Abiansemal, desa / Bali

Desa Abiansemal terletak di kabupaten Badung, Bali.

Lokasi kabupaten Badung

————————————-
Lokasi Bali


Foto kerajaan-kerajaan di Bali

* Foto raja-raja Bali, yang masih ada: link
* Foto raja-raja Bali masa dulu: link
* Foto Bali dulu: link
* Foto situs kuno di Bali: link
* Foto puputan Denpasar, 1906: link
* Foto puputan Klungkung, 1908: link


* Video sejarah kerajaan-kerajaan di Bali, 45.000 SM – sekarang: klik


* Garis kerajaan-kerajaan di Bali: klik


DESA ABIANSEMAL

Sejarah desa Abiansemal

Sejarah Desa Abiansemal yang didapat dari sumber tertulis yakni :
• Usana Bali
• Babad Dalem
• Babad Mengwi
• Babad Pasek
• Sejarah Bali.
Sumber tidak tertulis berupa imformasi yang diperoleh dari para tokoh Agama dan Tokoh Adat yang berada diwilayah Kecamatan Abiansemal, dijelaskan bahwa Desa Abiansemal sudah ada sejak abad ke-14.

Diceritrakan pula bahwa pada abad ke-16 Keluarga I Gusti Ngurah Dauh bersama – sama dengan Arya Tan Kaur berkuasa di Desa Abiansemal, kemudian pada abad-17 Abiansemal berada di wilayah kekuasan Raja Mengwi yaitu Cekorda Munggu. Ketika itu Raja Mengwi mengutus Keluarga Kaba – kaba untuk berangkat ke Desa Abiansemal melalui Desa Sibang dan Mambal, karena kemalaman dijalan mereka menggunakan penerangan dari api daun kelapa kering ( bahasa Bali, Api prakpak ) setelah melewati sungai Ayung , jembatan Mambal sekarang, api penerangan yang digunakan makin suram karena bahanya makin habis dan akhirnya nyalanya padam sehingga yang tinggal hanya bunga – bunga api yang bahasa balinya disebut lelatu. Lelatu itu jatuh berserakan disekitar areal persawahan sebelah selatan desa abiansemal yang akhirnya tempat itu dinamakan Latu, serta Subak pada Areal persawahan itu bernama Subak Latu. Selanjutnya rombongan tersebut sampailah di Desa Abiansemal dan menetap di Banjar Aseman. sejak itulah desa Abiansemal menjadi Wilayah kekuasaan Kerajaan Mengwi.

Dari tahun ke tahun Abiansemal berkembang dan kuat untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan diantara Banjar – banjar yang ada di Desa Abiansemal maka dibangunlah Pura Kahyangan Tiga yakni: Pura Desa, Pura Puseh dan Pura Dalem. Bersamaan dengan itu pula dinobatkan Putra Raja Mengwi untuk menjadi Penguasa tunggal di Daerah Abiansemal dengan Gelar Cekorde Abiansemal, Tahun (1903).


Puri di Bali

Puri di pulau Bali adalah nama sebutan untuk tempat tinggal bangsawan Bali, khususnya mereka yang masih merupakan keluarga dekat dari raja-raja Bali. Berdasarkan sistem pembagian triwangsa atau kasta, maka puri ditempati oleh bangsawan berwangsa ksatria.

Puri-puri di Bali dipimpin oleh seorang keturunan raja, yang umumnya dipilih oleh lembaga kekerabatan puri. Pemimpin puri yang umumnya sekaligus pemimpin lembaga kekerabatan puri, biasanya disebut sebagai Penglingsir atau Pemucuk. Para keturunan raja tersebut dapat dikenali melalui gelar yang ada pada nama mereka, misalnya Ida I Dewa Agung, I Gusti Ngurah Agung, Cokorda, Anak Agung Ngurah, Ratu Agung, Ratu Bagus dan lain-lain untuk pria; serta Ida I Dewa Agung Istri, Dewa Ayu, Cokorda Istri, Anak Agung Istri, dan lain-lain untuk wanita.

Daerah atau wilayah kekuasaan puri-puri di Bali zaman dahulu, tidak berbeda jauh dengan wilayah administratif pemerintahan kabupaten dan kota di Provinsi Bali. Setelah Kerajaan Gelgel mulai terpecah pada pertengahan abad ke-18, terdapat beberapa kerajaan, yaitu Badung (termasuk Denpasar), Mengwi, Tabanan, Gianyar, Karangasem, Klungkung, Buleleng, Bangli dan Jembrana. Persaingan antardinasti dan antaranggota dinasti pada akhirnya menyebabkan Belanda dapat menguasai Bali dengan tuntas pada awal abad ke-20.

Setelah masa kolonial Belanda, Jepang dan masa kemerdekaan Indonesia, kekuasaan puri berubah menjadi lebih bersifat simbolis. Peranan berbagai puri di Bali umumnya masih tinggi sebagai panutan terhadap berbagai pelaksanaan aktivitas adat dan ritual Agama Hindu Dharma oleh masyarakat banyak.

Puri Agung Gianyar

gianyar Puri Agung Gianyar


Pura (tempat ibadah) di Bali

Pura adalah istilah untuk tempat ibadat agama Hindu di Indonesia. Pura di Indonesia terutama terkonsentrasi di Bali sebagai pulau yang mempunyai mayoritas penduduk penganut agama Hindu.
Tidak seperti candi atau kuil Hindu di India yang berupa bangunan tertutup, pura di Bali dirancang sebagai tempat ibadah di udara terbuka yang terdiri dari beberapa zona yang dikelilingi tembok. Masing-masing zona ini dihubungkan dengan gerbang atau gapura yang penuh ukiran. Lingkungan atau zonasi yang dikelilingi tembok ini memuat beberapa bangunan seperti pelinggih yaitu tempat suci bersemayam hyang, meru yaitu menara dengan atap bersusun, serta bale (pendopo atau paviliun). Struktur tempat suci pura mengikuti konsep Trimandala, yang memiliki tingkatan pada derajat kesuciannya.

Pura Besakih

Pura Besakih adalah sebuah komplek pura yang terletak di Desa Besakih. Komplek Pura Besakih terdiri dari 1 Pura Pusat (Pura Penataran Agung Besakih) dan 18 Pura Pendamping (1 Pura Basukian dan 17 Pura Lainnya). Pura Besakih merupakan pusat kegiatan dari seluruh Pura yang ada di Bali. Di antara semua pura-pura yang termasuk dalam kompleks Pura Besakih, Pura Penataran Agung adalah pura yang terbesar.


SEJARAH SINGKAT KERAJAAN-KERAJAAN DI BALI

Untuk sejarah singkat kerajaan-kerajaan di Bali, klik di sini

Kerajaan di Bali, sekitar tahun 1900.


Peta kuno Bali

Klik di sini untuk peta kuno Bali 1618, 1683, 1700-an, 1750, 1800-an, 1856, abad ke-19.

 Bali abad ke-16 ?


Sumber Abiansemal

– Sejarah lengkap desa Abiansemal: http://desaabiansemal.badungkab.go.id/page/704/Sejarah-Desa.html

Intervensi Belanda di Bali, 1846, 1848, 1849, 1906, 1908

– 1846: Perang Bali I: Intervensi belanda, 1846
– 1848: Perang Bali II: Intervensi belanda, 1848
– 1849: Perang Bali III: Intervensi belanda, 1849
– 1906: Intervensi belanda di Bali / Puputan 1906: Intervensi belanda, 1906
1908: Intervensi Belanda di Bali / Puputan 1908: Intervensi belanda, 1908


Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: