Hubungan kerajaan Malayapura dan kerajaan Majapahit

Sumber : Gustama, Faisal Ardi. 2017. Buku Babon Kerajaan-Kerajaan Nusantara. Yogyakarta : Brilliant Book

————————————————

Kerajaan Malayapura merupakan kelanjutan dari kerajaan Dharmasraya di Sumatera. Kerajaan ini didirikan oleh Adityawarman di bekas wilayah kerajaan Dharmasraya. Dari bukti sejarah yang ditemukan, ia menjadi penguasa Malayapura Swarnnabhumi atau Kanakamedini pada 1347 dengan gelar Maharajadiraja Srimat Sri Udayadityawarma Pratapaparakrama Rajendra Maulimali Warmadewa. Di kemudian hari ibukota kerajaan yang berada di Dharmasraya dipindahkan ke daerah pedalaman Minangkabau.

Para ahli sejarah memperkirakan Adityawarman dilahirkan dan dibesarkan di kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan Raden Wijaya (1294-1309). Disebutkan bahwa Adityawarman adalah saudara sepupu dari Jayanagara, yang merupakan raja kedua Majapahit, anak dari Raden Wijaya.

Keduanya merupakan keturunan raja Melayu dari kerajaan Dharmasraya. Jayanagara dilahirkan oleh Dara Petak, sedangkan Adityawarman dilahirkan oleh Dara Jingga. Namun ada juga pendapat yang mengatakan bahwa Adityawarman dan Jayanagara adalah saudara seayah, karena Raden Wijaya memperistri Dara Jingga dan Dara Petak.

Terlepas dari adanya perbedaan pendapat mengenai identitas dari ayahnya, Adityawarman memiliki hubungan yang sangat erat dengan perkembangan kerajaan Majapahit. Ketika Jayanagara menjadi raja, Adityawarman menjabat di beberapa posisi penting di kerajaan.

Ia pernah dikirim sebagai duta besar Majapahit untuk wilayah kekaisaran Tiongkok pada 1325 dan 1332. Kemudian pada masa pemerintahan Tribhuwana Tunggadewi, Adityawarman ditunjuk sebagai Wreddhamantri, atau perdana menteri.

Diketahui bahwa Adityawarman adalah salah seorang tokoh penting dalam perjalanan kerajaan Majapahit, bahkan posisinya dianggap lebih tinggi dibandingkan Mahapatih Gadjah Mada.

Pada 1339, Adityawarman dikirim sebagai raja bawahan Majapahit ke wilayah Swarnnabhumi (Sumatera) dalam uapaya penaklukan wilayah di sana. Setelah melakukan serangkaian penaklukan, Adityawarman mendirikan kerajaan baru bernama Malayapura pada 1347 sebagai kelanjutan dari kekuasaan kerajaan Dharmasraya.

Ia menjadi penerus tahta dari pamannya, Srimat Sri Akarendrawarman. Ketika berkuasa, Adityawarman memindahkan ibukota kerajaan ke daerah pedalaman.

Kepindahan ibukota kerajaan tersebut masih menjadi pertanyaan para ahli hingga saat ini. Banyak pendapat yang mengatakan pemindahan itu untuk menghindari serangan yang mungkin akan dilakukan oleh Majapahit.

Sebagaimana diketahui, hubungan antara Adityawarman dengan Majapahit mulai retak setelah ia menjabat sebagai raja di Malayapura. Kemungkinan besar hal itu dilakukan agar Adityawarman dapat terbebas dari pengaruh kerajaan Majapahit.

Selain itu juga ia ingin memiliki kekuasaan yang setara atau lebih besar dari Majapahit, seperti terlihat dari gelar yang ia pakai.

Setelah Adityawarman meninggal dunia, tahta kerajaan Malayapura diberikan kepada putranya, Ananggawarman. Pada masa ini, kerajaan Malayapura mengalami kemunduran. Hal itu disebabkan serangan yang dilakukan oleh kerajaan Majapahit pada 1409 dan 1411 ketika masa pemerintahan Wikramawardhana.

Pertempuran antara Malayapura dan Majapahit terjadi di Padang Sibusuk, dengan kemenangan kerajaan Malayapura. Namun walau berhasil memukul mundur Majapahit, pengaruh kerajaan Malayapura terhadap daerah jajahannya melemah, di mana daerah jajahannya seperti Siak, Kampar, dan Indragiri mulai melepaskan diri. Setelah Ananggawarman tidak ada informasi lebih jelas mengenai siapa yang menjadi raja di Malayapura.