Suku Blagar – P. Alor, NTT

Suku Blagar berdiam dalam wilayah pulau Pantar dan pulau Alor Barat Laut, Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Anggota Suku bangsa ini relatif tidak besar dan tidak ada data berapa jumlah mereka yang sesungguhnya di antara keseluruhan penduduk kedua kecamatan tersebut di atas.
Pada tahun 1986 jumlah penduduk Kecamatan Pantar di Pulau Pantar itu 32.359 jiwa, dan penduduk Kecamatan Alor Barat Laut 61.413 jiwa.

Kerajaan-kerajaan di P. Alor: klik di sini

Lokasi P. Alor, NTT

Lokasi P. Alor


* Foto foto suku2 di p. Alor, klik di sini


Umum

Di pulau Alor ada beberapa suku.
Mereka sendiri terdiri atas sejumlah sub-suku bangsa, antara lain Abui, Alor, Belagar, Deing, Kabola, Kawel, Kelong, Kemang, Kramang, Kui, Lemma, Maneta, Mauta, Seboda, Wersin, dan Wuwuli. Pada masa lampau sub-sub suku bangsa tersebut masing-masing hidup terasing di daerah perbukitan dan pegunungan, terutama untuk menghindari peperangan dan tekanan dari dunia luar.

Suku Pantar, Etnis Dia’ang/ Dei’ing di Kab. Alor merupakan penduduk asli yang mendiami Pulau Pantar, Pura dan Pulau Alor.
Suku Abui adalah kelompok sosial yang berdiam di P. Alor. Mereka ini berdiam dalam wilayah-wilayah bernama Likuwatang, Malaikawata, Kelaisi, Tafuikadeli, Atimelang dan Motang.
Suku Blagar berdiam dalam wilayah pulau Pantar dan pulau Alor Barat Laut.
Suku Kui berdiam di P. Alor, di daerah Kolana dan daerah Pureman sebagai bagian dari wilayah administratif Kabupaten Alor.
Suku Kabola merupakan salah satu duku di Alor yang mendiami daratan Pulau Alor, Pantar dan pulau-pulau kecil di antaranya.


Tentang Suku Blagar

Info di bawah di ambil dari: http://suku-dunia.blogspot.com/2016/04/sejarah-suku-blagar.html

Bahasa Blagar mempunyai tiga macam dialek, yakni dialek Kolijahe, Pura, dan Reta. Masing-masing pemakai dialek tadi dapat memahami dialek yang lainnya. Sampai sekarang bahasa atau dialek tadi masih dipakai dalam rangka upacara-upacara adat, misalnya upacara daur hidup seperti kelahiran, perkawinan, dan kematian. Bahasa itu dipakai pula dalam rangka upacara minta hujan, panen, dan lain-lain. Dalam upacara semacam itu sering muncul bahasa yang bernilai kesusastraan. Namun pada masa ini kalangan generasi muda sudah kurang menaruh perhatian terhadap Blagar ini. Mereka lebih suka menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Melayu Alor Blagar, karena takut dianggap kurang terpelajar atau dirasa kurang bergengsi. Baca juga Sejarah Suku Alor

Hal ini dipengaruhi oleh semakin lancarnya hubungan antara anggota berbagai kelompok etnik yang ada. Itulah pula sebabnya menjadi sulit untuk mengetahui secara pasti jumlah penutur bahasa tersebut atau mengetahui jumlah anggota suku Munandjar Widyatmika et al (1985) dalam Peta Sejarah Provinsi Nusa Tenggara Timur memperlihatkan bahwa kota Kabir di Pulau Pantar dan kota Kalabahi di Pulau Alor adalah pusat-pusat penyebaran agama Islam pada abad ke 15 dan 16. Penyebaran ke Kabir datang dari Makassar, Sulawesi Selatan, sedangkan penyebaran ke Kalabahi datang dari Ternate, Maluku dan selanjutnya datang dari Bima, Jawa, dan Minangkabau.

Di tengah alam kepulaua yang berbukit-bukit dengan jenis tanah litosol, umumnya mereka hidup dari pertanian dan menangkap ikan. Dalam pertanian mereka menanam jagung dan ubi jalar.
Bahasa Blagar adalah salah satu dari 13 bahasa yang ada di Kepulauan Alor, yakni bahasa-bahasa Alor, Lemma, Tewa, Nedebang, Keian, Kabola, Kui atau Kiraman, Kafoa, Abui, Woisika, Kolana, Tanglapui, dan Blagar. Sumber lain menyebutkan bahwa di Kepulauan Alor ini terdapat tidak kurang dari 40 buah bahasa, suatu jumlah yang cukup besar untuk sebuah Kabupaten seperti Alor ini.


Sumber

– Suku Blagar: http://suku-dunia.blogspot.com/2016/04/sejarah-suku-blagar.html


Create a free website or blog at WordPress.com.

<span>%d</span> bloggers like this: