Sejarah lengkap Kerajaan Pinohu (Pinogu)

Sumber: https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/?newdetail&detailCatat=1951

 ————————————–

Kerajaan Pinohu menurut sejarah Gorontalo, didirikan pada abad XV. Seorang raja yang berasal dari Bone Sulawesi Selatan yang bernama Wadipalapa mendirikan kerajaan dan memerintah sampai pada tahun 1481. Kedatangannya ke daratan Pinohu menyusuri sebuah sungai sehingga akhirnya tiba pada suatu daratan yang telah mempunyai penduduk. Sebagai peringantan kedatangannya ke daratan itu, Wadipalapa menamakan sungai itu sungai Bone. Kerajaan Bone terkenal sebagai suatu kerajaan yang makmur dan damai. Raja Wadipalapa sangat disegani dan dihormati, karena sifat dan wataknya mengayomi segi kehidupan rakyatnya. Raja ini sangat bijaksana, penggalang persatuan dan kesatuan masyarakat. Beliau lebih banyak mementingkan kepentingan umum daripada kepentingannya pribadi. Kebijaksanaan dan keluhuran budi Raja Wadipalapa membuat rakyat sangat menyintainya.
Keramahtamahannya dan kebebasan bergaulnya dengan rakyat, membuat rakyat menemuinya dimana saja raja itu berada. Oleh sebab itu, Raja Wadipalapa digelari ?Ta Ilahudu? yaitu yang didatangi rakyat. Sesuai asalnya dari arah matahari terbit, maka sebagian rakyat juga memberikan gelar ?Te Matolodula? artinya mata dari matahari. Ketika raja ini mangkat, kerajaan Pinohu berubah namanya menjadi kerajaan Tuwawa (Suwawa), dan akhirnya pada tahun 1481 berubah lagi menjadi kerajaan Bune (Bone).
Pada tahun 1585, muncul salah seorang keturunan Raja Wadipalapa memerintah kerajaan Bune. Masyarakat pada waktu itu menghendaki pemerintahan yang baik dan teratur, serta keamanan yang dapat menjamin kehidupan penduduk. Rupanya dibawah pimpinan Raja Wadipalapa yang baru ini, membawa suasana perubahan seperti kerajaan Pinohu dahulu. Raja Wadipalapa yang baru mencerminkan sifat Raja Wadipalapa yang lama. Oleh sebab itu, rakyat menggelari Raja Wadipalapa yang baru dengan nama Raja Wadipalapa II, sedangkan yang lama Raja Wadipalapa I.
Sesuai asal mereka, maka gelar adat Raja Wadipalapa I digelari Mato Lo Dula Daa, sedangkan Raja Wadipalapa II digelari Mato Lo Dula Kiki. Pemerintahan Raja Wadipalapa II sangat berpengaruh pada kerajaan-kerajaan sekitarnya. Pada masa pemerintahannya terjadi perubahan alam. Air laut semakin hari semakin surut, daratan telah mulai lebar dan luas. Dibandingkan dengan keadaan alam di Bune atau Pinohu, maka dataran ini mudah digarap untuk dijadikan lahan pertanian. Alam Bune penuh dengan hutan lebat, gunung-gunung masih sukar diterobos oleh alat pertanian yang tradisional. Tetapi dataran yang terjadi karena air yang telah surut, hutan yang ada hanyalah semak belukar, dan masih mudah ditebang dengan parang.
Hal inilah yang menjadi pokok pemikiran Raja Wadipalapa II. Suatu saat Raja Wadipalapa menghimpun tokoh-tokoh Kerajaan Bune untuk bermusyawarah, mengungkapkan gagasannya. Beliau bermaksud untuk memperluas kerajaan Bune, tetapi bukan dengan berperang melainkan dengan berusaha dan berjuang, karena menurut beliau musuh yang paling utama adalah kelaparan dan kemiskinan. Kemudian Raja Wadipalapa membagi rakyatnya menjadi dua rombongan, jalur utara dan jalur selatan.
Raja Wadipalapa menyuruh rakyatnya untuk menyebar dan bermukim ditempat dimana beliau menyuruh mereka pergi. Jalur utara, dari Suwawa, Wonggaditi terus ke Huntu Lo Bohu dan pimpinannya adalah Hemuto. Sedangkan jalur selatan dari Potanga, Dembe I, terus ke Panipi dan pimpinannya adalah Naha. Raja Wadipalapa berpesan untuk menjalin kehidupan yang rukun dan penuh rasa damai, menghindari permusuhan, dan segala sesuatu lakukanlah dengan cara musyawarah. Setelah lengkap semua perbekalan dan perlengkapan, berangkatlah iring-iringan rombongan dibawah pimpinan kedua tokoh rakyat itu yaitu Hemuto dan Naha. Setiap dataran yang dilalui oleh rakyat pengungsi dari kerajaan Bune dan memungkinkan untuk bertani, maka sebagian dari rombongan itu bermukim di situ.
Rombongan Naha tiba di dataran Dembe I, sedangkan beberapa orang anggota bersama keluarga telah tertinggal di tempat yang lain. Naha terus bergerak ke arah benteng, tetapi tiba-tiba anaknya, Pahu, memotong kesunyian mereka, ? Sebaiknya kita menunda dahulu perjalanan ke bukit dimana benteng itu berada Pak!?, ? Kau jangan menghalangi perjalananku ke bukit itu! Kalau kau takut dan khawatir, lebih baik tinggal saja kau di gubuk bersama ibumu,? jawab ayahnya, Naha. ? Benar juga kata anak kita Pak, jangan-jangan benteng itu ada penghuninya, kata penduduk disini banyak hantu. Sebab setiap malam kelihatan dua orang puteri duduk-duduk diatas benteng itu sambil berdendang Lohidu,? kata istrinya, Ohihiya. Tetapi, Naha tetap bersikeras melanjutkan perjalanannya, karena menurutnya hantu bisa diatasi, hanya saja serangan binatang buas yang membutuhkan banyak orang dan senjata yang cukup ampuh.
Naha dengan segala kemampuannya akhirnya bisa mempengaruhi anaknya beserta seluruh rakyat untuk bersiap berangkat keesokan harinya sebelum fajar menyingsing. Ketika mereka tiba di benteng itu, matahari sudah terik, tapi tak dihiraukan oleh mereka. Semak belukar yang menuju pintu masuk mulai dibersihkan. Didapati mereka bahwa ketiga benteng itu kosong, hanya terdapat beberapa rongsokan senjata, pedang yang berkarat, dan pecahan-pecahan botol. Naha kemudian membagi ketiga benteng itu memiliki fungsi masing-masing. Benteng induk dijadikan tempat bermusyawarah dan pusat pertahanan, benteng kedua menjadi tempat tinggal istrinya, Ohihiya, sedangkan benteng ketiga menjadi milik anaknya, Pahu. Bertahun-tahun Naha membina dataran ini menjadi dataran yang subur, penduduk semakin hari semakin bertambah.
Namun Naha ingin memperluas wilayahnya, dengan jalan mengajak Hemuto bersama rakyatnya untuk bersatu dibawah kekuasaannya. Pada jalur utara, Hemutopun sibuk mengatur pengikutnya dangan memilih dataran yang baik untuk tempat pemukiman, dan tanah garapan pertanian. Untuk keamanan kampung, Hemutopun mendirikan cabang-cabang ilmu beladiri. Peminat kelompok ilmu beladiri ini bukan saja dari pengikutnya, tetapi juga ada yang datang dari kampung-kampung tetangga sekitarnya. Selain itu, peternakan ayam dan kambing digiatkan. Hemuto sangat memperhatikan rakyat. Dalam beberapa tahun, dua dataran yang tak berpenghuni kini telah menghijau dengan tanaman bahan makanan.