Sejarah Benteng Kabaena

NB: Foto Benteng Kabaena di bawah !

Di akhir Abad XV dan di awal Abad XVI, ekspansi Kesultanan Ternate ke pulau-pulau di luar wilayah Kesultanannya, makin marak dan minta di lakukan dengan mengirim para Bajak Laut Tobelo untuk menaklukkan pulau-pulau berpenduduk dan sekaligusmenawan penduduknya untuk di bawa ke Ternate.

Menurut penuturan orang-orang Tua di Kabaena, (H. Nurdin Gelar Imam Lompo). Menyatakan bahwa, tujuan utama Bajak Laut Tobelo menawan penduduk Pulau Kabaena adalah untuk di bawa ke Ternate dan di jadikan penduduk yang akan mendiami Pulau-pulau kosong di Maluku atas  perintah Sultan.

Tawanan tersebut, oleh Sultan di jadikan sebagai penduduk yang memiliki 2 (dua) peranan, Pertama; mereka di jadikan petani yang di kemudian hari, hasil-hasil kebunnya merupakan cadangan pangan bagi Kesultanan jika, Kesultanan menghadapi ancaman dari luar dan melakukan perang, Kedua; laki-laki tawanan Tobelo di jadikan pula sebagai cadangan angkatan perang bagi Kesultanan jika pihak Kesultanan Ternate benar-benar menghadapi serangan besar-besaran dari musuh-musuhnya.

Melihat kondisi keamanan Pulau Kabaena yang tidak menjamin keselamatan penduduknya, dengan makin gencarnya serangan Bajak Laut Tobelo, maka dengan segera da Motu’a di Rahadopi (fungsi syara da Motu’a di Rahadopi sebagaimana kesepakatan awal terbentuknya Kamokole’a Tokotu’a adalah:

  1. Fungsi yang mengatur tatanan Adat Istiadat, Norma dan Hukum
  2. Sebagai dewan penasihat /pertimbangan bagi Mokole baik di minta atau tidak oleh Mokole
  3. Sebagai dewan yang berhak penuh untuk menobatkan dan memakzulkan Mokole
  4. Sebagai dewan yang berkuasa penuh dalam menjaring para anakia untuk di calonkan sebagai Mokole berikutnya).

Menghadap Mokole sugilara di e’e mpu’u (Ibu kota kerajaan Kabaena) untuk mengusulkan di buat Benteng pertahanan dan menambah kekuatan Angkatan perang yang di kepalai oleh seorang panglima yang kemudian dibeli Gelar Lampi O’O, Dengan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut :

  1. Karna Tokotu’a telah menjalin kerja sama dengan Buton yang di lakukan oleh Mandawari, maka untuk  menjaga kehormatan dan martabat Mandawari di hadapan pihak Kesultanan Buton, Bentuk kesepakatan itu harus kita junjung di atas kepala. Bahwa Tokotu’a bukan bagian dari Kesultanan Buton. Tetapi bernaung dibawah angkatan perang Buton untuk suara bersama-sama mengantisipasi dan menghadapi ancaman dari luar Buton  dan wilayah tomoronene secara keseluruhan (kbaena, poleang dan rumbia), maka tokotu,a harus membuat Benteng pertahanan sebagai bukti dan realisasi dari  kerja sama/Angkatan perang dengan prinsip-prinsip: Hapa Da ari Ni Measa Laroako Opalio kito Boli io “(Hasil-Hasil musyawarah, tubuh untuk kita rubah).
  2. Karena pada saat masyarakat Kabaena masih percaya akan kekuatan ghaib, maka berdasarkan petunjuk yang di terimah oleh syara ketika “Merere” (Bersemedi), Benteng pertahanan yang akan di bangun itu, bukan dalam bentuk parit, atau pagar kayu, tetapi merupakan susunan Batu yang di bentuk sedemikian rupa menjadi sejenis bangunan. Alasannya kenapa mesti batu bersusun dan petunjuk itu didapatkan manakala terjadi perang antara pihak Tobelo dan para  ksatria Tokotu’a, yang mana panglima Tobelo yang bernama Kapitan Bau doma, menebaskan pedangnya yang luput dari sasaran tetapi mengenai batu dan terbelah dua (tempat itu sekarang dikenal oleh penduduk Kabaena dengan nama watu ngkalantue  Batu kerang Laut,karna batu yang tertebas dengan pedang kapitan Bau doma  mirip Kerang).

Ada juga pendapat lain yang mengatakan bahwa Benteng itu di buat sebagai bentuk susunan batu adalah petunjuk saat  “Merere” (Bersemedi) yang di sampaikan oleh penguasa Bumi / penjaga keamanan Pulau Kabaena dari Alam Gaib yang kepercayaan orang-orang Kabaena bernama: Bau Lele Limba Basa Lele Molio

  1. Usulan ini di terima oleh Mokle dan  diperintahkan kepada semua kepala Negri (Pu u Tobu). Agar di tiap-tiap negri masing –masing di buat satu Benteng pertahanan. Adapun di Ibu kota Negeri (Tangkeno) Menunggu petunjuk Mokole di lokasi mana, Benteng-Benteng tersebut akan di bangun, menurut kepercayaan  orang-orang Kabaena di masa lampau, Mokole adalah anugerah langit , yang di percaya mempunyai kekuatan supra natural yang terpengaruh pada alam dan manusia, Raja/Mokole di pandang sebagai pusat kosmos yang berpengaruh pada alam maupun masyarakat sekitar.

Tahap awal pembangunan Benteng Pertahanan

Dengan berbagai macam pertimbangan dan atas petunjuk dari Tuhan Penguasa Alam (Yo Apu) . Oleh Mokole Sugilara menunjuk Lokasi  di daerah Enano (enano yang di maksud adalah Kampung Enano  Tua ,yang bertempat di pinggiran desa tangkeno sekarang). Sebagaimana tradisi masyarakat Kabaena masa itu, sebelum Benteng di bangun oleh Raja Mokole harus mendapatkan petunjuk dan tata cara serta awal waktu yang tepat untuk di mulai suatu pekerjaan (Moturiakono), oleh Mokole menerima petunjuk berupa sebilah parang (Ta ovu Ladi) dan sebelum di bangun untuk membuat popundan berundak 7(tujuh) anak tangga dengan memberikan persembahan sebagai Tumbal. Dengan demikian di mulailah pembangunan Benteng keliling dalam tahap awal pembangunan Benteng ini Mokole Sugilara wafat diberi Gelar  sangia Ventumo dan Benteng yang di bangun disebut Benteng Ventumo pada saat pemakaman sangia Ventumo ini Sapati Manjawari menghadiri pemakaman saudaranya ini dan melihat sistem pertahanan Kabaena yg kian mengalami peningkatan.

Untuk melanjutkan tata pemerintahan Kabaena kala itu oleh dewan syara di Rahadopi, Menunjuk da menobatkan Hendi karama  sebagai Mokole selanjutnya. Pahombunia (penobatan) Mokole di laksanakan dalam area Benteng tepatnya di lokasi tengah Benteng yang telah berbentuk 7 anak tangga (popundan berundak) Hendi Karama selanjutnya di Anugerahi Gelar Sangia Tawulaadi. Tugas utama yang di emban oleh sangia Tawulaadi adalah menyelesaikan pembangunan Benteng Tawulaadi, serta melengkapinya dengan peralatan  Meriam. Benteng ini di lengkapi dengan  satu Ruang khusus berbentuk kamar, yang di sediakan khusus bagi Mokole untuk melakukan semedi Tapa (Merere) yang berhubungan dengan komunikasi terhadap alam. Dimana Mokole sebagai Anugerah Langit, yang menguasai bumi di pandang sebagai sumber kekuatan yang memiliki keberkatan, Kemuliaan dan Keagungan yang tiada berbanding .

Menurut  Abdul Majid Ege, bahwa Benteng Tawulaadi ini di bangun pada saat ini penduduk Kabaena  di perkirakan masih sejumlah  3000-an Jiwa tetapi, karna persatuan masyarakat Kabaena saat itu, juga dengan di barengi kekuatan-kekuatan Alam yang di miliki oleh para pembuat Benteng sehingga Benteng Tawulaadi dapat di kerjakan dengan baik dan sempurna.

Dengan selesainya Benteng ini, sebagai pusat pertahanan dari musuh dan tempat Pengintaian terhadap pendatang dari luar Pulau Kabaena. Dari segi pertanahan dan keamanan, sedikit demi sedikit meningkatkan rasa nyaman bagi penduduk. Sebagai catatan, Benteng-Benteng yang terletak di Ibu Negeri Kabaena di tunjang pula oleh Benteng-Benteng kecil di tiap-tiap kampung atau limbono di Kabaena, seperti; Benteng watu palangga di Teomokole, beneteng matarapu di Tirongkotu’a, Benteng watu Langkema di sudu-sudu, Benteng liano di pomgkalaero, Benteng Bontoa vavi di Batuawu, Benteng Karambau di Balao (E’e Mokolo), Benteng Vatu mponu di Ulungkura.