Banawa (Donggala), kerajaan / Prov. Sulawesi Tengah – kab. Donggala

Kerajaan Banawa (Donggala) (1485-1959) terletak di Sulawesi, kabupaten Donggala, prov. Sulawesi Tengah.
Kerajaan ini adalah kerajaan Suku Kaili.
Kerajaan Pudjananti, yang diperkirakan eksis pada abad ke-11 hingga abad ke-15, beralih rupa menjadi Kerajaan Banawa.

The Kingdom of Banawa
is located on Sulawesi, in Kabupaten Donggala, central Sulawesi.
This kingdom was founded in the 2nd half of the 15th century.

For english, click here

Lokasi Banawa di kabupaten Donggala


Foto kerajaan Banawa: link


Garis kerajaan-kerajaan di Sulawesi: link


Foto kerajaan-kerajaan di Sulawesi

* Foto sultan dan raja yang masih ada di Sulawesi: link
* Foto sultan dan raja di Sulawesi dulu: link
* Foto situs kuno di Sulawesi: link


Video sejarah kerajaan-kerajaan di Sulawesi

– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi, 40.000 SM – 2018: link
– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi Selatan, 1M – 2020: link
– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi Tenggara, 50.000 SM – 2020: link
– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi Utara, 4000 SM – sekarang: link


KERAJAAN  BANAWA  (DONGGALA)

1) Tentang Raja

Raja bergelar: Magau.
7 okt. 2014: Dari Banawa Emperor Family Community (FB): Raja Banawa terakhir, Laparenrengi Lamarauna, Raja Banawa ke 13, Beliau sudah wafat.

Raja terakhir Banawa: Laruhana Lamarauna. Raja ke-XII. 1937 – 1947.


2) Sejarah kerajaan Banawa, 1485-1959

Sejarah lengkap kerajaan Banawa: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/sulawesi/raja-of-banawa/sejarah-lengkap-kerajaan-banawa/

Sebelum ditaklukkan oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1904 wilayah Kabupaten Donggala adalah wilayah Pemerintah raja-raja yang berdiri sendiri-sendiri yaitu:
1. Kerajaan Palu
2. Kerajaan Sigi Dolo
3. Kerajaan Kulawi
4. Kerajaan Biromaru
5. Kerajaan Banawa
6. Kerajaan Tawaili
7. Kerajaan Moutong
8. Kerajaan Parigi

Kerajaan Banawa adalah salah satu kerajaan yang terdapat di Sulawesi Tengah. Kerajaan ini sering disebut kerajaan Donggala Banawa karena lahir di wilayah Donggala. Kerajaan yang berdiri pada medio abad ke-15 M ini terlahir berkat andil tokoh legendaris yang berpetualang dari tanah Bugis, yaitu Sawerigading. Sejak pertama kali didirikan, kerajaan ini mampu mempertahankan eksistensinya hingga era pascakemerdekaan Republik Indonesia.

Pendahulu kerajaan Banawa adalah suatu perabadan monarki milik Suku Kaili yang bernama kerajaan Pudjananti atau yang sering juga disebut sebagai kerajaan Banawa Lama. Kerajaan ini diperkirakan masih eksis pada abad ke-11 hingga 13 M, sezaman dengan kerajaan Singasari yang dilanjutkan oleh Majapahit. Diperkirakan, kerajaan Pudjananti mengalami masa kejayaan antara kurun tahun 1220 sampai 1485 M. Kerajaan Pudjananti menjadi salah satu dari tiga kerajaan tua yang terdapat di Sulawesi Tengah, yaitu kerajaan Banggai (Benggawi) dan Sigi.

Kerajaan Banawa resmi berdiri di bawah kepemimpinan seorang ratu, yakni I Badan Tassa Batari Bana yang bertahta sejak tahun 1485 hingga 1552 M.

Penerus kepemimpinan I Badan Tassa Batari Bana juga seorang perempuan, bernama I Tassa Banawa. Ratu ke-2 Kerajaan Banawa ini memerintah sejak tahun 1552 sampai dengan 1650 M. Pada masa pemerintahan I Tassa Banawa, wilayah kekuasaan kerajaan Banawa semakin bertambah luas. Selain itu, kabinet I Tassa Banawa juga berhasil merumuskan tata cara atau sistem pemerintahan dan membentuk Dewan Adat Pittunggota atau semacam lembaga legislatif kerajaan.

Tidak cuma masuknya ajaran Islam saja yang mewarnai dinamika kehidupan kerajaan Banawa pada masa pemerintahan Ratu Intoraya (1650-1698), melainkan juga pengaruh bangsa-bangsa asing yang datang dari Eropa. Portugis adalah wakil dari kaum Barat pertama yang memasuki wilayah ini, kemudian disusul oleh Spanyol dan Belanda lewat kongsi niaganya yakni Vereniging Oost-indische Compagine (VOC). Namun dalam perkembangan selanjutnya, peta kekuatan di kawasan tersebut berada dalam dominasi pengaruh kompeni Belanda.

Memasuki tahun ke-19 pemerintahan Ratu Intoraya, VOC sudah menjalin mitra niaga dengan sejumlah kerajaan di kawasan Sulawesi Tengah, termasuk dengan kerajaan Banawa, dan kerajaan-kerajaan Suku Kaili lainnya seperti kerajaan Tawaeli, Palu, Loli, dan Sigi. VOC mengadakan kontrak penambangan emas dengan masing-masing penguasa kerajaan tersebut.

Raja La Ruhana Lamarauna (1932-1947) menjalankan pemerintahannya dengan waspada dan berhati-hati selama era penjajahan Jepang. Pada masa ini, kerajaan Banawa nyaris tidak memiliki kewenangan dan kekuasaan secara politik lagi dan hanya sekadar menjalani kehidupan sembari menunggu terjadinya perubahan. Harapan itu terwujud ketika pada tanggal 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Raja La Ruhana Lamarauna pun leluasa dapat menjalankan roda pemerintahan kerajaan Banawa hingga tutup usia pada tahun 1947

Pemangku tahta kerajaan Banawa yang selanjutnya adalah putera bungsu Raja La Ruhana Lamarauna, bernama La Parenrengi Lamarauna(1947-1959) . Selain sebagai pemangku tahta, Raja Banawa ke-12 ini juga berkecimpung di ranah perpolitikan nasional dengan merangkap jabatan sebagai Ketua Partai Nasional Indonesia (PNI) yang pertama di Sulawesi Tengah. Suami dari Hajja Sania Tombolotutu ini merupakan raja terakhir kerajaan Banawa dan memungkasi riwayat hidupnya pada tahun 1986. Raja La Ruhana Lamarauna menghembuskan nafas terakhirnya di Palu.

Raja La Parenrengi Lamarauna disebut sebagai raja terakhir kerajaan Banawa karena sejak tanggal 12 Agustus 1952, Donggala ditetapkan sebagai salah satu dari dua kabupaten di Provinsi Sulawesi Tengah, selain Kabupaten Poso. Status daerah Banawa pun dialihkan menjadi kecamatan dan ditetapkan sebagai ibukota Kabupaten Donggala. Sejak saat itu, kehidupan Banawa selaku pemerintahan kerajaan dinyatakan usai.

Raja Banawa IX. Bernama La Marauna (bergelar “Mpue Totua”), 1903-1926


3) Daftar Magau (Raja)

1) Raja Banawa I. I Badantasa
Anak ke tujuh (Putri Bungsu) dari perkawinan Puteri Peambuni dengan Petta Manurung. Menikah dengan La Mapangandro (Putera dari La Galigo) dan memiliki dua orang puteri yaitu : I Tasa Banawa (menjadi Raja Banawa II) dan Genonggati (diangkat menjadi Magau Kayunggahui)

2. 1552 – 1557: Raja Banawa II, Tasa Banawa
Mengembangkan kekuasaan kerajaan ke daerah sekitarnya dan membentuk dewan Hadat Pittunggota. Menikah dengan Magau Lando Dolo dan mempunyai dua orang puteri yaitu : Puteri Kotambulava yang lahir bersama seekor ular diberi nama Siri Banawa yang kemudian dihanyutkan ke Uwe Makuni. Kotambulava kemudian menjadi Madika Banawa menikah dengan Sawalambara mempunyai anak bernama Intoraya (menjadi Raja Banawa III). Sementara itu, puteri kedua I Tasa Banawa bernama Puteri Taranggita yang diangkat menjadi Madika Malolo Banawa dan menikah dengan Madika Matua Bale.

3. 1650 – 1698: Raja Banawa III, Intoraya
Cucu dari Raja Banawa II. Merupakan raja yang pertama memeluk agama Islam di Kerajaan Banawa yaitu pada tahun 1652. Menikah dengan La Masanreseng, Arung dari Cendana Mandar dan mempunyai empat orang anak yaitu : La Bugia (diangkat menjadi Raja Banawa IV), La Lotako, Puteri Nanggiwa dan Puteri Nanggiana.

4. 1698 – 1758: Raja Banawa IV, La Bugia
Laki-laki pertama yang memerintah Kerajaan Banawa. Menikah dengan sepupu sekalinya Kotambulava yang dikaruniai dua orang anak yaitu : Puteri Isa Bida (Raja Banawa V) dan La Sauju. La Sauju kemudian menikah dengan To Nagaya Madika Tavaili yang menurunkan keturunan sampai pada generasi Lamakampali.

5. 1758 – 1800: Raja Banawa V, Isa Bida
Raja wanita yang pemberani dan sakti. Menikah dengan Madika Matua Banawa dan memperoleh empat orang anak yaitu : La Bunia, Kalaya, Lauju dan Puteri Sandudogie (diangkat menjadi Raja Banawa VI)

6. 1800 – 1845: Raja Banawa VI, Puteri Sandudogie
Raja wanita terakhir yang memegang tampuk pimpinan. Menikah dengan Magau Lando Dolo dan memperoleh seorang putera bernama La Sa Banawa (diangkat menjadi Raja Banawa VII)

7. 1845 – 1889: Raja Banawa VII, La Sa Banawa (bergelar “Mpue Mputi”)
Menikah dengan I Palusia dan dikaruniai dua orang putera yaitu : I Tolare menikah dengan Hanani Kabonga mempunyai anak bernama La Gaga (menjadi Raja Banawa X) dan La Marauna (diangkat mnejadi Raja Banawa IX)

8. 1889 – 1903: Raja Banawa VIII, La Makagili
Terkenal sebagai yang paling berani dan gigih melawan pemerintah Belanda. Keturunan-keturunan raja La Makagili pada umumnya masih banyak menetap di Pantoloan.

9. 1903 – 1926: Raja Banawa IX, La Marauna (bergelar “Mpue Totua”).
Diangkat menjadi Magau Tavaili pada tahun 1900 – 1905. Raja pemberani dan bijaksana yang disegani oleh Pemerintah Belanda.

10. 1926 – 1932: Raja Banawa X, La Gaga
Putera dari I Tolare (kakak Raja La Marauna) dilantik oleh Dewan Hadat Pitunggota.

11. 1932 – 1947: Raja Banawa XI, La Ruhana
Putera keempat dari raja La Marauna.

12. 1947 – 1959: Raja Banawa XII, La Parenrengi.
Putera bungsu Raja La Marauna menikah dengan Hajja Sania Tombolotutu. La Parenrengi adalah Ketua PNI Pertama di Sulawesi Tengah sekaligus menjadi raja terakhir pada mas Kerajaan Banawa, ia meninggal di Palu pada tahun 1986.

– Sumber: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=2735776909783255&set=gm.2855857914430188&type=3&theater
– Sumber / Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Banawa

Raja Banawa, Lamarauna beserta dewan pitunggotanya.


4) Sejarah kerajaan-kerajaan di wilayah Donggala

Untuk sejarah kerajaan-kerajaan di wilayah Donggala, klik di sini

Peta Tawaili, Parigi, Palu, Banawa, tahun 1916

Tawaili, Parigi, Palu, Banawa. 1916


5) Peta-peta Sulawesi masa dulu

Untuk peta peta kuno (1606, 1633, 1683, 1700, 1757, 1872, abad ke-19): klik di sini

Peta Sulawesi dan Maluku, tahun 1683


6) Sumber / Source

– Sejarah lengkap kerajaan Banawa: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/sulawesi/raja-of-banawa/sejarah-lengkap-kerajaan-banawa/
Kerajaan Banawa di Wiki: https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Banawa
Sejarah kerajaan Banawa (Donggala): http://www.bimbie.com/sejarah-kerajaan-banawa.htm
– Kerajaan maritim bernama Banawa: http://pudjananti.blogspot.co.id/2012/03/kerajaan-maritim-bernama-banawa-oleh.html
Daftar raja Banawa:  http://iinainarlawide.blogspot.co.id/2010/08/sejarah-singkat-kerajaan-banawa.html

– Suku Kaili: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/sulawesi/kaili-kerajaan2-di-tanah-kaili/

Sejarah kerajaan-kerajaan Donggala: link
—————
Facebook

Banawa Emperor Family Community


Peta wilayah Kerajaan di Lembah Palu, pada lampiran besluit No.21, tahun 1908.

Bardasarkan Peta yang terlampir pada arsip Missive van asisten resident van midden celebes, 22 November 1907 , melalui besluit no. 4216 tertanggal 10 Maret 1908, Hindia Belanda menetapkan batas tiap Kerajaan di Lembah Palu.
Tampak secara kasar, beberapa kerajaan memiliki wilayah yang terpisah-pisah, tengok saja Kerajaan Banawa dan Kerajaan Tawaeli, justru Kerajaan Palu, memiliki Wilayah yang satu, dan jauh mengambil pegunungan barat Lembah Palu, sedangkan wilayah Pegunungan Timur dikuasai Kerajaan Tawaeli.


2 Comments

2 thoughts on “Banawa (Donggala), kerajaan / Prov. Sulawesi Tengah – kab. Donggala

  1. Pingback: Daftar Nama Raja-Raja Donggala Sulawesi Tengah – www.donggala.info

    • Kesultanan dan Kerajaan di Indonesia / Sultanates and Kingdoms in Indonesia

      Terima kasih atas kirim infonya. Paul, penerbit website

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: