Ubud, Puri Saren Agung / Bali – kab. Gianyar

Puri Saren Agung Ubud / Sukawati, didirikan terakhir 1700. Terletak di Ubud, kab. Gianyar, prov. Bali.

Puri Saren Agung Ubud / Sukawati: founded late 1700. Located in central Ubud, district of Gianyar, province of Bali.
For english, click here

Lokasi kab. Gianyar

——————-
Lokasi pulau Bali



* Foto sejarah Puri Saren Agung Ubud: link
* Foto komplek bangunan Puri Saren Agung: link

* Foto foto Bali dulu: link
* Foto foto situs kuno di Bali: link
* Foto foto puputan Denpasar, 1906: link
* Foto foto puputan Klungkung, 1908: link


Tentang Raja

Cokorda (raja) sekarang (2019): Tjokorda Gde Putra Sukawati

Pernyataan Tokoh Puri Agung Ubud, Tentang Pemilu 2019 - YouTube


Sejarah Puri Saren Agung Ubud

Sejarah 1

Menurut beberapa babad dan penelitian bangsa asing, Ubud di abad ke-17 masih terdiri dari sawah ladang dan semak belukar, dan hutan. Sebagaian kecil sudah didiami oleh penduduk yang terdiri dari Kuwu-kuwu (Pondokan), mereka mendiami wilayah-wilayah, Jungut, Taman dan Bantuyung. Masih menjadi wilayah kekuasaan dari Kerajaan Sukawati yang berdiri sekitar tahun 1710, dengan raja pertamanya yang bernama Sri Aji Maha Sirikan, Sri Aji Wijaya Tanu.

Pada Saat I Dewa Agung Made menjadi raja di Peliatan, dua adik beliau ditugaskan memegang wilayah, Ida Tjokorda Gde Karang di Padang Tegal Ubud. Ida Tjokorda Tangkeban ditugaskan di Ubud. Banyak pura kemudian berdiri di Ubud dalam masa pemerintahan beliau.

Pada saat Ubud mulai berkembang, dan menjadi daerah Manca, Ida Tjokorda Tangkeban meninggalkan Ubud menuju Jegu, wilayah Tabanan, sedangkan Tjokorda Gde Karang membangun puri di wilayah selatan Ubud, dekat dengan Sukawati, diberi nama Puri Negara di Desa Negara. Jadilah Ubud kemudian tanpa pemimpin. Atas inisiatif dari seorang keturunan Bandesa Mas yang tinggal di Jungut, maka menghadaplah para pemuka masyarakat Ubud ke puri Peliatan, tujuannya adalah untuk nuhur pemimpin untuk Ubud, agar ada yang mengatur kegiatan ekonomi, keagamaan dan kemasyarakatan di Ubud.

Oleh raja Peliatan saat itu, Ida Tjokorda Batuan, diperintahkan Ida Tjokorda Putu Kandel, treh Dalem Sukawati agar memimpin Ubud. Ida Tjokorda Putu Kandel sebagai pemimpin Ubud kemudian mendirikan Puri Saren Kangin Ubud.

Perkiraan angka tahun 1823 sampai dengan tahun 1850, setelah Ida Tjokorda Putu Kandel Wafat, digantikan oleh putranya,  yang bernama Ida Tjokorda Putu Sukawati. Pada masa kepemimpinan beliau, Ubud semakin maju di berbagai bidang.

Visitbali - Puri Saren Agung, Ubud Historical Heritage

Sejarah 2

Pada abad ke-17, Bali selalu mengalami kemunculan cepat kerajaan baru, termasuk pendirian beberapa rumah kerajaan di Ubud. Namun, periode ini juga melihat banyak konflik antara klan kerajaan dengan supremasi sebagai tujuan akhir. Seorang pangeran dari Klungkung dikirim untuk membuat istana di Sukawati sebagai pusat kekuatan besar dan keindahan estetika. Pengrajin datang dari seluruh Bali untuk membantu dalam pembangunan tersebut dan setelah selesai banyak dari mereka memilih untuk tinggal. Saat ini, Sukawati menjadi tempat komunitas yang sangat mendukung semua bentuk kesenian serta tarian dan musik.

Dengan keberhasilan pembentukan otoritas yang berkuasa di Sukawati, pengikut istana kemudian dikirim pada akhir 1700-an untuk mengamankan wilayah Ubud. Sepupu sepupu raja membentuk komunitas saingan di Padang Tegal dan lebih jauh ke utara di kawasan Taman. Menyusul pertempuran berikutnya antar desa-desa tetangga, raja Sukawati mengirim saudara-saudaranya, Tjokorde Ngurah Tabanan ke Peliatan dan Tjokorde Tangkeban ke Sambahan untuk membangun istana dengan gagasan untuk mengendalikan daerah-daerah bermasalah ini.

Meskipun awal perjuangan feodalistik antara kerajaan Peliatan dan Mengwi, keduanya mengatasi perbedaan mereka setelah pertempuran yang dikatakan melibatkan kekuatan magis. Setelah itu, orang-orang Mengwi pindah untuk membantu mendiami Ubud dan selama 1800-an seluruh daerah mulai berkembang dengan persediaan beras yang berlimpah dan ekonomi yang berkembang pesat.

Pada pertengahan abad ke-19 ada sentimen anti-Belanda yang muncul di dalam kerajaan dan konflik makin marak. Mengwi mengalami kekalahan pahit dan semua tanah dibagikan di antara para penyerang. Beberapa pertempuran yang terjadi sebenarnya dipicu oleh Belanda dan ketika itu adalah tidak biasa yang melihat kerajaan yang menentang tiba-tiba membentuk aliansi. Pemerintah Belanda yang menjajah memilih untuk mengganggu politik pulau itu pada awal abad ke-20. Di bawah kepemimpinan Tjokorde Gede Raka Sukawati, Ubud kemudian dikenal sebagai sub-kabupaten dan kemudian pada tahun 1981 menjadi sebuah kecamatan

Ida Tjokorde Gde Sukawati bersama permaisuri. Foto 1915

Afbeeldingsresultaat voor raja ubud dulu


Daftar Raja Ubud dan Sukawati

Wangsa Klungkung

* 1713 – 1733: Dewa Agung Anom (Raja Sukawati sejak sebelum 1713-1733)
* 1733 – 1757: Dewa Agung Gede Mayun Dalem Patemon [anak Dewa Agung Anom]
* c. 1757: Dewa Agung Gede Sukawati [anak Dewa Agung Gede Mayun]
* paruh kedua abad ke-18: Dewa Agung Made Pliatan [saudara Dewa Agung Gede Sukawati]

Penguasa Ubud, di bawah perlindungan Gianyar

* c. 1800: Cokorda Putu Kandel [anak Dewa Agung Made Pliatan]
* abad ke-19: Cokorda Sukawati [anak Cokorda Putu Kandel]
* 1874: Cokorda Rai Batu [anak Cokorda Sukawati]
* 1889 – 1919: Cokorda Gede Sukawati [anak Cokorda Rai Batur]
* 1919 – 1931: Cokorda Gede Raka Sukawati (wafat 1979) [anak Cokorda Gede Sukawati]
* 1931 – 1950: Cokorda Gede Agung Sukawati (wafat 1978) [saudara Cokorda Gede Raka Sukawati]

Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_Raja_Bali#Raja-raja_Sukawati_dan_Ubud


Puri (Istana) Saren Ubud

Istana Ubud, Puri Saren Agung, dibuat oleh Ida Tjokorda Putu Kandel yang memerintah pada tahun 1800-1823 Masehi, dan tetap terjaga sampai saat ini.
Puri Saren Ubud (Ubud Palace) merupakan istana kerajaan Ubud Bali yang indah dengan rumah-rumah tradisional sebagai tempat kediaman Raja Ubud. Keberadaan puri ini menunjukkan jiwa serta identitas dari Desa Ubud itu sendiri.
* Tentang Puri Ubud: link
* Foto Puri Saren Agung: link

Puri Saren Agung

Ubud, Bali - Puri Saren Agung Ubud - a photo on Flickriver


Puri di Bali

Puri di pulau Bali adalah nama sebutan untuk tempat tinggal bangsawan Bali, khususnya mereka yang masih merupakan keluarga dekat dari raja-raja Bali. Berdasarkan sistem pembagian triwangsa atau kasta, maka puri ditempati oleh bangsawan berwangsa ksatria.

Puri-puri di Bali dipimpin oleh seorang keturunan raja, yang umumnya dipilih oleh lembaga kekerabatan puri. Pemimpin puri yang umumnya sekaligus pemimpin lembaga kekerabatan puri, biasanya disebut sebagai Penglingsir atau Pemucuk. Para keturunan raja tersebut dapat dikenali melalui gelar yang ada pada nama mereka, misalnya Ida I Dewa Agung, I Gusti Ngurah Agung, Cokorda, Anak Agung Ngurah, Ratu Agung, Ratu Bagus dan lain-lain untuk pria; serta Ida I Dewa Agung Istri, Dewa Ayu, Cokorda Istri, Anak Agung Istri, dan lain-lain untuk wanita.

Puri Saren Agung

Gerelateerde afbeelding

Daerah atau wilayah kekuasaan puri-puri di Bali zaman dahulu, tidak berbeda jauh dengan wilayah administratif pemerintahan kabupaten dan kota di Provinsi Bali. Setelah Kerajaan Gelgel mulai terpecah pada pertengahan abad ke-18, terdapat beberapa kerajaan, yaitu Badung (termasuk Denpasar), Mengwi, Tabanan, Gianyar, Karangasem, Klungkung, Buleleng, Bangli dan Jembrana. Persaingan antardinasti dan antaranggota dinasti pada akhirnya menyebabkan Belanda dapat menguasai Bali dengan tuntas pada awal abad ke-20.

Setelah masa kolonial Belanda, Jepang dan masa kemerdekaan Indonesia, kekuasaan puri berubah menjadi lebih bersifat simbolis. Peranan berbagai puri di Bali umumnya masih tinggi sebagai panutan terhadap berbagai pelaksanaan aktivitas adat dan ritual Agama Hindu Dharma oleh masyarakat banyak.


Sejarah singkat kerajaan-kerajaan di Bali

Kerajaan Bali merupakan istilah untuk serangkaian kerajaan Hindu-Budha yang pernah memerintah di Bali, di Kepulauan Sunda Kecil, Indonesia. Adapun kerajaan-kerajaan tersebut terbagi dalam beberapa masa sesuai dinasti yang memerintah saat itu. Dengan sejarah kerajaan asli Bali yang terbentang dari awal abad ke-10 hingga awal abad ke-20, kerajaan Bali menunjukkan budaya istana Bali yang canggih di mana unsur-unsur roh dan penghormatan leluhur dikombinasikan dengan pengaruh Hindu, yang diadopsi dari India melalui perantara Jawa kuno, berkembang, memperkaya, dan membentuk budaya Bali.

Kerajaan di Bali, sekitar tahun 1900.

Karena kedekatan dan hubungan budaya yang erat dengan pulau Jawa yang berdekatan selama periode Hindu-Budha Indonesia, sejarah Kerajaan Bali sering terjalin dan sangat dipengaruhi oleh kerajaan di Jawa, dari kerajaan Medang pada abad ke-9 sampai ke kerajaan Majapahit pada abad ke-13 hingga 15. Budaya, bahasa, seni, dan arsitektur di pulau Bali dipengaruhi oleh Jawa. Pengaruh dan kehadiran orang Jawa semakin kuat dengan jatuhnya kerajaan Majapahit pada akhir abad ke-15.
Setelah kekaisaran jatuh di bawah Kesultanan Muslim Demak, sejumlah abdi dalem Hindu, bangsawan, pendeta, dan pengrajin, menemukan tempat perlindungan di pulau Bali. Akibatnya, Bali menjadi apa yang digambarkan oleh sejarawan Ramesh Chandra Majumdar sebagai benteng terakhir budaya dan peradaban Indo-Jawa.
Kerajaan Bali pada abad-abad berikutnya memperluas pengaruhnya ke pulau-pulau tetangga. Kerajaan Gelgel Bali misalnya memperluas pengaruh mereka ke wilayah Blambangan di ujung timur Jawa, pulau tetangga Lombok, hingga bagian barat pulau Sumbawa, sementara Karangasem mendirikan kekuasaan mereka di Lombok Barat pada periode selanjutnya.

Sejak pertengahan abad ke-19, negara kolonial Hindia Belanda mulai terlibat di Bali, ketika mereka meluncurkan kampanye mereka melawan kerajaan kecil Bali satu per satu. Pada awal abad ke-20, Belanda telah menaklukkan Bali karena kerajaan-kerajaan kecil ini jatuh di bawah kendali mereka, baik dengan kekerasan atau dengan pertempuran, diikuti dengan ritual massal bunuh diri, atau menyerah dengan damai kepada Belanda. Dengan kata lain, meskipun beberapa penerus kerajaan Bali masih hidup, peristiwa-peristiwa ini mengakhiri masa kerajaan independen asli Bali, karena pemerintah daerah berubah menjadi pemerintahan kolonial Belanda, dan kemudian pemerintah Bali di dalam Republik Indonesia.


Peta kuno Bali

Klik di sini untuk peta kuno Bali 1618, 1683, 1700-an, 1750, 1800-an, 1856, abad ke-19.

 Bali abad ke-16 ?


Sumber / Source

Sejarah Puri Saren Agung Ubud: http://www.rentalmobilbali.net/puri-ubud/
– Sejarah Puri Saren Agung Ubud: http://beninbali99.blogspot.co.id/2011/10/puri-saren-agung-ubud-bali.html
Sejarah Ubud: http://agusyurana.blogspot.co.id/2010/04/sejarah-ubud.html
– Sejarah Ubud: http://jagatpayogan.blogspot.co.id/p/raja-ubud.html
– Sejarah Ubud: http://ray-raikonen.blogspot.co.id/2007/04/sejarah-desa-ubud.html
– Daftar Raja Ubud dan Sukawati di Wiki: https://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_Raja_Bali#Raja-raja_Sukawati_dan_Ubud
———————-

Intervensi Belanda di Bali, 1846, 1848, 1849, 1906, 1908

– 1846: Perang Bali I: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/bali/perang-bali-i-1846/
– 1848: Perang Bali II: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/bali/perang-bali-ii-1848/
– 1849: Perang Bali III: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/bali/perang-bali-iii-1849/
– 1906: Intervensi belanda di Bali / Puputan 1906: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/bali/puputan-bali-1906/
– 1908: Intervensi Belanda di Bali / Puputan 1908: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/bali/puputan-klungkung-1908/


 

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s