Ngali, kerajaan / P. Sumbawa – Prov. Nusa Tenggara Barat

Kerajaan Ngali terletak di pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, dekat Labuhan Kures, Lape. Kerajaan Ngali diperkirakan berdiri pada abad ke 5 M.

The kingdom of Ngali was located on the island of Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, near Labuhan Kures, Lape. This kingdom already existed in the 5th century.
For english, click here

Lokasi pulau Sumbawa

———————
Lokasi Labuan Kuris di P. Sumbawa


Foto kerajaan-kerajaan di P. Sumbawa

* Foto raja-raja dulu di P. Sumbawa: link
* Foto raja-raja yang masih ada di P. Sumbawa: link
* Foto istana di P. Sumbawa: link

* Foto situs kuno di P. Sumbawa: link


* Video sejarah Sumbawa dan NTB, 40.000 SM – sekarang: link


* Garis kerajaan-kerajaan di Sumbawa: link


KERAJAAN  NGALI

Sejarah kerajaan Ngali

Pada abad ke-14 dan ke-15, di Sumbawa terdapat sekitar 8 buah kerajaan besar dengan masing-masing memiliki kerajaan satelit, yaitu ;

1) Kerajaan Utan Kadali di Utan,
2) Kerajaan Seran di Seteluk, KSB,
3) Kerajaan Taliwang, di KSB,
4) Kerajaan Jereweh di KSB,
5) Kerajaan Ngali, di Lape,
6) Kerajaan Sampar Samulan di Moyo Hulu.
7) Kerajaan Gunung Galesa, di Olat Po Moyo Hilir,
8) Kerajaan Gunung Setia di Sumbawa.

Dari kedelapan kerajaan ini, 5 diantaranya merupakan kerajaan tertua yaitu Kerajaan Ngali, Utan Kadali, Sampar Samulan, Seran, dan Taliwang. Kerajaan Ngali diperkirakan berdiri pada abad ke 5 M. Kerajaan ini merupakan kerajaan paling tua dan terbesar di Sumbawa pada saat itu dengan wilayah kekuasaan mencakup wilayah Sumbawa Timur dan sebagian Sumbawa Selatan. Kerajaan satelit yang termasuk dalam wilayah kekuasaan Ngali adalah:

1) Kedatuan Tangko di Empang (sebelum dikuasai oleh Dompu),
2) Kedatuan Kolong di Brang Kolong,
3) Kedatuan Dongan di Lape,
4) Negeri Tepal di Tepal,
5) Kedatuan Petonang di Ropang,
6) Kedatuan Selesek di Selesek, dan
7) Kedatuan Mento di Lantung.

Reruntuhan Kerajaan Ngali masih dapat ditemukan di Olat Maja yang merupakan pusat kekuasaan kerajaan ini dalam bentuk benteng dan beberapa buah mesjid. Ibu kota kerajaan ini hancur ketika meletusnya Gunung Tambora tahun 1815. Sebagian masyarakatnya pindah ke Ngali Bima dan membentuk komunitas baru di daerah itu, sebagian kecil menyebar ke Lombok, Jawa (Malang), sedangkan keturunan Raja Ngali mengungsi ke Unter Tanar Selante.
Sumber: https://ihinsolihin.wordpress.com/2014/01/09/lima-kerajaan-tertua-dan-terbesar-di-sumbawa/comment-page-1/

Secara khusus masyarakat di Kabupaten ini tidak didominasi oleh satu suku, melainkan terdiri dari berbagai macam suku. Dalam perjalanan sejarah sangatlah sulit melacak penduduk aslinya, sebab penduduk di Sumbawa ini berasal dari berbagai daerah. Tana Samawa yang pada saat itu konon sangat terbuka dan memiliki berbagai kekayaan, mendorong adanya perpindahan penduduk dari berbagai daerah. Perkiraan adanya perpindahan penduduk ini berlangsung jauh sebelum zaman kerajaan Sriwijaya, dilakukan oleh para pedagang, nelayan, petani, kiyai, dan sebagainya yang berasal dari berbagai daerah, yaitu: semenanjung Melayu, Aceh, Minang, Banten, Banjar, Jawa, dan Sulawesi. Hal ini terbukti dengan banyaknya jumlah pelabuhan yang sampai saat ini ada di sepanjang pesisir Sumbawa. Sampai pada suatu saat ditemukan berbagai kerajaan yang pernah ada di Kabupaten ini, diantaranya Ngali.

 Peta lokasi kerajaan-kerajaan di pulau Sumbawa


Sejarah singkat kerajaan-kerajaan di pulau Sumbawa

Abad ke-13: kerajaan2 kecil yang merupakan permulaan sejarah Samawa (Sumbawa), kerajaan2 kecil tersebut sudah ada sekitar abad ke-13 masehi oleh kerajaan2 hindu pengaruh dari majapahit. Kerajaan2 kecil di Tana Samawa adalah:

Kerajaan Gunung Setia di Sumbawa
Kerajaan Ai Renung di Batu Tering, Moyo Hulu
Kerajaan Dewa Mas Kuning di selesek, Ropang
– Kerajaan Dewa Awan Kuning di Sampar Semulan
Kerajaan Perumpak dekat pernek
Kerajaan Gunung Galesa di Moyo Hilir
Kerajaan Tangko di Empang
– Kerajaan Kolong di Plampang
– Kerajaan Alas di Alas
Kerajaan Seran di Seteluk
Kerajaan Taliwang di Taliwang
Kerajaan Jereweh di Jereweh

Kerajaan2 kecil di Tana Samawa di persatukan menjadi satu kerajaan pada tahun 1623, pada masa pemerintahan Raja Goa I Mangarangi Daeng Manrabia, Sultan Alauddin TU Menanga RI Gaukanna.

Abad ke 14 dan 15: di Sumbawa terdapat sekitar 8 buah kerajaan besar dengan masing-masing memiliki kerajaan satelit, yaitu:

1) Kerajaan Utan Kadali di Utan,
2) Kerajaan Seran di Seteluk, KSB,
3) Kerajaan Taliwang, di KSB,
4) Kerajaan Jereweh di KSB,
5) Kerajaan Ngali, di Lape,
6) Kerajaan Sampar Samulan di Moyo Hulu.
7) Kerajaan Gunung Galesa, di Olat Po Moyo Hilir,
8) Kerajaan Gunung Setia di Sumbawa.

Dari kedelapan kerajaan yang disebut di atas, 5 (lima) diantaranya merupakan kerajaan tertua, yaitu:
Kerajaan Ngali,
Kerajaan Utan Kadali,
Kerajaan Sampar Samulan,
Kerajaan Seran, dan
Kerajaan Taliwang.
Kerajaan Ngali diperkirakan berdiri pada abad ke-5 M. Kerajaan ini merupakan kerajaan paling tua dan terbesar di Sumbawa pada saat itu dengan wilayah kekuasaan mencakup wilayah Sumbawa Timur dan sebagian Sumbawa Selatan.

Nagarakretagama abad ke-14 menyebutkan beberapa kerajaan yang berada di Sumbawa: Dompu, Bima, Sape dan Sang Hyang Api. Empat kerajaan kecil di Sumbawa barat merupakan ketergantungan kekaisaran Majapahit di Jawa Timur. Karena sumber daya alam, Sumbawa sering diserang oleh kekuatan luar – dari Jawa, Bali, Makassar, Belanda dan Jepang.

Kelahiran Dompu sebagai cikal bakal kerajaan telah dimulai sejak abad ke-7 yaitu pada zaman Sriwijaya. Menjadi kesultanan tahun 1545.
Kerajaan Bima abad ke14 – ke15 adalah salah satu wilayah di bawah kekuasaan Majapahit. Kesultanan Bima didirikan tahun 1640.
Kerajaan Sumbawa sudah ada abad ke-14. Kerajaan ini menjadi kesultanan tahun ca 1650.

Belanda pertama kali tiba di Sumbawa pada tahun 1605, namun tidak secara efektif memerintah Sumbawa sampai awal abad ke-20.

Kerajaan Gelgel  di Bali memerintah Sumbawa barat untuk waktu yang singkat juga. Bagian timur pulau itu juga merupakan rumah bagi kesultanan Bima, sebuah pemerintahan Islam yang memiliki hubungan dengan orang Bugis dan Makasar di Sulawesi Selatan, serta kepolisian Melayu-Islam lainnya di nusantara.

Bukti sejarah menunjukkan bahwa orang-orang di pulau Sumbawa dikenal di Hindia Belanda karena madu, kuda, kayu sappan mereka untuk memproduksi pewarna merah, dan kayu cendana digunakan untuk dupa dan obat-obatan. Kawasan itu dianggap sangat produktif secara pertanian.
Pada abad ke-18, Belanda mengenalkan perkebunan kopi di lereng barat Gunung Tambora, sebuah gunung berapi di sisi utara Sumbawa, sehingga menciptakan varian kopi Tambora.
Letusan kolosal Tambora pada tahun 1815 adalah salah satu yang paling kuat sepanjang masa, mendepak 150 kilometer kubik  abu dan puing ke atmosfer. Letusan tersebut menewaskan hingga 71.000 orang dan memicu periode pendinginan global yang dikenal sebagai “Tahun Tanpa Musim Panas” pada tahun 1816. Ini juga tampaknya menghancurkan budaya kecil afinitas Asia Tenggara, yang dikenal oleh para arkeolog sebagai “budaya Tambora”. Akibat letusan Gunung Tambora 3 kerjaan di Sumbawa dihancur: kerajaan Sanggar, kerajaan Tambora dan kerajaan Pekat.


Peta kuno pulau Sumbawa (Cambaua)

Klik di sini untuk peta pulau Sumbawa tahun 1598, 1606 Sumbawa / Nusantara, 1614, 1615, 1697 Sumbawa / Nusantara 1800-an, 1856, 1856, 1910.

Pulau Sumbawa 1615


Sumber Ngali

– Tentang kerajaan Ngali: https://ihinsolihin.wordpress.com/2014/01/09/lima-kerajaan-tertua-dan-terbesar-di-sumbawa/comment-page-1/
– Tentang kerajaan Ngali: http://pepenk26.blogspot.nl/2011/12/catatan-dari-sumbawa.html

Sumber sejarah pulau Sumbawa

– Sejarah pulau Sumbawa: https://ihinsolihin.wordpress.com/artikel/sejarah-raja-pemerintahan-di-sumbawa/
– Sejarah pulau Sumbawa: http://sejarahini.blogspot.co.id/2013/06/sejarah-singkat-pulau-sumbawa.html
– Sejarah pulau Sumbawa: http://www.galeribudaya.com/2017/10/sejarah-pulau-sumbawa.html
– Sejarah pulau Sumbawa: http://lsotour.blogspot.co.id/2012/01/sejarah-singkat-sumbawa.html


Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: