Bungo Satangkai, kerajaan / Prov. Sumatera Barat – kab. Tanah Datar

Kerajaan Bungo Satangkai adalah kerajaan Suku Minangkabau. Terletak di Sumatera, Kab. Tanah Datar, prov. Sumatera Barat.
Kerajaan Bungo Satangkai berdiri abad ke-5 sampai pertengahan abad ke-14.
Setelah Kerajaan Pasumayan Koto Batu berakhir, Datuk Ketumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sebatang yang merupakan dua bersaudara se-ibu lain ayah mendirikan kerajaan baru.
Datuk Ketumanggungan mendirikan Kerajaan Bungo Setangkai di Sungai Tarab dan sebagai yang dipertuan (perdana menteri) adalah Datuk Bandaro Putiah. Sedangkan Datuk Perpatih Nan Sebatang mendirikan Kerajaan Dusun Tuo di Lima Kaum.

The Kingdom of Bungo Satangkai was a kingdom of the Minangkabau people, Province of West Sumatera.
It already existed before the kingdom of Pagaruyung.
For english, click here

Kab. Tanah Datar, prov. Sumatera Barat


* Foto sultan dan raja yang masih ada di Sumatera: link
* Foto sultan dan raja di Sumatera dulu: link

* Foto raja-raja di Simalungun dulu: link
* Foto raja-raja kerajaan kecil di Aceh dulu: link

* Foto suku Minangkabau: link
* Foto suku Batak: link
* Foto situs kuno di Sumatera: link


Sejarah kerajaan Bungo Satangkai

Kerajaan Bungo Satangkai berdiri abad ke-5 sampai pertengahan abad ke-14.
Setelah Kerajaan Pasumayan Koto Batu berakhir, Datuk Ketumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sebatang yang merupakan dua bersaudara se-ibu lain ayah mendirikan kerajaan baru.
Datuk Ketumanggungan mendirikan Kerajaan Bungo Setangkai di Sungai Tarab dan sebagai yang dipertuan (perdana menteri) adalah Datuk Bandaro Putiah. Sedangkan Datuk Perpatih Nan Sebatang mendirikan Kerajaan Dusun Tuo di Lima Kaum.

Info di bawah diambil dari: http://kubuangtigobaleh.blogspot.com/2017/05/kerajaan-bungo-satangkai.html

Kerajaan Bunga Setangkai yang berpusat di sungai Tarab, yang usianya dari pertengahan abad ke-5 M sampai pertengahan abad ke-14 M. Dipimpin oleh rajanya yang bergelar Datuk Ketumanggungan.
Sebagaimana diriwayatkan dalam Tambo Minangkabau, kedua orang tokoh ini adalah bersaudara, seibu berlainan Bapak. Dt.Katumanggungan merupakan anak dari  Dt.Sri Maharajo Dirajo, sedangkan Dt. Parpatih Nan Sabatang anak dari Cati Bilang Pandai atau Dt.Suri Dirajo. Ibu mereka tak lain Puti Indo Jalito alias Bundo Kanduang.
Karena terjadinya perselisihan faham dengan adiknya, Dt. Parpatih Nan Sabatang, ditambah pertumbuhan penduduk kian kian meningkat mendiami perkampungan, akhirnya Dt.Katumanggungan memutuskan mencari daerah baru. Perjalanan itu kebetulan dilakukan secara berombongan.
Sampai pada masanya rombongan Dt. Katumanggungan terhenti pada suatu daerah, alamnya terasa elok, subur, dan masyarakat di sana pun ramah. Maka rombongan Katumanggungan merasa cukup nyaman untuk tinggal disana, hingga peradaban baru mulai dikembangkan di tanah baru itu, persisnya di daerah Sungai Tarab.

Demi mempertahankan kebesaran sebagai Putra Mahkota Dt. Sri Maharajo Dirajo, selanjutnya Datuk Katumanggungan mendirikan sebuah kerajaan yang disebut Kerajaan Bungo Satangkai di Sungai Tarab dan sebagai yang dipertuan dipercayakan pada Datuk Banadaro Putieh.
Seiring waktu Kerajaan Bungo Satangkai makin berkembang, sistem kedaulatannya bernama Koto Piliang. Kedaulatan ini juga oleh masyarakat minangkabau disebut keselarasan.
Daerah kekuasaan Kerjaan Bungo Satangkai meliputi Langgam Nan Tujuh.
Kerajaan Bungo Setangkai di Bawah pimpinann Dt.Katumanggungan tetap bertahan dengan undang-undang lama semasa Pasumayan Koto Batu, yakni Undang si Mumbang Jatuh

Berbeda dengan Adiknya selaku pemimpin Kerajaan Dusun Tuo, sempat dilakukan perubahan Undang undang Si Mumbang jatuah menjadi Undang-undang Si Lamo-lamo. Dimans sesuatu keputusan yang akan diambil terlebih dahulu diperhitungkan masak-masak, baik secara mudarat  atau memanfaatkannya. Hukuman yang telah dijatuhkan belum dapat langsung dilaksanakan, tetapi harus diberi Tenggang Waktu lebih dahulu agar hukuman itu benar-benar menghukum orang yang bersalah.

Peta yang menunjukan wilayah penganut kebudayaan Minangkabau di pulau Sumatera.


Sejarah kerajaan-kerajaan Minangkabau

Sebelum Kerajaan Pagaruyung di Minangkabau, sudah ada kerajaan-kerajaan lainnya secara silih berganti antara lain:

1. Kerajaan Pasumayan Koto Baru, yang berpusat di Pariangan, di kaki gunung Merapi, berusia kurang lebih 3 abad sebelum masehi. Raja yang terkenal adalah Sri Maharaja Di raja, yang menurut Tambo Alam  Minangkabau adalah anak dari sultan Iskandar Zulkarnaen.
Pada masa pemerintahan Raja Sri Maharaja Diraja inilah dibentuk koto-koto dan nagari-nagari dan disetiap koto dan nagari dibentuk datuk-datuk sebagai pemimpin adat dan sekaligus sebagai wakil mutlak dari daulat yang dipertuan Sri Maharaja Diraja di Pariangan. Penyempurnaan susunan adat dan pemerintahan dilakukan oleh anaknya Datuk Ketumanggungan dan saudara tirinya Datuk perpatih Nan Sebatang dan mamak kandungnya Datuk Suri Dirajo.

Setelah Kerajaan Pasumayan Koto Batu berakhir, Datuk Ketumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sebatang yang merupakan dua bersaudara se-ibu lain ayah mendirikan kerajaan baru.
Datuk Ketumanggungan mendirikan Kerajaan Bungo Setangkai di Sungai Tarab dan sebagai yang dipertuan (perdana menteri) adalah Datuk Bandaro Putiah. Sedangkan Datuk Perpatih Nan Sebatang mendirikan Kerajaan Dusun Tuo di Lima Kaum

2. Kerajaan Bunga Satangkai. Lihat di atas.

3. Kerajaan Dusun Tuo. Bersamaan dengan Kerajaan Bunga Setangkai berdiri pula kerajaan Dusun Tuo yang berpusat di Lima Kaum, yang dipimpin oleh rajanya yang bergelar Datuk Perpatih Nan Sabatang. Kerajaan ini tidak berusia panjang hanya sampai abad ke-5 M, yang kemudian bersatu dengan Kerajaan Bunga Setangkai. Rajanya kemudian diberi kebesaran Gajah Gadang Patah Gadiang.

4. Kerajaan Lagundi Nan Baselo yang berpusat di Pariangan Padang Panjang, berusia dari pertengahan abad ke-2 M sampai pertengahan abad ke-5 M.

5. Kerajaan Bukit Batu Patah. Kerajaan Bukit Batu Patah adalah kerajaan yang sudah ada di Minangkabau sebelum berdirinya Kerajaan Pagaruyung dan merupakan kelanjutan dari Kerajaan Pasumayan Koto Baru yang terletak di kabupaten Tanah Datar sekarang. Kerajaan Bukit Batu Patah didirikan oleh Sutan Nun Alam yang masih memiliki hubungan keluarga dengan Yang Dipertuan Kerajaan Bungo Setangkai, Datuk Bandaro Putiah.

6. Kerajaan Dharmasraya. Bersamaan dengan berdirinya Kerajaan Bunga Setangkai, di sepanjang Batang Hari didirikan pula kerajaan Dharmasraya yang raja-rajanya pun berasal dari Pariangan Padang Panjang.

7. Kerajaan Pagaruyung. Kerajaan ini pernah dipimpin oleh Adityawarman sejak tahun 1347. Dan sekitar tahun 1600-an, kerajaan ini menjadi Kesultanan Islam.


Peta-peta kuno Sumatera

Untuk peta kuno Sumatera (1565, 1588, 1598, 1601, 1616, 1620, 1707, 1725, 1760), klik di sini

Sumatera, tahun 1707


Sumber

– Sejarah kerajaan Bungo Satangkai di Wiki: Wiki
Sejarah kerajaan Bungo Satangkai:  http://ariefortunazone.blogspot.co.id/2009/06/kerajaan-dusun-tuo-dan-bungo-satangkai.html
– Sejarah kerajaan Dusun Tuo dan Bungo Satangkai: http://ariefortunazone.blogspot.co.id/2009/06/kerajaan-dusun-tuo-dan-bungo-satangkai.html

– Sejarah kerajaan-kerajaan Minangkabau: https://docplayer.info/38018145-Bab-v-kesimpulan-dan-saran-meliputi-wilayah-bekas-kerajaan-bunga-setangkai-dan-wilayah-bekas-kerajaan-dharmasyara.html


Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

<span>%d</span> bloggers like this: