Lareh Koto Piliang, lareh / prov. Sumatera Barat – wilayah Minangkabau

Lareh Koto Piliang adalah salah satu sistem adat Minangkabau yang bertumpu kepada sistem aristokratis.
Sistem adat ini dikembangkan oleh Datuk Ketumanggungan, dan berlaku di hampir seluruh wilayah budaya Minangkabau, terutama Luhak Tanah Datar, Luhak Agam, dan Pesisir Selatan.

Peta yang menunjukan wilayah penganut kebudayaan Minangkabau di pulau Sumatera.


Tentang Lareh Koto Piliang

Lareh adalah suatu wilayah pemerintahan era tanam paksa Hindia Belanda setingkat kadipaten atau kabupaten sekarang ini yang dibentuk oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda di Minangkabau atau Sumatra Barat sekarang.
Lareh biasa disebut juga kelarasan. Sebuah wilayah lareh dikepalai oleh Angku Lareh (Tuanku Laras) atau Kapalo Lareh (Kepala Laras).

Suku Piliang

Suku Piliang Minang

Ada tiga Lareh dalam Minangkabau:

  1. Lareh Koto Piliang, menganut sistem budaya aristokrasi militeristik yang digagas oleh Datuk Ketumanggungan. Kelarasan ini banyak dipakai di Tanah Datar, sebagian daerah Solok dan daerah-daerah rantau Minangkabau.
  2. Lareh Bodi Caniago atau dikenal sebagai Adat Perpatih di Negeri Sembilan, Malaysia, menganut sistem budaya demokrasi sosialis digagas oleh Datuk Perpatih Nan Sebatang. Kelarasan ini banyak dipakai di Kabupaten Lima Puluh Kota, Riau dan Negeri Sembilan, Malaysia.
  3. Lareh Nan Panjang yang digagas oleh adik laki-laki dari kedua tokoh di atas yang bergelar Datuk Sakelap Dunia Nan Banago-nago, yang melarang pernikahan orang Minang dalam satu nagari. Kelarasan ini banyak dipakai oleh Agam dan Padang Panjang.

Ciri ciri utama Lareh Koto Piliang

  • Dalam pengambilan keputusan berdasarkan arahan pimpinan (penghulu/raja). Titiak dari ateh, turun dari tanggo. Tabujua lalu tabalintang patah, kato surang gadang sagalo iyo, ikan gadang dalam lauik, ikan makannyo, nan mailia di palik, nan manitiak ditampuang. (Titik dari atas, turun dari tanggga. Terbujur lalu terbelintang patah, kata seorang besar segala iya, ikan besar dalam laut ikan makannya, yang mengalir di palit yang menitik ditampung).
  • Kedudukan penghulu ada tingkatan-tingkatannya, yaitu penghulu andiko, penghulu suku, dan penghulu pucuk. Penghulu pucuk juga disebut sebagai pucuk nagari. Bapucuak bulek, baurek tunggang (Berpucuk bulat, berurat tunggang).
  • Corak Rumah Gadangnya mempunyai anjung kiri dan kanan, serta berlabuh gajah di tengah-tengahnya. Anjung kiri dan kanan adalah tempat yang ditinggikan, untuk menempatkan penghulu-penghulu sesuai dengan fungsi atau tingkatannya. Bajanjang naiak, batanggo turun (Berjenjang naik, bertangga turun).
  • Gelar pusaka (penghulu) tidak bisa digantikan, sebelum penyandang gelar meninggal.

Lima (5) perbedaan Lareh Koto Piliang dan Lareh Bodi Caniago

Untuk 5 perbedaan, klik di sini


Suku-suku dalam Lareh Koto Piliang


Sumber

– Tentang Lareh Koto Piliang: https://id.wikipedia.org/wiki/Lareh_Koto_Piliang
– Mengenal Suku Piliang: https://www.netralnews.com/news/rsn/read/91435/mengenal-suku-piliang
– Asal usul Lareh Koto Piliang dan Lareh Bodi Caniago: http://www.anakminang.com/2015/09/asal-usul-lareh-koto-piliang-dan-bodi.html
– Tentang Lareh Koto Piliang dan Lareh Bodi Caniago: https://wahyusuriyani.blogspot.com/2013/04/sistem-kelarasan-minangkabau.html