerah) di wilayah pesisir Banten. Maka mulai saat itu berdirilah Kerajaan Banten Pasisir.


Semua info di bawah di ambil dari: http://westjavakingdom.blogspot.com/2011/07/kerajaan-banten-pasisir.html

Raja-raja yang memerintah di Banten Pasisir

* Surosowan

Pada saat kepemimpinannya, sekitar tahun 1524 dan 1525, para pedagang dari luar negeri mulai berdatangan ke Banten melalui dua pelabuhan tersebut. Surasowan telah berhasil menjadikan Banten Pasisir sebagai kerajaan yang maju.
Surasowan memiliki 2 orang anak, yaitu Arya Surajaya dan Nyai Kawunganten.

Seperti hal ayahnya yang pernah berkuasa di Pajajaran, Surasowan pun memiliki rasa toleransi yang tinggi terhadap perbedaan agama di wilayahnya. Di masa kepemimpinannya, agama Islam mulai berkembang di wilayah Banten. Saat itu, penyebaran agama Islam dilakukan oleh Syarif Hidayatullah (sebelum menjadi Sultan Cirebon).
Ketika Syarif Hidayatullah mengajarkan agama Islam di wilayah Banten, beliau menikah dengan Nyai Kawunganten. Dari perkawinan itu lahirlah Pangeran Sabakingkin, yang kelak dikenal sebagai Maulana Hasanuddin. Jika diurut silsilah keluarga ke atas, maka Pangeran Sabakingkin  ini adalah masih cicit dari Prabu Siliwangi / Sri Baduga Maharaja (Raja Pajajaran).

Ketika Surasowan wafat, tahta Banten Pasisir diserahkan pada putera sulungnya (Arya Surajaya yang bergelar Prabu Pucuk Umum).

* Arya Surajaya / Prabu Pucuk Umum

Sebelum beliau memerintah sebagai Raja Banten Pesisir, beliau terlebih dahulu menjabat sebagai Bupati di Kawunganten. Wilayah tersebut merupakan wilayah dimana Syarif Hidayatullah menyebarkan ajaran Islam di Banten.

Di saat beliau memerintah, Syarif Hidayatullah telah menjadi Sultan Cirebon yang pertama. Ketenaran Arya Surajaya sebagai raja Banten Pasisir saat itu terlampaui oleh keponakannya (Hasanuddin). Hasanuddin yang mengajarkan agama Islam di wilayah Banten terlihat lebih dekat dengan rakyat daripada Arya Surajaya. Keadaan itu membuat hubungan antara Arya Surajaya dan keponakannya itu renggang.

Di masa kekuasannya (pada tahun 1526), kesultanan Demak ingin menguasai pelabuhan yang berada di Banten Pasisir. Saat itu pasukan Demak yang dipimpin oleh Fatahillah bergabung dengan Cirebon untuk menyerang wilayah Banten. Sebelum kedatangan pasukan gabungan itu, di wilayah Banten sendiri telah terjadi “pemberontakan” dari Hasanuddin bersama pasukannya yang berasal dari santri-santri Banten pasisir serta Banten Girang. Hasanuddin ingin merebut kekuasaan dari uwaknya karena beliau ingin melepaskan diri dari kekuasaan Pajajaran.

Arya Surajaya merasa kelabakan mengatasi masalah serangan yang beruntun dari Demak, Cirebon, dan rakyat Banten sendirian. Saat itu Portugis yang seharusnya membantu (sesuai kesepakatan perjanjian Pajajaran – Portugis) terlambat membantu. Akhirnya Arya Surajaya menyerah dan bersama keluarga, pembesar keraton, dan rakyatnya melarikan diri ke hutan-hutan rimba dan sebagian lagi menuju kerajaan Tanjung Jaya dan Pakuan. Konon, yang melarikan diri ke hutan belantara kemudian mendirikan komunitas Badui. (cerita berbau legenda mengenai asal muasal suku Badui, diceritakan di bagian terpisah/Bab Legenda).

Akhirnya Hasanuddin, mulai tahun 1526 ditunjuk Kerajaan Demak untuk  menjadi penguasa / bupati seluruh Banten (setelah daerah Banten Girang bergabung) dengan gelar Panembahan Hasanuddin. Saat pengangkatan jabatan tersebut, Hasanuddin berusia 48 tahun.

Sejak saat itu, berdirilah secara resmi Kadipaten Banten pada tanggal 8 Oktober 1526. Wilayah Banten akhirnya menjadi wilayah vassal (bawahan) dari Kerajaan Demak dan hampir semua rakyat Banten saat itu masuk Islam.

Pada saat menjabat sebagai bupati, Hasanuddin ingin sekali menguasai Pakuan. Hal ini kemungkianan dalam upaya membesarkan wilayah Banten sehingga dapat menjadi Kesultanan yang merdeka. Setelah Kesultanan Cirebon berhasil menggerogoti daerah kekuasaan Pajajaran di timur, kini giliran Banten yang ingin menguasai daerah barat dari Pajajaran.

Akan tetapi, rencana ini sedikit terhambat akibat adanya perjanjian damai dari Pajajaran dan Cirebon. Hasanuddin yang tidak ingin merusak nama baik ayahnya (Syarif Hidayatullah, sultan Cirebon yang menandatangani perjanjian damai), akhirnya secara diam-diam membentuk pasukan tanpa identitas untuk menaklukan Pajajaran.

Setelah dilakukan persiapan yang matang, akhirnya pasukan Banten melakukan serangan mendadak ke Pakuan, tetapi ketangguhan benteng Pakuan dan prajurit Pajajaran menyebabkan serangannya tidak mampu menembus gerbang Pakuan. Gagal menembus kota, pasukan penyerbu ini dengan cepat bergerak ke utara dan menghancurkan pusat-pusat keagamaan Hindu di Sumedeng, Ciranjang dan Jayagiri.

Penyerangan terhadap Pajajaran untuk sementara dihentikan, karena pada tahun 1546, Banten diminta untuk memberikan bantuan kepada Demak yang saat itu ingin menaklukan beberapa wilayah di timur Jawa.

Setelah berbentuk Kadipaten selama kurang lebih 26 tahun, pada tahun 1552 Banten melepaskan diri dari pengaruh kekuasaan Kerajaan Demak dan berdiri sendiri menjadi sebuah kesultanan yang merdeka, kesultanan Banten. Selain itu, diperkirakan Banten juga mendapatkan “warisan” pelabuhan Kalapa beserta kota Jayakarta.


Peta kuno Jawa

Klik di sini untuk peta kuno Jawa tahun 1598, 1612, 1614, 1659, 1660, 1706, 1800-an, awal abad ke-18, 1840.

Jawa, awal abad ke-18

1234


Sumber

– Sejarah kerajaan Banten Pasisir: http://westjavakingdom.blogspot.com/2011/07/kerajaan-banten-pasisir.html
– Sejarah kerajaan Banten Pasisir: http://babadnegriku.blogspot.com/2013/10/sejarah-banten.html