Lohayong, kerajaan / P. Solor – Prov. Nusa Tenggara Timur

Kerajaan Lohayong terletak di pulau Solor, Kab. Flores Timur, Prov. Nusa Tenggara Timur.

The Kingdom of Lohayong is located on the island of Solor.
For english, click here

Lokasi pulau Solor

Lokasi pulau Solor


* Foto foto pulau (island) Solor: link


Tentang Raja / About the King

Raja (2008): Raja H. Achmad Kalake dari Lohayong.
Sumber: kerajaan indonesia

(2008) Raja H. Achmad Kalake of Lohayong


Sejarah / History kerajaan pulau Solor

Ada 2 kerajaan di pulau Solor:
* Kerajaan Lohayong,
* Kerajaan Lamakera.

Di bawah terjemahan dari Google

Lohayong atau Lawayong adalah kerajaan kecil yang terletak di pulau yang tidak terlalu subur. Terlepas dari kekurangan ini, itu relatif penting di wilayah karena lokasinya yang strategis. Dari Lohayong, mudah untuk mencapai Flores dan Timor, dan pantai utara Solor dilindungi dari unsur-unsur. Portugis, dipimpin oleh padres Dominika, mengukuhkan diri di sana pada tahun 1560-an, meskipun pemberontakan pada tahun 1598 mengguncang posisi mereka, yang mereka hilangkan dengan penaklukan Belanda atas Solor pada tahun 1613.

Takhta raja Lohayong

Selama abad ke-17, raja dan ratusan Lohayong dikenal Belanda sebagai raja dan ratu Solor:
* Kaicil Pertiwi pra 1613-1645,
* jandanya Nyai Cili 1646-64,
* keponakan atau cucunya Nyai Cili Muda 1664 -86, dan
* keponakannya, Sengaji Cili 1687-1700.
Mereka mengklaim sebagai tuan dari kepulauan Alor juga. Mereka adalah pendukung penting VOC dalam perjuangannya dengan Portugis, bahkan setelah VOC memutuskan untuk mengubah benteng utamanya ke Kupang di Timor pada tahun 1653. Garis raja Solor mati bersama Sengaji Cili pada tahun 1700, dan keluarga baru mengambil alih sebagai pangeran setempat (sengajis). Keluarga yang mendominasi urusan-urusan di abad ke-18 mengklaim keturunan dari penguasa Solor sebelumnya. Mereka harus menanggung serangan oleh umat Katolik Larantuka pada tahun 1759, dan pemberontak internal dari Menanga pada tahun 1773. Perubahan wajah kolonialisme menurunkan kepentingan regional mereka pada abad ke-19, dan secara resmi dimasukkan dalam kerajaan yang lebih besar dari Larantuka pada tahun 1929 – ironisnya dipaksa oleh otoritas kolonial Belanda untuk menundukkan diri mereka sendiri ke musuh lama mereka.

Persekutuan Solor Watan Lema atau Negeri Lima Pantai

Lima kerajaan kecil yang dibangun masyarakat Muslim membuat persekutuan untuk melawan Portugis di Pulau Solor, NTT. Selanjutnya mereka disebut persekutuan Solor Watan Lema atau Negeri Lima Pantai.

Kerajaan-kerajaan yang tergabung dalam persekutuan Watan Lema:
* Lohayong,
* Lamakera,
* Lamahala,
* Terong, dan
* Labala.

(foto 2011) Dari kanan ke kiri: – Raja Amam Kelake, kerajaan Lohayong, Raja Nuhur Adi Pehang, kerajaan Lamahala, Raja Ibrahim Tuan Dasy, kerajaan Lamakera, Raja Ibrahim Baha Mayeli, kerajaan Labala and Raja Bapa Pukeng kerajaan Terong.

(foto 2011) From R to L: - Raja Amam Kelake of Lohayong, Raja Nuhur Adi Pehang of Lamahala, Raja Ibrahim Tuan Dasy of Lamakera, Raja Ibrahim Baha Mayeli of Labala Lembata and Raja Bapa Pukeng of Terong

Latar belakang terbentuknya persekutuan Solor Watan Lema dijelaskan dalam jurnal berjudul Situs Menanga Solor Flores Timur, Jejak Islam di NTT yang ditulis Muhamad Murtadlo. Diterbitkan Jurnal Lektur Keagamaan Kementerian Agama tahun 2017.
Murtadlo menceritakan, Sultan Menanga bernama Shahbudin bin Ali bin Salman Al Farisi yang datang ke Pulau Solor berhasil memimpin persekutuan Solor Watan Lema antara tahun 1613-1645. Kemudian Shahbudin menyebut dirinya Sultan Menanga karena berkuasa di wilayah Menanga.

Persekutuan lima kerajaan kecil sendiri bertujuan untuk melawan bangsa Portugis yang telah membangun benteng di Lohayong. Benteng tersebut kini dikenal dengan nama Benteng Lohayong atau Benteng Fort Henricus.
“Karena ada momen itu, lima kerajaan pantai yang semuanya hampir bisa dikatakan Kerajaan Islam bersatu, mereka menyusun kekuatan bersama untuk menaklukkan Benteng Portugis,” kata Murtadlo belum lama ini.
Sebelumnya diceritakan dalam jurnalnya, bangsa Portugis datang ke Solor sekitar 1561. Kemudian mereka membangun Benteng Lohayong pada 1566. Pada saat itu masyarakat Solor dan sekitarnya meminta Sultan Menanga untuk memimpin perlawanan terhadap Portugis.

Perlawanan Sultan Menanga bersama Negeri Lima Pantai terhadap Portugis didukung oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Diketahui VOC sendiri memiliki keinginan menggeser kekuasaan Portugis di daerah Lohayong.
Sebagai imbalan untuk Sultan Menanga, VOC akan mengakui kedaulatan persekutuan Solor Watan Lema. Terkait tujuan VOC menggeser Portugis tidak lepas dari kepentingan mereka untuk mendapatkan keuntungan dari kepergian Portugis.

Peta kerajaan Adonara, Lohayong, Lamakera, Terong, Lamahala, Labata 


Sumber / Source

– Tentang raja Lohayonghttp://riaulingga.blogspot.co.id/2005/08/lohayong-solor-ntt.html
Sejarah kerajaan Lohayong (bah. inggris)http://riaulingga.blogspot.co.id/2005/08/lohayong-solor-ntt.html
—————–

Suku Solor: http://suku-dunia.blogspot.co.id/2015/01/sejarah-suku-solor.html
Benteng Lohayong di pulau Solor: http://travel.kompas.com/read/2012/10/22/20372773/Benteng.Lohayong.Cikal.Bakal.Misi.Portugis.di.Flores.


Peta kuno lokasi Solor

Pulau Solor, tahun 1620

——————

Peta Solor tahun 1656

——————-

Kepulauan Sunda Kecil, tahun 1725 (Solor di tengah)


 

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s