Suku Jawa – Jawa

Suku Jawa (Bahasa Jawa Ngoko: ꦮꦺꦴꦁꦗꦮ Wong Jawa, bahasa Jawa Krama: ꦠꦶꦪꦁꦗꦮꦶ Tiyang Jawi) merupakan suku bangsa terbesar di Indonesia yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Setidaknya 41,7% penduduk Indonesia merupakan etnis Jawa.

Jawa


* Foto Jawa dulu, situs kuno dan Batavia: link
* Foto foto suku Jawa: link


Umumnya

Orang Jawa sering juga menyebut dirinya Wong Jowo atau Tiang Jawi. Jumlah populasinya paling banyak dibandingkan dengan suku-suku bangsa lain, dan wilayah asal serta wilayah persebarannya di selurug Indonesia juga paling luas. Suku Jawa juga memiliki sub-suku, seperti Suku Osing, Orang Samin, Suku Tengger, dan lain-lain.
Program transmigrasi penduduk Jawa ke pulau-pulau besar lain sudah dimulai oleh pemerintahan jajahan Belanda sejak abad ke-18, seperti transmigrasi orang Jawa ke perkebunan besar di sekitar Deli Serdang di Sumatera Utara dan ke daerah provinsi Lampung. Pada abad itu banyak pula orang Jawa yang dibawa ke berbagai perkebunan di Suriname (Amerika Selatan), ke Afrika Selatan, dan ke Haiti di Lautan Teduh (Pasifik).


Masyarakat Suku Jawa

Kesatuan hidup setempat masyarakat Jawa yang utama adalah desa yang dikepalai oleh seorang lurah atau Kepala desa. Setiap desa terdiri atas beberapa bagian yang disebut dukuh (kampung) yang masing-masing dikepalai oleh seorang Kepala Dukuh. Rumah-rumah penduduk yang terdapat dalam sebuah dukuh dilengkapi dengan lumbung padi, kandang ternak dan perigi. Di setiap desa terdapat sebuah balai desa tempat pertemuan pemerintahan desa, sebuah mesjid, beberapa buah langgar (mesjid kecil), sekolah, dan pasar yang hanya ramai sekali seminggu. Bentuk rumah orang Jawa yang tradisional ditentukan oleh bentuk atapnya. Berdasarkan bentuk atap itu ada yang disebut rumah limasan, serontong, joglo, panggangepe, daragepak, macan nyerum, klabang nyander, tajuk, kutuk ngambang dan sinom. Bentuk rumah limasan adalah paling banyak dimiliki penduduk. Golongan bangsawan biasanya membangun rumah dengan bentuk joglo.

Masyarakat desa Jawa dipimpin oleh seorang Kepala desa yang disebut Lurah, sering juga disebut bekel, petinggi atau glondong. Dalam tugasnya lurah dibantu oleh perabot desa yang terdiri dari kami tuwo (wakil lurah), carik (jurutulis), kebayan (pesuruh desa), jagabaya (penjaga keamanan), ulu-ulu (pengawas pengairan) dan seorang modin (petugas mesjid yang biasa memimpin upacara keagamaan desa). Untuk melancarkan tugas Lurah dan Perabot desa merek didukung oleh hasil dari tanah garapan yang lazim disebut tanah bengkok.

Dalam masyarakat Jawa terdapat beberapa lapisan sosial yang dianggap masih nyata perbedaannya. Golongan bangsawan keturunan raja-raja biasanya disebut golongan bendoro atau bendoro raden. Sering setingkat dengan itu adalah golongan priyayi, yaitu para kaum terpelajar yang memang biasanya berasal dari golongan bangsawan juga. Lapisan sosial paling bawah adalah golongan yang disebut wong cilik, seperti golongan petani di desa. Akan tetapi wong cilik di desa juga suka membagi diri ke dalam tiga golongan, yaitu wong baku (keturunan pendiri desa), golongan kuli gandhok (orang yang tidak memiliki tanah atau rumah sendiri) dan jaka sinoman (bujangan yang tidak mempunyai pekerjaan tetap tetapi memiliki harta orang tuanya).


Mata Pencaharian Suku Jawa

Bertani adalah mata pencaharian sebagian besar masyarakat Jawa yang di desa-desa. Sebagian lainnya hidup dari pekerjaan sebagai pegawai, tukang, dan pedagang. Pertanian ada yang dilakukan di sawah-sawah irigasi dan tadah hujan, terutama untuk menanam padi, ada pula yang di tegalan, dimana ditanam ketela pohon, jagung, ketela rambat, kedelai, kacang tanah, kacang tunggak dan sebagainya. Tidak semua petani memiliki lahan pertanian sendiri. Sebagian besar malah menjadi buruh, yaitu mendapat upah dari pekerjaan mengolah sawah orang lain. Di lingkungan mereka berbagai macam peternakan sudah banyak dikembangkan, walaupun sifat dan jumlahnya amat sederhana.


 Kepercayaan

Mayoritas orang Jawa menganut agama Islam (sekitar 95%). Masyarakat Muslim Jawa umumnya dikategorikan ke dalam dua golongan, yaitu kaum Santri dan Abangan. Kaum santri mengamalkan ajaran agama sesuai dengan syariat Islam, sedangkan kaum abangan walaupun menganut Islam namun dalam praktiknya masih terpengaruh Kejawen yang kuat.

Orang Jawa juga ada yang menganut agama Kristen (sekitar 4%), baik Protestan maupun Katolik. Sama seperti muslim Jawa, orang Jawa Kristen juga ada yang disebut Kristen abangan yang masih terpengaruh Kejawen yang kuat. Orang Jawa Kristen kebanyakan tersebar di Salatiga, Surakarta, Magelang dan Yogyakarta di mana penganut Kristen mencapai 15% hingga 25% dan penganut Islam sekitar 75% hingga 85%.


Kekerabatan Suku Jawa

Prinsip hubungan kekerabatan dalam masyarakat Jawa adalah bilateral, dimana baik kerabat pihak ayah maupun pihak ibu diklasifikasikan menjadi satu dengan istilah yang sama. Misalmya siwa atau uwa untuk saudara lelaki ayah dan ibu yang lebih tua, lalu istilah paman untuk saudara lelaki ayah dan ibu yang lebih muda. kelompok kekerabatan yang terpenting dalam masyarakat ini adalah keluarga inti yang mereka sebut somah atau kuluwarga. Kelompok kekerabatan yang lebih luas adalah sanak sedulur, yaitu kerabat dari pihak lelaki atau wanita yang ditarik dari seorang kakek atau nenek moyang sampai derajat ketiga. Kelompok ini amat berperan dalam berbagai kegiatan upacara daur hidup seseorang.

Kelompok kerabat yang lebih panjang lagi adalah alur waris yang ditarik sepanjang tujuh keturunan. Biasanya alur waris ini berperan dalam rangka pemujaan kepada leluhur. Perkawinan biasanya dilaksanakan dengan upacara adat yang cukup kompleks sesuai dan lebih meriah dibandingkan dengan upacara kematian misalnya. Sesudah upacara perkawinan orang Jawa tidak terlalu mempersoalkan dimana mereka akan menetap, namun seseorang akan bangga kalau ia langsung memiliki rumah sendiri setelah ia menikah.


Budaya suku Jawa

Budaya Jawa adalah budaya yang berasal dari Jawa dan dianut oleh masyarakat Jawa khususnya di Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur. Budaya Jawa secara garis besar dapat dibagi menjadi 3 yaitu budaya Banyumasan, budaya Jawa Tengah-DIY dan budaya Jawa Timur. Budaya Jawa mengutamakan keseimbangan, keselarasan dan keserasian dalam kehidupan sehari hari. Budaya Jawa menjunjung tinggi kesopanan dan kesederhanaan. Budaya Jawa selain terdapat di Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur terdapat juga di daerah perantauan orang Jawa yaitu di Jakarta, Sumatera dan Suriname. Bahkan budaya Jawa termasuk salah satu budaya di Indonesia yang paling banyak diminati di luar negeri. Beberapa budaya Jawa yang diminati di luar negeri adalah Wayang Kulit, Keris, Batik dan Gamelan.
https://id.wikipedia.org/wiki/Budaya_Jawa


Kerajaan2 di Jawa

Garis sejarah kerajaan2 di Jawa: klik di sini


Sumber

– Suku Jawa: https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Jawa
– Suku Jawa: http://suku-dunia.blogspot.co.id/2014/10/sejarah-suku-jawa.html
– Suku Jawa: http://kebudayaanindonesia.net/kebudayaan/1122/suku-jawa
– Suku Jawa: http://deutromalayan.blogspot.co.id/2012/10/suku-jawa.html
– Asal usul Suku Jawa: http://kisahasalusul.blogspot.com/2015/10/asal-usul-suku-jawa-orang-jawa-harus.html
– Sejarah Suku Jawa: http://nettik.net/asal-usul-sejarah-suku-jawa-2/
– Asal usul Suku Jawa: http://www.infoyunik.com/2015/09/sejarah-asal-usul-suku-jawa-di-indonesia.html

– Budaya Jawa: https://id.wikipedia.org/wiki/Budaya_Jawa


Image result for jawa suku

Related image

Related image

Image result for jawa suku