Munaseli, kerajaan / P. Pantar – Prov. Nusa Tenggara Timur

Kerajaan Munaseli adalah kerajaan tua di pulau Pantar, prov. Nusa Tenggara Timur.

The kingdom of Munaseli was an old kingdom, located on the island of Pantar, prov. Nusa Tenggara Timur.
For english, click here

Lokasi pulau Pantar

——————

Lokasi pulau Pantar


KERAJAAN MUNASELI

Sejarah kerajaan Munaseli

Menurut ceritra yang beredar di masyarakat Alor, kerajaan tertua di Kabupaten Alor adalah kerajaan Abui di pedalaman pegunungan Alor dan kerajaan Munaseli di ujung timur pulau Pantar. Suatu ketika, kedua kerajaan ini terlibat dalam sebuah Perang Magic. Mereka menggunakan kekuatan-kekuatan gaib untuk saling menghancurkan. Munaseli mengirim lebah ke Abui sebaliknya Abui mengirim angin topan dan api ke Munaseli. Perang ini akhirnya dimenangkan oleh Munaseli.

Konon, tengkorak raja Abui yang memimpin perang tersebut saat ini masih tersimpan dalam sebuah goa di Mataru. Kerajaan berikutnya yang didirikan adalah kerajaan Pandai yang terletak dekat kerajaan Munaseli dan Kerajaan Bunga Bali yang berpusat di Alor Besar. Munaseli dan Pandai yang bertetangga, akhirnya juga terlibat dalam sebuah perang yang menyebabkan Munaseli meminta bantuan kepada raja kerajaan Majapahit, mengingat sebelumnya telah kalah perang melawan Abui.

Sekitar awal tahun 1300-an, satu detasmen tentara bantuan kerajaan Majapahit tiba di Munaseli tetapi yang mereka temukan hanyalah puing-puing kerajaan Munaseli sedangkan penduduknya telah melarikan diri ke berbagai tempat di Alor dan sekitarnya.

Lokasi Munaseli di P. Pantar


Perang kerajaan Pandai dan kerajaan Munaseli

Di Pulau Pantar, ada dua kerajaan yang sedang mengadakan pertandingan bola takraw (versi odel wala) sedangkan versi samar-samar dari Alor, tapi mesti dibaca secara kritis karena ada kalimat yang bertolak belakang ialah berkaitan dengan barter (http://alorternate.blogspot.com/2016/12/sejarah-kerajaan-alor.html). Dalam pertandingan itu, kerajaan Pandai menggunakan bola yang terbuat dari anyaman rotan sedangkan Munaseli terbuat dari emas, maka terjadilah percekcokan yang berujung pada peperangan. Pemimpin kerajaan Pandai yang bernama Laha Begur pergi ke segala tempat mencari bantuan.

Namun, tidak pernah berhasil mematahkan kekuatan kerajaan Munaseli. Akhirnya, ia berlayar ke Kedang untuk meminta bantuan Lako Bori. Sebelum Laha Blegur datang Ke Honi’ero, Lako Bori terlebih dahulu berlayar ke tanah Lepan Batan. Laha Blegur akhirnya berjumpa dengan Lako Bori di Lepan Batan dan mengundang keduanya ke Pandai.

Pada malam pertama, Lako Bori melacak semua identitas kerajaan Munaseli yang dipimpin oleh raja bernama Sirang Babu. Diketahui bahwa Sirang Babu memiliki dua panglima perang yaitu Pito Para dan Mau Para sekaligus ada anjing pelacak yang disebut Timu Rosa Mar Koli. Diceritakan juga bahwa kedua panglima Kerajaan Munaseli tersebut adalah tukang iris tuak yang letaknya cukup jauh dari pusat kerajaan.

Maka pada malam itu juga Lako Bori membuat seremonial versi Kedang – Pati Lie Bayar Wangun, dan memerintahkan anggota kerajaan Pandai untuk menyiapkan makanan kesukaan anjing pelacak itu yaitu jagung, Ikan, kelapa dan biji labu yang semuanya harus diulek sampai halus, lalu diisi pada sebuah tempat. Khusus untuk ikan, Lako sendirilah yang melepas pukat di laut dan menangkapnya. Lako mengambil sebuah tombak perang dan menikam tempat berisi makanan itu, maka keluarlah darah merah segar yang memberi tanda kemenangan.

Keesokannya, Lako Bori membuat seremoni lagi dan menikam tombak ke arah laut dan warna biru laut menjadi merah. Dari warna tersebut mereka yakin bahwa kemenangan akan indah pada waktunya. Sebelum Lako Bori pergi ke wilayah kerajaan Munaseli untuk berperang, mereka berpesan; jika mereka kembali ke Pandai pada malam hari pertanda buruk yaitu kekalahan tetapi jika sampan mereka berlabuh pada saat matahari terbit, maka semua penduduk pandai harus menari Lego-Lego untuk menjemput mereka karena ada kemenangan di sana.

Maka Lako Bori dengan gagah berani pergi ke wilayah Munaseli. Tiba di Munaseli, hari mulai malam dan mereka menyembunyikan sampan di tengah rerimbunan bakau; kemudian berjalan secara hati-hati ke wilayah kerajaan.
Di gerbang kerajaan, suasananya sangat ketat dan tentunya berbahaya, maka Lako Bori menyemburkan makanan yang telah disiapkan itu di pinggir jalan sampai ke wilayah dekat pohon tuak milik Pito Para-Mau Para. Lalu mereka menggali lubang di sekitar pohon tersebut untuk bersembunyi ditutupi dengan dedaunan agar tidak diketahui musuh.

Ketika Pito para-mau Para hendak pergi mengiris tuak, dua ekor anjing pelacak itu tidak mau mengikuti mereka karena sedang asyik menikmati makanan yang sudah dihamburkan oleh Lako Bori. Namun, Pito para-Mau Para tetap berani pergi mengiris tanpa anjing pelacak. Ada versi yang mengatakan bahwa dua ekor anjing itu pun mati setelah melahap makanan yang disiapkan Lako Bori; barangkali berisi racun.  Sampai di tempat itu, mereka meletakkan tombak mereka di bawah pohon tuak masing-masing dan mulai memanjat pohon untuk mengiris.

Hasil irisan itu bukan dalam bentuk tuak putih melainkan warna darah manusia yang pertanda bahwa akan ada perang besar, maka mereka secepatnya turun dari pohon. Namun, ketika sampai di bawah pohon, Lako Bori keluar dari tempat persembunyian itu dan mengambil masing-masing dua tombak milik Pito para-Mau Para dan langsung menikam dua panglima itu dan memenggal kepala mereka untuk kemudian dibawah ke hadapan Pemimpin Kerajaan Pandai yaitu Laha Blegur.
Tiba di Pandai, Laha Blegur tidak merasa puas karena kepala raja belum dipenggal, maka keesokannya Lako Bori bersama rombongan kembali Ke Munaseli  untuk menangkap hidup-hidup sang raja karena dua panglima besarnya sudah tewas.

Namun, menurut Bapak Zaid Bay, yang berhasil ditangkap yaitu Panglima Tale Wura, kakak dari raja Sirang Babu.  Bapak Zaid Bay melanjutkan bahwa Tale Wura bukan diculik tetapi ia sendiri datang ke Pandai untuk meminta perdamaian.
Hasilnya, ia dibunuh. Semua anggota kerajaan Pandai secara bebas menyiksa Tale Wura dengan cara menikamnya tetapi tubuhnya kebal oleh tikaman. Maka kemudian, Tale wura sendirilah – karena  merasa badannya sakit – menyuruh saudari kandungnya (yang katanya merupakan istri dari raja Pandai) untuk mengambil keris miliknya dan menikamnya di ketiak; maka tewaslah Tale wura.


DAFTAR DAN SEJARAH KERAJAAN-KERAJAAN DI P. PANTAR

Untuk daftar dan sejarah kerajaan-kerajaan di P. Pantar, klik di sini.

P. Pantar, 1330 M

Pantar, 1330 M


Sumber kerajaan-kerajaan di P. Pantar / Alor

– Sejarah kerajaan-kerajaan di P. Alor / Pantar: http://inihari.co/blog/
– Sejarah kerajaan-kerajaan di P. Alor / Pantar: https://id.wikipedia.org/wiki/
– Sejarah kerajaan-kerajaan di P. Alor / Pantar: http://alorkab.go.id/

– Suku Alor: http://suku-dunia.blogspot.nl/


Kepaulauan Sunda Kecil 1602

———————————

Kepaulauan Sunda Kecil 1748 (Alor = I. Omba)



Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: