Sidenreng, kerajaan / Prov. Sulawesi Selatan – kab. Sidenreng-Rappang

Kerajaan Sidenreng adalah kerajaan Suku Bugis; terletak di Sulawesi, Kab. Sidenreng-Rappang, prov. Sulawesi Selatan.
Kerajaan Sidenreng berdiri abad ke-14 dan masih ada (2022).
Kerajaan Rappang dan Kerajaan Sidenreng adalah kerajaan kembar yang diperintah oleh dua orang Raja, kakak beradik. Oleh karena itu, tidak ada batas yang tegas pemisah kedua wilayah kerajaan tersebut.
Kerajaan Rappang masuk Konfederasi Ajatappareng.
Raja bergelar Arung.

The kingdom of Sidenreng was a kingdom of the Bugis People; located in Kab. Sidenreng-Rappang. South Sulawesi. This kingdom was founded in the 14th century, and still exists (2022).
The Rappang Kingdom and the Sidenreng Kingdom are twin kingdoms ruled by two kings, brothers. Therefore, there is no clear boundary separating the two kingdoms. The Rappang Kingdom entered the Ajatappareng Confederation.
The title of the king is Arung.
For english, click here

Lokasi kab. Sidenreng Rappang


* Foto foto kerajaan Sidenreng: link


Garis kerajaan-kerajaan di Sulawesi: link


Foto kerajaan-kerajaan di Sulawesi

* Foto sultan dan raja yang masih ada di Sulawesi: link
* Foto sultan dan raja di Sulawesi dulu: link
* Foto situs kuno di Sulawesi: link


Video sejarah kerajaan-kerajaan di Sulawesi

– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi, 40.000 SM – 2018: link
– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi Selatan, 1M – 2020: link
– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi Tenggara, 50.000 SM – 2020: link
– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi Utara, 4000 SM – sekarang: link


KERAJAAN SIDENRENG

Raja kerajaan Sidenreng

25 febr. 2020
Ir H.Andi Faisal Andi Sapada resmi dinobatkan sebagai Addatuang Sidenreng ke-25. Secara Lembaga Adat Kerajaan Nusantara, Kerajaan Sidenreng resmi masuk dalam keluarga Yang Mulia Para (YMP) Raja-Raja Se-Nusantara.
Legitimasi Addatuang Sidenreng secara Adat kini Diakui Majelis Adat Kerajaan Nusantara (MAKN).
Sementara itu, sejumlah Raja-Raja Se-Nusantara dan sejumlah Raja-raja di Sulsel juga turut hadir pada prosesi sakralnya Addatuang Sidenreng ke-25 ini.
– Sumber: https://www.mediarestorasi.com/daerah/sulawesi/sulsel/

20 Oktober 2019
Addatuang Sidenreng ke-24, Haji Andi Patiroi Pawiccangi meninggal dunia, Minggu 20 Oktober 2019. Kabar duka ini disampaikan keluarga almarhum, Andi Sukri Baharman di Sidrap.

22 desember 2012
Penobatan Yang Mulia Paduka (YMP) Haji Andi Patiroi Pawiccangi sebagai Addatuang Sidenreng ke-24.
Beliau adalah cucu langsung dari Addatuang Sidenreng terakhir, yakni Petta La Cibu.
– Sumber / Source: link

25 febr. 2020. Ir H.Andi Faisal Andi Sapada resmi dinobatkan sebagai Addatuang Sidenreng ke-25.

—————–
Video penobatan raja Sidenreng ke-25, 25 febr. 2020

—————–
Addatuang Sidenreng ke-24, Haji Andi Patiroi Pawiccangi meninggal dunia, Minggu 20 Oktober 2019

Sidenreng


Sejarah kerajaan Sidenreng dan kerajaan Rappang

Kerajaan Rappang dan Kerajaan Sidenreng adalah kerajaan kembar.
Di kerajaan Sidenreng kepala pemerintahannya bergelar Addatuang. Pada pemerintahan Addatuang, keputusan berasal dari tiga sumber yaitu, raja, pemangku adat dan rakyat.
Di Kerajaan Rappang rajanya bergelar Arung Rappang dan menyandarkan sendi pemerintahanya pada aspirasi rakyat.

Sidenreng Rappang atau yang lebih akrab disingkat SIDRAP, memiliki sejarah panjang sebagai kerajaan Bugis yang cukup disegani di Sulawesi Selatan sejak abad ke-14, disamping kerajaan Luwu, kerajaan Bone dan kerajaan Gowa, Soppeng, dan Wajo. Sidenreng merupakan salah satu dari sedikit kerajaan yang tercatak dalam kitab La Galigo yang amat melegenda. Sementara masa La Galigo, menurut Christian Pelras yang menulis buku Manusia Bugis, berlangsung pada periode abad ke-11 dan abad ke-13 Masehi. Ini berarti Sidenreng merupakan salah satu kerajaan kuno atau pertama di Sulawesi Selatan.

Di abad selajutnya, kerajaan Sidenreng yang berpusat di sekitar danau besar (Tappareng karaja) menjadi salah satu negeri yang ramai dan terkenal hingga ke benua lain. Ini sesuai dengan catatan seorang Portugis di abad ke-16 M yang menuliskan Sidereng sebagai “…sebuah kota besar dan terkenal, berpusat di sebuah danau yang dapat dilayari, dan dikelilingi tempat-tempat pemukiman.” (Tiele 1880, IV;413).

Manuel Pinto, seorang berkebangsaan Portugsi lainnya malah sempat menetap selama delapan bulan di kerajaan Sidenreng dan merekam suasana tahun 1548 M. Pinto menggambarkan Sidenreng sebagai sebuah negeri yang ramai dengan penduduk sekitar 300.000 orang.

Sejarawan lainnya mencatat, “Sidenreng adalah perbatasan wilayah pengaruh Luwu dan Siang, terletak di antara dataran yang merupakan satu-satunya celah alami antara gugusan gunung yang memisahkan pantai barat dan timur semenanjung Sulawesi Selatan.” (Andaya 2004, Warisan Arung Palakka, Sejarah Sulawesi di abad ke-17).

Dalam literatur lain, Rappang disebutkan sebagai kerajaan yang menguasai daerah hilir Sungai Saddang di abad ke-15 M. Bersama dengan Sidenreng, Sawitto, Alitta, Suppa, dan Bacukiki, mereka membentuk persekutuan Aja’Tappareng (wilayah barat danau) untuk membendung dominasi Luwu. Persekutuan itu kemudian diikatkan dalam perkawinan antar keluarga raja-raja mereka.

Ada beberapa versi mengenai cikal bakal kerajaan Sidenreng dan Rappang.
Meski memiliki perbedaan, namun versi-versi menggambarkan pertautan antara Sidenreng dan Rappang sudah ada sejak awal. Itu sebabnya, kedua kerajaan memiliki hubungan yang sangat erat. Terbukti dengan sumpah kedua kerajaan yang dipegang teguh hingga Addatuang Sidenreng terakhir, yakni: Mate Elei Sidenreng, Mate Arewengngi Rappang (bahasa Bugis), artinya, Jika Sidenreng mati dipagi hari, sorenya Rappang akan menyusul. Sebuah ikrar solidaritas sehidup semati yang dipegang teguh setiap raja atau arung yang memerintah di kedua kerajaan.

Walau demikian, kedua kerajaan ini juga memiliki perbedaan yang sangat mendasar dalam sistem pemerintahan.
Kerajaan Sidenreng menerapkan sistem yang Top Down yang dalam bahasa Bugis disebut Massorong Pao, sedangkan kerajaan Rappang justru sudah lebih maju dalam menerapkan demokrasi dengan menganut sistem Mangelle Pasang (Buttom Up). Namu perbedaan itu tidak memisahkan hubungan keduanya.

Malah, pada 1889, kerajaan Sidenreng dan kerajaan Rappang justru diperintah oleh seorang raja bernama Lapanguriseng. Ia menjadi Addatuang ke-10 sekaligus Arung Rappang ke-19. Hal yang sama juga diteruskan oleh putranya, Lasadapotto, Addatuan Sidenreng ke-12 yang naik tahta menggantikan saudaranya, Sumangerukka, yang tidak memiliki keturunan.

Dalam perjalanannya, kerajaan Sidenreng dan Rappang mengalami pasang surut pemerintahan, hingga tahun 1906 kedua kerajaan yang ketika itu diperintah La Sadapotto, Addatuang Sidenreng ke-12 sekaligus Arung Rappang ke-20, akhirnya dipaksa tunduk kepada kolonial Belanda setelah melalui perlawanan yang sengit. Wilayah kedua kerajaan ini kemudian berstatus distrik dalam wilayah onderafdeling Parepare.
Selanjutnya pada 1917 kedua wilayah tersebut digabung menjadi satu, sebagai bagian dari wilayah pemerintahan Afdeling Parepare.

– Untuk sejarah lengkap, klik di sini

Rumpun Keluarga Addatuang Sidenreng terakhir


Daftar raja kerajaan Sidenreng

Sumber:
* Komunitas Pemerhati Sejarah dan Kebudayaan Sidenreng Rappang:

https://www.facebook.com/permalink.php?id=1591985797697272&story_fbid=1593129170916268
* Wiki: https://id.wikipedia.org/wiki/Halaman_Utama

1) Addoang ke-1: La Mallibureng Addoang pertama (…..?).
2) Addoang ke-2: La Pawawoi (….?). Putra Lammalibureng Addoang Sidenreng dengan We Tipu Linge arung Rappang.
3) Addoang ke-3: La Makkaraka (….?). Putra La Pawawoi addoang sidenreng.
4) Addoang ke-4: We Tipu Linge Datu Suppa (….). Putra La Makkarakka Addoang Sidenreng dengan Pajungnge Luwu.
5) Adoang ke-5: We Pawawoi (…….?). Putri We Tipu Linge Addoang Sidenreng dengan Cella mata Labangengnge manurungnge ri bacukiki.
6) Addoang ke-6: La Batara (….?). Putra We Pawawoi dengan sukkupulaweng anakna manurungnge ri bulu lowa.
7) Addoang ke-7: La Pasampoi (….. – …..??). Putra La Batara Addaong Sidenreng dengan We Cinang Arung Rappeng Arung Bulu Cenrana.
8) Addoang ke-8: La Pateddungi (…… – …..??). Putra La Pasampoi Addoang Sidenreng dengan I Pattoling Datu Mario Ri Awo. Beliau dibantu oleh cendekian La Pagala Nene’ Mallomo. Beliau pula lah yang berperang dengan Ladewaraja Daengkelalik Pajung Luwu dalam peristiwa rumpa’na sidenreng.
9) Addoang ke-9: La Patiroi (….. – …..????.). Putra Lapateddungi Addoang Sidenreng dengan We Gempo MassaolocciE.
10) …. – 1634: Addoang ke-10: We Abeng Tellu Latte. Putri La Patiroi Addaoang sidenreng dengan Karaeng To Sapaya Datu Suppa (bangsawan dari Gowa)?. Sebagain orang menganggap beliau lah yang menjabat sebagai addatuang pertama namun sebagian lainnya menganggap bahwa beliau masih bergelar ADDAOANG.
11) 1634-1671: Addatuang ke-1: La Makkaraka . Putra Lapatiroi Addaoang Sidenreng. La Makkaraka adalah saudara dari We Abeng tellu Latte Addoang Sidenreng (no 10).
12) 1671-1675: Addatuang ke-2: La Soni Karaeng Massepe Addatuang Sidenreng . Putra La Makkaraka Addatuang Sidenreng MatinroE ri Palopo dengan Daeng Manokko (saudara somba gowa).
13) 1675-1681: Addaruang ke-3: To Dani Arung Bakke Datu Citta Arung Ajattapareng .  Putra We Tasi Datu Suppa Arung Rappeng dengan La Pabilla Datu Citta Arung Bakke.
14) 1681-1700: Addatuang ke-4: Latenri tatta / Latenri tippe. Putra We Mappanyiwi Datu Bulu Bangi (putri We Abeng tellu latte addoang Sidenreng / no 10 dengan Lasangaji Arung ujungpulu Soppeng) dengan Taranatie Mabbola batue Datu Pammana (putra Lamapparella ri passorie datu pammana dengan I tenri Saeno Datu ri Bunne).
15) 1700-1720: Addatuang ke-5: La Mallewai Arung Berru. Putra La Tenri Tippe To Walanae dengan I Lippeng Daeng Manakku ( I Mannnako Daeng Limpo arung berru).
16) 1720-1740: Addatuang ke-6: Bau Rukiah. Putri Lamallawei arung Berru addatuang Sidenreng dengan Isabaro Dg Mattinri Karaeng Bontoramba binti Abd Hamid Kareng Karunrung to menanga ri ujung tana. Bau Rukiah menikah sebanyak empat kali yakni: Bau Rukiah dengan To Agamette ponggawa bone bin To Ancalo bin La Maddaremmeng Arungpone melahirkan Taranatie addatuang sidenreng dan To Appo Abdullah Addatuang sidenreng, Bau Rukiah dengan petta rung makkedang tana bone, Bau Rukiah dengan I Mappaurangi Karaeng Boddia Sulthan Sirajuddin Somba Tallo melahirkan I Mappakasuma somba Tallo dan Isugiratu, Bau Rukiah dengan Sultan Sumbawa Pangeran Madinah melahirkan Sultan Sumbawa Sultan Muhammad Kaharauddin I. Pangeran mas madinah sebelumnya menikah dengan Bataritoja arungpone.
17) 1740-1760: Addatuang ke-7: Taranatie. Putra Bau Rukiah addatuang sidenreng dengan To Agamette ponggawa bone.
18) 1760-1824: Addatuang ke-8: To Appo Abdullah. Putra Bau Rukiah Addatuang sidenreng dgn To Agamette ponggawa Bone.
19) 1824-1837: Addatuang ke-9: La Wawo Arung Tempe arung Maiwa arung Berru. Putra To Appo Abdullah Addatuang Sidenreng dengan I Tungke Arung Tempe Arung Barani (putri La Paula arung Maiwa dengan I yabeng saudari datu pammana).
20) 1837-1889: Addatuang ke-10: La Panguriseng Addatuang. Putra Lapasanrangi Muhammad Arsyad Petta Cambang Arunglolo Sidenreng dengan I Nomba Datu Pammana anak dari We Sompa Datu Pammana dengan Settiaraja/ lasettiang Maddika Bua. Lapasanrangi Muhammad Arsyad Petta Cambang adalah anak dari Lawawo Addatuang sidenreng dengan I BUMBENG Karaeng Pabbineang putri Safiuddin Karaeng ri Gowa dengan I Mannaungi arung maros. Pada era ini terjadi perebeutan kekuasaan antara anak anak Petta Cambang (muh arsyad) dari istrinya I NOMBA DATU PAMMANA yakni LAPANGURISENG dengan anak anak dari istri beliau WE MUDRIYAH PETTA MAPPALAKKAE yakni LAPATONGAI Datu Lompulle.
21) 1889-1904: Addatuang ke-11: Sumange Rukka. Putra dari La Panguriseng Addatuang Sidenreng dengan I Bangki Arung Rappeng.
22) 1904-1906: Addatuang ke-12: La Sadapotto. Putra La Panguriseng addatuang sidenreng dgn I Bangki Arung Rappeng. Beliau menggantikan saudaranya sebab Sumange Rukka tidak memiliki anak.
23) 1906-1949: Addatuang ke-13: La Cibu Addatuang Sidenreng terakhir. Putra dari Lasadapotto Addatuang sidenreng dengan We Baeda Addatuang Sawitto.

La Pakeranngi Petta Pabbicara Sidenreng


Konfederasi Ajatappareng

Konfederasi Ajatappareng terdiri atas kerajaan Suppa, Sawitto, Sidenreng, Rappang dan Alitta.
Konfederasi Ajatappareng merupakan salah satu bentuk perjanjian persekutuan antara kerajaan di Sulawesi Selatan.
Konfederasi ini terjadi abad ke-16.
Persekutuan Lima Ajatappareng atau Konfederasi Ajatappareng dibentuk untuk mewujudkan kesejahteraan dan ketenteraman dalam rangka menata kehidupan bersama di wilayah Ajatappareng.
Sejarah lengkap Konfederasi Ajatappareng: link

 raja Sidenreng, tahun 1948


Peta-peta Sulawesi masa dulu

Untuk peta peta kuno (1606, 1633, 1683, 1700, 1757, 1872, abad ke-19): klik di sini

Peta Sulawesi dan Maluku, tahun 1683


Sumber / Source

Sejarah kerajaan Sidenreng: http://jayalahsejarahku.blogspot.co.id/2011/10/ajattappareng-sejarah-lokal-sulawesi.html
Sejarah kerajaan Rappang Sidenreng di Wiki: link
– Sejarah kerajaan sidenreng Rappang: http://bugis.iwopop.com/Kerajaan-Sidenreng
– Sejarah kerajaan Sidenreng:
http://www.rappang.com/2009/12/kerajaan-sidenreng.html
– Suku Bugis di Wiki: link

Beberapa versi daftar raja:

– Daftar Raja 1: http://www.worldstatesmen.org/Indonesia_princely_states2.html
Daftar Raja 2: http://my-bukukuning.blogspot.co.id/2013/07/sejarah-dinasti-addatuang-sidenreng.html#.VBgys1fBbIU
Daftar Raja 3:  http://onenusantara.blogspot.co.id/2012/04/silsilah-kerajaan-sidenreng-menurut.html


22 desember 2012:  pelantikan Addatuang Sidenreng ke-24. Kedua dari kiri: Addatuang Sidenreng ke-24. Yang di tengah (baju hitam): Sultan Sumbawa. Sumber foto: Sultan Muhammad Kaharuddin IV, FB

Waktu pelantikan Addatuang Sidenreng di Sidenreng Sulsel. 2014


Peta Sulawesi selatan (incl. Sidenreng) tahun 1909


Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: