Limbong, katomakaan (kerajaan) / Prov. Sulawesi Selatan – kab. Luwu Utara

Katomakaan (kerajaan) Limbong terletak di prov. Sulawesi, kab. Luwu Utara, kec. Limbong.
Pemimpin Limbong disebut Tomakaka. Wilayah yang dipimpin Tomakaka, disebut Katomakaan.

Lokasi kab. Luwu Utara


Garis kerajaan-kerajaan di Sulawesi: link


Foto kerajaan-kerajaan di Sulawesi

* Foto sultan dan raja yang masih ada di Sulawesi: link
* Foto sultan dan raja di Sulawesi dulu: link
* Foto situs kuno di Sulawesi: link


Video sejarah kerajaan-kerajaan di Sulawesi

– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi, 40.000 SM – 2018: link
– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi Selatan, 1M – 2020: link
– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi Tenggara, 50.000 SM – 2020: link
– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi Utara, 4000 SM – sekarang: link


KATOMAKAAN LIMBONG

Tentang tomakaka (raja) sekarang (2022

Tomakaka Limbong 2022 adalah Dra. Bunga Melati.


Tentang katomakaan (kerajaan) Limbong

Info di bawah diambil dari: https://brwa.or.id/wa/view/VWh2VzJMV3FKXzg

Komunitas adat Limbong adalah turunan dari seorang yang bernama Lamarancina yang disebut To Rongkong. Menurut sejarah bahwa Lamarancina adalah sepupu satu kali Sawerigading. Selanjutnya Lamarancina yang menyebarkan keturunan pertama di tana rongkong. Kampung pertama dair penyebaran manusia di tana rongkong yaitu Kanandede dan Uri. Di Kanandede bernama Ne’ Bulu dan di Uri bernama Ne’ Maula, mereka bersaudara.

Komunitas adat Limbong merupakan komunitas yang tertua dan kampung tertua di tana rongkong yang kemudian mengangkat tomakaka pertama yang bernama Wijo Langi. Kemudian membentuk kelembagaan adat dan menyebarkan keturunannya sampai pada tomakaka terakhir saat ini adalah Bunga Melati.

Masyarakat adat Limbong yang dipimpin oleh seorang Tomakaka dan membentuk satu perkampungan maka masyarakat kembali melakukan musayawarah (massiaja’) untuk menentukan pemimpin yang digelar Tomakaka. Pada saat itu tomakaka pertama adalah Tomakaka Salassa dan Tomakaka Jalakka/ Ulu Tondok.

Komunitas adat Limbong sudah berada sejak berdirinya kampung Limbong yang masuk dalam Desa Limbong oleh Tomakaka pertama. Sehingga masyarakat adat limbong secara turun temurun mendiami kampung tersebut sampai sekarang dan menyebarluaskan adat istiadat sekaligus mengangkat perangkat adat Limbong.


Tentang gelar Tomakaka

Daftar katomakaan: klik sini

Tomakaka adalah pemimpin adat suatu kelompok entitas sosial di tanah Mandar lama yang konon sudah ada sejak zaman prasejarah. Namun, beberapa daerah masih mempertahankan kelembagaan adat Tomakaka hingga saat ini.

Tomakaka yang menjadi pemimpin tradisional, menjadi simbol pemersatu yang dipatuhi oleh masyarakatnya. Walaupun Tomakaka adalah elit lokal yang berasal dari keturunan pemimpin tradisional sebelumnya, tetapi pengangkatannya dilakukan secara demokratis oleh masyarakat. Jabatan sebagai Tomakaka adalah jabatan tertinggi dalam komunitas sehingga kepadanyalah masyarakat mengharap atau memperoleh perlindungan, rasa aman dan keadilan dalam menjalani hidup keseharian. Karenanya, ada beberapa hal penting yang menjadi pertimbangan dalam pengangkatan Tomakaka, yaitu:
(1) Tomakaka harus berasal dari turunan Tomakaka atau kajajian,
(2) Tomakaka harus mempunyai kamatuaan,
(3) Tomakaka harus memiliki kekayaan atau kasugiran,
(4) Tomakaka memiliki kebijakan dan kepintaran atau kakainawaan,
(5) Tomakaka memiliki keberanian atau kabaranian,
(6) Tomakaka serta memiliki rumpun keluarga yang besar (ma’rapun).

Peran Tomakaka adalah pengayom yang brekewajiban memberi perlindungan kepada warganya. Ia wajib menegakkan keadilan sosial dan memberi rasa aman serta menjamin situasi dan kondisi masyarakat tetap harmonis. Untuk menjalankan pemerintahan tradisional tersebut, Tomakaka dibantu oleh aparatnya yaitu: Tomatua, Bungalalan, Tomateri, Tomewara, Pa’takin, dan Ana Tomakaka yang masing-masing memiliki funsi dan peranan yang harus dipertanggungjawabkan.

Pelantikan Tomakaka dilakukan oleh panitia adat yang dalam masyarakat Pattae disebut Ana’ Pattola Wali. Dihadiri Imang (Tokoh Agama), Kapala (Pemimpin Kampung) dan masyarakat adat. Barulah kemudian dilakukan pelantikan dengan mengucapkan ikrar/sumpah.


 

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: