Waigeo, kerajaan / Prov. Papua Barat – kab. Raja Empat

Kerajaan Waigeo (marga Tafalas) adalah kerajaan di pulau Waigeo, kabupaten Raja Empat, prov. Papua Barat.
Pusat kekuasaan di Wewayai, pulau Waigeo.

The kingdom of Waigeo was a kingdom in the District Raja Empat, province of West Papua.
For english, click here

Lokasi pulau Waigeo, kab. Raja Empat


* Foto raja-raja di Papua yang masih ada: link
* Foto raja-raja di Papua dulu: link
* Foto situs kuno di Papua: link
* Foto suku suku Papua: link


KERAJAAN WAIGEO

Sejarah kerajaan Waigeo

Pusat kekuasaannya kerajaan Waigeo adalah di Wewayai, pulau Waigeo.
Penguasa kerajaan Waigeo (sejak abad ke-16 bawahan Ternate): Gandżun (1900-1918).

Sejarah berdirinya kerajaan Waigeo tidak lepas dari kisah sejarah Kepulauan Raja Ampat.
Menurut cerita rakyat yang beredar, dahulu kala ada seorang wanita yang menemukan tujuh buah telur yang kemudian dia simpan. Di antara tujuh telur tersebut, empat telur menetas menjadi anak laki-laki dan satu telur menetas menjadi anak perempuan, sedangkan dua lainnya berubah menjadi hantu dan batu. Kelima anak tersebut memakai pakaian halus yang konon menjadi ciri khas keturunan raja. Masing-masing dari mereka diberi nama War, Betani, Mohamad, Dohar, dan Pintolee (perempuan).
Setelah dewasa, keempat pangeran tersebut berpisah dan mendirikan kerajaan masing-masing.

Kepala kampung di sebuah desa di pulau Waigeoe, Papua. Lukisan cat air yang dibuat pada waktu Expedisi Belanda ke Papua tahun 1887. Sumber: Indonesia Timur Tempo Dulu, FB

War menjadi Raja di Waigeo, Betani menjadi Raja di Salawati, Dohar menjadi Raja di Misool, dan Mohamad menjadi Raja di Waigama. Sedangkan sang Putri, Pintolee diketahui sedang hamil dan diletakkan dalam kulit Bia (kerang besar) oleh keempat kakaknya dan dihanyutkan hingga terdampar di pulau Numfor.

Satu telur lagi yang berubah menjadi batu diberi nama Kapatnai dan diperlakukan sebagaimana Raja. Batu tersebut disemayamkan di sebuah tempat khusus dan disandingkan dengan dua batu lain yang dianggap sebagai pengawalnya. Hingga kini, batu tersebut menjadi tempat pemujaan masyarakat suku Kawe dan dimandikan setiap satu tahun untuk menghormatinya.

Penguasa kerajaan Waigeo yang paling sering disebut dalam sejarah adalah Gandzun yang berkuasa pada tahun 1900 – 1918. Sangat sedikit sumber yang membahas tentang politik di kerajaan ini karena kerajaan Waigeo masuk dalam wilayah kekuasaan Bacan dari kesultanan Maluku, maka sistem pemerintahan yang berlaku adalah tunduk kepada Bacan.

Penyebab runtuhnya kerajaan Waigeo dipengaruhi oleh beberapa peristiwa dan konflik. Yang pertama adalah masuknya Belanda ke wilayah Papua pada abad ke-17, pada saat itu Belanda ingin menguasai Papua karena kekayaan alamnya yang melimpah sehingga terjadi perlawanan sengit terutama di Papua barat.
Menurut catatan sejarah, konflik tersebut baru berakhir setelah terjadinya peristiwa Trikora.
Untuk mengusir Belanda, Indonesia mendapatkan bantuan dengan mengerahkan sepuluh kapal tempur dan kapal perang tercanggih milik Uni Soviet.
Sebab yang kedua adalah adanya konflik agama, walaupun nenek moyang agama Islam telah terlebih dulu masuk ke Papua, namun dengan adanya pembunuhan dimana-mana, umat islam terpaksa mengikuti ajaran Nasrani. Paham misionaris dari katolik dan protestan juga telah masuk ke wilayah ini.

Perlahan, tokoh-tokoh Islam mulai kembali menyebarkan ajaran Islam di tanah Papua terutama di wilayah pesisir pantai. Selain itu, sering terjadi pertentangan antara ajaran agama Islam dengan adat yang berlaku di masyarakat setempat.



Daftar Raja Waigeo

* Gandżun (1900-1918)

Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Papua_Barat_%28wilayah%29


Fort Belanda, du Bus

Fort Du Bus merupakan benteng pertama yang dibangun pemerintah kolonial Hindia Belanda pada tanggal 24 Agustus 1828, yang terletak di Teluk Triton di pantai barat daya Nugini (sekarang di Kabupaten Kaimana, Papua Barat, Indonesia). Awalnya benteng ini didirikan untuk menghambat gangguan dari pasukan kolonial Inggris dari selatan (Australia). Selanjutnya benteng ini menandai dimulainya secara fisik/teknis kehadiran kekuasaan kolonial Belanda di Papua, meskipun daerah tersebut sudah sejak tahun 1823 dianggap oleh pemerintah Belanda sebagai bagian dari tanah jajahan (koloni) Belanda di Kepulauan Nusantara.

Léonard Pierre Joseph du Bus de Gisignies (Gubernur Jenderal Hindia Belanda sejak 4 Februari 1826 sampai dengan 16 Januari 1830).
Nama benteng ini diambil dari nama Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang berkuasa saat itu, L.P.J. Burggraaf du Bus de Gisignies.

Fort Belanda, du Bus tahun 1828


DAFTAR DAN SEJARAH KERAJAAN-KERAJAAN DI PAPUA

Untuk daftar kerajaan-kerajaan di Papua Barat, sejarah kerajaan-kerajaan di Fak Fak dan sejarah kerajaan-kerajaan di Raja Empat, klik di sini

Papua, 1620 M

Papua, 1620 M


Sumber kerajaan-kerajaan di Papua

Sejarah kerajaan2 Papua Barat: https://id.wikipedia.org/
– Sejarah kerajaan2 di Semenanjung Onin: https://id.wikipedia.org/wiki/Semenanjung_Onin
– Sejarah kerajaan2 di Papua Barat: http://marlinapuspita3.blogspot.co.id/
– Kerajaan2 di Semenanjung Bomberai: https://id.wikipedia.org/
Kerajaan2 di kepulauan Raja empat: https://id.wikipedia.org/


Peta-peta kuno Papua

Untuk peta-peta kuno Papua tahun 1493, 1600, 1699, 1700-an, 1740, 1857 1857, klik di sini

Peta tahun 1493


Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: