Raja Gowa XVI, Sultan Hasanuddin, 1670

——————————————————————————————————–
Sultan Hasanuddin – I Mallombassi Daeng Mattawang Sultan Muhammad Baqir Karaeng Bonto Mangngape
—————–

Sumber / Source:

http://kisahlampau.blogspot.com/2012/03/raja-gowa-xvi.html
Sultan Hasanuddin di Wiki
—————-

Sultan Hasanuddin

Sultan Hasanuddin

I Mallombassi Daeng Mattawang Sultan Muhammad Baqir Karaeng Bonto Mangngape, atau lebih tersohor dengan gelar Sultan Hasanuddin, adalah Raja ke-XVI yang terkenal keberaniannya menetang penjajah Belanda dalam wilayah kekuasaan kerajaan Gowa. Ia terkenal dengan julukan “Ayam Jantan Dari Timur”. Het Hantjes Van Oosten.
Sultan Hasanuddin naik tahta pada bulan April tahun (1653-1669), menggantikan ayahnya Sultan Malikussaid dalam usianya ke-22 tahun. Ibunya adalah seorang Bangsawan dari Laikang bernama I Sabbe Lokmo Takontu. Lahir 12 Januari 1631.
Sejak Sultan Hasanuddin dihadapkan pada pergolakan. Pertempuran prajurit Kerajaan Gowa melawan Belanda di Buton terus berkobar. Pertempuran ini dipimpin langsung oleh Sultan Hasanuddin. Dalam serangan itu, Benteng pertahanan Belanda di Buton berhasil direbut serta menawan sebanyak 35 orang Belanda.
Satu tahun lamanya Sultan Hasanuddin mengendalikan pemerintahan, Mangkubumi Kerajaan Gowa Karaeng Pattingalloang wafat pada 15 September 1654. Beliau kemudian digantikan oleh putranya bernama Karaeng Karunrung.
Belanda melihat, perang dengan Kerajaan Gowa telah banyak menelan biaya, demikian halnya di sektor perdagangan telah banyak mengalami kerugian. Belanda kemudian membuat siasat. Ia ingin damai. Pada tanggal 23 Oktober 1655 Belanda mengutus Willem Van Den Berg dan seorang berkebangsaan Armenia bernama Choja Sulaeman untuk menghadap Sultan dan menyampaikan pesan Jenderal Maestsuyker. Perundingan itu berlangsung 28 Desember 1655 dimana tuntutan Belanda :
  1. Orang-orang Makassar yang ada di Maluku boleh kembali ke Negerinya.
  2. Raja Gowa boleh menagih utang piutangnya di Ambon
  3. Orang-orang tawanan dari kedua belah pihak harus diserahkan pada pihak masing-masing.
  4. Musuh-musuh dari Belanda tidak akan menjadi musuh dari Kerajaan Gowa.
  5. Belanda tidak akan mencampuri perselisihan diantara orang-orang Makassar.
  6. Belanda boleh menangkap semua orang Makassar yang didapati berlayar di Perairan Maluku.
Tuntutan belanda itu dinilai oleh Sultan sangat merugikan Gowa, karenanya ditolak. Sultan malah menantang perang. Ia didukung oleh Mangkubuminya Karaeng Karunrung serta Karaeng Galesong dan Karaeng Bonto Marannu untuk unjuk kekuatan. Dari tantangan itu, Belanda juga meningkatkan kekuatannya. Sebuah armada bantuan dari Batavia yang dipimpin oleh Mr. Johan Van Dam.
Untuk mengelabui prajurit Gowa, semua armada langsung ke Ambon sebagai upaya untuk memancing amarah prajurit Gowa. Setelah itu barulah mereka menyerbu Sombaopu.
Bulan Juni 1666 terjadi pertempuran hebat di perairan Sombaopu. Belanda mengirim sebanyak 22 kapal perang dengan kekuatan 1604 serdadu ditambah dengan 700 serdadu pembantu dari Jawa dan Madura, Ambon dan lainnya.
Ketika melakukan serangan ke Benteng Panakkukang, Belanda pura-pura menuju ke Utara seolah-olah hendak menyerang benteng Sombaopu tempat kediaman Sultan.
Serangan besar-besaran yang telah dilancarkan oleh Belanda itu, akhirnya pada 12 Juni 1668 Belanda berhasil merebut Benteng Panakkukang, Prajurit Kerajaan Gowa tidak tinggal diam, pasukan yang dipimpin oleh Karaeng Galesong dan Karaeng Bonto Marannu terus melakukan perlawanan. Pertempuran yang berlangsung selama 2 hari telah banyak menelan korban. Akhirnya kedua belah pihak sepakat melakukan gencatan senjata.
Menuju pada perundingan perdamaian itu, Sultan mengutus Karaeng Popo mewakili Kerajaan Gowa ke Batavia. Akhirnya pada tanggal 1 Desember 1660 perjanjian perdamaian itu ditandatangani oleh Sultan, namun begitu perjanjian tidak berlangsung lama, karena sangat merugikan Gowa, yakni :
  1. Larangan pada orang-orang Makassar untuk berlayar di Perairan Banda dan Ambon.
  2. Pengusiran orang-orang Portugis di Makassar.
Sultan beserta Mangkubuminya Karaeng Karunrung menolak keras perjanjian perdamaian itu. Malah Sultan memaklumkan perang terhadap Belanda, seraya berkata :
Gowa lebih suka berperang terus melawan belanda dari pada memenuhi segala isi perjanjian yang disodorkan oleh Belanda itu.
Sultan malah memerintahkan rakyatnya untuk membangun Benteng-benteng pertahanan, mulai dari Mariso, dari sana Benteng pertahanan sepanjang 2,5 mil dari Binanga Beru hingga ke Ujung Tanah.
Setelah gencatan senjata, kedua belah pihak masing-masing menyusun strategi dan memperkuat armadanya. Nafsu Belanda ingin menguasai Gowa, maka diutuslah Spellman dari Batavia pada 24 November 1666 menuju Benteng Sombaopu. Mereka diperkuat dengan 21 kapal perang dan 600 tentara, didukung sekitar 400 pasukan pimpinan Arung Palakka dan Kapten Jongker dari Ambon.
Armada Belanda tiba di Sombaopu pada 15 Desember 1666, dan keadaan di Gowa semakin tegang, para pedagang pun menghentikan kegiatannya.
Demikian halnya di pihak Kerajaan Gowa, semua Benteng yang dilengkapi persenjataan dan amunisi serta persiapan makanan selama berbulan-bulan.
Sementara itu, Karaeng Bontomarannu dengan armada perangnya sebanyak 700 kapal masih melakukan perlawanan di Buton.
Ketika utusan Spelman menghadap Sultan untuk menyampaikan tuntutan agar Sultan menyerah saja dan bersedia membayar kerugian Belanda akibat perang terdahulu. Ternyata tuntutan Spelman itu hanya taktik belaka untuk memulai peperangan.
Tapi Sultan Hasanuddin dengan berani menjawab Bila kami diserang, maka kami mempertahankan diri dan kami menyerang kembali dengan segenap kemampuan yang ada. Kami berada di pihak yang benar. Kami ingin mempertahankan kebenaran dan kemerdekaan kami.
Pagi itu, sekitar Tgl 21 Desember 1666, Spelman mengibarkan Bendera merah pertanda perang siap dimulai, dentum meriampun mulai menghantam benteng satu persatu dan kemudian dibalas oleh prajurit Kerajaan Gowa.
Semangat juang dari prajurit Gowa semakin berkobar, armada perahu kecil yang disebut armada semut sekali-sekali melakukan serangan terhadap kapal Belanda. Perlawanan yang gigih dan prajurit Gowa telah mampu memukul basis pertahanan Belanda.
Dentuman meriam belanda secara membabi buta, membuat kapal niaga yang sandar di Pelabuhan Sombaopu tenggelam satu persatu. Bahkan membumi hanguskan sekitar 30 Desa serta merusak lumbung pangan.
Tgl 1 Januari 1667 Spelman mengerahkan sebagian armadanya untuk menyerang Karaeng Bontomarannu di Buerah pada 4 Januari 1667. Kemenangan itu dirayakan oleh Spelman bersama Sultan Buton. Belanda lalu memberikan hadiah 100 ringgit pada prajurit Buton.
Setelah itu, armada tempur Spelman melanjutkan perjalanan ke Ternate. Arung Palakka mengirim pasukannya sebanyak 2000 orang ke Bone untuk membentuk pasukan baru. Pasukan Bone ini di siapkan untuk menyerbu Kerajaan Gowa di daratan.
Bulan Juni 1667 Spelman bersama Sultan Mandarsyah yang membawa pasukan ke Ternate Bacan dan Tidore bergabung dengan pasukan Arung Palakka dan Kapten Jongker.
Dengan kekuatan dari Belanda itu, akhirnya perang pecah pada tgl 7 Juli 1667 setelah sekitar 7000 pasukan Kerajaan Gowa melakukan serangan mendadak terhadap pasukan Belanda dan sekutunya. Empat hari kemudian, Belanda baru berhasil memasuki perairan Kerajaan Gowa, Tgl 19 Juli perairan Makassar sudah dipenuhi kapal-kapal Belanda dan Benteng Sombaopu dikepung, Sultan Hasanuddin dan Raja Tallo Sultan Harun Al Rasyid yang langsung memimpin perlawanan itu. Beliau berada di barisan terdepan memimpin pasukan pasukan, disusul beberapa pasukan Tubarani, seperti Karaeng Galesong, I Fatimah Daeng Takontu serta pembesar kerajaan lainnya.
Para Panglima perang di tebar di beberapa benteng pertahanan. Karaeng Bontosunggu dipercayakan untuk menjaga pertahanan di Benteng Ujung Pandang sedang Karaeng Popo memimpin pertahanan di Benteng Panakkukang.
Pada Tgl 19 Agustus 1667 pagi. Benteng Galesong diserang dengan meriam Belanda. Ketika lumpuh, Belanda lalu membakar gudang beras di Galesong dan Barombong. Perlawanan yang digencrkan para Tubarani dengan membalas dentuman anak meriam mangkasara membuat Belanda kocar kacir, demikian halnya pasukan Arung Palakka berhasil dipukul mundur.
Atas serangan balasan itu, Spelman memperkuat pasukan 5 armada perang didatangkan dari Batavia yang dipimpin Komandan Kapten P. Dupon. Dari kekuatan itu Belanda lalu menyerang Benteng Barombong.
Tgl 5 November 1667 Spelman melapor ke Batavia bahwa pasukannya sudah payah, semangat tempur merosot, 182 orang serdadu dan 95 matros jatuh sakit, pasukan Buton, Ternate dan Bugis banyak diserang sakit perut, belum lagi yang mati di medan perang. Spelman minta lagi dikirim pasukan baru.
Atas bantuan pasukan baru itu, anak benteng pertahanan satu demi satu direbut Belanda. Sultan Hasanuddinpun merasa sedih, karena yang dihadapi tak hanya musuh, tetapi juga dari sesama bangsa sendiri, yakni dari Bugis, Ternate dan Buton.
Dalam kondisi demikian, datang perutusan Spelman agar Sultan bersedia berunding dan perangpun harusa dihentikan. Atas pertimbangan yang arif dan bijaksana dari Sultan, akhirnya kedua belah pihak melakukan perundingan di Bungaya dekat Barombong. Setelah beberapa hari dilakukan perundingan, akhirnya pada hari Jum’at 18 November 1667 tercapailah suatu kesepakatan yang ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Bungaya atau lasim disebut Cappaya ri Bungaya.
Atas penandatangan perjanjian Bungaya itu, banyak pembesar Gowa tak setuju, seperti Karaeng Galesong, Karaeng Bontomarannu, Karaeng Karunrung, I Fatimah Kaeng Takontu, Juga Raja dari negeri sekutu Gowa, yakni dari Wajo, Mandar dan luwu. Mereka siap angkat senjata dan meneruskan perlawanan kapan dan dimana saja.
Tgl 5 Agustus 1668 Karaeng Karunrung menyerang Benteng Pannyua (Benteng Ujung Pandang) tempat Spelman bermarkas. Dalam serangan itu, Arung Palakka nyaris tewas.
Menurut catatan Spelman. Dalam pertempuran melawan Gowa, banyak orang Belanda yang mati dan terluka. Setiap 7-8 orang Belanda dikuburkan. Spelman jatuh sakit, 5 dokter dan 15 pandai besi meninggal. Tenaga bantuan dari Batavia hanya 8 orang yang sehat, dalam waktu 4cminggu, sebanyak 138 serdadu yang mati di Benteng Ujung Pandang dan 52 orang mati diatas kapal.
Tgl 24 Juni 1669 Benteng Sombaopu dikuasai oleh Belanda. Belanda menyita sebanyak 272 pucuk meriam termasuk Meriam Anak Mangkasara yang disita Spelman. Benteng Sombaopu kemudian dibumi hanguskan dengan ribuan kilo amunisi dan berhasil menjebol dinding benteng setebal 12 kaki. Ledakan itu membuat udara diatas Benteng memerah dan tanah seperti gempa. Mayat bergelimpangan dimana-mana. Semua istana yang ada di Benteng Sombaopu jatuh terhormat ke tangan Belanda.
Sultan Hasanuddin yang mengendalikan Kerajaan Gowa selama 16 Tahun itu, akhirnya jatuh sakit dan wafat pada 12 Juni 1670. Ia mendapat gelar Tumenanga ri Balla Pangkana.
Para pembesar kerajaan yang tak setuju atas penandatanganan Perjanjian Bungaya tak mau mengaku kalah, selanjutnya bertekad untuk melanjutkan perjuangan di Tanah Jawa dalam membantu perjuangan Raja Banten Sultan Ageng Tirtajasa dan Raja Mataram Raden Trunojoyo.
Atas jasa beliau, Pemerintah RI pada tahun 1973 dengan Surat Keputusan Presiden RI nomor 087/TK/1993 menganugrahi Sultan Hasanuddin Gelar Pahlawan Nasional.
—————————————————————————————————-
Advertisements
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: