Klungkung, kerajaan / Bali

Kerajaan Klungkung, 1668–1950. Terletak di Kab. Klungkung, prov. Bali.
Kerajaan Klungkung didirikan oleh Dewa Agung Jambe pada 1668.

The kingdom of Klungkung: 1668–1950. Located in the district of  Klungkung, province of Bali. This kingdom was founded in 1668 by Dewa Agung Jambe.
For english, click here

Lokasi kab. Klungkung

————–
Lokasi pulau Bali


* Foto kerajaan Klungkung: link
Foto bekas istana Klungkung, Kerta Gosa: link
* Video kremasi Ratu Klungkung (2014): link


* Foto raja-raja Bali, yang masih ada: link
* Foto raja-raja Bali masa dulu: link
* Foto Bali dulu: link
* Foto situs kuno di Bali: link
* Foto puputan Denpasar, 1906: link
* Foto puputan Klungkung, 1908: link


* Video sejarah kerajaan-kerajaan di Bali, 45.000 SM – sekarang: klik


* Garis kerajaan-kerajaan di Bali: klik


KERAJAAN  KLUNGKUNG

Raja kerajaan Klungkung sekarang 

Raja sekarang (2019): Tjokorda Gde Agung Semaraputra.
Cokorda dilantikan october 2010.


Sejarah kerajaan Klungkung, 1668–1950

– Sumber: https://www.kompas.com/stori/read/2021/11/23/130000779/kerajaan-klungkung-sejarah-raja-raja-dan-keruntuhan?page=all

Kerajaan Klungkung adalah penerus Kerajaan Gelgel, yang pernah menjadi penguasa tunggal di Bali. Oleh karena itu, rajanya diakui sebagai yang tertinggi di antara raja-raja di Bali dan memakai gelar Dewa Agung.
Kerajaan Klungkung didirikan oleh Dewa Agung Jambe pada 1668 di bagian tenggara Pulau Bali, atau tepatnya berada di Kabupaten Klungkung saat ini. Sejak didirikan hingga keruntuhannya, kerajaan ini beberapa kali terlibat pertarungan sengit dengan Belanda.

Sejarah berdirinya kerajaan Klungkung

Sejarah kerajaan Klungkung dapat ditelusuri sejak pemberontakan yang menimpa kerajaan Gelgel pada 1651. Kala itu, patih Gelgel yang bernama Gusti Agung Maruti memimpin pemberontakan hingga berhasil merebut takhta kerajaan. Selama pemerintahan Gusti Agung Maruti, putra raja sebelumnya yang bernama Dewa Agung Jambe melarikan diri ke Semarapura di Klungkung.
Di saat yang sama, wilayah bawahan Gelgel banyak yang melepaskan diri menjadi Badung, Bangli, Buleleng, Gianyar, Jembrana, Karangasem, Mengwi, dan Tabanan, yang memiliki pemerintahan sendiri.
Pada 1686, Dewa Agung Jambe berhasil merebut kembali kekuasaan leluhurnya dari Gusti Agung Maruti. Setelah itu, pusat pemerintahan kerajaan dipindahkan ke istana Semarapura di Klungkung, tempat persembunyiannya. Peristiwa ini menandai runtuhnya Kerajaan Gelgel dan dimulainya kekuasaan kerajaan Klungkung.

Hubungan dengan Belanda

Di bawah kekuasaan Dewa Agung Putra II, kerajaan Klungkung mulai menjalin hubungan baik dengan perusahaan dagang Belanda yang mendirikan kantor perwakilan di Bali. Setelah berhasil mengadakan perjanjian dengan Badung, Huskus Koopman ditugaskan pemerintah Belanda untuk mendekati raja Klungkung.
Sebab, apabila Dewa Agung Putra II mau mengadakan perjanjian, maka Belanda akan semakin mudah menarik kesediaan raja-raja di Bali lainnya untuk menandatangani kesepakatan serupa. Untuk memuluskan rencananya, Koopman memanfaatkan pedagang Denmark bernama Mads Lange, yang diketahui dekat dengan raja Klungkung.
Rencana Koopman berhasil, dan Dewa Agung Putra II bersedia menandatangani perjanjian damai dengan pemerintah Belanda pada 6 Desember 1841. Namun, pada 24 Mei 1843, perjanjian tersebut diperbarui, di mana Belanda mulai mengurangi kedaulatan kerajaan Klungkung.
Pasalnya, Dewa Agung Putra II diwajibkan menghapus Hukum Tawan Karang. Hukum yang disepakati kerajaan-kerajaan di Bali ini menyebut bahwa kerajaan berhak merampas dan menyita seluruh isi kapal yang terdampar di wilayahnya. Menyadari isi perjanjian dapat menempatkan Klungkung dalam ancaman, para pejabat kerajaan pun tidak senang.

Perang Kusamba, 1849

Hubungan antara Klungkung dan penjajah memanas ketika ketika Klungkung memihak Buleleng yang tengah terlibat pertikaian dengan Belanda. Kerajaan Klungkung dan pasukan Belanda akhirnya terlibat dalam Perang Kusamba pada 25 Mei 1849, yang mendatangkan kerugian besar bagi kedua belah pihak. Dalam perang ini, Belanda kehilangan tujuh perwira tingginya serta 28 pasukan.

Sedangkan Klungkung kehilangan 800 prajuritnya dan 1.000 mengalami luka-luka. Menyadari keadaannya sangat terdesak, Belanda mengajukan perundingan. Namun, Dewa Agung Istri Kanya, saudara perempuan raja menolak. Namun, Mads Lange kembali membantu Belanda membujuk Raja Kesiman dari Badung, agar meyakinkan Dewa Agung Putra II mau mengakhiri perang dengan jalan damai. Berkat keahlian diplomasinya, Raja Klungkung dapat dibujuk untuk menandatangani perjanjian damai pada Juli 1849.

Kemunduran kerajaan Klungkung

Setelah perjanjian itu, pamor Dewa Agung Putra II merosot drastis karena seperti kerajaan lain di Bali, kedudukannya berada di bawah pemerintah kolonial. Satu tahun kemudian, raja meninggal dan digantikan oleh putranya yang bergelar Dewa Agung Putra III.

Dewa Agung Putra III berambisi membangkitkan kembali kekuasaan leluhurnya dulu dengan melakukan penaklukan. Namun, sebelum ambisinya terpenuhi, Dewa Agung Putra III meninggal pada 1903 dan setelah itu takhta kerajaan jatuh ke tangan putranya yang bergelar Dewa Agung Jambe II.
Berbeda dengan sang ayah, raja baru ini dikenal lunak dan lebih memilih menghindarkan diri dari konfrontasi dengan Belanda. Maka setelah Puputan Badung pada 1906, Belanda menghendaki raja Klungkung agar menandatangani perjanjian baru. Runtuhnya Kerajaan Klungkung Perjanjian baru yang ditandatangani membuat kerusuhan merebak di Klungkung, hingga mengundang invasi militer Belanda.
Akhirnya, terjadilah Puputan Klungkung pada 28 April 1908, yang menewaskan raja beserta para pengiringnya. Sejak saat itu, Klungkung diduduki oleh pemerintah kolonial dan baru pada 1929, Dewa Agung Oka Geg diangkat oleh Belanda sebagai kepala swapraja Klungkung. Dewa Agung Oka Geg memerintah hingga era kemerdekaan dan penghapusan berbagai swapraja di Kepulauan Nusantara.

Raja Gianyar, raja Bangli dan raja Klungkung di Puri Agoeng Bangli. 1925


Puputan Klungkung, 1908

Sebelum terjadi pertempuran hebat di Istana Semarapura, Kerajaan Klungkung pada 16 April 1908 berhasil membunuh 10 serdadu kolonial. Salah satunya seorang pimpinan mereka, Letnan Haremaker. Made Sutaba dkk dalam buku “Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Daerah Bali” menjelaskan, Haremaker mati setelah sampai di Gianyar.

Akibatnya, pihak kolonial menjadi murka. Bahkan mereka menuding pihak Kerajaan Klungkung telah melakukan pemberontakan terhadap pemerintah. Raja Dewa Agung Jambe II dan rakyat diminta untuk menyerah sampai 22 April 1908. Ancaman itu ternyata tak mengendurkan nyali raja dan rakyat. “Justru semangat perang semakin besar,” tulis Made Sutaba dkk.

Dalam perang Puputan Klungkung 1908, baik raja maupun rakyat maju ke medan laga menghadapi senjata modern kolonial seperti meriam hanya dengan sebuah tombak.

Meski kalah senjata dan jumlah, namun sejarah tak akan pernah melupakan keberanian mereka dalam melawan penindasan kolonial Belanda. Raja Klungkung Dewa Agung Jambe II (1903-1908) sendiri tewas dalam berondongan peluru serdadu pada Rabu, 28 April 1908.

Ilustrasi Perang Puputan Klungkung. (Foto: beritabali.com)


Puri (Istana) di Klungkung

Ada 2 puri di Klungkung:

1) Istana Klungkung (“Kertagosa”)
.
Istana Klungkung adalah sebuah komplek bangunan bersejarah yang terletak di Semarapura, ibu kota Kabupaten Klungkung, Bali, Indonesia. Istana atau puri ini dibangun pada akhir abad ke-17 sebagai istana Kerajaan Klungkung, namun sebagian besar hancur karena penaklukan kolonial Belanda pada 1908. Saat ini, reruntuhan dasar istana yang tersisa berupa pengadilan, Paviliun Kertha Gosa, dan gerbang utama yang bertuliskan tahun Saka 1622 (1700 SM).
* Foto bekas istana Klungkung, Kerta Gosa: link

——————————

2) Puri Agung Klungkung

Puri Agung Klungkung adalah kediaman raja Klungkung pribadi.

Puri Agung Klungkung


Daftar raja (Dewa Agung)

1) 1686-c. 1722: Dewa Agung Jambe I
2) c. 1722-1736: Dewa Agung Gede
3) c. 1722-1736: Dewa Gede Agung
4) 1736-c. 1760: Dewa Agung Made
5) c. 1760-1790: Dewa Agung Śakti
6) c. 1790-1809: Dewa Agung Putra I Kusamba
7) 1809-1814: Regent: Gusti Ayu Karang
8) 1814–1850: Dewa Agung Putra II
9) 1851–1903: Dewa Agung Putra III Bhatara Dalem
10) 1903–1908: Dewa Agung Jambe II
11) 1929–1950: Dewa Agung Oka Geg

12) 1965-1998: Interregnum (1965-1998).
13) 1998-?):      Dewa Agung Cokorda Gede Agung.
14)  2010-……: Dewa Agung Cokorda Gede Agung Semaraputra.

– Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Klungkung#Daftar_Raja_dan_Ratu_Klungkung

Raja Dewa Agung Jambe memimpin perang puputan Klungkung, 28 april 1908


Puri (istana) di Bali

Puri di pulau Bali adalah nama sebutan untuk tempat tinggal bangsawan Bali, khususnya mereka yang masih merupakan keluarga dekat dari raja-raja Bali. Berdasarkan sistem pembagian triwangsa atau kasta, maka puri ditempati oleh bangsawan berwangsa ksatria.

Puri-puri di Bali dipimpin oleh seorang keturunan raja, yang umumnya dipilih oleh lembaga kekerabatan puri. Pemimpin puri yang umumnya sekaligus pemimpin lembaga kekerabatan puri, biasanya disebut sebagai Penglingsir atau Pemucuk. Para keturunan raja tersebut dapat dikenali melalui gelar yang ada pada nama mereka, misalnya Ida I Dewa Agung, I Gusti Ngurah Agung, Cokorda, Anak Agung Ngurah, Ratu Agung, Ratu Bagus dan lain-lain untuk pria; serta Ida I Dewa Agung Istri, Dewa Ayu, Cokorda Istri, Anak Agung Istri, dan lain-lain untuk wanita.

Daerah atau wilayah kekuasaan puri-puri di Bali zaman dahulu, tidak berbeda jauh dengan wilayah administratif pemerintahan kabupaten dan kota di Provinsi Bali. Setelah Kerajaan Gelgel mulai terpecah pada pertengahan abad ke-18, terdapat beberapa kerajaan, yaitu Badung (termasuk Denpasar), Mengwi, Tabanan, Gianyar, Karangasem, Klungkung, Buleleng, Bangli dan Jembrana. Persaingan antardinasti dan antaranggota dinasti pada akhirnya menyebabkan Belanda dapat menguasai Bali dengan tuntas pada awal abad ke-20.

Setelah masa kolonial Belanda, Jepang dan masa kemerdekaan Indonesia, kekuasaan puri berubah menjadi lebih bersifat simbolis. Peranan berbagai puri di Bali umumnya masih tinggi sebagai panutan terhadap berbagai pelaksanaan aktivitas adat dan ritual Agama Hindu Dharma oleh masyarakat banyak.

Puri Agung Klungkung


Pura (tempat ibadah) di Bali

Pura adalah istilah untuk tempat ibadat agama Hindu di Indonesia. Pura di Indonesia terutama terkonsentrasi di Bali sebagai pulau yang mempunyai mayoritas penduduk penganut agama Hindu.
Tidak seperti candi atau kuil Hindu di India yang berupa bangunan tertutup, pura di Bali dirancang sebagai tempat ibadah di udara terbuka yang terdiri dari beberapa zona yang dikelilingi tembok. Masing-masing zona ini dihubungkan dengan gerbang atau gapura yang penuh ukiran. Lingkungan atau zonasi yang dikelilingi tembok ini memuat beberapa bangunan seperti pelinggih yaitu tempat suci bersemayam hyang, meru yaitu menara dengan atap bersusun, serta bale (pendopo atau paviliun). Struktur tempat suci pura mengikuti konsep Trimandala, yang memiliki tingkatan pada derajat kesuciannya.

Pura Besakih

Pura Besakih adalah sebuah komplek pura yang terletak di Desa Besakih. Komplek Pura Besakih terdiri dari 1 Pura Pusat (Pura Penataran Agung Besakih) dan 18 Pura Pendamping (1 Pura Basukian dan 17 Pura Lainnya). Pura Besakih merupakan pusat kegiatan dari seluruh Pura yang ada di Bali. Di antara semua pura-pura yang termasuk dalam kompleks Pura Besakih, Pura Penataran Agung adalah pura yang terbesar.


Sejarah singkat kerajaan-kerajaan di Bali

Kerajaan Bali merupakan istilah untuk serangkaian kerajaan Hindu-Budha yang pernah memerintah di Bali, di Kepulauan Sunda Kecil, Indonesia. Adapun kerajaan-kerajaan tersebut terbagi dalam beberapa masa sesuai dinasti yang memerintah saat itu. Dengan sejarah kerajaan asli Bali yang terbentang dari awal abad ke-10 hingga awal abad ke-20, kerajaan Bali menunjukkan budaya istana Bali yang canggih di mana unsur-unsur roh dan penghormatan leluhur dikombinasikan dengan pengaruh Hindu, yang diadopsi dari India melalui perantara Jawa kuno, berkembang, memperkaya, dan membentuk budaya Bali.

Kerajaan di Bali, sekitar tahun 1900.

Karena kedekatan dan hubungan budaya yang erat dengan pulau Jawa yang berdekatan selama periode Hindu-Budha Indonesia, sejarah Kerajaan Bali sering terjalin dan sangat dipengaruhi oleh kerajaan di Jawa, dari kerajaan Medang pada abad ke-9 sampai ke kerajaan Majapahit pada abad ke-13 hingga 15. Budaya, bahasa, seni, dan arsitektur di pulau Bali dipengaruhi oleh Jawa. Pengaruh dan kehadiran orang Jawa semakin kuat dengan jatuhnya kerajaan Majapahit pada akhir abad ke-15.
Setelah kekaisaran jatuh di bawah Kesultanan Muslim Demak, sejumlah abdi dalem Hindu, bangsawan, pendeta, dan pengrajin, menemukan tempat perlindungan di pulau Bali. Akibatnya, Bali menjadi apa yang digambarkan oleh sejarawan Ramesh Chandra Majumdar sebagai benteng terakhir budaya dan peradaban Indo-Jawa.
Kerajaan Bali pada abad-abad berikutnya memperluas pengaruhnya ke pulau-pulau tetangga. Kerajaan Gelgel Bali misalnya memperluas pengaruh mereka ke wilayah Blambangan di ujung timur Jawa, pulau tetangga Lombok, hingga bagian barat pulau Sumbawa, sementara Karangasem mendirikan kekuasaan mereka di Lombok Barat pada periode selanjutnya.

Sejak pertengahan abad ke-19, negara kolonial Hindia Belanda mulai terlibat di Bali, ketika mereka meluncurkan kampanye mereka melawan kerajaan kecil Bali satu per satu. Pada awal abad ke-20, Belanda telah menaklukkan Bali karena kerajaan-kerajaan kecil ini jatuh di bawah kendali mereka, baik dengan kekerasan atau dengan pertempuran, diikuti dengan ritual massal bunuh diri, atau menyerah dengan damai kepada Belanda. Dengan kata lain, meskipun beberapa penerus kerajaan Bali masih hidup, peristiwa-peristiwa ini mengakhiri masa kerajaan independen asli Bali, karena pemerintah daerah berubah menjadi pemerintahan kolonial Belanda, dan kemudian pemerintah Bali di dalam Republik Indonesia.


Peta kuno Bali

Klik di sini untuk peta kuno Bali 1618, 1683, 1700-an, 1750, 1800-an, 1856, abad ke-19.

 Bali abad ke-16 ?


Sumber / Source

– Sejarah kerajaan Klungkung di Wiki: https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Klungkung
Sejarah kerajaan Gelgel dan Klungkung: https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Bali#Periode_Gelgel
– Sejarah kerajaan Klungkung: http://www.klungkungkab.go.id/index.php/profil/16/Sejarah-Kerajaan
– Daftar Raja Klungkung di Wiki: https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Klungkung#Daftar_Raja_dan_Ratu_Klungkung
.
Intervensi belanda di Klungkung 1908 (Puputan): link
————————
Intervensi Belanda di Bali, 1846, 1848, 1849, 1906, 1908

– 1846: Perang Bali I: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/bali/perang-bali-i-1846/
– 1848: Perang Bali II: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/bali/perang-bali-ii-1848/
– 1849: Perang Bali III: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/bali/perang-bali-iii-1849/
– 1906: Intervensi belanda di Bali / Puputan 1906: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/bali/puputan-bali-1906/
– 1908: Intervensi Belanda di Bali / Puputan 1908: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/bali/puputan-klungkung-1908/


1 Comment

One thought on “Klungkung, kerajaan / Bali

  1. Title of rajas of Bali is anak agung.Klungkung as former paramount raja of Bali and Lombok has as title dewa agung.Bafung-Denpasar has as title cokorda.You can beciome member of the website/paysite Almanach de Bruxelles,where you can find all titles of all rajas and all names of as much as possible dynastychiefs.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: