Tindalun, kerajaan / Prov. Sulawesi Selatan – kab. Enrekang

Kerajaan Tindalun terletak di prov. Sulawesi Selatan, kab. Enrekang, di kaki Gunung Bambapuang.

Lokasi Tindalun, kab. Enrekang


Garis kerajaan-kerajaan di Sulawesi: link


Foto kerajaan-kerajaan di Sulawesi

* Foto sultan dan raja yang masih ada di Sulawesi: link
* Foto sultan dan raja di Sulawesi dulu: link
* Foto situs kuno di Sulawesi: link


Video sejarah kerajaan-kerajaan di Sulawesi

– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi, 40.000 SM – 2018: link
– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi Selatan, 1M – 2020: link
– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi Tenggara, 50.000 SM – 2020: link
– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi Utara, 4000 SM – sekarang: link


KERAJAAN  TINDALUN

Pada zaman dahulu kala, di kaki Gunung Bambapuang terdapat suatu kerajaan tua yang bernama kerajaan Tindalun. Didalam kerajaan itu sendiri terdapat sebuah perkampungan kecil yang juga dinamai Tindalun.

Konon pada suatu ketika, datanglah seseorang yang disebut “To Mallaorilangi” (orang yang turun dari langit) atau yang dalam istilah lainnya disebut To Manurung, di kampung Tindalun yang terletak di sebelah selatan  Gunung Bambapuang tersebut. To Manurung itu juga menurut riwayatnya konon datang dari Tangsa, yaitu sebuah daerah dari Tanah Toraja.

Mulanya, di tangga ada seorang ibu muda cantik bernama Masaang yang mempunyai 5 orang anak, entah karena apa, kelima anak Masoang itu terbagi-bagi. Beberapa hari kemudian, tak jauh dari sebuah perkampungan, pada suatu malam, masyarakat Tindalun melihat ada api yang berkobar seolah tak ada padamnya. Kerena didorong rasa keingintahuan, masyarakat lalu mencoba mendekati sumber api tersebut, dan ternyata tak jauh dari situ ada anak laki-laki yang rupawan, ganteng serta kulitnya putih bersih, bahkan menurut penilaian masyarakat Tindalun saat itu, selain ganteng, anak itu juga memiliki ciri sebagai anak to Mallabbi, karena itu si anak yang tidak diketahui asal usulnya lalu dibawa ke Kampung Tindalun.

Ketika si anak lelaki tersebut menginjak dewasa, ia lalu dikawinkan dengan seorang putri raja kerajaan Tindalun yang sangat cantik. Dari perkawinan itu, lahirlah putra mereka yang diberi nama Kalando Palapana. Kalando Palapana inilah yang setelah dewasa kemudian diangkat menjadi raja Tindalun selanjutnya.

Tindalun merupakan wilayah yang ketika itu amat kaya dengan sumber daya alam, setiap musim panen masyarakat sangat bersuka ria  karena hasil pertanian yang selalu melimpah ruah. Tapi kondisi inilah yang membuat mereka jadi lupa diri, suasana hura-hura hampir tak terlewatkan setiap saat dan perilaku masyarakat yang saat itu sangat menjunjung tinggi budaya dan adat istiadat leluhur, mulai bergeser kehidupan seks bebas.

Kabarnya sempat mewarnai hari-hari mereka dan penyakit masyarakat tersebut bahkan sempat mewabah di kalangan kerabat kerajaan menyusul terlibatnya salah seorang anak raja Tindalun. Dan saat itu juga datang bencana yang memporak-porandakan wilayah kerajaan Tindalun, mereka yang saat itu gemar melakukan seks di luar nikah semua dikutuk menjadi bukit-bukit. Diantaranya adanya yang menyerupai alat kelamin wanita, gunung yang menghadap ke barat yang terletak di sebelah timur Gunung Bambapuang inilah yang kemudian dikenal dengan sebutan Buntu Kabobong, terdapat pula gunung yang menjorok ke seberang menghampiri Buntu kabobong. Gunung ini bentuknya menyerupai alat kelamin laki-laki, antara kedua gunung ini dibatasi oleh sebuah anak sungai.
– Sumber: http://zhalabe.blogspot.com/2011/10/legenda-buntu-kabobong.html#.YdOSRVkxW5c


To Manurung

Proses awal keberadaan kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan pada umumnya selalu diawali dengan kemunculan berbagai mitos. Mitos itulah yang melahirkan sosok To Manurung yang mewarisi raja-raja berikutnya.
To Manurung di kebanyakan kerajaan di Sulawesi Selatan banyak di beritakan muncul sekitar abad ke-13 dan 14.


Peta-peta Sulawesi masa dulu

Untuk peta peta kuno (1606, 1633, 1683, 1700, 1757, 1872, abad ke-19): klik di sini

Peta Sulawesi dan Maluku, tahun 1683


Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: