Sing Apura, kerajaan / Prov. Jawa Barat – kab. Cirebon

Kerajaan Sing Apura merupakan kerajaan bawahan dari kerajaan Sunda kemudian kerajaan Pajajaran. Bertempat  di Desa Astana, Mertasinga Pelabuhan Cirebon (sekarang menjadi makam Sunan Gunungjati). Kerajaan ini mendapat tugas untuk mengatur pelabuhan Muara Jati yang merupakan salah satu pelabuhan penting yang dimiliki oleh Kerajaan Pajajaran, setelah Ki Gedeng Sindangkasih dari Kerajaan Surantaka wafat.

Lokasi kabupaten Cirebon


* Foto situs kuno di Jawa: link
* Foto Jawa dulu: link


Semua info di bawah di ambil dari: http://westjavakingdom.blogspot.com/2011/07/kerajaan-sing-apura.html

Penguasa dari Kerajaan Sing Apura dan sejarah kerajaan Sing Apura

* Surawijaya Sakti / Ki Gedeng Singapura

Beliau adalah anak dari Prabu Anggalarang (raja Sunda ke-33, lahir 1348 dan wafat 1475). Masa kekuasaannya bersamaan dengan kekuasaan ayahnya yang bertahta di Kawali.

Ki Gedeng Singapura memiliki permaisuri yang bernama Indang Sakati (puteri dari Ki Gedeng Kasmaya / raja Kerajaan Cirebon Girang). Tetapi dari pernikahannya ini, mereka tidak dikaruniai anak sehingga tahta Sing Apura jatuh pada adiknya yang bernama Ki Gedeng Tapa.

* Ki Gedeng Tapa

Ki Gedeng Tapa memiliki permaisuri yang bernama Ratna Kranjang (puteri dari Ki Gedeng Kasmaya). Dari pernikahannya ini lahirlah Ratu Subanglarang, yang kemudian dinikahi oleh Prabu Jayadewata setelah tokoh tersebut memenangkan sayembara.

Pada tahun 1416, armada besar angkatan laut Kerajaan Cina yang dipimpin oleh seorang muslim bernama Laksamana Cheng Ho singgah selama 1 minggu di wilayah Kerajaan Sing Apura. Sebagai tanda persahabatan, Ki Gedeng Tapa selaku penguasa wilayah Sing Apura, meresmikan berdirinya sebuah mercu suar di puncak bukit di pantai Muara Jati yang dibangun oleh Laksamana Cheng Ho atas izin Prabu Anggalarang di Kawali.

Saat kekuasaannya, Ki Gedeng Tapa mengizinkan berdirinya sebuah pesantren Pondok Quro di wilayahnya (kaki bukit Amparan Jati). Pesantren tersebut didirikan oleh sahabatnya yang bernama Syekh Datuk Kahfi. Ulama ini berasal dari Baghdad yang datang ke wilayah Cirebon bersama 12 orang muridnya.

Pada masa kekuasaan Prabu Anggalarang di Kerajaan Sunda, Ki Gedeng Tapa yang ditugaskan untuk mengatur administrasi Pelabuhan Muara Jati, saat itu telah berhasil membawa pelabuhan ini menjadi besar. Pada waktu itu sudah banyak kapal asing yang datang untuk berniaga dengan penduduk setempat. Kemudian, Ki Gedeng Tapa memindahkan tempat pemukiman ke tempat pemukiman baru di Lemahwungkuk, sekitar 5 km arah selatan mendekati kaki bukit menuju kerajaan Galuh. Sebagai kepala pemukiman baru Prabu Anggalarang memberi gelar Ki Gedeng Tapa sebagai Kuwu Cerbon.

Pada perkembangan selanjutnya, Raden Walangsungsang (anak hasil pernikahan Prabu Jayadewata dengan Ratu Subanglarang / anak dari Ki Gedeng Tapa) datang dari Pakuan. Setelah wafatnya Ratu Subanglarang di Pakuan, Walangsungsang beserta Nyai Larasantang memilih menetap di Cirebon dan menetap bersama kakeknya (Ki Gedeng Tapa).

Setelah beberapa lama tinggal bersama kakeknya, Walangsungsang dan Larasantang kemudian mengembara ke arah timur (ke sekitar Gunung Dieng) dan mencari ilmu pada Pendeta Budha yang bernama Ki Gedeng Danuwarsih (anak pendeta Ki Danusetra). Rupanya, mereka sedang mencari jati diri dan sedang melakukan perbandingan antara Agama Islam dengan agama Budha. Puteri Ki Gedeng Danuwarsih yang bernama Nyai Indang Geulis akhirnya dinikahi Raden Walangsungsang.

Setelah menimbang-nimbang dengan penuh perhitungan, akhirnya Walangsungsang dan Nyai Larasantang memilih agama Islam dan  berguru agama Islam di Pesantren Pondok Quro pimpinan Syekh Datuk Kahfi selama 3 tahun. Syekh Datuk Kahfi memberi  nama baru untuk Raden Walangsungsang yaitu Ki Samadullah. Atas perintah Syekh Datuk Kahfi, Walangsungsang diperintahkan untuk membuka pemukiman baru di Kebon Pesisir / Tegal Alang-Alang (sekarang Kelurahan Lemahwungkuk, Kota Cirebon) dan meyiarkan agama Islam disana.  Setelah mendirikan pemukiman, kemudian Walangsungsang meminta izin dari Ki Gedeng Tapa sebagai penguasa setempat, atas berdirinya pemukiman baru tersebut yang diberi nama Cirebon Larang.

Riwayat dari Kerajaan Sing Apura itu sendiri akhirnya diserahkan kepada Raden Walangsungsang, setelah Ki Gedeng Tapa meninggal dunia. Sebenarnya  yang berhak atas tahta Sing Apura adalah menantunya (Prabu Jayadewata), namun beliau telah menjadi Raja Pajajaran sehingga pemerintahan di Sing Apura dipercayakan kepada anaknya sebagai raja bawahan.

Akhirnya, Raden Walangsungsang menyatukan Kerajaan Sing Apura dan Pakuwuan Cirebon Larang di bawah satu nama yaitu Kerajaan Cirebon Larang.


Peta kuno Jawa

Klik di sini untuk peta kuno Jawa tahun 1598, 1612, 1614, 1659, 1660, 1706, 1800-an, awal abad ke-18, 1840.

Jawa, awal abad ke-18

1234