Singingi (Rantau Singingi), kerajaan / Sumatera – Prov. Riau, kab. Kuantan Singingi

Kerajaan Singingi (Rantau Singingi) adalah salah satu kerajaan di Sumatera, di Provinsi Riau. Kabupaten Kuantan Singingi.

The kingdom of Singingi was a kingdom on Sumatera, Prov. Riau, District Kuantan Singingi.
For english, click here

Kabupaten Kuantan Singingi


* Foto foto situs kuno dan suku-suku di Sumatera dan Sumatera dulu: link


Tentang raja Singingi

Datuk (2014): H. ZALIS – Datuk Bandaro ke-15 (Urang Godang Datuk Nan Baduo Antau Singingi)
Menjabat dari tahun 1973 sampai sekarang. Suku Piliang Bawah.


Sejarah Rantau Kuantan dan Singingi

Kelayakan Historis dan Adat

Menurut berbagai sumber sejarah dan purbakala, tradisi dan adat bahwa Kuantan Singingi merupakan negeri tua yang mempunyai sistem kemasyarakatan dan pemerintahan yang spesifik.

Sistem kemasyarakatan didasarkan kepada sistem kekerabatan geneologis (adat bersuku-suku). Di dalam pemecahan masalah kemasyarakatan dan pemerintahan diutamakan musyawarah untuk mufakat. Sistem kemasyarakatan tersebut di aplikasikan dalam bentuk adat yang tercermin pada sistem pemerintahan yang bersifat otonom. Bagi rantau Kuantan keadaan ini berlangsung dari masa kerajaan Kandis (abad ke 8 Masehi) sampai awal kemerdekaan Republik Indonesia. Karena Rantau yang berbeda, Singingi tidak mengalami pengaruh kemasyarakatan sebab ia memiliki daulat sendiri dari kerajaan pagaruyung.

Negeri Kuantan yang termasuk dalam kabupaten Indragiri pada awalnya merupakan wilayah Kerajaan Indragiri yang menguasai pula Kuantan dalam bentuk pemerintahan yang dapat diangkat dari ungkapan Kuantan bersultan ke Indragiri, Keraja ke mufakat.
Adapun negeri Singingi ba Mamak ke Pagaruyung dan beraja ke mufakat se-laras Antau Singingi.

Raja Rusli (1999) menyatakan adat kuantan yang berbeda dengan Indragiri hulu bagian hilir seperti dinyatakan azas adat Kuantan: Adat Selingkung nagori, agamo Selingkung dunia Artinya aturan-aturan adat suatu negri hanya mempunyai kekuantan didalam negeri sendiri, sedangkan kekuatan hukum agama berlaku universal. Lebih lanjut diungkapkannya bahwa adat bersendi Syara’,Syara’bersendi kitabullah.

Masa-masa kerajaan

Dalam Negara Kertagama oleh empu prapanca disebutkan daerah-daerah di Sumatra termasuk kekuasaan Mojopahit diantaranya Kandis. Pusat Kerajaan Kandis ini berlokasih di hulu batang Kuantan, diperkirakan di Padang candi (Lubuk Jambi). Dilokasi tersebut ditemukan puing-puing purbakala berupa puing candi di Dusun Botung (desa Bambu). Di kawasan ini ada kampung yang bernama Sintonga dan Kompahan, atau Orang lubuk Jambi biasa menyebutnya dengan Botuang yang berada di desa Sangau.

Kuantan

Sang Sapurba di kerajaan Kuantan mengatur pemerintahan berdasarkan sistem adat yang dilaksanakan oleh penghulu (Datuk) pada masing-masing suku (4 Suku): Peliang , Malayu, Caniago dan Patopang dengan perangkat-perangkat adatnya, pemerintahan dipusatkan di koto-koto pada masing-masing nagori (negeri) sekaligus tempat kedudukan penghulu dan perangkat adat itu mengisi sistem pemerintahan yang disebut sistem federasi – Selanjutnya menjadi konfederasi Kuantan Singingi.

Dikoto berdiri rumah adat untuk masing-masing suku (4 Suku) dengan sebuah Balai Adat untuk memecahkan masalah nagori dan anak cucu kemanakan.

Di dalam pemecahan masalah-masalah nagori para pemuka adat (datuk-datuk) bersama-sama pemuka agama dan cerdik pandai untuk bermusyawarah yang dikenal dengan orang enam belas untuk membuat keputusan atau (mengambil kata mufakat), seperti ungkapan yang berbunyi antara lain “gentinmemutuskan, bebiang mencabikan”, artinya memutuskan masalah-masalah dalam nagori.

Perincian orang enam belas tersebut terdiri dari :

–  4 orang datuk,
–  4 orang monti (menteri),
–  4 orang dubalang (hulubalang),
–   3 orang ulama (khodi, imam, khatib),
–   1 orang cerdik pandai.

Pemerintahan Kuantan yang federasi tersebut memiliki daerah-daerah yang pada mulanya terdiri dari 3 (tiga) Koto, yaitu:

– Empat Koto di atas, yaitu dianggap Sampurago, Lubuk Ambacang, Koto Tuo dan Sungai Pinang yang dipimpin oleh datuk peduka Raja, berkedudukan di Lubuk Ambacang.
– Lima Koto di tengah, terdiri dari Kari, Teluk, Simandolak, Siberakun dan Sibuayo dipimpin oleh Datuk Bandaro Lelo Budi, berkedudukan di Kari.
– Empat Koto di hilir, terdiri dari negeri-negeri Pangean, Baserah, Inuman dan Cerenti yang dipimpin oleh Datuk Ketemanggungan, berkedudukan di Inuman.

Selanjutnya menjadi 4 (empat) Koto dengan masuknya Empat Koto Gunung. Empat Koto Gunung terdiri dari negeri-negeri Teluk Beringin Toar, Gunung dan Lubuk Tarontang yang dipimpin oleh Datuk Bandaro yang berkedudukan di Gunung.

Empat koto ini berkedudukan pada masing-masing nagori di bawah pimpinan para Urang Godang (terkenal dengan 4 Urang Godang), selanjutnya termasuk federasi Pantai Lubuk Ramo manjadi 5 (lima) Urang Godang. Federasi Pantai Lubuk Ramo meliputi Lubuk Ramo, Pantai dan Air Buluh. Pimpinan federasi itu bergelar Datuk Timbang Tail. Untuk mengkoordinasikan pemerintahan diantara federasi-federasi tersebut (Urang-urang Godang) dibentuk pula pemerintahan konfederasi (dipimpin oleh seorang Urang Godang). Konfederasi Kuantan dikenal dengan sebutan nagori Nan Kurang Oso Dua Puluh (19 negeri).

Urang Godang yang 9 adalah:

1. Datuk Paduka Raja di Lubuk Ambacang
2. Datuk Habib di Lubuk Jambi
3. Datuk Bandaro di Gunung
4. Datuk Bisai di Teluk Kuantan
5. Raja Ismail di Baserah
6. Datuk Dano Puto di Cerenti
7. Datuk Dano Sikaro di Inuman
8. Datuk Timbang Tail di Pantai Lubuk Ramo
9. Datuk Raja Ruhum di logas tanah darat

Singingi

Sementara di Singingi dengan latar belakang sejarah, di masa kerajaan memang tidak satu dengan Kuantan, karena Singingi merupakan kerajaan berdiri sendiri setelah mendapat Daulat Raja Pagaruyung. Hingga 1901 Belanda masuk di Antau ini mendapat status Zelf Bestuure van Singingi mengakui pemerintahan Adat yang ada. Faktor ini pulalah yang menjadi dasar Singingi pada awal Republik diakui dan kokoh dibentuk menjadi satu wilayah pemerintahan kecamatan didukung Ulayat Penhulu Datuk Nan Batujuh yang memadai luas (Peraturan pemerintahan No. 1 Tahun 1946)

Federasi Adat Antau Singingi memiliki 9 Koto Adat, masing-masing berstatus otonom di bawah satu lembaga Urang Godang Duo Sakoto perpanjangan tangan Urang Godang Datuk Nan Baduo Antau Singingi.

Ke-9 nagori Adat Antau Singingi berikut Pisoko-nya masing-masing adalah:

1. Muara Lembu = Pusat Kerajaan = Tanah Kojan
2. Pulau Padang = Kepala Koto
3. Kebun Lado = Muara = Ekor Koto
4. Pangkalan Indarung = Pucuk Antau = Teropong Antau
5. Logas = Luhak = Kawasan Darat Antau

Empat Koto di Hilir:

6. Petai = Kunci Emas Pasak Malintan
7. Koto Baru = Balai Peranginan
8. Sungai Paku = Piring Emas
9. Tanjung Pauh = Lantak Tunggal Bomban Basi

Masing-masing nagori ditunggu oleh Empat Suku Adat, yakni Melayu, Piliang, Bendang, dan Piobadar. Beberapa nagori pada masa kini memang ada terdapat lebih dari 4 suku, karena berbagai pertimbangan memisahkan diri dari suku induk. Namun pada dasarnya tetap 4 suku. Semua perangkat adat dalam sebuah suku disebut Ninik Mamak. Pimpinan 4 suku disebut Ninik Mamak Empat Suku. Dalam pemecahan dan penyelesaian permasalahan nagori dibawa Sidang Ninik Mamak Empat Suku sebagai Lembaga Peradilan Nagori. Sementara untuk perkara banding dibawa ke tingkat Peradilan Sidang Datuk Nan Batujuh di tingkat Antau.


Daftar Datuk Singingi

1424 – 1477: MAKMUM, gelar Datuk Simpono Rajo Dipoco.

1477 – 1501: MURAT, gelar Sutan Salinan, Datuk Bandaro 1.
1501 – 1515: DAMHUR, gelar Datuk Bandaro 2.
1515 – 1608: SYAFI’I.Gelar Datuk Bandaro 3, Datuk Khalifah ke 1.
1608 – 1688: HAMDANI, gelar Datuk Bandaro 4, Datuk Khalifah Ke 2.
1688 – 1723: AHDAR, gelar Datuk Bandaro 5, Datuk Khalifah Ke 3.
1723 – 1751: DARMIN, gelar Datuk Bandaro 6, Datuk Khalifah Ke 4.
1751 – 1778: SALMON, gelar Datuk Bandaro 7, Datuk Khalifah Ke 5.
1778 – 1801: MUHAMMAD SU’IB: gelar Datuk Bandaro 8, Datuk Khalifah Ke 6.
1801 – 1818: TAUFIK MURI, gelar Datuk Bandaro 9, Datuk Khalifah Ke 7.
1818 – 1842: MAZMUR, gelar Datuk Bandaro 10, Datuk Khalifah Ke 8.
1841 – 1869:  Yang Dipertuan Gadih Puti Reno Sori, gelar Yang Dipertuan Gadis Nan Halus atau Tuan Gadih Pagaruyung XII.
Tahun 1841, bersama Suami dan anak beserta rombongan lainnya Hijrah dari Sumpur Kudus – Sijunjung ke Muaralembu – Rantau Singingi dan memindahkan pusat pemerintahan Kerajaan Pagaruyung Ke Muaralembu dan secara otomatis menjadi Pimpinan Pemerintahan Adat Rantau Singingi.
Tahun 1869 beliau menyerahkan kembali Pimpinan Pemerintahan Adat Rantau Singingi kepada Abdul Rahman Datuk Bandaro 11 (Datuk Khalifah 9).

1842 – 1876: ABDUL RAHMAN, gelar Datuk Bandaro 11, Datuk Khalifah Ke 9.
Masa kekuasaan sebagai Datuk Khalifah ke 9: tahun 1869 – 1876.
Tahun 1869 beliau menerima kembali Pimpinan Pemerintahan Adat Rantau Singingi dari Yang Dipertuan Gadih Puti Reno Sori (Yang Dipertuan Gadis Nan Halus atau Tuan Gadih Pagaruyung XII) dan kembali dilekatkan gelar Datuk Khalifah 9.

1876 – 1917: M. THAIB (MUTHALIB), gelar Datuk Bandaro 12, Datuk Khalifah Ke 10.

1917 – 1947: MUHAMMAD SIRIH, gelar Datuk Bandaro 13, Datuk Khalifah Ke 11.
Pada masa penjajahan Belanda, beliau juga diberi gelar “ZELFBESTUUR VAN SINGINGI” (dari tanggal 2 Desember 1918 – 1942).
Pada tanggal 14 Februari 1919 beliau menandatangani kontrak dengan pemerintah Belanda mewakili pribumi dari Sumatra Timur – divisi Bengkalis.
Pada tahun 1920  (dalam Surat Kabar De Sumatra Post, 12 Februari 1920) Beliau juga atas nama zelfbestuurder dari Singingi bersama Tengku Soeloeng zelfbestuurder dari Kampar Kiri beserta Wan Abdul Rachman Bupati Pekanbaru menyambut kedatangan Gubernur Jendral Hindia Belanda di bandara Pekanbaru.
Setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, oleh pemerintahan Republik Indonesia beliau juga diangkat sebagai Camat pertama untuk Kecamatan Singingi (dari tahun 1945 – 1946).
Pada tahun 1946, terjadi pergantian jabatan Camat untuk kecamatan Singingi dari Muhammad Sirih (Datuk Bandaro 13 / Datuk Khalifah ke 11) kepada camat baru yang bernama KAYA, dan kepada KAYA diberikan gelar “Datuk Setia Amanah” oleh Datuk Bandaro. Dan semenjak itu gelar Datuk Khalifah pun dihapuskan.

1947 – 1973: MAJURI, gelar Datuk Bandaro 14.

1973: H. ZALIS, gelar Datuk Bandaro 15.

– Sumber: http://yandrasingingi.blogspot.com/search?updated-max=2014-01-26T22:20:00%2B07:00&max-results=100


Peta-peta kuno Sumatera

Untuk peta kuno Sumatera (1565, 1588, 1598, 1601, 1616, 1620, 1707, 1725, 1760), klik di sini

Sumatera, tahun 1707


Sumber

Sejarah kerajaan Singingi: http://yandrasingingi.blogspot.co.id/2014/01/nama-dan-fhoto-pemangku-adat-rantau.html?spref=fb
Sejarah kerajaan Singingi: http://aretatatanugraha.blogspot.co.id/2016/10/kerajaan-singingi-bukan-dongeng.html

– Sejarah Singingi / Rantau Kuantan: http://mynewblogaprinda.blogspot.co.id/2016/04/sejarah-kuantan-singingi.html
– Sejarah Singingi / Rantau Kuantan: http://wartasejarah.blogspot.co.id/2013/10/pemekaran-daerah-kabupaten-kuantan.html


Foto

Datuk-Datuk Para Pemangku Adat Rantau Singingi bersama Tim dari JIKALAHARI duduk bersama dalam acara pemetaan Tanah Ulayat / Tanah Adat Rantau Singingi, di gedung Balai Adat Kel. Muaralembu 04 Februari 2014

Cap Pertama Kerajaan Pemerintahan Adat Rantau Singingi, dibawah kekuasaan Datuk Bandaro.

Cap Kedua Kerajaan Pemerintahan Adat Rantau Singingi, dibawah kekuasaan Datuk Bandaro.

Makam Mhd. Ali Datuk Jalo Sutan ke – 1.


 

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s