Serdang, kesultanan / Prov. Sumatera Utara – kab. Deli Serdang

ﻛﺴﻠﺘﺎﻧﻦ سردڠ

.
Kesultanan Serdang, 1723–1946.
Terletak di Sumatera, Kab. Deli Serdang, prov. Sumatera Utara.
Kesultanan Serdang berdiri tahun 1723 dan bergabung dengan Republik Indonesia tahun 1946. Kesultanan ini berpisah dari Deli setelah sengketa tahta kerajaan pada tahun 1720.

The Sultanate of Serdang, 1723–1946. Located in the district of Deli Serdang. North Sumatera province.
For english, click here

Kab. Deli Serdang


* Foto kesultanan Serdang: link
* Foto Replika Istana kesultanan: link
Foto Istana Bogok, Rantau Panjang, Pantai Labu, 1728-1869: link
*
Foto Istana “Darul Arif Kota Galuh”, (1896-1946) : link


Garis kerajaan-kerajaan di Sumatera: link


Foto kerajaan-kerajaan di Sumatera

* Foto sultan dan raja yang masih ada di Sumatera: link
* Foto sultan dan raja di Sumatera dulu: link


Video sejarah kerajaan / kesultanan di Sumatera

* Video sejarah kerajaan di Sumatera, 75.000 SM – sekarang: link
* Video sejarah kerajaan di Sumatera Utara, 0 M – sekarang: link
*
Video sejarah kerajaan di Sumatera Barat, 0 M – sekarang, link


KESULTANAN  SERDANG

Tentang Raja 
Sejarah kesultanan
Wilayah kesultanan Serdang
Daftar Raja
Istana
Sumber / Source


Tentang Raja

13 januari 2011
Setelah Tuanku Lukman Sinar Basarsyah II wafat, diangkatlah Timbalan Kepala Adat Sri Mahkota Serdang Tuanku Achmad Thala’a Sinar Syariful Alamsyah meneruskan sebagai Pemangku Adat / Sultan Serdang IX.

13 januari 2011
Sultan H.H. Paduka Sri Sultan Tuanku Lukman Sinar Bashar Shah II (dilantik 2001) meninggal januari 2011 karena sakit.

Sejak 13 januari 2011: Sultan Serdang IX: Sri Mahkota Serdang Tuanku Achmad Thala’a Sinar Syariful Alamsyah

———————–

Januari 2011: Sultan Tuanku Lukman Sinar Bashar Shah II (dilantik 2001) meninggal


Sejarah kesultanan Serdang, 1723–1946

Kesultanan Serdang berdiri tahun 1723 dan bergabung dengan Republik Indonesia tahun 1946. Kesultanan ini berpisah dari Deli setelah sengketa tahta kerajaan pada tahun 1720.

Serdang ditaklukkan tentara Hindia Belanda pada tahun 1865. Berdasarkan perjanjian yang ditandatangani tahun 1907, Serdang mengakui kedaulatan Belanda, dan tidak berhak melakukan hubungan luar negeri dengan negara lain. Dalam peristiwa revolusi sosial di Sumatera Timur tahun 1946, Sultan Serdang saat itu menyerahkan kekuasaannya pada aparat Republik.

Menurut riwayat, seorang Laksamana diangkat menjadi raja di Deli pada tahun 1630. Dengan peristiwa itu, kerajaan Deli telah resmi berdiri, dan Laksamana menjadi raja Deli pertama.

Dalam perkembangannya, pada tahun 1723 terjadi kemelut ketika Tuanku Panglima Paderap, Raja Deli ke-3 mangkat. Kemelut ini terjadi karena putera tertua raja yang seharusnya menggantikannya memiliki cacat di matanya, sehingga tidak bisa menjadi raja. Putera nomor 2, Tuanku Pasutan yang sangat berambisi menjadi raja kemudian mengambil alih tahta dan mengusir adiknya, Tuanku Umar bersama ibundanya Permaisuri Tuanku Puan Sampali ke wilayah Serdang.

Menurut adat Melayu, sebenarnya Tuanku Umar yang seharusnya menggantikan ayahnya menjadi Raja Deli, karena ia putera garaha (permaisuri), sementara Tuanku Pasutan hanya dari selir. Tetapi, karena masih di bawah umur, Tuanku Umar akhirnya tersingkir dari Deli. Untuk menghindari agar tidak terjadi perang saudara, maka 2 Orang Besar Deli, yaitu raja Urung Sunggal dan raja Urung Senembal, bersama seorang raja Urung Batak Timur di wilayah Serdang bagian hulu (Tanjong Merawa), dan seorang pembesar dari Aceh (Kejeruan Lumu), lalu merajakan Tuanku Umar sebagai Raja Serdang pertama tahun 1723. Sejak saat itu, berdiri Kerajaan Serdang sebagai pecahan dari Kerajaan Deli.

Sultan Thaf Sinar Basyar Shah

Ketika Sultan Johan Alam Shah mangkat tahun 1817, adik Tuangku Zainal Abidin, yaitu Tuanku Sultan Thaf Sinar Basar Shah (memerintah 1817-1850) diangkat oleh Dewan Orang Besar menjadi raja menggantikan ayahnya. Ketika itu, sebenarnya Tuanku Zainal Abidin, Tengku Besar yang sudah tewas, memiliki putera, namun puteranya ini tidak berhak menjadi raja, sebab, ketika ayahnya meninggal dunia, statusnya masih sebagai Tengku Besar, bukan raja. Jadi, menurut adat Melayu Serdang, keturunan putera tertua tidak otomatis menjadi raja, karena sebab-sebab tertentu.

Dikuasai Belanda dan bergabung dengan Indonesia

Pada tahun 1865, Serdang ditaklukkan oleh Belanda. Selanjutnya, pada tahun 1907, Serdang menandatangani perjanjian dengan Belanda yang melarang Serdang berhubungan dengan negeri luar. Setelah bertahun-tahun dalam pengaruh Belanda, akhirnya, pada tahun 1946, pada masa pemerintahan Sultan Sulaiman Syariful Alamshah, Serdang bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sumber Wiki: link

Peta lokasi kesultanan Serdang tahun 1930


Wilayah kesultanan Serdang

* Wilayah Kesultanan Serdang dibatasi oleh kesultanan Deli dan kerajaan Bedagai. Dalam tahun 1723-1820, wilayah kesultanan Serdang dibatasi Lubuk Pakam, Batang Kuis dan Percut Sei Tuan di selatan Sungai Ular sampai ke  pantai selatan Selat Malaka dengan melalui Namu Rambe di Hulu.
* Dalam tahun 1820-1860 kesultanan Serdang diperluas dari Pasar Sentral sekarang sampai ke Tanjung Morawa, Perbaungan, Dolok, Sinatar, Padang Bedagai dan Senembah.
* Antara
tahun 1860-1865 wilayah kesultanan Serdang diperluas kembali hingga memasuki wilayah Denai dan Serbajadi. Pada masa Belanda dibuatlah suatu penentuan tapal batas kesultanan yang meliputi: wilayah Serdang Asli, Perbaungan, Sinembah Tanjung Muda tanpa Patumbak, Batak Timur tanpa Dolok, Ramunia, Batang Kuis, Alas Kabu, Lubuk Pakam, Serbajadi dan Denai.
* Akhirnya pada tahun 1902 sesuai dengan perjanjian batas Negara antara Serdang dengan Belanda, maka ditetapkannlah batas antara Serdang dengan Bedagai itu di Sei Buluh yang sebenarnya adalah selatan dari Teluk Mengkudu.

Daftar Raja

Penguasa

  • 1723-1782 Tuanku Umar Johan Pahlawan Alam Shah bin Tuanku Panglima Paderap (Kejeruan Junjungan), Raja Serdang
  • 1782-1822 Tuanku Ainan Johan Pahlawan Alam Shah ibni al-Marhum Tuanku Umar (Al-Marhum Kacapuri), Raja Serdang.

Sultan

  • 1822-1851 Sultan Thaf Sinar Basyar Shah ibni al-Marhum Tuanku Ainan Johan Pahlawan Alam Shah (Al-Marhum Besar), Sultan dan Yang di-Pertuan Besar Serdang.
  • 1851-1879 Sultan Basyaruddin Syaiful Alam Shah ibni al-Marhum Sultan Thaf Sinar Bashar Shah (Al-Marhum Kota Batu), Sultan dan Yang di-Pertuan Besar Serdang.
  • 1879-1946 Sultan Sulaiman Syariful Alam Shah ibni al-Marhum Sultan Bashar un-din (Al-Marhum Perbaungan), Sultan dan Yang di-Pertuan Besar Serdang.

Kepala Rumah Tangga

  • 1946-1960 Tuanku Rajih Anwar ibni al-Marhum Sultan Sulaiman Shariful Alam Shah, Tengku Putra Mahkota, Kepala Rumah Tangga Istana Serdang.

Sultan

  • 1960-2001 Sri Sultan Tuanku Abu Nawar Sharifullah Alam Shah al-Haj ibni al-Marhum Sultan Sulaiman Shariful Alam Shah, Sultan dan Kepala Rumah Tangga Istana Serdang.
  • 2002-2011 Sri Sultan Tuanku Lukman Sinar Bashar Shah II ibni al-Marhum Sultan Sulaiman Shariful Alam Shah, Sultan dan Kepala Rumah Tangga Istana Serdang.
  • 2011 Sri Sultan Tuanku Achmad Thalaa Shariful Alam Shah ibni al-Marhum Sultan Tuanku Abunawar Shariful Alam, Sultan dan Kepala Rumah Tangga Istana Serdang.

– Sumber / Source:  https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Serdang#Penguasa.2FSultan

serdang


Istana / Palaces

1 – Replika Istana kesultanan Serdang

Istana ini dibakar oleh Belanda karena kerajaan tak mau mendukung mereka di masa penjajahan.
Bangunan replika diprakarsai oleh Sultan Serdang Allahyarham Tuanku Luckman Sinar Basarshah II SH dan diresmikan 7 Januari 2012 untuk mengenang kejayaan masa lampau kerajaan tersebut.
* Sumber: http://www.tribunnews.com/travel/2015/11/07/istana-sultan-serdang-dibuatkan-replikanya-seperti-ini-karena-yang-asli-dibakar-belanda
* Foto Replika Istana kesultanan: link

Replika Istana Sultan Serdang dibangun sama seperti bentuk istana yang asli. Sumber: http://travel.detik.com/readfoto/2015/06/04/135000/2922785/1026/6/mengenang-masa-jaya-kesultanan-serdang-di-sumut#menu_stop

——————————

2 – Istana “Darul Arif Kota Galuh”

1896 – Sultan Sulaiman memindahkan kekuasaannya ke Simpang Tiga, Perbaungan. Dibangunlah Istana Darul Arif Kota Galuh dengan megahnya.
* Foto Istana “Darul Arif Kota Galuh”, (1896-1946): link

——————————

3 – Istana Bogok Sultan Serdang Rantau Panjang, Pantai Labu, Deli Serdang

Istana ini berdiri 1728-1896.
* Foto Istana Bogok, Rantau Panjang, Pantai Labu, 1728-1869: link


Peta kerajaan-kerajaan di Sumatera Utara abad ke-19


Sumber / Source

– Sejarah kesultanan Serdang on Wiki: link
– Sejarah kesultanan Serdang di melayuonline: http://melayuonline.com/ind/history/dig/64/kesultanan-serdang
Sejarah kesultanan Serdang on Kerajaan Nusantara: link
Sejarah lengkap kesultanan Serdang di royalark: link
Sejarah Kesultanan Serdang dan sultan:  http://tembakaudeli.blogspot.co.id/p/serdang.html
Daftar Raja:  https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Serdang#Penguasa.2FSultan
– Tentang istana kesultanan Serdang: http://travel.detik.com/read/2015/04/15/172500/2848696/1025/5/mengenang-masa-kejayaan-kesultanan-serdang-di-sumut


wapen van serdang


2 Comments

2 thoughts on “Serdang, kesultanan / Prov. Sumatera Utara – kab. Deli Serdang

  1. Pingback: Peninggalan Kerajaan Islam di Indonesia – studis2farmasi2a2016kel5

    • Sultans in Indonesia

      KYT,

      Terima kasih atas mail Anda.
      Kami apresiasi kommen !

      Dengan hormat,
      Paul, penerbit website.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: