Suku Dondo – prov. Sulawesi Tengah

Orang Dondo berdiam antara lain di Desa Oyom, Kecamatan Baolan,Kabupaten Buol, Toli-Toli, Provinsi Sulawesi Tengah. Pihak Kementerian Sosial masih menggolongkan mereka sebagai “masyarakat terasing”.
Mereka hidup dalam kelompok-kelompok kecil dan kelompok itu tersebar di berbagai tempat yang umumnya di tepi sungai di tengah hutan.

Lokasi kabupaten Buol


Tentang Suku Dondo

Sumber : Ensiklopedi Suku Bangsa Di Indonesia oleh M. Junus Melalatoa

Mata pencaharian utamanya adalah berladang. Ladang itu dikerjakan dengan sistem tebang bakar (slash and burn) dan berpindah-pindah. Di ladang mereka menanam padi dan palawija seperti kacang hijau, kacang tanah, ubi kayu, ubi rambat, cabe, dan lain-lain. Sekarang mereka juga sudah menanam pisang, kelapa, coklat, dan kopi. Mata pencaharian sampingan adalah berburu, menangkap ikan, meramu hasil hutan. Berburu biasa dilakukan perorangan atau dalam kelompok, yakni berburu kijang, babi, dan ayam hutan. Alat berburu adalah tombak, jerat, panah, serta dibantu oleh anjing.

Kehidupan keluarga. Kehidupan satu keluarga dimulai dengan pemilihan jodoh yang terserah kepada sang anak yang kemudian direstui oleh orang tua kedua belah pihak. Seorang dianggap sudah dewasa setelah berusia sekitar 16 tahun dan pernyataan kedewasaan itu ditandai dengan pemotongan atau pengasahan gigi. Adat menetap sesudah nikah rupanya bersifat utrolokal, artinya sepasang penganten bisa memilih tinggal di lingkungan kerabat suami atau di lingkungan kerabat istri. Adat mereka juga membenarkan perkawinan pologini artinya beristri lebih dari satu. Perceraian merupakan hal yang biasa kalau sudah tidak lagi terdapat kecocokan antara suami dan istri. Namun perceraian itu harus diketahui oleh kepala adat (Kapitalau).

Agama. Secara formal mereka umumnya telah memeluk agama Islam atau agama Kristen. Hal ini setelah mereka ada kontak dengan anggota masyarakat kelompok yang ada di sekitar daerah mereka. Namun, mereka pun masih saja belum tuntas meninggalkan kepercayaan nenek moyangnya. Dalam menghadapi kematian mereka pernah mengenal kebiasaan memasukkan mayat ke dalam pohon sagu yang diisi telah dikerok. Penguburan dilakukan di halaman rumah sendiri. Para anggota kerabat tidur di sekitar kuburan itu untuk beberapa waktu lamanya, guna menemani kerabat yang meninggal itu. Peringatan atas kematian itu ada yang berlangsung selama tujuh hari atau lebih bagi yang mampu.


Sumber

– Suku Dondo: http://suku-dunia.blogspot.com/2016/04/sejarah-suku-dondo.html
– Suku Dondo: https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Dondo
– Suku Dondo: http://dunia-kesenian.blogspot.com/2015/11/sejarah-dan-kebudayaan-suku-dondo.html
– Suku Dondo: http://www.adatnusantara.web.id/2017/09/sejarah-dan-kebudayaan-suku-dondo.html


Rumah Adat Dondo