Dharmasraya (Malayu Muda), kerajaan / Prov. Sumatera Barat – kab. Dharmasraya

Kerajaan Dharmasraya (Malayu Muda), 1183–1347; terletak di Sumatera, Kab. Dharmasraya, prov. Sumatera Barat.
Keberadaan kerajaan Malayu yang mengalami naik turun ini dapat di diketahui dimulai pada abad ke-7 yang berpusat di Minanga, pada abad ke-13 yang berpusat di Dharmasraya dan diawal abad ke-15 berpusat di Suruaso atau Pagaruyung.
Pada umumnya, kerajaan ini dibedakan atas tiga periode, yaitu:
* Kerajaan Malayu Tua (kerajaan Minanga) pada abad ke-7, berpusat di Minanga Tamwan,
* Kerajaan Malayu Muda (kerajaan Dharmasraya) pada abad ke-13, berpusat di Dharmasraya,
* Kerajaan Pagaruyung, abad ke-15, berpusat di Pagaruyung.

Kingdom of Dharmasraya (Malayu Muda), 12th century; located in the district Dharmasraya. Prov. of West Sumatra.
The existence of the Malay kingdom, that experienced ups and downs, can be seen starting in the 7th century centered in Minanga, in the 13th century centered in Dharmasraya and in the early 15th century centered in Suruaso or Pagaruyung.

In general, this kingdom is divided into three periods, namely:
* The Old Malay Kingdom (the Minanga kingdom) in the 7th century, centered in Minanga Tamwan,
* Kingdom of Malayu Muda (kingdom of Dharmasraya) in the 13th century, centered in Dharmasraya,
* Pagaruyung Kingdom, 15th century, centered in Pagaruyung.
For english, click here

Kabupaten Dharmasraya


Garis kerajaan-kerajaan di Sumatera: link


Foto kerajaan-kerajaan di Sumatera

* Foto sultan dan raja yang masih ada di Sumatera: link
* Foto sultan dan raja di Sumatera dulu: link


Video sejarah kerajaan / kesultanan di Sumatera

* Video sejarah kerajaan di Sumatera, 75.000 SM – sekarang: link
* Video sejarah kerajaan di Sumatera Utara, 0 M – sekarang: link
*
Video sejarah kerajaan di Sumatera Barat, 0 M – sekarang, link


KERAJAAN DHARMASRAYA

Sejarah kerajaan Dharmasraya, 1183–1347

Sumber: https://www.kompas.com/stori/read/2021/11/15/120000179/kerajaan-dharmasraya-sejarah-raja-raja-dan-peninggalan?page=all

Kerajaan Dharmasraya adalah kerajaan di Sumatera yang namanya muncul seiring dengan runtuhnya kerajaan Sriwijaya. Pada masa jayanya, kerajaan bercorak Buddha ini menjadi kerajaan terbesar di Sumatera yang memiliki banyak negeri bawahan. Bahkan kekuasaannya membentang dari Sumatera, tanah Sunda, hingga Semenanjung Malaya. Selain itu, kerajaan Dharmasraya juga menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan di Asia Tenggara, salah satunya adalah kerajaan Singasari.

Sejarah berdirinya

Kerajaan Dharmasraya adalah penerus kerajaan Melayu, yang pernah ditaklukkan oleh kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7. Setelah kekuasaan Wangsa Sailendra di Pulau Sumatera dan Semenanjung Malaya berakhir, Melayu bangkit kembali sebagai penguasa Selat Malaka. Sejak itu, kerajaan terletak di Dharmasraya dan diperintah oleh Maharaja Srimat Trailokyaraja Maulibhusana Warmadewa dari Wangsa Mauli.
Salah satu sumber sejarah kerajaan Dharmasraya didapatkan dari Thailand, yakni Prasasti Grahi. Prasasti berangka tahun 1183 Masehi itu memuat perintah Maharaja Srimat Trailokyaraja Maulibhusana Warmadewa terkait pembuatan arca Buddha kepada Mahasenapati Galanai, Bupati Grahi.

Masa kejayaan kerajaan Dharmasraya

Kerajaan Dharmasraya berkembang dengan sangat cepat. Bahkan pada masa awal pemerintahannya, kekuasaannya telah mencapai Grahi, yang terletak di perbatasan Kamboja dan Thailand. Hal ini karena raja pertamanya segera melakukan penyerangan besar-besaran ke wilayah bekas kekuasaan Sriwiijaya.
Kemudian pada masa kekuasaan Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa, kerajaan ini berhasil menaklukkan dan menduduki Jawa bagian barat (tanah Sunda). Setelah Sriwijaya runtuh, Dharmasraya menjadi kerajaan terbesar di Sumatera yang memiliki sekitar 15 kerajaan bawahan.

Hubungan dengan kerajaan Singasari

Dalam catatan Cina, Zhufan Zhi, karya Zhao Rugua yang ditulis pada 1225 M, Dharmasraya juga menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan lain di Asia Tenggara, salah satunya adalah kerajaan Singasari. Raja Kertanegara dari Singasari diketahui melakukan Ekspedisi Pamalayu pada 1275, untuk menjadikan Sumatera sebagai benteng pertahanan dalam menghadapi ekspansi bangsa Mongol.
Sebagai tanda persahabatan dengan kerajaan Dharmasraya yang menguasai Sumatera, maka Raja Kertanegara mengirim arca Amoghapasa. Prasasti Padang Roco menyebut bahwa arca Amoghapasa diberangkatkan dari Jawa dengan diiringi beberapa pejabat Singasari. Setelah penyerahan arca, Raja Dharmasraya menghadiahkan dua putrinya, Dara Jingga dan Dara Petak. Dara Petak nantinya diperistri oleh Raden Wijaya (pendiri Majapahit), sedangkan Dara Jingga diserahkan kepada Adwayabrahma, pejabat Singasari yang dikirim ke Sumatera pada 1286. Dari Dara Jingga dan Adwayabrahma inilah lahir Adityawarman, penguasa terakhir Kerajaan Dharmasraya.

Runtuhnya kerajaan Dharmasraya

Di era Raja Adityawarman, kerajaan Dharmasraya dipindahkan ke Pagaruyung dan nama kerajaannya menjadi Malayapura. Penyebab runtuhnya kerajaan Dharmasraya diperkirakan karena ekspansi kerajaan Majapahit. Kakawin Nagarakretagama menyebut bahwa bumi Melayu sebagai salah satu negeri jajahan kerajaan Majapahit.
Pada 1339, Adityawarman dikirim sebagai raja bawahan Majapahit, untuk terlibat dalam beberapa penaklukan yang dimulai dengan menguasai Palembang. Setelah membantu Majapahit inilah, Adityawarman memindahkan letak kerajaan Dharmasraya, yang namanya kemudian dikenal sebagai kerajaan Malayapura atau Pagaruyung.
– Sumber dan lengkap: https://www.wikiwand.com/ms/Kerajaan_Dharmasraya

Arca Amoghapasa di atas alasnya yang disebut dengan prasasti Padang Roco


Letak kerajaan Dharmasraya

Letak kerajaan Malayu Dharmasraya belum dapat ditentukan dengan pasti. Terdapat banyak pendapat mengenai letak kerajaan ini, yaitu:
1) Dr Rouffaer mengatakan bahwa ibukota kerajaan Malayu telah menjadi satu dengan pelabuhan malayu, yakni terletak di wilayah Kota Jambi.
2) Telah dikatakan oleh Ir Moens, bahwa pelabuhan malayu terletak di Kota Jambi, tetapi posisi istananya terletak di wilayah Palembang.
3) Prof. George Coedes telah meyakini bahwa Palembang merupakan ibu kota kerajaan Sriwijaya dan bukan menjadi ibu kota Malayu.
4) Dalam prasasti Tanyore disebutkan bahwa letak ibu kota kerajaan Malayu berada di antara banteng-benteng dan posisinya berada di atas bukit. Bedasarkan data pada prasasti tersebut, Slamet Muljana menyebutkan bahwa istana Malayu terletak di Minanga Tamwa yang sebagaimana telah tertuang di dalam prasasti Kedukan Bukit.

– Sumber: http://www.bimbie.com/kerajaan-malayu-dharmasraya.htm


Daftar raja Dharmasraya

* 1286: Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa. Ibukota: Dharmasraya.
* 1316: Akarendrawarman. Ibukota: Dharmasraya atau Suruaso.
* 1347: Adityawarman, gelar: Srimat Sri Udayadityawarman Pratapaparakrama Rajendra Maulimali Warmadewa. Ibukota: Suruaso atau Pagaruyung.
* 1375: Ananggawarman. Ibukota: Pagaruyung Prasasti Batusangkar (Kab. Tanah Datar sekarang).

– Sumber / Source: Wiki


Peninggalan kerajaan Dharmasraya

Prasasti Saruaso I
Prasasti Saruaso I dikeluarkan oleh Raja Adityawarman yang berangka tahun 1297 atau 1375. Prasasti ini berisi upacara pentasbihan Raja Adityawarman sebagai seorang penganut Buddha Mahayana sekte Bairawa sebagai wisesa dharani (salah satu perwujudan Buddha) di kuburan yang disebut surawasan atau sekarang menjadi Saruaso.

——————

Prasasti Batusangkar, atau Prasasti Saruaso II
Prasasti Batusangkar, atau Prasasti Saruaso II, adalah sebuah prasasti zaman Adityawarman.
Dalam prasasti ini menyebutkan bahwa Ananggawarman sebagai putra mahkota, kemudian menggantikan posisi Adityawarman dalam suatu upacara hewjra, dan Adityawarman diibaratkan telah menuju kepada tingkat ksetrajna.

——————

Candi Padang Roco
  Dahulu situs Candi Padangroco  termasuk dalam wilayah Kabupaten Sawahlunto-Sijunjung. Situs ini termasuk peninggalan kerajaan budha di Dharmasraya dan sebagai bukti kejayaan peninggalan kerajaan Swarnabhumi (Dharmasraya) pada abad XI-XII Masehi.
Secara keseluruhan, kompleks Candi Padangroco terbuat dari susunan bata dan terdiri dari 4 candi lainnya, tiga di antaranya telah selesai digali dan dipugar yaitu Candi Padangroco I, Candi Padangroco II dan Candi Padangroco III.

——————

Situs Purbakala Kompleks Percandian Muaro Jambi
Situs Purbakala Kompleks Percandian Muaro Jambi kemungkinan besar merupakan peninggalan Kerajaan Melayu Dharmasraya.
Muaro Jambi menjadi kompleks candi Hindu-Buddha terluas di Tanah Air.
Letak percandian ini di Kec. Muaro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi.

——————

Patung Adityawarman

——————

Arca Amoghapasa
Arca Amoghapasa adalah patung batu pāduka Amoghapāśa sebagai salah satu perwujudan Lokeswara sebagaimana disebut pada prasasti Padang Roco. Patung ini merupakan hadiah dari Kertanagara raja Singhasari kepada Tribhuwanaraja raja Melayu di Dharmasraya pada tahun 1286 M. Pada bagian lapik (alas) arca ini terdapat tulisan yang disebut prasasti Padang Roco yang menjelaskan penghadiahan arca ini. Berita pengiriman arca Amoghapasa ini tertulis pada alas arca bertanggal 22 Agustus 1286. Sedangkan pada bagian belakang arca terdapat tulisan yang disebut dengan prasasti Amoghapasa bertarikh 1346 Masehi.


Peta-peta kuno Sumatera

Untuk peta kuno Sumatera (1565, 1588, 1598, 1601, 1616, 1620, 1707, 1725, 1760), klik di sini

Sumatera, tahun 1707


Sumber kerajaan Dharmasraya

Sejarah kerajaan Dharmasraya: https://id.wikipedia.org/wiki/Dharmasraya
Sejarah kerajaan Dharmasraya:  https://thomy265.wordpress.com/2008/01/09/sejarah-kerajaan-dharmasraya/
– Sejarah kerajaan Dharmasraya: https://mozaikminang.wordpress.com/2009/10/17/kerajaan-malayu-muda-dharmasraya/
Sejarah kerajaan Dharmasraya: http://coretananakminang.blogspot.co.id/2014/04/kerajaan-dharmasraya.html
– Daftar raja Dharmasraya: Wiki

Sumber kerajaan Melayu

– Sejarah kerajaan Melayu: https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Melayu
– Sejarah kerajaan Melayu: http://infokansejarahku.blogspot.com/2016/01/kerajaan-melayu.html
– Sejarah kerajaan Melayu: https://historia.id/kuno/articles/kerajaan-misterius-di-pulau-sumatra-6aqgb
– Sejarah kerajaan Melayu: https://mozaikminang.wordpress.com/2009/10/17/kerajaan-malayu-muda-dharmasraya/
– Sejarah kerajaan Melayu: https://daerah.sindonews.com/read/1271583/29/perjuangan-kerajaan-melayu-jambi-melepaskan-diri-dari-jajahan-1515255544


Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: