Carangsoka, kadipaten / Prov. Jawa Tengah – kab. Pati

Kadipaten Paranggaruda, abad ke-13/14, terletak di Kabupaten Pati, prov. Jawa Tengah.

The principality (Kadipaten) of Paranggaruda, existed 13/14th century, was located in the District of Pati, prov. Central Jawa.
For english, click here

Kab. Pati, prov. Jawa Tengah


* Foto Jawa dulu, situs kuno dan Batavia: link


Tentang Kadipaten Carangsoka

Menjelang akhir abad ke XIII sekitar tahun 1292 Masehi di Pulau Jawa vakum penguasa pemerintahan yang berwibawa. Kerajaan Pajajaran mulai runtuh, Kerajaan Singasari surut, sedang Kerajaan Majapahit belum berdiri.

Di Pantai utara Pulau Jawa Tengah sekitar Gunung Muria bagian Timur muncul penguasa lokal yang mengangkat dirinya sebagai adipati, wilayah kekuasaannya disebut kadipaten.
Ada dua penguasa lokal di wilayah itu yaitu:
* Penguasa Kadipaten Paranggaruda,
* Penguasa Kadipaten Carangsoka.

Kedua Kadipaten tersebut hidup rukun dan damai, saling menghormati dan saling menghargai untuk melestarikan kerukunan dan memperkuat tali persaudaraan, kedua adipati tersebut bersepakat untuk mengawinkan putra dan putrinya itu.

Kadipaten Carangsoka, wilayahnya berada di daerah utara Sungai Juwana. Penguasa Kadipaten Carangsoka bergelar Adipati Puspahandungjaya, mempunyai putri tunggal bernama Dewi Rayunguwulan. Wilayah kekuasaan Kadipaten Carangsoka meliputi daerah sekarang mrerupakan kecamatan: Trangkil, Juwana, Pati, Margorejo, Tlogowungu, Wedarijaksa, Gembong, Margoyoso, Tayu. Dukuhseti, Gunungwungkal, Cluwak, dan sebagian meliputi wilayah Jepara bagian timur. Bekas pusat pemerintahan Carangsoka berada di Desa Sukoharjo Kecamatan Wedarijaksa.


Adipati Raden Kembangjaya: Carangsoka menjadi Pesantenan

Adipati Raden Kembangjaya adalah penguasa Kadipaten Carangsoka pada abad ke-14.

Untuk mengatur pemerintahan yang semakin luas wilayahnya ke bagian selatan, Adipati Raden Kembangjaya memindahkan pusat pemerintahannya dari Carangsoka ke Desa Kemiri dengan mengganti nama Kadipaten Carangsoka menjadi Kadipaten Pesantenan lalu di ibukota yang baru itu ia memakai gelar Adipati Jayakusuma. Kadipaten Pesantenan inilah yang di kemudian hari berganti nama menjadi Kabupaten Pati.

Sejarah tentang Adipati Raden Kembangjaya (Adipati Jayakusuma), sebagaimana tersebut dalam Babad Pati erat kaitannya dengan keberadaan Kadipaten Carangsoka dan Paranggaruda yang bersebelahan dan akan melakukan besanan antara “Raden Jasari” (dari Kadipaten Paranggaruda) dengan “Rara Rayungwulan” (dari Kadipaten Carangsoka).

Namun menjelang perkawinan dimulai, Rara Rayungwulang melarikan diri bersama “Dalang Sapanyana”. Kejadian ini menyulut pertempuran antara Kadipaten Carangsoka dan Paranggaruda.
Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Kembangjaya


Masalah antara Kadipaten Paranggaruda dan Kadipaten Carangsoka

Utusan Adipati Paranggaruda untuk meminang Rara Rayungwulan telah diterima, namun calon mempelai putri minta bebana agar pada saat pahargyan boja wiwaha daup (resepsi) dimeriahkan dengan pagelaran wayang dengan dalang kondang yang bernama “Sapanyana”.

Untuk memenuhi bebana itu, Adipati Paranggaruda menugaskan penggede kemaguhan bernama Yuyurumpung agul-agul Paranggaruda. Sebelum melaksanakan tugasnya, lebih dulu Yuyurumpung berniat melumpuhkan kewibawaan Kadipaten Carangsoka dengan cara menguasai dua pusaka milik Sukmayana di Majasemi. Dengan bantuan Sondong Majerukn kedua pusaka itu dapat dicurinya namun sebelum dua pusaka itu diserahkan kepada Yuyurumpung, dapat direbut kembali oleh Sondong Makerti dari Wedari. Bahkan Sondong Majeruk tewas dalam perkelahian dengan Sondong Makerti. Dan Pusaka itu diserahkan kembali kepada Raden Sukmayana. Usaha Yuyurumpung untuk menguasai dan memiliki dua pusaka itu gagal.

Walaupun demikian Yuyurumpung tetap melanjutkan tugasnya untuk mencari Dalang Sapanyana agar perkawinan putra Adipati Paranggaruda tidak mangalami kegagalan (berhasil dengan baik).

Pada Malam pahargyan bojana wiwaha (resepsi) perkawinaan dapat diselenggarakan di Kadipaten Carangsoka dengan Pagelaran Wayang Kulit oleh Ki Dalang Sapanyana. Di luar dugaan pahargyan baru saja dimulai, tiba-tiba mempelai putri meninggalkan kursi pelaminan menuju ke panggung dan kemudian melarikan diri bersama Dalang Sapanyana. Pahargyan perkawinan antara ” Raden Jasari ” dan ” Rara Rayungwulan ” gagal total.

Adipati Yudhapati merasa dipermalukan, emosi tak dapat dikendalikan lagi. Sekaligus menyatakan permusuhan terhadap Adipati Carangsoka. Dan peperangan tidak dapat dielakkan. Raden Sukmayana dari Kadipaten Carangsoka memimpin prajurit Carangsoka, mengalami luka parah dan kemudian wafat. Raden Kembangjaya (adik kandung Raden Sukmayana) meneruskan peperangan. Dengan dibantu oleh Dalang Sapanyana, dan yang menggunakan kedua pusaka itu dapat menghancurkan prajurit Paranggaruda. Adipati Paranggaruda, Yudhapati dan putera lelakinya gugur dalam palagan membela kehormatan dan gengsinya.


Peta kuno Jawa

Klik di sini untuk peta kuno Jawa tahun 1598, 1612, 1614, 1659, 1660, 1706, 1800-an, awal abad ke-18, 1840.

Jawa, awal abad ke-18

1234


Sumber

– Tentang kadipaten Carangsoka: https://ketoprakjawa.wordpress.com/2011/03/18/1-kadipaten-carangsoka-paranggaruda/
– Tentang kadipaten Carangsoka: http://www.wikiwand.com/id/Kabupaten_Pati
– Tentang Paranggaruda dan Carangsoka: https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Pati#Kadipaten_Carangsoka_dan_Paranggaruda_Berbesa
Tentang Adipati Raden Kembangjaya: http://www.wikiwand.com/id/Kembangjaya
Kadipaten Pesantenan: https://id.wikipedia.org/wiki/Kadipaten_Pesantenan