Sanrabone, kerajaan / Prov. Sulawesi Selatan – kab. Takalar

Kerajaan Sanrabone adalah kerajaan kecil Suku Bugis; terletak di Sulawesi, Kab. Takalar, prov. Sulawesi Selatan. Kerajaan ini sudah ada abad ke-16.

The kingdom of Sanrabone is a kingdom of the Bugis People; located on Sulawesi, in the district of Takalar. South Sulawesi. This kingdom already existed in the 16th century.
For english, click here

Lokasi kabupaten Takalar


* Foto foto kerajaan Sanrabone: di bawah


Garis kerajaan-kerajaan di Sulawesi: link


Foto kerajaan-kerajaan di Sulawesi

* Foto sultan dan raja yang masih ada di Sulawesi: link
* Foto sultan dan raja di Sulawesi dulu: link
* Foto situs kuno di Sulawesi: link


Video sejarah kerajaan-kerajaan di Sulawesi

– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi, 40.000 SM – 2018: link
– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi Selatan, 1M – 2020: link
– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi Tenggara, 50.000 SM – 2020: link
– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi Utara, 4000 SM – sekarang: link


KERAJAAN SANRABONE

Raja sekarang

Raja kerajaan Sanrabone: Karaeng Haji Ali Mallongbasi. Dilantik 25-7-2008.


Sejarah kerajaan Sanrabone

Kerajaan Sanrobone didirikan Karaeng Panca Belong atau yang juga dikenal dengan Karampang Cambelong. Seperti yang tertulis dalam sebuah catatan bertajuk Lontara Patturioloanga ri Sanrobone, Karaeng Panca Belong merupakan orang pertama yang menjadikan daerah Sanrobone sebagai daerah pemukiman.
Kerajaan ini awalnya merupakan kerajaan yang berdiri sendiri, hingga kemudian menjadi kerajaan Palili. Kerjaan Palili sendiri merupakan sebutan untuk kerajaan yang menjadi pengikut dari kerajaan Gowa.

Kiri: Karaeng Sanrabone, Tengah: Karaeng Laikang. Foto 2017


Daftar Urutan Kronologi Raja-raja yang pernah memerintah di Sanrabone (Karaeng Sanrabone)

1) Pancabilluka, seorang laki-laki yang berasal dari kayangan yang turun ke bumi, yang kemudian memerintah Sanrobone.
2) Tunijalloka Ri Parangna.
3) 1565: Karaeng Massawaya, gugur bersama Raja Gowa ke-11 Tunibatta, pada waktu kedua raja ini menyerang Bone.
4) Tunibosara.
5) Tumenanga Ri Paralakenna
6) I Panusurang DG. Manassa Tuenanga Ri Campagana, saudara ipar dari Raja Gowa ke-14 Sultan Alauddin.
7) Karaenga I Pucu.
8) Sanra Karaeng Banyuara “I Tanije’Ne”, ayah-mertua dari Raja Gowa ke-16 Sultan Hasanuddin.
9) 1667 -1709: I Mappadulung DG. Mattimung Karaeng Campagaya – Sultan Abdul Jalil, yang kemudian menjadi Raja Gowa ke-19.
10) 1709 -1710: Raja-Putri Yatatojeng Karaeng Bontomajannang, adik dari Raja Sanrobone ke-9.
11) 1710 – 1725 Pakanna Karaeng Pangkajene, putra dari suami istri Raja Bima Mbelu dan karaeng Bontoje’ne.
12) Tumenanga Ri Masigina, Putra dari raja Sanrobone ke-11.
13) Tumenanga Ri Sanrabone, Putra dari raja Sanrobone ke-12.
14) Tumenanga Ri Parasanganna, Putra dari raja Sanrobone ke-13.
15) Tumenanga Ri Lagaruda, mangkat tahun 1838. Mempermaisurikan karaeng Lempangang tidak beranak. Dari istri lain yang bernama SAJIA melahirkan 2 (dua) orang putri, I Memang karaeng Bulu-bulu dan karaeng Boddia.
16) La Patau, putra dari suami-istri Karaeng Karuwisi dan Addatuang Sidenreng. Ayahanda La Patau yakni Karaeng Karuwisi bersaudara dengan raja Sanrobone ke-15.
17) Raja-Putri I Memang Karaeng Bulu-Bulu

Sesudah Raja-Putri Sanrobone ke-17 ini, Raja-raja Sanrobone tidak lagi bergelar SOMBA, tapi sebagai Karaeng Sanrobone.

18)  I Bantang DG. Ngilau
19) I Gunturu Datu Lolo
20) 1838 – 1860 I Pamusurang DG. Pabeta
21) 1860 – 1867   I Baso DG. Patombong Karaeng Campagaya, menjelang Perang Gowa Tahun 1905 ditarik ke Gowa oleh Raja Gowa ke-33 Sultan Husain, untuk memegang pasukan melawan Belanda dibawah paji perang(=bate bundu) “Garudaya”.

*1867 – 2008: Interregnum
* 25 Jul 2008: Andi Ali Malongbasang

Setelah perang Gowa berakhir, pemerintah kolonial Belanda, berusaha untuk merehabiliter Sanrobone, dengan mengajak salah satu Karaeng Kaballokang untuk diangkat menjadi Pemimpin yang baru, tapi ajakan ini ditolak. Tindakan selanjutnya, berdasarkan Staatblad 1916 No.352 memecah negeri ini menjadi 11 (sebelas) distrik yang dikoordiner oleh seorang pamongpraja Belanda yang bergelar Controleur/Gezaghebber yang berkedudukan di Takalar. Masing-masing distrik dipimpin oleh seorang Karaeng atau seorang Gallarang dan diberi pangkat Regent, masing-masing:
1. Sanrabone (karaeng) yang mula-mula diangkat adalah bekas pembantu-tetap Karaeng Sanrobone ke-20, yaitu: Yusuf Dg. Maropu, kemudian Baso Dg. Manyengka menyusul I Mallombasi Dg. Kilo.
2. Laikang (karaeng)
3. Lakatong (gallarang)
4. Bangkala (karaeng)
5. Lengkese (gallarang)
6. Topejawa (karaeng)
7. Takalara (karaeng)
8. Pappa (karaeng)
9. Galesong (karaeng)
10. Bontonompo (karaeng)
11. Polongbangkeng (karaeng).


Makam raja Sanrabone

Makam raja-raja Sanrobone dalam bentuk kubah yang disebut “Kobbang”, berdampingan dengan Masjid Raya Baitul Muqqadis salah satu masjid tertua di Sulawesi Selatan.

Makam Raja Sanrobone Pertama, Lokasi : Sanrobone, Takalar.

————————–

Pintu masuk Makam raja-raja Sanrobone


Benteng Sanrobone

Benteng Sanrobone lahir pada abad ke-15 dari buah tangan Raja Sanrobone I, Karaeng Dampang Panca Belong. Benteng ini mulai dibangun pada tahun 1515 atas perintah Raja Gowa Tumapa’risi Kallonna dan rampung pada tahun 1520.
Benteng ini runtuh bersama dengan benteng somba opu dan beberapa benteng lain yang diratakan dengan tanah oleh Cornelis Speelman, Jenderal pasukan VOC pada perang Makassar (Oktober 1666-12 Juni 1669). Total di wilayah kekuasaan Kerajaan Gowa-Tallo ada 14 benteng. Kini hanya tersisa satu benteng yang masih utuh yakni Benteng Pannyua atau Fort Rotterdam.
Lokasi : Desa Sanrobone, Kecamatan Sanrobone, Kabupaten Takalar.
– Sumber: nurkasim49.blogspot.co.id/2011/12/ii.html

Benteng Sanrobone, dibangun pada tahun 1515-1520. Luas Benteng Sanrobone 25.54 Ha dengan ukuran sisi barat sepanjang 573 m, sisi selatan 529 m, sisi timur 748 m dan sisi utara 332 m. Benteng ini terbuat dari batu bata dan berbentuk perahu dengan panjang sekitar 3,7 km dan mempunyai 7 pintu yaitu 4 pintu besar searah dengan mata angin dan 3 pintu kecil. Foto 19 Pebruari 2012. Nampak di ujung benteng, sebuah pohon besar yang disebut


Peta-peta Sulawesi masa dulu

Untuk peta peta kuno (1606, 1633, 1683, 1700, 1757, 1872, abad ke-19): klik di sini

Peta Sulawesi dan Maluku, tahun 1683


Sumber / Source

Kurang info ada di internet tentang Sanrabone.

– Daftar Raja Sanrabone: http://gowa-negeri1001cerita.blogspot.com/2014/04/raja-raja-sanrobone.html
Sejarah Sanrabone: http://www.indonesiatravelingguide.com/sulawesi-dynasties/sanrabone-karaeng-haji-ali-mallongbasi/

– Info Raja (2008): link


Ke-2 dari kiri: Karaeng Sanrabone ke-38: Karaeng Andi Ali Malongbasang, dilantik 25-7-2008

Picture 2nd from l the on 25-7-2008 installed 38th raja, or Karaeng of Sanrabone - Karaeng Andi Ali Malongbasang.

—————————————
Maulid di Sanrabone. Deklarasi yang ditandatangani oleh empat raja kerajaan di Kabupaten Takalar. 2015

Berdiri paling kiri: Raja Sanrabone. Sumber: www.kompasiana.com/masennang-masagena/maulid-di-kerajaan-…

Maulid di Sanrabone. Deklarasi yang ditandatangani oleh empat raja kerajaan di Kabupaten Takalar. Sumber: www.kompasiana.com/masennang-masagena/maulid-di-kerajaan-... Kerajaan Sanrabone: sultansinindonesieblog.wordpress.com/sulawesi/raja-of-san...


Peta Sulawesi Selatan (incl. Takalar) tahun 1909


Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: