Sejarah lengkap kerajaan Sidenreng

Sumber: Andi Firdaus Daeng Sirua
Di ambil dari: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=2712639298763683&set=gm.2831057290243584&type=3&theater


Diawali terbentuknya sebuah wanua yang disebut AJATAPPARENG, “terletak di sebelah Barat danau Sidenreng” [Ensiklopedia Sejarah Sulawesi-Selatan]. Menurut catatan lontara, dahulu kala, kisahnya berawal ketika DELAPAN BERSAUDARA yang berasal dari Kerajaan Sangalla, Tana Toraja versi lain dari Luwu oleh nama-nama raja berbahasa Bugis, alkisah turun dari sebuah bukit menuju danau secara BERGANDENGAN [dalam bahasa Bugis disebut SIDENRENG]. Mereka lalu memutuskan untuk membuka wanua [kampung] baru di pinggir danau tersebut yang di kemudian hari oleh orang Bone, orang Wajo dan orang Soppeng menyebutnya WANUA ri AJANGNA TAPPARENGNGE. Jadi kata Ajatappareng dan Sidenreng adalah dua sebutan yang saling terkait dalam suatu peristiwa.

Setelah sepeninggal delapan bersaudara, BOLAPATINA [putri La Maddaremmeng dari kakak tertua delapan bersaudara yang menetap di Sangalla] mengunjungi Rappang bersama suami yang bernama DATU PATILA dan melahirkan TIGA orang anak yang masing-masing bernama LA MALLIBURENG menjadi penguasa [pertama] di KERAJAAN SIDENRENG, dan WE TIPU ULENG menjadi penguasa [pertama] di KERAJAAN RAPPENG, dan anak yang ketiga diberi kuasa di AJATAPPARENG untuk mengolah sawah La SalamaE [di Teteaji] dan Tappareng yang kini lebih populer disebut Danau Sidenreng. Sementara sebutan wanua Ajatappareng telah berganti nama menjadi TETEAJI yang dahulu secara tradisi merupakan wanua berstatus sebagai TANA IGELLA [Wanua Otonom].

Selanjutnya dikatakan dalam Lontara Panguriseng [milik Andi Thamrin Patara, Tanru Tedong] bahwa antara dua bersaudara, La Mallibureng [Addaoang Sidenreng] dan We Tipu Uleng [Arung Rappeng], membuat perjanjian, yaitu: ‘’mate elei Rappeng, mate arawengi Sidenreng’’, dengan pengertian: “jika Rappang meninggal di waktu pagi maka Sidenreng meninggal di sore hari”. Perjanjian ini bermaksud apabila terjadi perang atau serangan dari pihak luar pada kerajaan Sidenreng, maka kerajaan Rappang akan mendahuluinya.

Pada abad ke XVI M, Sidenreng merupakan kota besar yang terkenal di masanya, berpusat di sebelah Barat Danau Sidenreng. Menurut Manuel Pinto [sejarawan berkebangsaan Portugis], yang pada tahun 1548 sempat menetap 8 bulan di Kerajaan Sidenreng, menggambarkan danau Sidenreng dapat dilayari kapal besar dari laut menuju Sidenreng. Sama halnya Crawfurd, pada tahun 1828 menulis tentang Sidenreng dan menjelaskan situasi kampung-kampung di tepi danau yang merupakan pusat perdagangan luar negeri yang pesat ketika itu. Gambaran demikian telah menjelaskan, bahwa wanua Ajatappareng pernah menjadi pelabuhan transito dan memiliki pasar besar sebagai pusat transaksi perdagangan.

Berbagai literatur menyebut, kerajaan Sidenreng merupakan salah satu dari sejumlah kecil kerajaan yang tercatat dalam kitab La Galigo. Christian Pelras [penulis buku Manusia Bugis] mengungkapkan, “masa La Galigo telah berlangsung pada periode abad 11 dan 13 Masehi”. Artinya, kerajaan Sidenreng termasuk salah satu kerajaan kuno di Sulawesi Selatan dan merupakan kerajaan Bugis yang cukup disegani di masanya.

Dalam buku yang sama [Manusia Bugis], Christian Pelras mengutip Bulbeck [Historical Aechaelogy] dengan mengatakan, bahwa air laut pernah memanjang dari Sungai Cenrana ke arah pegunungan dan terus ke Danau Tempe yang rendah. Situasi itu pernah terjadi pada 7.100 dan 2.600 tahun lalu. Cukup banyak bukti menunjukkan, pada abad ke 16 Masehi, bagian rendah sekitar Danau Tempe dan Danau Sidenreng masih merupakan satu danau yang besar dan luas, namun dalam perjalanan waktu kondisi danau semakin mendangkal.

Seiring perkembangan masa kemudian, wanua Ajatappareng yang dahulu sebagai pelabuhan transito berbagai hasil bumi dari Tana-Toraja, Enrekang, Soppeng, Wajo dan Bone yang diangkut oleh perahu melalui sungai Walanae, danau Tempe dan danau Sidenreng, lalu ditampung saudagar Ajatappareng untuk selanjutnya diangkut lewat darat dengan menggunakan kuda menuju pelabuhan Suppa dan Bacukiki [Pare-Pare], kini semua tinggal KENANGAN yang terlupakan.

Tingkat kemajuan pesat pasar Ajatappareng diperkirakan berlangsung jauh sebelum terjadi Perang Kopi [1860-1898] di Tana-Toraja. Ketika itu, hampir seluruh perdagangan kopi dikuasai saudagar Sidenreng dan Enrekang. Menurut penuturan H. Andi Nasroeddin Daeng Marewa [ayah penulis], kopi yang berasal dari Tana-Toraja sebagian dibarter dengan senjata api yang diimpor dari Singapura, dan bahkan terkadang senjata api ditukar dengan budak.

Tetapi saat pusat perdagangan kopi di Bone dipindahkan ke Luwu oleh Sayed Ali Al Syafii [saudagar kopi terbesar di zamannya, yang berasal dari Mallusetasi/Pare-Pare], memaksa kerajaan Sidenreng untuk melakukan kerjasama dengan pihak penguasa kerajaan Enrekang dan mengatur agar para saudagar Sidenreng tetap mengambil bagian dalam perdagangan kopi. Raja Sidenreng lalu mengutus La Tatu CarawaliE sebagai pemimpin pasukan kerajaan Sidenreng ke daerah Duri, Mamasa, Mandar, Tana-Toraja untuk membawa MISI KERJASAMA antar KERAJAAN.

Jalur utama perdagangan kopi kembali dikuasai saudagar Sidenreng dan Enrekang ketika itu, lalu membangun pemukiman dan pasar baru di Mebali dan Mengkendek, Tana-Toraja. Pada awal abad XX dansaat pendudukan Hindia-Belanda di Tana-Toraja, orang-orang Sidenreng masih ditemukan bermukim di Tanah-Toraja. Begitupun sebaliknya terdapat orang Toraja tinggal di Teteaji [Ajatappareng].

Akibat perpindahan pusat perdagangan kopi di pasar yang baru dibangun orang-orang Sidenreng di Tana-Toraja, maka sejak itu pasar Teteaji surut secara berangsur. Saudagar-saudagar Ajatappareng terpaksa mengalihkan perdagangannya ke Pare-Pare di bidang usaha lain dan bermukim di sekitar pelabuhan Pare-Pare. Tokoh masyarakat asal Teteaji yang terkenal di zamannya adalah H. ALI yang bergerak di bidang perdagangan hasil bumi antar pulau kemudian mendirikan “Firma Ajatappareng” di Pare-Pare dan Makassar pada priode Kabinet Najamuddin Daeng Malewa [Perdana Menteri NIT], lalu membuka perwakilan di Surabaya pada masa Kabinet Ali Sostroamijoyo [Perdana Menteri RIS].

Nama Ajatappareng memang sempat diabadikan lewat dunia usaha, namun kemudian ditelan masa akibat ketidakmampuan para pewarisnya dalam menyesuaikan diri dengan tantangan zaman dan perubahan…

Kini Kerajaan Sidenreng kembali berbenah diri dan mengangkat para ahli waris adat menurut tradisi yang pernah berlangsung, yaitu terdiri:

HADAT TIGA
1. ADDATUANG SIDENRENG [RAJA SIDENRENG]
2. ARUNG RAPPANG [RAJA RAPPANG]
3. ARUNG AJATAPPARENG [RAJA AJATAPPARENG]

HADAT LIMA
1. KADI SIDENRENG [MUFTI SIDENRENG]
2. PABBICARA MASSEPE [PEJABAT TINGGI ISTANA]
3. PABBICARA GURU [PEJABAT TINGGI ISTANA]
4. PABBICARA AMPARITA [PEJABAT TINGGI ISTANA]
5. PABBICARA ARAWA [PEJABAT TINGGI ISTANA]

HADAT DELAPAN
1. MATOA MASSEPE
2. MATOA ARAWA
3. MATOA ALLEKUANG
4. MATOA ARATENG
5. MATOA ALIWUWU
6. MATOA TETEAJI
7. MATOA WATANG SIDENRENG
8. MATOA LISE

Sebagaimana diketahui, Kabupaten Sidenreng-Rappang dikenal sebagai LUMBUNG PADI Sulawesi-Selatan dengan PANDAI BESI di Massepe dan pembuat nisan dari batu alami di Allekuang yang cukup terkenal sejak zaman kejayaan Kerajaan Sidenreng.