Pelalawan, kesultanan / Sumatera – Prov. Riau, kab. Pelalawan

كسولتانن ڤلالاون

Lambang kesultanan Pelalawan.
Kesultanan Pelalawan, 1725-1946. Terletak di Sumatera, Kab. Pelalawan sekarang, prov. Riau.
Diawali sekitar tahun 1725 M, Maharaja Dinda II memindahkan Pusat Kerajaan Tanjung Negeri dari Sungai Nilo ke Hulu Sungai Rasau. Hal ini terjadi dikarenakan wabah penyakit yang menyerang rakyat Tanjung Negeri sejak masa kekuasaan leluhurnya Maharaja Wangsa Jaya (1686 – 1691 M). Seiring perpindahan tersebutlah Maharaja Dinda II mengubah nama Kerajaan Tanjung Negeri menjadi Kerajaan Pelalawan.

The Sultanate of Pelalawan, 1725-1946. Located in the district Pelalawan, province of Riau.
For english, click here

Kab. Pelalawan


* Foto kesultanan Pelalawan: link
* Foto Istana “Sayap” kesultanan Pelalawan: link


Garis kerajaan-kerajaan di Sumatera: link


Foto kerajaan-kerajaan di Sumatera

* Foto sultan dan raja yang masih ada di Sumatera: link
* Foto sultan dan raja di Sumatera dulu: link

* Foto Istana kerajaan di Sumatera: link


KESULTANAN  PELALAWAN

1 Hidup kembali kesultanan 
2 Tentang sultan sekarang 
3 Sejarah kesultanan Pelalawan
4 Daftar sultan
5 Istana
6 Sejarah dan daftar kerajaan2 di Riau
7 Sumber / Source


1) Hidup kembali kesultanan Pelalawan, tahun 2008

Demi menjaga kemakmuran rakyat Pelalawan, pada tahun 1946 Sultan Syarif Harun mendarma baktikan Pelalawan kepada Pemerintah Indonesia Setelah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, Sultan Syarif Harun bersama Orang-orang Besar bersepakat menyatakan diri dan seluruh Rakyat Pelalawan ikut ke dalam Pemerintahan Republik Indonesia, dan siap sedia membantu perjuangan dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Pada tanggal 7 Agustus 2008, Lembaga Kerapatan Adat Melayu Kabupaten Pelalawan mengangkat Tengku Kamaruddin Haroen bin Sultan Syarif Harun sebagai Sultan Pelalawan ke-10, dengan Gelar Sultan Assyaidis Syarif Kamaruddin Haroen.

– Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Pelalawan


2) Tentang sultan sekarang (2021)

Sultan 2021: Assaidissyarif Kamarudin Haroen, Tengku Besar Pelalawan, Raja Pelalawan ke-10. Dinobatkan tanggal 7 Agustus 2008.
– Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Syarif_Kamaruddin


3) Sejarah kesultanan Pelalawan, 1725-1946

I Garis sejarah kesultanan Pelalawan

Kerajaan Pekantua 1380-1505
Kerajaan Pekantua Kampar 1505-1675
Kerajaan Tanjung Negeri 1675-1725
Kesultanan Pelalawan 1725-1946

Sekitar tahun 1725, dilakukan upacara pemindahan pusat kerajaan dari Tanjung Negeri ke Sungai Rasau. Dalam upacara adat kerajaan itulah, Maharaja Dinda II mengumumkan bahwa dengan kepindahan itu, kerajaan berganti nama menjadi kerajaan “Pelalawan”.

II Sejarah kesultanan Pelalawan 1725 1946 

Kesultanan Pelalawan adalah salah satu kerajaan bercorak Islam di Indonesia, yang berpusat di wilayah Provinsi Riau.
Kesultanan Pelalawan merupakan kelanjutan dari kerajaan-kerajaan pra-Islam sejak abad ke-14 M yang berkembang di wilayah Sumatera.

Kerajaan pertama di wilayah kesultanan Pelalawan adalah kerajaan Pekantua. Kerajaan bercorak Hindu itu ditaklukan oleh kesultanan Malaka pada abad ke-15, masa pemerintahan Sultan Mansyur Syah. Kerajaan Pekantua kemudian diislamkan dan berubah menjadi kerajaan Pekantua Kampar. Raja pertama di kerajaan itu adalah Sultan Munawar Syah.

Setelah kesultanan Malaka ditaklukan oleh Portugis pada 1511, kerajaan Pekantua Kampar memisahkan diri dan mengganti namanya menjadi kerajaan Tanjung Negeri. Perubahan nama itu dilakukan ketika pusat pemerintahan dipindahkan pada masa pemerintahan Maharaja Lela Utama (1675-1686). Kerajaan Tanjung Negeri kemudian berhasil ditaklukan oleh kesultanan Johor.

Pusat pemerintahan kerajaan Tanjung Negeri kembali dipindahkan ke tepian Sungai Rasau, salah satu anak Sungai Kampar di Riau yang bermuara di Selat Malaka. Sejak dipindahkan itu, nama kerajaan kembali diubah menjadi kesultanan Pelalawan. Kesultanan Johor, yang menjadi induk dari Pelalawan, ketika itu mengalami permasalahan internal kerajaan. Hal itu lantas memberikan kesempatan bagi kesultanan Pelalawan untuk memerdekakan diri.

Namun sebelum sempat melepaskan diri dari kekuasaan kesultanan Johor, kesultanan Pelalawan terlibat konflik dengan salah satu kerajaan di Riau, yakni kesultanan Siak Sri Inderapura. Mereka mengklaim dirinya sebagai pewaris kesultanan Johor, sehingga memerintahkan kesultanan Pelalawan untuk tunduk pada kekuasaannya. Keinginan kesultanan Siak itu ditolak oleh Sultan Pelalawan, Maharaja Lela II, sehingga menimbulkan perang di antara kedua kerajaan itu.

Setidaknya ada dua kali penyerangan yang dilakukan oleh kesultanan Siak ke wilayah kesultanan Pelalawan, yaitu pada 1797 dan 1810. Serangan pada 1797 dilakukan melalui Sungai Rasau dan Sungai Kampar. Pasukan Pelalawan berhasil memukul mundur armada perang kesultanan Siak Sri Inderapura.

Serangan tahun 1810 dipimpin oleh Syarif Abdurrahman Fakhruddin. Penyerangan yang kedua ini dilakukan melalui dua arah, yakni jalur darat dari arah hulu Sungai Rasau, dan jalur dari muara Sungai Kampar.

Serangan kedua kesultanan Siak Sri Inderapura ternyata mendapatkan dukungan pari pemerintah Belanda. Penyerangan kali ini pun berbuah kemenangan bagi kesultanan Siak Sri Indrapura. Satu persatu pasukan kesultanan Pelalawan menyerah, hingga akhirnya kerajaan berhasil ditaklukan.

Kesultanan Pelalawan kemudian berada di bawah kekuasaan kesultanan Siak Sri Indrapura, dengan sultan barunya, yakni Sultan Syarif Abdurrahman Fakhruddin. Sultan terakhir kesultanan Pelalawan adalah Syarif Harun, keturunana dari Syarif Abdurrahman.

Akhir kekuasaan

Pada masa Pemerintahan Sultan Syarif Harun (1940-1946), adalah masa pemerintahan yang paling sulit di kerajaan Pelalawan. pada masa itu Indonesia sengsara di bawah penjajahan Jepang, rakyat menderita lahir batin. Penderitaan itu dirasakan pula oleh rakyat Pelalawan. Padi rakyat dicabut untuk kepentingan Jepang, orang-orang diburu untuk dijadikan romusha, di mana-mana terjadi kesewenang-wenangan.

Demi menjaga kemakmuran rakyat Pelalawan, pada tahun 1946 Sultan Syarif Harun mendarma baktikan Pelalawan kepada Pemerintah Indonesia. Setelah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, Sultan Syarif Harun bersama Orang-orang Besar bersepakat menyatakan diri dan seluruh Rakyat Pelalawan ikut ke dalam Pemerintahan Republik Indonesia, dan siap sedia membantu perjuangan dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Kesultanan Pelalawan hidup kembali

Pada tanggal 7 Agustus 2008, Lembaga Kerapatan Adat Melayu Kabupaten Pelalawan mengangkat Tengku Kamaruddin Haroen bin Sultan Syarif Harun sebagai Sultan Pelalawan ke-10, dengan Gelar Sultan Assyaidis Syarif Kamaruddin Haroen.

 Sultan Syarif Harun, 1940 – 1946


4) Daftar Raja kesultanan Pelalawan

a) Kerajaan Pekantua (1380-1505)

* 1380-1420: Maharaja Indera
* 1420-1445: Maharaja Pura
* 1445-1460: Maharaja Laka
* 1460-1480: Maharaja Sysya
* 1480-1505: Maharaja Jaya

b) Kerajaan Pekantua Kampar (1505-1675)

* 1505-1511: Munawar Syah
* 1511-1515: Raja Abdullah
* 1526-1528: Sultan Mahmud Syah I
* 1528-1530: Raja Ali/Sultan Alauddin Riayat Syah II
* 1530-1551: Tun Perkasa/ Raja Muda Tun Perkasa
* 1551-1575: Tun Hitam
* 1575-1590: Tun Megat
* 1590-1630: Raja Abdurrahman/Maharaja Dinda
* 1630-1650: Maharaja Lela I/Maharaja Lela Utama
* 1650-1675: Maharaja Lela Bangsawan

c) Kerajaan Tanjung Negeri (1675-1725)

* 1675-1686: Maharaja Lela Utama
* 1686-1691: Maharaja Wangsa Jaya
* 1691-1720: Maharaja Muda Lela
* 1720-1725: Maharaja Dinda II

d) Kesultanan Pelalawan (1725-1946)

* 1725-1750: Maharaja Dinda II/Maharaja Dinda Perkasa/Maharaja Lela Dipati 1775-1798: Maharaja Lela II
* 1798-1822: Sayid Abdurrahman/Syarif Abdurrahman Fakhruddin
* 1822-1828: Syarif Hasyim
* 1828-1844: Syarif Ismail
* 1844-1866: Syarif Hamid
* 1866-1872: Syarif Jafar
* 1872-1886: Syarif Abubakar
* 1886-1892: Tengku Sontol Said Ali
* 1892-1930: Syarif Hasyim II
* 1930-1940: Tengku Sayid Osman/Pemangku Sultan
* 1940-1946: Syarif Harun/Tengku Sayid Harun

* Diobatkan tanggal 7 Agustus 2008: Assaidissyarif Kamarudin Haroen Tengku Besar Pelalawan, Raja Pelalawan ke-10.
———————

Silsilah keturunan Kerajaan Pelalawan dan kerajaan Siak

 Silsilah hubungan Nasab Sultan Pelalawan dan Sultan Siak


5) Istana kerajaan Pelalawan: Istana Sayap

Istana yang didirikan pada masa pemerintahan Sultan Assyaidi Syarif Hasim (1892—1930 M), raja ke-11 kerajaan Pelalawan, pada tahun 1910; ini juga dikenal dengan sebutan istana Sayap karena terdiri dari bangunan utama seluas 4.327 meter persegi dan diapit dua bangunan penunjang di kanan dan kirinya dengan luas masing-masing 103, 5 meter persegi.

Istana megah dan menawan ini memiliki bangunan utama bercat kuning dengan memiliki tangga melengkung yang dipenuhi ukiran khas Melayu di tiap anak dan pegangan tangga.

Di dalam bangunan utama dipamerkan beberapa barang peningggalan kerajaan berupa keris, tombak, keramik, singgasana, payung raja, alat tenun, sejumlah lukisan, dan sulaman khas Pelalawan atau yang biasanya disebut Tekad.

Sejarah Istana:  https://wisatasumatera.wordpress.com/

* Foto Istana “Sayap” kesultanan Pelalawan: link



6) KERAJAAN-KERAJAAN DI RIAU

Untuk sejarah dan daftar kerajaan2 di Riau, klik di sini.


7) Sumber kesultanan Pelalawan

– Sejarah kesultanan Pelalawan: https://id.wikipedia.org/wiki/
– Sejarah kesultanan Pelalawan: https://repository.uin-suska.ac.id/
– Sejarah kesultanan Pelalawan:
http://radarpekanbaru.com/
Daftar raja:   http://wartasejarah.blogspot.co.id/
Sejarah Istana: link
– Sultan baru sejak 2008: https://id.wikipedia.org/wiki/Syarif_Kamaruddin


z1


Peta kerajaan-kerajaan di Riau abad ke-19, incl. Pelalawan


Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: